
Setelah menghabiskan 2 mangkok bubur kacang hijau, Laura terlihat berkurang pucatnya. Ia juga menyusul ibu mertuanya di dapur yang tengah memasak daging kambing, di bantu ibu ibu tetangga sekitar.
Meskipun ibu mertuanya sudah melarang, Laura tetap kukuh ingin membantunya. Sehingga Reyhan yang melihat terlihat geleng-geleng kepala.
"Ya Allah, apakah benar istri ku sakit karena kurang asupan gizi dari ku." gumam Reyhan. Ia pun menghela nafas lega. Lalu mengerjakan pekerjaan lainnya.
Siang menjelang, Laura kembali pucat, akhirnya ia pun segera beristirahat.
"Mau di buatkan apa lagi Miss?" sebelum Laura meminta, Reyhan sudah menawarkan duluan.
'Pasti mau di buatkan makanan lagi.' tebaknya.
Namun ternyata kali ini tebakan nya salah. Laura hanya ingin tidur di peluk Reyhan.
"Ya ampun, ngga usah minta, juga bakal ku peluk Miss Laura dengan senang hati. Ayo sini nak, kita bobok bareng." kekeh Reyhan seperti hendak menidurkan bayi.
Lalu memeluk Laura hingga tak lama kemudian keduanya tertidur pulas. Padahal suasana di luar amat lah berisik. Suara riuh dari para mulut tetangga, yang bercampur dengan suara peralatan dapur yang berdenting serta suara tangisan bayi Anisa tak mampu menggoyahkan kenyamanan tidur mereka. Hingga menjelang sore barulah Reyhan menggeliat bangun.
"Hah! Sudah jam 4?" seru Reyhan dengan mata terbelalak kala melihat jam di handphone nya.
Bergegas ia membangunkan Laura, namun tetap tak kunjung bangun. Akhirnya ia segera mandi lalu sholat.
Setelah melaksanakan serangkaian aktivitas itu, ia kembali membangunkan istrinya, namun tetap tak kunjung bangun.
"Nafasnya masih ada. Tapi kenapa ngga bangun bangun? Apa istri ku berubah jadi Putri Tidur?" gumamnya setelah mendekatkan jari telunjuk di hidung Laura.
Akhirnya Reyhan menunggu beberapa saat, lalu kembali membangunkan. Dan akhirnya perlahan Laura mengerjapkan matanya.
"Ya Allah Miss Laura. Aku kira kamu berubah jadi Putri Tidur, yang harus di kecup oleh Pangeran nya agar bisa bangun lagi."
Laura menyunggingkan senyum mendengar celotehan suaminya. Lalu kembali menutup matanya.
"Miss Laura ini sudah sore, ayo bangun sholat dan mandi dulu." Reyhan menggoyang pelan tubuh Laura.
__ADS_1
"Iya iya mas. Baru jam berapa sih?" tanyanya santai.
"Sudah jam 5. Ayo segera bangun, sudah ku rebuskan air agar tidak kedinginan. Sudah ku campur juga dengan kembang 7 rupa juga."
"Memang nya aku dukun ya mas, harus mandi pakai bunga 7 rupa."
"Bukan. Miss Laura seperti bidadari makanya mandi nya pakai bunga 7 rupa." keduanya terkekeh karena candaan Reyhan.
Laura dengan malas beranjak bangun dari tidurnya. Bahkan ia berdiri sedikit sempoyongan. Hingga akhirnya Reyhan membantu memapahnya.
"Wajah Miss Laura masih pucat. Pasti karena melewatkan makan siang tadi. Sambil menunggu Miss Laura mandi, aku di suruh masak apa nih?"
"Apa ya mas, aku juga bingung." Laura mengetuk bibirnya sambil berpikir.
"Aku mau bayi Anisa nanti malam tidur sama kita saja mas."
Reyhan menepuk jidatnya, karena permintaan istrinya melenceng jauh dari topik utama soal makanan. Ia pun segera mengulang pertanyaan nya, dan Laura tetap pada pendiriannya.
"Apa! Yang benar saja kak?" Bayu tersentak kaget dengan ucapan kakaknya.
"Kamu tega melihat istri ku yang cantik jelita tiada tara berwajah pucat seperti mayat karena keinginan nya tidak terpenuhi?" Atau mau diskon harga mobil mu aku cabut sehingga kamu harus bayar penuh?"
