Juragan Muda

Juragan Muda
74. Pertemuan Tiwi dan Anisa


__ADS_3

"APA! Mengundurkan diri?" mata pak Somad terbelalak tak percaya. Segera ia menemui Tiwi yang berada di kamarnya.


"Apa benar yang ibu katakan, jika kamu sudah mengundurkan diri dari counter nak Bayu Wi?" tanya pak Somad yang sudah berdiri diambang pintu kamar Tiwi. Tiwi segera mengangguk.


"Ada masalah apa sehingga kamu memutuskan hal itu nduk? Bukankah Bayu itu adalah pacar mu?"


"Tiwi ingin cari pengalaman kerja ditempat lain pak."


"Dengarkan bapak nduk, cari kerja jaman sekarang itu susah. Biarpun lulusan SMA kalau ngelamar kerja di pabrik ngga ada yang bawa juga susah diterima. Seharusnya kamu bersyukur kerja di counter Bayu, gajinya juga lumayan banyak, dan bapak lihat juga ngga terlalu berat kerjaannya."


"Tapi pak...."


"Jangan pernah kamu mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan, itu namanya tidak profesional. Apa yang akan bapak sampaikan nanti ke mereka soal keputusan mu yang tiba-tiba ini. Tolong, jangan buat bapak malu. Mereka sudah amat banyak membantu kita." sela pak Somad. Setelah berkata seperti itu pak Somad meninggalkan Tiwi.


"Kenapa bapak tak pernah memikirkan perasaanku, selalu saja memikirkan perkataan orang lain."


_____


"Kenapa sering pulang malam lagi Bay?" tanya bu Rohmah suatu malam.


"Pekerjaan di counter lumayan banyak bu, Bayu sedikit kerepotan."


"Bukankah kamu sudah memiliki 3 orang karyawan?"


"Tapi Bayu tetap harus bantu mereka bu."


"Oh ya, kok sering sekali Tiwi main kesini. Hampir tiap pulang kerja selalu mampir kesini mencari kamu. Memang ngga pernah bertemu di counter?"


"Ketemu bu." Bayu segera masuk kamar, takut ibunya bertanya lebih banyak lagi.


"Kenapa akhir akhir ini Bayu terlihat seperti berubah ya Rey?" bisik bu Rohmah.


"Biarkan dulu dia seperti itu bu, nanti kalau masalah nya sudah selesai pasti juga akan ceria lagi. Sebuah usaha kan juga butuh konsentrasi yang tinggi. Adakalanya naik dan turun. Doakan dia selalu bu." ucap Reyhan sambil mengelus punggung ibunya agar lebih tenang.


_____


"Nak Bayu." pak Somad segera berlari kecil mendekat kearah Bayu yang sudah siap berangkat ke counter.


"Ada apa pak?"


"Begini, bapak cuma mau bilang, maafkan Tiwi kalau selama bekerja di counter nak Bayu dia pernah berbuat salah."


"Oh, tenang saja pak. Tiwi ngga melakukan kesalahan apapun kok."


"Maafkan juga kalau Tiwi memilih keluar dari counter nak Bayu. Katanya ingin mencari pengalaman kerja ditempat lain."

__ADS_1


"Iya pak, tidak apa-apa. Semoga dapat pekerjaan yang lebih baik lagi daripada menjaga counter yang gajinya tidak seberapa ya pak. Ya sudah saya harus segera berangkat. Permisi pak."


'Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan kisah cinta mereka. Kalau ngga, ya ngga mungkin Tiwi keluar dari counter. Sebenarnya aku juga suka dengan nak Bayu, tapi jika takdir tak menyatukan mereka ya apa boleh buat.'


_____


Setelah Tiwi benar-benar sembuh, ia segera membuat surat lamaran kerja. Beberapa toko, pabrik, counter coba iya masuki untuk menanyakan lowongan kerja.


Beberapa bulan berselang, tapi belum ada satupun panggilan kerja untuknya. Dirinya hampir saja putus asa. Tapi untuk kembali ke counter Bayu, itu rasanya juga tidak mungkin.


Sampai ia tak sengaja melihat sebuah informasi lowongan kerja dari pacebok. Matanya seketika berbinar. Secercah harapan timbul dihatinya.


Dengan mengendarai motor nya, ia berangkat menuju ke alamat yang tak jauh dari tempat tinggalnya.


"Bener ngga ya ini rumahnya? Kenapa cuma rumah biasa, bahkan tidak mirip toko sama sekali? Apa, jangan-jangan itu cuma iklan abal-abal." gumam Tiwi dan mendengus kesal merasa telah dibohongi. Akhirnya dia memutuskan pulang dan mulai menyalakan motornya.


"Ada yang bisa dibantu mbak?" tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Tiwi.


