Juragan Muda

Juragan Muda
178. Sebuah permintaan


__ADS_3

Seharian Laura, Bayu, bu Rohmah dan kedua orang tua Anisa berada di rumah sakit untuk menemani Anisa.


Sedangkan Reyhan harus pergi ke showroom dan counternya. Tidak hanya itu saja, ia juga mengecek kondisi counter Bayu. Ketika adiknya sedang sibuk menunggu istrinya di rumah sakit.


Begitulah keduanya, saling membantu ketika salah satunya memiliki kesibukan.


Dan pada malam harinya ia baru bisa pulang. Sebenarnya sore tadi ia hendak ke rumah sakit menjemput Laura, tapi ternyata ia sudah pulang duluan mengendarai taksi online.


Sesampainya di rumah, Reyhan sudah di sambut hangat oleh Laura. Ia mencium punggung tangan suaminya lalu membawakan tas kerjanya.


Reyhan sangat gemas dengan Laura yang tampil memukau. Ia mengenakan midi dress sepaha warna hijau muda yang cukup tipis, seperti tahu apa yang menjadi keinginan Reyhan malam itu. Rambut Laura yang kini mulai panjang tergerai indah, sehingga membuatnya lebih cute.


'Tumben sekali istri ku langsung mengenakan baju dinasnya?' batin Reyhan.


Ia pun bergegas masuk dan tak lupa mengunci pintu rumah sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Laura.


Sembari menunggu Reyhan membersihkan diri, Laura segera menyiapkan makan malam yang sudah ia masak tadi.


Dan tak berselang lama, setelah selesai mandi Reyhan mendekatinya yang tengah berdiri sambil menata makanan di meja.


"Kenapa sejak tadi aku tak melihat Bima sayang?"


"Katanya tadi dia mengantuk, makanya makan terlebih dulu lalu langsung tidur."


"Hem, pantas saja kamu berdandan secantik ini, sengaja ingin menyenangkan hati ku ya?" ucap Reyhan sambil melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Laura, sembari menghirup dalam-dalam aroma wangi yang menguar dari rambut dan seluruh tubuhnya.


"Kalau bukan untuk suami ku, lalu untuk siapa lagi?" balas Laura sambil memutar tubuhnya, dan kini keduanya saling berhadapan dengan tatapan penuh kasih sayang.


Reyhan mendekatkan wajahnya perlahan ke arah Laura, ingin buru-buru mengecup bibir tipisnya. Laura yang tanggap langsung menutup matanya dan keduanya saling bermain bibir.


"Kakak." seru Bima tiba-tiba, yang membuat keduanya langsung menghentikan aktivitas bibirnya.


Wajah keduanya tampak bersemu merah dengan jantung yang berdegup kencang. Seperti maling yang tertangkap basah.

__ADS_1


"Katanya kamu sudah tidur?" tanya Reyhan dengan suara parau.


"Iya, memang Bima tadi sudah tidur. Tapi terbangun gara-gara pengen pipis. Kak Reyhan tadi ngapain?" tanya Bima dengan polosnya.


Mendengar Bima bertanya seperti itu, Laura langsung pura-pura sibuk untuk mengalihkan kegugupan nya. Sedangkan Reyhan sedang memikirkan jawaban.


"Kakak ngga ngapa-ngapain. Ini kakak mau makan sudah terlalu lapar. Makanannya sudah siap kan sayang?" Reyhan segera duduk di kursi sambil memperhatikan makanan yang tersedia di meja.


"I_iya mas." jawab Laura gugup.


Bima segera berlalu menuju kamar mandi, tak ingin melihat adegan dewasa kakaknya lagi. Ia juga heran kenapa sejak dulu selalu menyaksikan kakak sulung nya bermain upin ipin dengan istrinya.


Setelah Bima kembali ke kamar, Laura dan Reyhan seketika bernafas lega.


"Sepertinya keinginan kita untuk punya rumah sendiri harus di wujudkan sayang. Kecil ngga apa-apa kok. Aku ngga enak saja ketahuan Bima." cicit Laura.


"Aku pun juga sama sayang, kapan kapan kita bicara sama kedua orang tua kita lagi ya." balas Reyhan, lalu ia menyuap makanan ke mulutnya. Wajahnya berubah ketika makanan itu sudah masuk ke mulutnya.


"Ini enak kok. Kamu sendiri yang memasak sayang?"


