
Selama beberapa hari ini, keadaan Laura tak kunjung membaik. Bahkan, lagi lagi ia tidak mengikuti kegiatan majelis dan absen kuliah. Rosyidah kembali menemuinya di kamar.
Terlihat Laura sedang tertidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Rosyidah menempelkan tangannya dikening Laura.
"Sangat panas." desisnya.
Melihat keadaan Laura yang semakin terlihat mengkhawatirkan membuatnya iba. Rosyidah bergegas kembali kebawah menemui orang tua Laura dan mengabarkan keadaan Laura. Sehingga orangtuanya berinisiatif untuk membawanya ke rumah sakit.
Awalnya Laura juga bersikukuh untuk tetap di rawat di rumah saja, tapi badannya yang kian lemas membuat ia tak bisa lagi melakukan perlawanan.
"Reyhan, cepat gendong Laura! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." titah pak Atmaja yang sangat panik, begitu juga dengan bu Ani.
Sejenak Rosyidah dan Reyhan saling bertukar pandang. Entah kenapa hati Rosyidah merasakan sakit ketika pak Atmaja menyuruh hal itu pada Reyhan.
"Ayo cepat Reyhan!" sekali lagi pak Atmaja mengulangi perkataannya. Yang membuat Reyhan mau tak mau harus segera melaksanakan perintahnya.
Dengan sigap ia menggendong tubuh Laura yang terlihat semakin kurus, wajah yang pucat dan lingkar hitam dibawah mata sangat jelas terlihat. Yang menandakan ia sedang tidak baik baik saja.
Dan, alangkah terkejutnya Rosyidah ketika melihat penampilan Laura yang sekarang, hanya mengenakan short pant dan tangtop. Tidak seperti biasanya ketika ia bertemu dengannya yang memakai set gamis.
Apalagi Reyhan terlihat tidak canggung ketika menggendong Laura.
'Terlihat seperti suami dan istri saja.' batinnya.
Tapi, Rosyidah segera menepis pikiran buruk itu ketika teringat penjelasan Reyhan dulu yang mengaku saudara pak Atmaja.
Semua berduyun-duyun turun ke lantai bawah menuju mobil Reyhan terparkir. Bu Ani dan pak Atmaja segera masuk ke dalam mobil bagian belakang dan memangku putri kesayangannya. Sementara Reyhan segera memutar kemudi nya tapi melihat Rosyidah yang masih diam mematung di luar mobil.
__ADS_1
"Aku harus mengantar Miss Laura ke rumah sakit sekarang. Kamu mau ikut atau menunggu disini sebelum aku antar pulang?"
Setelah Rosyidah kembali menata hatinya, ia mengangguk dan segera masuk mobil, duduk di depan. Karena hanya itu tempat yang tersisa.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, agar segera sampai dirumah sakit yang dituju. Semua saling terdiam dengan perasaan masing-masing. Dan sepertinya perasaan cemas dan khawatir Reyhan sangat jelas terlihat di wajah dan sikapnya saat ini. Sampai bu Ani menegurnya.
"Reyhan, tolong pelan kan sedikit laju mobilnya. Mama sangat takut."
"Eh, i_iya ma." dengan gugup Reyhan menjawab. Rosyidah pun juga ikut menengok ke arah Reyhan yang masih terlihat khawatir.
Akhirnya, mobil tiba di pelataran rumah sakit. Dan Reyhan kembali menggendong Laura sampai akhirnya petugas datang membawa brankar dorong. Bergegas dokter jaga segera melakukan pemeriksaan.
"Gimana kondisi nya dok?" mereka serempak bertanya dan serius menatap dokter.
"Sepertinya asam lambungnya naik. Tapi nanti saya akan lakukan pemeriksaan kembali. Suster coba ambil sample darah nya dulu." titah dokter muda itu.
Sejak tadi, Reyhan duduk didekat pak Atmaja, sedangkan Rosyidah duduk didekat bu Ani. Semua terdiam sambil menunggu hasil tes nya, yang tidak tahu kapan akan keluar. Di satu sisi Reyhan ingin menunggu sampai Laura membuka mata, tapi di satu sisi dia ada kewajiban untuk mengantar Rosyidah pulang.