"Eh, ini pak, saya tadi melihat ada iklan lowongan kerja di pacebok, alamat nya sih disini, tapi kok rumahnya sepi ngga ada apa-apa." Tiwi tersenyum menahan malu.


"Boleh saya lihat dulu iklannya."


"Boleh boleh pak." Tiwi mengulurkan handphone nya pada pria paruh baya yang ada di dekatnya itu.


"Oh iya pak terimakasih." Tiwi melajukan motornya memasuki halaman rumah bapak itu. Setelahnya ia lebih memilih duduk di teras sambil bercakap-cakap dengan bapak itu menunggu kepulangan anaknya.


"Nah, itu dia sudah pulang." bapak itu menunjuk seorang wanita berhijab lebar yang menaiki motornya memasuki halaman rumah.


"Assalamu'alaikum." sapa nya ramah.


"Wa'alaikumussalam." balas keduanya.


"Anisa, ada yang ingin bertemu dengan mu. Abi tinggal ke belakang ya."


"Baik bi."


"Ada yang bisa dibantu? Dengan mbak siapa?" tanya Anisa dengan senyum ramah, walaupun memakai niqab tapi tetap terlihat dari matanya yang menyipit.


"Eh, i_iya mbak. Saya Pratiwi, panggil saja saya Tiwi. Em... Saya kesini karena melihat iklan di pacebok mbak." dengan gelagapan Tiwi menyodorkan handphonenya ke wanita yang memiliki penampilan berbeda dari kebanyakan orang. Dan itu sedikit membuat Tiwi minder. Karena Tiwi mengenakan kaos ketat dan celana jeans panjang.


"Oh iya mbak benar, saya memang lagi mencari karyawan untuk toko saya."


"Kalau boleh saya mau melamar mbak, ini saya sudah siapkan berkas lamaran saya." Tiwi menyodorkan map biru ke Anisa. Segera Anisa menerima dan mulai membaca tiap kata yang tertera.


"Mbak Tiwi, saya baru tahap merintis ya mbak. Jadi belum bisa mematok gaji yang tinggi. Tapi in shaa Allah saya tetap akan berusaha memprioritaskannya."

__ADS_1


"Em... tidak apa-apa mbak, asalkan halal saya terima."


Setelah itu mereka mulai terlibat percakapan yang lumayan lama.


"Oh iya, mbak Tiwi sudah sholat belum? Maaf keasyikan cerita jadi lupa sholat."


"Be_belum mbak." Tiwi merasa gugup saat menjawab, karena selama ini ia memang tak pernah sholat. Sholat nya ketika dulu masih kerja di counter Reyhan. Selama kerja di counter Bayu ia kembali meninggalkan kewajibannya.


"Ya sudah, kita sholat bareng yuk. Nanti setelah sholat saya ajak ke toko saya."


"Baik mbak Anisa."


Tiwi merasa hatinya lebih tenang ketika sudah selesai sholat. Hatinya bersyukur karena bisa dipertemukan dengan wanita sebaik Anisa.


Dengan mengendarai kendaraan masing-masing, keduanya berangkat menuju toko Anisa yang terletak di pinggir desa, depan jalan raya.


'Wah, tokonya lumayan besar juga ternyata.' batin Tiwi ketika sudah sampai di sebuah bangunan bercat putih yang hanya terdiri satu lantai tapi tampak luas itu.


"Mari masuk mbak Tiwi." ucap Anisa yang mengejutkan Tiwi.


"Eh i_iya mbak." Tiwi tersenyum mengikuti langkah Anisa yang mulai masuk ke dalam toko.


"Nah, jadi ya seperti ini keadaannya, masih lumayan berantakan." dengan senyum malu Anisa menceritakan keadaan tokonya.


"Jadi kapan saya diijinkan bekerja mbak?"


"Mulai besok ya? Mumpung saya libur mengajar."


"Iya mbak, mbak Anisa seorang guru kah?"


"Iya, kalau pagi sampai siang saya mengajar di sekolah madrasah, sore mengajar TPA, malam mengisi pengajian ibu-ibu. Jadi saya sangat kerepotan kalau tambah mengurusi usaha baru ini. Tapi usaha ini adalah cita-cita saya juga sejak kecil."


"Oh iya, sampai lupa mau tanya, memang apa saja produk ditoko ini mbak?"


"Pakaian syar'i."


Hadiah berupa pulsa masih menanti ya, semangat kasih dukungan ke author yuk. Tetep setia sama mas Reyhan ya😉😉


Hai kak readers yg kece badai 😘😘


Sambil nunggu karya ini up lagi, boleh mampir ya ke Karya teman ku.


Jangan lupa tinggalkan jejak biar kita semua tambah semangat 😘😘


__ADS_1


__ADS_2