"Kamu bohong." Laura mengerucutkan bibirnya.


"Serius aku ngga bohong. Memang kamu belum ngerasain sendiri?"


Laura menggeleng. Reyhan pun menyendok dan menyuapkan nasi sop ke mulut istrinya.


"Aku ngga bohong kan?" ucap Reyhan setelah Laura merasakan sendiri masakannya.


"Memang tadi Bima ngga memuji kalau masakan Miss Laura enak gitu?" Laura menggeleng.


"Miss Laura itu semakin hari semakin bertambah cantik, tambah pintar masak, tambah....."


"Tambah sayang sama suami." kekeh Laura. Reyhan ikut terkekeh karena istrinya semakin pintar menggodanya.

__ADS_1


Tentu saja Laura sangat senang ketika suaminya memujinya, maka dia pun juga membalas memuji dan menyenangkan suaminya.


Keduanya segera menghabiskan makanannya lalu membereskan dan mencuci piring bersama. Semua harus di kerjakan bersama-sama, tidak hanya proses bikin anak saja yang di kerjakan bersama-sama.


Itulah prinsip Reyhan, yang membuat Laura semakin sayang dan jatuh cinta padanya. Suaminya begitu memperlakukan nya dengan baik.


Seperti biasanya, Reyhan akan tiduran di pangkuan Laura sambil bercakap-cakap sebelum tidur. Meskipun hampir setahun pernikahan mereka, nyatanya keromantisan yang keduanya ciptakan tak pernah berubah. Bahkan, semakin lengket saja.


"Mumpung suasana di rumah sudah sepi, sepertinya kita harus memulai bikin adonan sekarang Miss. Siapa tahu besok pagi masih bisa nambah lagi." Reyhan menaikkan satu alisnya sambil memasang senyum menggodanya.


Setelah mandi dan melaksanakan sholat subuh, Laura segera memasak untuk sarapan Bima, Reyhan dan dirinya sendiri.


Reyhan dan Bima yang baru saja pulang dari masjid juga mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Sehingga pagi itu mereka tampak lebih sibuk lagi.


Hari itu Laura ijin tidak masuk kerja lagi, karena masih ingin menemani Anisa di rumah sakit. Tak lupa Laura juga membawakan baju ganti dan sarapan untuk ibu mertuanya. Dan sebelum berangkat ke showroom, Reyhan mengantar Laura ke rumah sakit.


"Hati-hati ya mas bawa mobilnya. Matanya jangan jelalatan kemana-mana. Aku bakal cemburu kalau sampai kamu ....." sederet pesan Laura sampaikan untuk menjaga suaminya yang sangat ia cintai.


Namun belum selesai bicara, Reyhan sudah memotongnya terlebih dahulu, sehingga membuat Laura mengerucutkan bibirnya.


"Miss Laura sayang ku, hati ku ini sudah penuh oleh nama mu. Ngga kan ada wanita lain yang mampu menghapus nama mu. Justru aku yang takut, kalau banyak kecoak yang melirik Miss Laura. Secara pesona kecantikan mu semakin terpancar. Coba kalau di tutup mungkin aku ngga begitu khawatir. Karena semua yang ada dalam diri istri adalah hak suaminya. Selain itu, tugas ku sebagai suami juga mengingatkan istrinya dalam kebaikan. Begitu juga sebaliknya, jika ada yang salah dari diri ku sebagai suami, Miss Laura juga wajib mengingatkan."


"Apa itu artinya kamu menyuruh ku memakai cadar seperti Anisa mas?" tanya Laura dengan ragu.


"Jika Miss Laura bisa melakukannya demi kebaikan, apa salahnya di coba."


Sejenak Laura memikirkan baik-baik permintaan suaminya. Jika semua demi kebaikan, seharusnya memang di coba.


"Baiklah, nanti aku akan mencobanya." ucap Laura yakin di iringi senyum hangat.


Sehingga membuat Reyhan sangat bersyukur. Keinginan nya yang selama ini terpendam, akhirnya bisa ia sampaikan dan terima baik oleh istrinya.


"Baru sekedar niat saja sudah membuat ku sangat bersyukur Miss, apalagi nanti ketika sudah terealisasi. Semoga semakin menjadi istri yang sholihah ya." ucap Reyhan sambil mengecup kening Laura cukup lama. Keduanya sangat menikmati momen indah itu meskipun di dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2