Juragan Muda

Juragan Muda
32. Motor Baru


__ADS_3

Deg!


Jantung Tiwi berdetak kencang.


'Ibu ngomongin aku?' batinnya sambil menajamkan pendengarannya.


Ternyata setelah masuk kamar dirinya lupa mengunci pintu, akhirnya bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu kamar.


Dan ketika mengunci pintu dirinya tak sengaja mendengar ibunya sedang membicarakan dirinya.


'Hem... kenapa insting seorang ibu kuat ya? Bisa mengetahui apa yang sedang terjadi sama anaknya.'


'Mas Bayu. Dia baik, pengertian, selalu bantuin aku selama kerja disana. Kalo soal ganteng.... ya 11 12 sama mas Reyhan. Tapi.... Kenapa sampai sekarang aku masih saja terus memikirkan mas Reyhan yang nyata nyatanya tak pernah suka sama aku? Sedangkan mas Bayu orang yang tak pernah aku harapkan, tak ada angin tak ada badai malah tiba-tiba menyatakan perasaannya ke aku?' Tiwi bermonolog di depan cermin, lalu setelahnya menghela nafas panjang.


'Bapak mendukung dengan semua keputusan ku, sedangkan ibu masih sedikit abu abu, walau ada sebersit keinginan untuk aku bisa dekat dengan mas Reyhan. Oh Tuhan, kenapa aku harus terjebak dengan perasaan yang rumit diantara kakak beradik itu.' Tiwi pun mengusap wajahnya kasar untuk menghilangkan segala kegelisahan.


Setelah itu merebahkan diri diatas kasur nya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tapi Tiwi hanya bisa berguling kesana kemari, karena belum bisa memejamkan matanya. Padahal badan nya sudah terasa tak karuan.


'Apa yang harus aku lakukan besok ketika ketemu mas Bayu di counter?'


Pagi yang tak diharapkan Tiwi pun akhirnya tiba juga. Walaupun bangun dengan sedikit malas akhirnya dia tetap melaksanakan aktifitas hariannya.


Tak seperti biasanya hari ini Tiwi terlambat 10 menit. Untung Reyhan tak mempermasalahkan soal itu dan bergegas memasuki counter.


"Sudah dari tadi mbak?" sapa Tiwi ketika melihat Dinda sedang menyapu, lalu dengan sigap Tiwi juga mengelap etalase.


"Baru saja kok mbak Tiwi." jawab Dinda singkat, lalu keduanya kembali sibuk dengan aktifitas masing-masing.


"Mas Bayu sudah sembuh?" tanya Dinda yang melihat Bayu sudah berdiri di ambang pintu masuk dari belakang.


Tiwi pun menoleh mendengar Dinda bicara seperti itu. Bayu pun juga langsung menatap nya.


'Astaga, kenapa udah mulai kerja, harusnya rebahan aja dulu yang lama.' batin Tiwi.


"Kalo rebahan terus kapan aku sembuhnya, mending aku kerja bantuin kalian biar cepet selesai kerjanya." ucap Bayu yang mulai mendekat ke etalase counter hendak merapikan handphone yang terpajang.


'Lhoh, kok dia tau isi hatiku? Wah gawat jangan jangan......' Tiwi tak mau membatin Bayu terlalu lama takut nya Bayu mengetahui. Walau kenyataan nya Bayu tak memiliki ilmu perbatinan dan hanya sekedar menebak saja.


_____


"Kak."


"Hemm...."


"Boleh ngomong ngga?"

__ADS_1


Reyhan pun langsung menghentikan aktivitasnya menatao handphone. Lalu menatap Bayu sambil mengernyitkan dahinya. Tumben adiknya minta ijin mau bicara, biasanya juga asal nyerocos aja.


"Aku ngga salah dengar?" Reyhan pun balik bertanya.


"Tumben, mau ngomong pake ijin segala. Biasanya juga langsung nyerocos."


Seperti biasanya Bayu langsung menimpukkan bantal ke Reyhan.


"Nah kan...... keluar deh sifat aslinya."


"Iya iya maaf. Kak, aku mau beli motor, tapiii uangnya masih kurang. Kamu tambahin ya?" pintu Bayu dengan wajah memelasnya.


"Boleh."


Bayu langsung berbinar bahagia dan bersorak riang.


"Tapi....." ternyata Reyhan belum selesai bicara, dan Bayu langsung terdiam.


"Kok pake tapi?"


"Tapi potong gaji." balas Reyhan cepat, lalu dia tertawa terbahak bahak.


