
"Tolong dong mbak, jelasin ke aku, sebenarnya mas Reyhan itu anaknya paman atau om mbak Laura?" ucap Rosyidah, tapi Laura tidak segera menjawab.
"Mbak." ulang Rosyidah.
"Iya kak." Laura menengok ke arah Rosyidah.
"Em.... Reyhan, anak om aku." ucap Laura sambil meringis karena berbohong. Sengaja dia tidak mau menjelaskan detail pertemuan nya dengan Reyhan, takut jika Rosyidah berpikiran buruk kepadanya. Dan Rosyidah membalasnya dengan mulut membentuk huruf o. Seperti terlihat lebih lega.
"Em... Kalau boleh tahu, kenapa....."
"Semua sudah beres, ayo kita pulang." seru Reyhan tiba-tiba, membuat Rosyidah tidak jadi meneruskan pertanyaan nya sehingga Laura bisa bernafas lega.
"Mari mbak, sekalian ikut mobil, in shaa Allah nanti saya antar pulang." tawar Reyhan pada Rosyidah, ia pun mengangguk setuju.
Selama di dalam mobil, mereka diam. Laura terlihat menikmati pemandangan luar lewat kaca jendela, Reyhan fokus menyetir, sedangkan Rosyidah yang duduk di belakang sesekali melihat Reyhan dan Laura yang hanya diam saja, berbeda ketika dirumah sakit tadi.
'Mungkin orang sakit sering berubah-ubah moodnya.' pikir Rosyidah.
"Sudah kuat jalan belum?" Reyhan memastikan keadaan Laura ketika sudah sampai rumah, dan ia mengangguk.
Ting tong... Ting tong
Tak lama setelah bel ditekan, pintu rumah terbuka. Bu Ani langsung membulatkan matanya melihat anaknya sudah pulang diantar Reyhan.
"Sayang, kamu sudah sehat?" tanya bu Ani sambil memeluk putri kesayangannya itu.
Laura segera di ajak masuk rumah dengan di dampingi oleh mamanya dan Rosyidah. Sedangkan Reyhan membawa barang-barang Laura.
Sambil berjalan menaiki anak tangga, Reyhan mengangkat panggilan telepon.
"Ibu?" gumamnya. Dengan lirih ia menjawab telepon itu. Ia sedikit terkejut mendengar niat ibunya yang ingin menjenguk Laura. Akhirnya, Reyhan mengirim share look alamat rumah Laura.
Setelah sampai kamar, Laura langsung berbaring di atas ranjang empuknya yang sudah beberapa hari tidak ia tiduri.
__ADS_1
Tidak ada lagi ketegangan diantara ketiganya, karena sekarang sudah ada mamanya Laura yang mengajak bercerita.
"Assalamu'alaikum." pak Atmaja dan bu Rohmah tiba-tiba sudah muncul diambang pintu kamar Laura yang dibiarkan terbuka.
Semua langsung menjawab salam dengan kompak. Sembari Rosyidah memperhatikan wanita yang berdiri di samping pak Atmaja.
"Kok bisa bareng sama ibunya Reyhan pa?" tanya bu Ani sambil mendekati bu Rohmah dan mengajaknya berjabat tangan.
"Kebetulan kita bertemu di depan gerbang. Sudah lama sekali ngga bertemu dengan non Laura, jadi ibu kangen. Eh, kemarin dapat kabar dari Reyhan kalau non Laura sakit, dan ini baru sempat menjenguk bu." ucap ibunya Reyhan panjang lebar diiringi seulas senyum. Ia meletakkan parcel buah di nakas dekat tempat tidur.
"Gimana keadaannya sekarang non?" bu Rohmah mendekati Laura dan duduk disampingnya sambil memijit pelan betis Laura. Orang desa biasa berbuat seperti itu, karena tahu pasti, sepulang dari rumah sakit biasanya badan akan terasa kaku karena kurang gerak.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik bu." Laura menjawab dengan halus diiringi senyum.
'Huh, sama siapapun bisa halus, tapi kalau sama aku, galaknya minta ampun. Menakutkan seperti raja hujan.' batin Reyhan tak terima, karena merasa Laura pilih kasih.
"Oh iya bu, perkenalkan itu kak Rosyidah, guru mengaji kami, sekaligus juga temannya mas Reyhan." ucap Laura, karena melihat Rosyidah yang terdiam sejak kedatangan ibunya Reyhan tadi.