'Hem. Mulai deh kumat lagi penyakitnya. Pasti kalau ada maunya selalu mengancam."
"Itu harus, demi istri ku."
Bayu geleng-geleng kepala melihat kebucinan yang kakak nya tunjukkan. Padahal Bayu sendiri juga bucin akut pada Anisa, namun ia tak sadar diri.
"Aku bicara dengan Anisa dulu." akhirnya Bayu mengalah, dan ia segera mendekati Anisa yang tengah berada di kamarnya.
"Apa! Yang benar saja mas. Zakira kan anak ku. Masa iya tidurnya dengan orang lain." Reaksi Anisa sesuai dengan prediksi Bayu.
Akhirnya setelah perdebatan panjang, Anisa mau meminjamkan bayinya semalam pada Reyhan dan Laura.
__ADS_1
Pukul 7 malam acara aqiqah akan di mulai. Dan kini semua hidangan sudah tersaji di meja prasmanan yang ada di teras rumah. Karena dalam rumah tidak cukup untuk menampung tamu.
Sejak pagi tadi kedua orang tua Anisa sudah datang. Sedangkan kedua orang tua Laura datang sebelum Maghrib, agar punya waktu lebih lama mengunjungi Laura.
Kedua orang tua Anisa tampak senang melihat cucu mereka yang cantik. Keduanya silih berganti memangku cucu mereka.
Sedangkan kedua orang tua Laura tampak khawatir ketika melihat anaknya yang terlihat pucat.
Berulang kali keduanya menyuruh Reyhan untuk memeriksakan Laura ke dokter. Namun Laura bersikeras menolak, karena sudah bosan minum obat. Seperti saat ia kedatangan tamu bulanan.
Akhirnya kedua orang tuanya pun mengalah. Yang penting Laura masih mau makan dan tidak mengerjakan aktivitas berat.
Seluruh keluarga inti bu Rohmah menyambut kedatangan para tamu dengan pakaian serba putih sehingga terlihat kompak. Mereka berdiri berjejer di teras rumah menyambut kehadiran para tamu undangan.
Dan setelah selesai menunaikan sholat Isya', satu persatu tamu undangan mulai berdatangan. Keluarga Rosyidah pun juga ikut hadir dalam acara itu, karena kemarin saat di rumah sakit, haji Dahlan dan istrinya belum sempat menjenguk.
Tak lama kemudian, tamu undangan sudah memenuhi pelataran rumah yang tidak terlalu lebar itu. Hingga ketika semua sudah siap, acara pun segera di mulai.
Dengan bacaan salam dan ucapan selamat datang, acara itu pun di buka oleh pembawa acara. Lalu di lanjutkan dengan acara tilawah Al-Qur'an yang di bacakan oleh Rosyidah.
Semua terhanyut dalam lantunan ayat suci yang terdengar sangat merdu di setiap pasang telinga para hadirin. Sehingga bacaan yang sebenarnya panjang itu tidak terasa panjang dan akhirnya selesai, lalu di lanjutkan acara berikutnya, yaitu sambutan tuan rumah.
Bayu sebagai seorang bapak yang menyambut kelahiran bayi pertama nya sekaligus sebagai tuan rumah memberikan sepatah dua patah kata untuk menyambut dan mengucapkan terima kasih pada para hadirin. Serta tak lupa memohon doa dari mereka untuk kebaikan putri pertamanya.
Dan selanjutnya acara yang paling di nanti nanti, yaitu doa dan shalawat saat pencukuran rambut bayi yang di lakukan satu persatu keluarga Bayu dan Anisa, serta tentunya oleh haji Dahlan selaku tetua dan pengisi acara nanti.
Ketika haji Dahlan sudah selesai memotong rambut bayi itu, kini di lanjutkan oleh Bayu sebagai bapaknya.
Bayu bergetar tangannya ketika untuk yang pertama kali menyentuh gunting dan mulai memotong rambut bayinya yang masih sangat lembut.
"Jangan grogi mas, nanti malah melukai dek Zakira lho." bisik Anisa. Bayu pun meringis karena istrinya tahu dengan yang ia alami saat itu. Sehingga ia berusaha tenang, barulah menggunting rambut bayinya.
Setelah Bayu selesai menggunting, di lanjutkan oleh anggota keluarga lainnya. Barulah di lanjutkan dengan acara pengajian, lalu makan bersama.
__ADS_1