Juragan Muda

Juragan Muda
169. Kegundahan Laura


__ADS_3

Sesampainya di rumah bu Rohmah, semua sudah tertidur. Karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Beruntung Reyhan memiliki kunci cadangan, sehingga ia tetap bisa masuk rumah.


Setelah membersihkan diri, keduanya tidak langsung bisa tidur. Seperti biasanya, mereka saling bertukar cerita.


"Mas, kamu kecewa sama keputusan papa?" Laura bertanya dengan hati-hati pada suaminya.


"Harusnya, mas yang bertanya sama kamu sayang. Kira-kira kamu kecewa ngga, jika keinginan kita untuk memiliki rumah tertunda."


Laura seketika menghentikan belaian di rambut Reyhan. Ia bingung harus menjawab apa ketika di tanya balik seperti itu.


Sebenarnya rumah belum menjadi prioritas nya saat ini. Tapi mengingat keputusan papanya tadi, membuat ia juga tidak tega pada suaminya yang memiliki niat tulus untuk bertanggung jawab.


"Kok malah diam?" Reyhan mendongak, mengusap wajah Laura, yang menyadarkan dari lamunannya.


"Em, sebenarnya aku juga setuju dengan saran papa mas. Sebaiknya uangnya di pakai untuk buka cabang lagi, untuk mengembangkan bisnis, agar bisa membuka lapangan pekerjaan buat orang lain juga. Bukannya aku mendoakan kejelekan untuk orang tua ku, tapi jika suatu saat mereka di ambil oleh Tuhan, rumah itu akan semakin sepi tak berpenghuni. Kalau seperti itu, bukannya malah mubadzir. Sayang juga kan kalau di jual? Lagian di sini, aku pun tak ada masalah dengan ibu atau keluarga mu yang lain. Aku sangat senang berada di sini. Jika ada masalah barulah kamu buatkan rumah untuk ku mas, hehehe. Meskipun sawah yang ada di depan rumah sudah jadi hak milik kita, ngga ada salahnya jika dimanfaatkan oleh orang lain, jika kita kesulitan mengurus nya. Tapi, semua aku serahkan pada mu. Karena kamu imam ku. Terus terang, sewaktu mas bilang mau buat rumah, hati ku sangat tersentuh. Mas begitu bertanggung jawab dengan ku." setelah mengungkapkan isi hatinya, Laura pun tersenyum hangat. Ia tak ingin menyakiti suaminya.


Sedangkan Reyhan, mendengarkan penjelasan dari istrinya yang panjang lebar itu juga mengulum senyum. Ia juga setuju dengan pendapat istrinya yang bijaksana itu.


"Aku sangat setuju dengan pendapat mu sayang. Setuju sekali." ucap Reyhan mantap. Bahkan ia sekarang justru mencubit pipi Laura dengan gemas. Karena sudah memberi jawaban yang masuk akal.


"Ish, kamu kok sering sekali mencubit ku mas." Laura meringis sedikit kesakitan.


"Bukan kah dulu kamu yang mengajari ku sayang." keduanya terkekeh bersama.


Keduanya bangun kesiangan, karena semalam tidur sangat larut. Laura terkejut ketika melihat Anisa yang tengah membantu ibunya memasak. Perutnya semakin terlihat buncit. Sedangkan dirinya, belum menunjukkan tanda-tanda hamil sama sekali. Padahal sudah 5 bulan ia menikah.


"La, kapan kamu pulang?" tegur Anisa, ketika melihat Laura yang berdiri di kongliong dapur.


"Eh, jam 11 malam Nis. Aku wudhu dulu ya." Laura segera meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamar mandi. Ia tak ingin sampai kehilangan waktu subuhnya.

__ADS_1


Semua kini sudah berkumpul untuk menikmati sarapan pagi bersama. Laura terus saja memandang perut Anisa.


Setelah selesai sarapan, mereka bergegas siap-siap untuk berangkat ke tujuan masing-masing.


Semua terperangah kaget melihat Reyhan yang keluar kamar dengan penampilan yang tampak berbeda dari biasanya.


"Ck, kakak, keren banget penampilan nya. Mau kemana?" Bima berdecak kagum, dan pertanyaan itu mewakili isi hati keluarga nya, yang tengah terbengong menatap Reyhan.


"Mau kerja dong. Masa mau tidur." Reyhan terkekeh.


"Mas, gimana sih, kamu belum pakai dasi."


Laura bersungut-sungut keluar dari kamar dan membalikkan tubuh Reyhan. Kini jari lentiknya bergerak lincah melilitkan dasi itu di leher suaminya.