Bayu melongo kakak nya tega berbuat seperti itu. Binar bahagia yang tadi dirasakan sirna sudah.


"Kenapa ribut ribut?" Bu Rohmah ikut duduk di samping kedua anaknya sambil meletakkan pisang goreng dan es kopi. Bima pun mengikuti langkah ibunya.


"Ditanya kok malah pada diem, Kenapa?" ibu memalingkan wajahnya ke Bayu dan Reyhan yang berbeda ekspresi. Yang satu cemberut yang satu menahan tawa.


"Itu... kak Bayu aku suruh nambahin uang buat beli motor, kok jawabnya malah mau dipotong uang gajiku bu." akhirnya Bayu buka suara.


Mendengar penuturan Bayu, ibu dan Bima juga ikutan tertawa. Sedangkan Reyhan masih terlihat santai sambil cengar-cengir.


"Bener itu Rey?"


"He em bu."


"Ya udah Bay, ikutin kata kakakmu aja. Kan uangnya juga buat modal usaha juga."


"Lhoh, kok ibu belain kakak sih. Ngga kasian aku apa. Kan juga pengen bisa ngerasain punya motor baru."


Sesaat suasana hening. Ibu juga tak berani mengusik keuangan Reyhan. Karena mulai sekarang karyawan Reyhan 4 orang. Tapi disatu sisi juga kasian dengan Bayu dari dulu pake sepeda motor bekas.


"Emang uangnya kurang berapa?" tanya Reyhan memecah kesunyian.


"5 juta." jawab Bayu singkat.

__ADS_1


"Okay aku tambahin."


"Ngga pake potong gaji kan?" Bayu memastikan lagi.


"Enggak enggak. Lagian kamu itu harusnya bersyukur, walaupun motor bekas yang penting masih bisa dipake. Memang yang pake motor bekas cuma kamu aja? Kakak pun sama. Tapi enjoy enjoy aja." Reyhan berusaha memberi pengertian ke Bayu.


"Iya iya, tapi kalo udah janji ngga bisa dirubah lho ya."


"He em." jawab Reyhan singkat.


Ibu pun akhirnya bisa bernafas lega melihat Reyhan yang bersikap sangat dewasa dan dari dulu selalu mengalah demi bisa membahagiakan adiknya.


"Yee... kapan kak beli nya? Ntar aku boleh nyoba ya?" pinta Bima dengan binar bahagia.


"NGGA BOLEH!" jawab ibu, Bayu dan Reyhan serempak yang langsung membuat Bima cemberut.


"Kamu kan masih kecil, kalo diboncengin baru boleh." tukas ibu sambil menahan tawa.


"Hore... di boncengin juga ngga papa." sorak Bima.


"Permisi mbak, counter LARIS JAYA CELL, pemiliknya Reyhan Perdana Kusuma bener ini ya?" tanya seorang sopir.


"Iya pak. Ada yang bisa dibantu?" sahut Tiwi cepat.


"Begini mbak, kami mau mengantarkan pesanan mas Reyhan. Berupa satu unit motor Nmax."


'Wao, ngga nyangka banget mas Reyhan beli motor itu. Pasti penampilan nya makin keren.' batin Tiwi.


"Mbak... Mbak..." panggil pak sopir lagi, Dinda pun segera menyenggol siku Tiwi.


"Eh iya iya pak, gimana?"


"Yang bersangkutan ada?"


"Ada pak. Eh maksudnya yang ada adiknya, sekarang mas Reyhan baru keluar, sebentar saya panggilkan ya." lalu Tiwi segera berjalan masuk rumah mencari keberadaan Bayu.


"Wah, ngga nyangka lho mbak saya, baru mas Reyhan yang bisa beli motor kayak gitu. Pasti harganya mahal." bisik Dinda ke Tiwi. Tiwi pun mengangguk sambil cengar-cengir.


Bima bersorak gembira, ketika motor besar itu mulai diturunkan dari mobil.


"Ayok kak, kita coba buat keliling desa." ajak Bima. Bayu pun mengangguk, lantas menyerahkan dokumen ke ibunya. Lalu segera menaiki motor besar itu keluar halaman.


"Lhoh mbak, yang beli mas Reyhan kok yang pake duluan mas Bayu ya." kata Dinda sambil melongo melihat Bayu. Tiwi pun segera melihat juga.


'Saking baiknya mas Reyhan itu pasti.' batin Tiwi.

__ADS_1


__ADS_2