Juragan Muda

Juragan Muda
159. Sebuah hikmah


__ADS_3

"Miss Laura mau kemana?" tanya Reyhan, yang melihat Laura sedang berdandan.


"Aku hari ini ada kuliah mas." Laura menengok sebentar ke arah Reyhan, lalu kembali menghadap cermin dan sibuk memoles wajah.


"Okay baiklah. Aku antar ya, sekalian cek kondisi counter. Semenjak kita nikah aku belum cek langsung." Reyhan pun segera mengganti bajunya dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


Keduanya sama-sama menyelempangkan tas dan bergegas keluar kamar. Setelah berpamitan pada karyawan nya, Reyhan segera melajukan mobilnya.


"Kita ke rumah ku dulu ya mas, buku ku di sana semua." kata Laura sambil mengecek handphonenya, untuk memastikan jam mata kuliah nya hari ini.


Reyhan mengangguk dan mengikuti keinginan istrinya.


Setelah sekian menit perjalanan, mobil akhirnya sampai di depan rumah Laura. Reyhan segera membunyikan klakson, dan tak berselang lama, pak satpam tergopoh-gopoh membukakan pintu.


Tin...


"Terima kasih pak." kata Reyhan sambil melempar senyum ke arah satpam. Ia segera melajukan mobilnya ke carport.


Tingtong.... Tingtong


Setelah membunyikan bel beberapa kali, akhirnya pintu terbuka. Bu Ani membulatkan matanya tak percaya dengan yang ada di hadapannya saat ini.


"Laura. Anak ku sayang." Dengan mata berbinar bahagia, bu Ani langsung memeluk Laura.


Laura pun juga ikut berbinar, karena tanpa terasa sudah hampir seminggu ia meninggalkan kedua orangtuanya dan rumah yang selama ini memberi kenyamanan untuknya. Tanpa sadar ia pun menitikkan air mata.


Setelah puas berpelukan, keduanya saling mengurai pelukan. Laura dan Reyhan pun bersalaman dengan bu Ani.


"Ayo kita masuk sayang." bu Ani segera merangkul Laura masuk dan di ikuti oleh Reyhan.


"Papa!" seru bu Ani memangil suaminya.


Setelah beberapa kali panggilan, akhirnya pak Atmaja keluar dari kamar. Ia sudah tampak rapi dengan setelan jas warna hitam, dan siap berangkat ke show room.


"Laura!" pekiknya. Sambil tersenyum hangat, ia segera menghampiri anak dan menantunya.

__ADS_1


Kini mereka saling berjabat tangan dan berpelukan untuk melepas rindu.


"Ayo kita sarapan bersama sambil bercerita. Papa kangen sekali sama kalian."


"Terima kasih pa, tapi Laura cuma sebentar kok disini. Mau ambil buku buku pelajaran Laura yang tertinggal." tutur Laura apa adanya.


"Oh jadi begitu ya. Sepertinya di rumah Reyhan kamu betah sekali." kekeh pak Atmaja. Ia bisa melihat jika Laura tampak bahagia.


"Disana seru pa, ada Bima yang selalu jadi bahan bercandaan. Anisa tinggal di sana juga, jadi aku ada temannya."


"Hemm... Sepertinya, papa sama mama bakalan kangen, kalau kamu lebih banyak di sana." kata pak Atmaja, tak mampu menyembunyikan rasa kangennya pada anak semata wayangnya itu.


"Kapan kapan kita juga bakal nginep disini kok pa." kata Reyhan menyenangkan hati mertuanya. Laura mengangguk menyetujui rencana suaminya.


"Baiklah, papa tunggu waktu itu." pak Atmaja menghembuskan nafas panjang.


"Laura ke kamar dulu ya." Pamit Laura pada mereka yang tengah duduk di ruang tamu.


Laura bergegas menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar nya.


Dulu kamar itu selalu memberinya kenyamanan, karena di lengkapi dengan segala fasilitas. Seperti tv, AC, kamar mandi pribadi, dan masih banyak lagi. Bahkan lantai kamar nya masih bisa di pakai untuk berguling guling karena terlampau luas.


Tapi sekarang, kamar Reyhan yang sempit mampu membuat nya merasa jauh lebih nyaman. Duduk lesehan bersama sambil menikmati siaran tv, dan bersenda gurau, tentunya lebih mengasyikkan dari pada melihat siaran tv seorang diri di dalam kamar.


Antri memasuki kamar mandi, nyatanya lebih membuat Laura bisa tertawa cekikikan, karena bisa sambil bercerita sembari menunggu orang yang berada di dalam kamar mandi menyelesaikan hajatnya.