"Terima kasih Miss Laura sayang." ucap Reyhan dengan senyum hangat.


Keduanya terus saja mengumbar keromantisan dimanapun berada.


Mereka yang melihat keromantisan keduanya sangat tersentuh. Apalagi ibunya Reyhan, ia semakin sayang terhadap menantu cantiknya itu.


"Semakin keren kak." seru Bima dengan mata berbinar.


"Kerja di mana sih kak?"


"Di showroom papa."


Karena semua tengah menatapnya, akhirnya Reyhan menceritakan tentang pekerjaan barunya pada mereka. Selama ini Reyhan selalu terbuka dengan keluarganya, kecuali masalah percintaan nya dulu.


Ibunya sangat bangga memiliki anak seperti nya. Siapa sangka, anaknya yang hanya memiliki nilai di bawah rata-rata, kini bisa sesukses itu.

__ADS_1


Ternyata memang benar, takdir bisa di ubah, asalkan kita terus menerus berusaha dan memanjatkan doa.


Sedangkan Bayu, ia tak bergeming sekian menit. Kakak nya yang dulu selalu ia kalahkan dalam segala hal, ternyata sekarang karirnya justru melesat. Ia pun segera mendekati kakaknya, dan mengucapkan selamat.


"Apaan sih, pakai di kasih ucapan selamat segala. Aku baru magang woi." Reyhan menerima jabat tangan Bayu dengan keras sambil terkekeh.


"Jangan lupa kak traktirannya, kalau sudah dapat gaji." celoteh Bima yang membuat mereka terkekeh.


Reyhan segera merogoh dompetnya, lalu menyerahkan selembar merah pada adik bungsunya. Bima pun bersorak kegirangan.


"Reyhan... jangan sering memberi uang seperti itu pada adik mu." tegur ibunya. Ia tak ingin Bima menjadi anak yang boros.


"Jangan dihabiskan untuk jajan, usahakan bisa menabung atau buat sedekah." ucap Reyhan mengingatkan adiknya.


"Siap kak Reyhan." setelah berkata seperti itu, Bima segera berlari mengambil sepeda nya, dan bersegera berangkat sekolah.


Mereka pun kini keluar rumah, dan melajukan kendaraan berlainan arah, menuju tempat kerja masing-masing.


"Sayang, kenapa diam?" tanya Reyhan dengan lembut menatap istrinya, ketika sudah separuh perjalanan.


"Em, kamu lihat perut Anisa yang buncit ngga mas?" Reyhan terkekeh mendengar pertanyaan istrinya, yang sudah jelas jawabannya.


"Memangnya kenapa sayang? Perutnya buncit karena hamil kan? Bukan karena kekenyangan."


"Ih, bukan gitu maksud ku mas. Dia cepat sekali hamil, kok aku belum." ungkap Laura.


Reyhan menggapai tangan Laura, mengecup nya sebentar lalu meletakkan di atas pahanya.


"Rezeki setiap orang itu beda-beda sayang. Ada yang di beri kesehatan namun kekurangan materi. Jadi dia di suruh memanfaatkan kesehatan nya untuk tekun bekerja. Ada yang kaya, harta berlimpah, tapi sakit sakitan, percuma saja kan kekayaan yang ia miliki. Uangnya habis untuk berobat. Jika ia bisa menerima sakitnya dengan ikhlas dan sabar, sakitnya akan menjadikan penggugur dosa baginya. Tapi jika ia tak bisa sabar dan ikhlas, justru penyakitnya akan mengantarkan nya pada siksa akhirat. Ada yang di beri anak banyak, tapi hartanya pas-pasan. Tapi hidupnya tenang dan bahagia, yah seperti keluarga ku, hehehe. Ada yang di beri harta berlimpah tapi belum di beri kesempatan memiliki anak. Karena Allah sedang mengujinya sejauh mana mereka berusaha. Dan mungkin kita salah satunya sayang. Jadi kamu yang sabar saja. Toh kita belum ada setahun menikah kan? Yang menikah sudah berpuluh puluh tahun namun belum di karuniai anak juga ada, tapi mereka terus berdoa dan berusaha. Seperti kisahnya nabi Ibrahim, kamu ingatkan?"

__ADS_1


Hati Laura perlahan mulai lega setelah mendengar penjelasan suaminya.


"Terima kasih mas, kamu selalu menentramkan hati ku." Laura menyunggingkan senyum hangat pada suaminya.


__ADS_2