"Rosyidah bu." ucap Rosyidah memperkenalkan diri sambil menjabat tangan bu Rohmah diiringi senyum, walaupun tidak terlihat karena tertutup cadar.
"Pulang nanti harus kamu jelaskan pada ibu ya Rey?" ucap ibunya sambil menatap Reyhan yang sedikit menyunggingkan senyum tanpa menjawab.
Tak lama kemudian, bibi datang membawa aneka cemilan dan minuman. Bu Ani mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan yang tersaji sambil kembali bercerita.
'Aneh, kenapa ibunya mas Reyhan memanggil mbak Laura dengan sebutan non? Seperti pembantu saja. Katanya tadi mereka saudara.' batin Rosyidah sambil mendengarkan percakapan kedua ibu itu.
_____
Setelah sembuh, pagi itu Laura bersiap siap berangkat kuliah. Sengaja ia tidak menjemput Choki karena marah, beberapa hari sakit tidak dijenguk sama sekali.
Sesampainya di tempat parkir, Laura justru dikejutkan karena melihat Choki keluar dari mobil Mira.
"Lhoh, bukankah itu Choki? Kenapa bisa bareng dengan Mira?" gumam Laura. Segera ia turun dan menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu su_sudah sembuh?" ucap Choki karena terkejut melihat Laura sudah berdiri didekatnya. Sedangkan Mira terlihat santai sambil berpura pura memperhatikan ujung kuku kukunya.
"Kenapa kamu bisa bareng sama dia? Kamu kan tahu dia....."
"Sssttt.... sudah sayang. Habis sakit, jangan marah marah, nanti sakit nya kambuh lagi. Seharusnya kita berterimakasih sama dia, karena sudah mau menghampiri ku. Kamu lupa ya, rumah aku dan Mira kan searah." dengan cepat Choki memotong ucapan Laura, agar tidak ada kejadian singa ngamuk karena memperebutkan dirinya.
Bergegas Choki menggandeng Laura masuk ke kelas, dan meninggalkan Mira yang mematung di dekat mobilnya dengan muka ditekuk. Choki terus menghibur hati Laura agar tidak marah lagi padanya.
"Sayang, nanti aku naik taxi saja, aku khawatir kamu kecapekan dan jatuh sakit lagi." ucap Choki ketika jam pelajaran telah selesai. Laura hanya mengangguk saja, karena memang ia ingin segera istirahat. Apalagi nanti sore, seperti biasanya Rosyidah akan datang untuk mengisi majelis di rumahnya.
"Hati hati ya sayang." ucap keduanya sebelum berpisah.
Dengan pelan, mobil Laura mulai meninggalkan halaman parkir kampus.
"Yeah...... Akhirnya bisa ngedate bareng Mira lagi." seru Choki kegirangan, setelah mobil Laura tak terlihat lagi. Bergegas ia mendekati mobil Mira untuk menunggunya.
"Lhoh, sayang. Kok kamu cemberut saja sejak tadi?" ucap Choki ketika melihat Mira masuk tanpa menyapanya.
"Sayang?" sekali lagi Choki menyapa Mira, lalu tanpa dipersembahkan masuk, Choki masuk ke mobil Mira.
"Kamu marah ya?"
"Sampai kapan sih, kamu selalu menomorsatukan tuh meses jadi jadian? Ingat ya, aku sudah korbankan semua untukmu!" semprot Mira yang membuat Choki langsung terperanjat kaget.
"Iya sayang, sabar sedikit lagi ya. Aku pasti bakalan putuskan dia kok, tenang saja. Bukankah kamu sangat membencinya? Dan, aku akan balaskan kebencian mu ke dia." ucap Choki penuh semangat, demi wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Gimana caramu membalaskan? Setiap kali kamu bertemu dengannya saja, langsung tunduk patuh."
"Justru, semakin aku tunduk patuh dan memperlihatkan sayangku padanya, dia akan terbuai. Dan ketika dia sudah benar-benar terbuai aku akan langsung memutuskannya, sehingga dia merasakan sakit hati yang sangat dalam." ucap Choki berapi-api.
Mendengar ucapan Choki tadi, seketika senyum mengembang di wajah Mira. Berharap bisa menjadi satu-satunya wanita yang dicintai Choki.
Hai kak, tetap dukung terus mas Reyhan untuk menemukan cinta sejatinya ya dengan tekan like hadiah vote dan favorit 😘🤗
__ADS_1
Terimakasih yang sudah sangat sabar mengikuti kisahnya sampai sejauh ini. semoga di beri kesehatan dan kelancaran rezeki 😉🙏