Makanan yang sederhana akan sangat terasa nikmat, jika di santap dengan keluarga besar dengan penuh canda tawa.


Dari keluarga Reyhan, Laura juga belajar menyayangi sesama. Menyantuni tetangga yang kurang mampu dan berbagi kebahagiaan dengan mereka.


Keadaan rumah yang ia miliki sangat berbanding terbalik dengan keadaan rumah Reyhan.


Setiap perbedaan yang sangat kentara jelas itu, bukan dijadikan nya sebagai ajang pamer, melainkan menambah rasa bersyukur nya pada Allah.


Laura sangat bersyukur di jodohkan Allah dengan orang dari golongan yang tidak mampu. Sehingga ia bisa melihat perbedaan itu dan bisa mensyukuri nya.

__ADS_1


Laura tak bisa membayangkan jika jodohnya saat ini adalah orang kaya. Mungkin sampai saat ini, hanya kebahagiaan semu atau kebahagiaan monoton yang ia rasakan. Karena setiap hari hanya melakukan rutinitas yang sama, dan semuanya sudah ada yang mengerjakannya, tanpa tahu bagaimana proses nya.


Sedangkan di rumah Reyhan, ia begitu belajar tentang kehidupan. Ia berusaha menjalankan kodrat nya sebagai wanita. Ia belajar memasak, yang ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Ia mencuci baju suaminya, merapikan dan membereskan rumah. Semua pekerjaan yang tak pernah ia sentuh sama sekali. Tapi, ia berusaha untuk melakukan nya.


Berulang kali Reyhan dan ibunya mengingatkan untuk tak melakukan pekerjaan pekerjaan itu, tapi hati kecilnya terus saja mendorong untuk melakukan nya. Sehingga Reyhan dan ibunya hanya bisa membiarkan semampunya.


Segala bentuk perhatian Reyhan dan keluarganya yang di tunjukkan padanya membuat Laura semakin bahagia. Ia akan selalu mengingat mahar yang berbeda dari umumnya yang di berikan oleh Reyhan. Tak hanya itu, surat tanah yang kemarin diberikan padanya, juga sangat membuat nya syok sekaligus bahagia.


Tanpa sadar, Laura menitikkan air mata karena merasa terharu sekaligus bersyukur dengan segala yang ia miliki saat ini.


Sementara itu, Reyhan yang berada di bawah tengah asyik bercakap cakap dengan mertuanya. Mereka sudah menganggap Reyhan seperti anaknya sendiri.


"Kenapa Laura sama sekali? Apa jangan-jangan dia tertidur." celetuk bu Ani. Ia berdiri hendak menyusul Laura ke kamarnya.


"Biar saya saja yang memanggil ma." tawar Reyhan, ia pun segera berdiri dan berjalan menuju kamar Laura.


Langkah nya seketika terhenti, ketika dari balik pintu yang sedikit terbuka ia menyaksikan istrinya yang tengah duduk di tepi ranjang membelakangi nya. Bahunya berguncang karena tengah terisak.


Hatinya berdenyut nyeri, merasa jika istrinya tengah tidak baik-baik saja. Ia mencoba berpikir keras apakah melakukan suatu kesalahan yang tidak ia sadari. Setelah terdiam sekian menit dan tak kunjung menemukan jawabannya, akhirnya Reyhan melangkah masuk pelan pelan.


"Miss Laura." suara nya yang pelan di sertai dengan tangannya yang mendarat di bahu Laura, membuat Laura tersentak kaget dan buru-buru menghapus air matanya.


"Ada apa mas?" tanya Laura dengan suara yang parau.


"Kenapa Miss Laura menangis?" tanya Reyhan dengan lembut.


Kini ia duduk bersimpuh di hadapan Laura sambil memegang kedua tangannya.


"Apa Miss Laura kangen dengan kamar ini? Apa tidak betah tinggal di rumah ku yang kecil itu? Atau ada suatu kesalahan yang kami lakukan sehingga membuat mu menangis?"


Laura tersenyum kecil mendengar rentetan pertanyaan suaminya itu, lalu menggeleng.


"Aku menangis karena aku bahagia bisa berjodoh dengan mu mas. Aku bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga mu yang penuh canda tawa dan apa adanya itu. Dari kalian aku banyak belajar tentang kehidupan yang sangat berwarna dan tidak monoton. Segala perbedaan yang kita miliki membuat ku tambah bersyukur pada Allah mas." Ucap Laura apa adanya.


Yang membuat Reyhan tersentuh, dan merasa beruntung memiliki istri sebaik Laura dan tidak tamak harta. Ia menghela nafas lega, karena ternyata dugaannya tadi adalah salah.

__ADS_1


__ADS_2