"Bu, semoga mbak Laura cepat sembuh ya. Maaf saya tak bisa menunggu lama disini." Rosyidah berpamitan pada bu Ani. Bu Ani mengucapkan terimakasih dan mengaminkan doa Rosyidah. Setelah itu, Rosyidah juga berpamitan pada pak Atmaja. Reyhan akhirnya bangkit berdiri dan berpamitan untuk mengantar Rosyidah pulang. Setelah itu ia berjanji akan kembali ke rumah sakit lagi. Tapi, bu Ani melarangnya karena hari sudah larut malam.
Selama 4 hari Laura terbaring dirumah sakit. Ia berusaha untuk menghubungi Choki, berharap kekasihnya itu untuk menjenguknya walau hanya sebentar. Tapi Choki tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Pesan dari Laura pun seringkali dia telat balas. Terkadang dengan Laura merasa kesal dengannya, tapi ketika sudah bertemu, seluruh perasaan kesalnya langsung lenyap.
Selama dirumah sakit, Rosyidah terus mengunjungi Laura. Awalnya Laura malu karena tak mengenakan jilbab, tapi Rosyidah tidak menyinggungnya, sehingga akhirnya Laura pun terlihat santai. Selama berkunjung, Rosyidah banyak bercerita dan mengajari beberapa hal tentang ilmu agama. Laura terlihat memperhatikan Rosyidah dengan serius. Dan hal itu bisa sedikit mengalihkan pikiran Laura dari Choki.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu diijinkan pulang juga mbak." ucap Rosyidah ketika dokter memberi tahu bahwa hari ini Laura sudah diijinkan pulang.
Rosyidah membantu Laura mengemasi barang-barangnya. Karena pak Atmaja harus ke showroom untuk mengecek. Sedangkan bu Ani baru saja pulang, badannya juga tidak enak karena kurang istirahat selama menunggu Laura sakit.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Reyhan tiba-tiba sudah muncul dihadapan mereka. Rosyidah segera menoleh ke asal suara sembari menjawab salam. Sedangkan Laura masih duduk bersandar dengan muka datar tanpa menjawab salam Reyhan.
"Alhamdulillah mas, mbak Laura sudah diijinkan pulang." Rosyidah memberitahu kabar gembira itu pada Reyhan, dan ia segera mendekati mereka.
"Miss Laura sudah sehat?" tanya Reyhan, dan Laura mengangguk.
"Kenapa kamu baru datang menjenguk ku?" sikap manja Laura mulai terlihat, dan itu membuat Reyhan lega. Itu tandanya ia sudah benar benar sembuh.
"Maafkan aku, aku baru saja pulang dari seminar di Bandung, langsung kesini. Aku bawa sesuatu untukmu." Reyhan menyerahkan paper bag pink, dan Laura langsung membuka. Lagi-lagi Reyhan membelikannya set gamis dan mukena dari sebuah brand ternama. Laura terlihat senang menerimanya tapi dalam hati ia tidak tahu kapan bisa selalu memakainya.
Dari tadi Rosyidah terus memperhatikan keduanya, bahkan keduanya seperti melupakan kehadiran Rosyidah disana.
'Hubungan persaudaraan seperti apa maksud mereka? Sepertinya aku harus mencari tahu. Kenapa mas Reyhan selalu memanggil mbak Laura dengan sebutan Miss?' batin Rosyidah.
"Oh ya, mbak Rosyidah, titip Miss Laura dulu ya. Aku mau selesaikan administrasi nya." setelah berpamitan, Reyhan bergegas keluar.
"Seneng ya mbak, punya saudara yang baik seperti mas Reyhan. Berasa punya kakak laki-laki." celetuk Rosyidah sambil tersenyum.
Tapi, Laura justru mengerutkan keningnya.
'Apa memang aku terlihat sangat bahagia ketika berada didekat Reyhan? Sehingga Rosyidah bisa berkata demikian. Sejak kapan juga, aku menjadi saudara Reyhan?' batin Laura. Ia terpaksa mengangguk karena tak tahu harus menjawab apa.
"Tolong dong mbak, jelasin ke aku, sebenarnya mas Reyhan itu anaknya paman atau om mbak Laura?" ucap Rosyidah terlihat bersemangat mencari info tentang Reyhan.
'Pertanyaan macam apa itu? Kenapa harus bertanya detail sekali? Memangnya ia petugas sensus?' Laura kesal dengan pertanyaan Rosyidah yang tak masuk akal itu.
Hai kak tetap dukung mas Reyhan untuk menemukan cinta sejatinya dengan tekan like hadiah vote dan favorit. Terimakasih dan sehat selalu 😘😘
__ADS_1