
"Ehem." suara deheman dosen mengagetkan seisi ruangan. Mereka segera berhamburan menuju tempat duduknya masing-masing.
Dosen itu menatap Laura tanpa kedip.
"Siapa kamu?" kata dosen itu sambil mengernyitkan dahi dan menunjuk Laura.
"Saya Laura Arabela pak, masa lupa." dengan senyum manis Laura menjawab.
"Wow, semakin cantik saja kamu memakai pakaian seperti itu. Seperti bidadari." dosen itu terkekeh ketika memuji Laura.
"Terima kasih pak, Soal nya calon suami saya juga ganteng, dan baik. Jadi saya harus mengimbanginya." balas Laura juga sambil terkekeh.
"APA! Kamu mau menikah?"
"In shaa Allah iya pak, nanti bapak dan teman-teman datang ya. Undangan nya menyusul."
Mira semakin mendidih otak nya karena semua memuji Laura.
"Baiklah aku tunggu undangannya, sekarang kita akan mulai ujiannya. Nama yang saya sebutkan silahkan memasuki ruang sebelah. Di sana sudah ada dosen penguji."
"Baik pak." semua serempak menjawab.
Satu persatu nama mahasiswa di panggil. Dan kini tiba giliran Laura. Dengan langkah tenang ia memasuki ruang sidang. 3 orang dosen menguji menatap Laura tanpa kedip. Laura yang merasa di perhatikan terlihat senyum.
"Kamu... Laura kan?" tanya salah satu dosen yang kepo.
"Iya pak." dengan halus Laura menjawab.
"Wow, semakin cantik saja pakai hijab." balas dosen lainnya.
"Terima kasih pak."
"Kita mulai ujiannya ya." Laura kembali mengangguk dan tersenyum.
'Bismillah, mudahkan ujian ku ya Allah.' batin Laura sebelum sidang di mulai.
Setelah hampir 1 jam, akhirnya ujian itu selesai. Laura tersenyum puas, karena dosen langsung memberi tahunya jika ia mendapat nilai bagus, jadi tak perlu repot-repot mengulang.
Laura melenggang keluar ruangan dengan senyum yang mengembang. Beberapa temannya yang masih menunggu di luar menghampiri nya karena melihat nya tersenyum.
"Kata dosen, nilai ku bagus. Jadi ngga perlu repot-repot mengulang." dengan halus Laura menjawab pertanyaan teman-temannya.
Semenjak keluar dari rumah sakit dan Reyhan menyatakan cintanya, Laura perlahan berubah. Ia menjadi lebih halus dalam tutur kata dan tampak lebih lemah lembut.
Sambil mengobrol dengan temannya ia mengirim pesan pada Reyhan untuk menjemputnya. Tapi Reyhan justru menelponnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, aku masih di tempat parkir." balas Reyhan yang membuat Laura membulatkan matanya tak percaya. Bahkan mulutnya pun terbuka lebar.
"Baiklah aku akan segera kesana." Laura terburu-buru menutup teleponnya. Lalu berlari kecil menuju tempat parkir.
"Kenapa lari lari?" tanya Reyhan ketika Laura sudah masuk mobil. Bahkan nafasnya pun terengah-engah. Reyhan segera menyodorkan botol air mineral pada Laura, dan segera meminumnya hingga tandas.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa harus menunggu ku? Kurang kerjaan saja."
"Kerjaan ku kan jagain calon istri, takut di ambil orang." balas Reyhan yang membuat Laura langsung tersenyum.
Reyhan segera melajukan mobilnya dan mengantar Laura pulang.
_____
Waktu 1 bulan adalah waktu yang sangat cepat bagi tiap orang untuk menyelenggarakan acara resepsi pernikahan. Keluarga Bayu pun juga begitu.
Mereka mulai memesan tenda, undangan dan lainnya. Bayu sebagai mempelai pria juga merogoh tabungannya untuk membeli sejumlah mas kawin untuk Anisa. Walaupun ia tak sekaya kakaknya, tapi tetap ingin memberikan yang terbaik untuk calon istrinya.
Sore itu ia mengajak kakaknya untuk membeli barang-barang seserahan. Reyhan pun dengan senang hati mengantar adiknya. Keduanya memasuki sebuah pusat perbelanjaan yang sangat terkenal di daerah itu.
"Menurut kakak, aku perlu beli make up ngga buat Anisa? Secara dia kan wajahnya selalu tertutup cadar." Bayu mulai meminta pendapat Reyhan.
"Huh, di mintain saran kok gitu?"
"Lhoh, memang ada yang salah, enggak kan? Wanita itu, kalau di kasih ya di terima, kalau ngga di kasih ya pasti ngarep. Kalau dia menghargai mu, pasti menerima pemberian mu. Bisa saja kan make up itu di pakai pas di rumah ketika berduaan sama kamu. Biar kamu makin cinta sama dia."
"Widih, bener juga apa kata kakak." Bayu langsung tersenyum sumringah mendengar penjelasan kakaknya.
Keduanya bergegas ke store kosmetik. Sejenak Bayu tertegun dengan deretan kosmetik yang beranekaragam jenis dan bentuknya.
"Aku bingung mau beli apa saja kak. Mana ngga tahu namanya pula." gerutu Bayu.
"Itu gampang." Reyhan mendekat ke salah satu cs dan meminta rekomendasi make up untuk seserahan pengantin.
"Makin pinter saja kak ku lihat." kekeh Bayu, sambil menunggu cs membingkai paket seserahan yang berupa make up itu.
"Ngga tahu, ketularan calon istri ku kali. Bayangin Bay, ternyata sejak dulu sampai sekarang Miss Laura selalu peringkat 1. Lah aku?" Reyhan geleng-geleng kepala sendiri, membayangkan perbedaan nilainya dengan Laura.
Bayu yang melihat itu, terkekeh geli.
"Sama kayak aku dong kak. Anisa itu seorang wanita bercadar, pasti deh ilmunya tinggi. Nah aku, sholat ku saja masih bolong-bolong. Beda jauh kan?"
"Iya, yang satu muslim yang satu k*fir." kekeh Reyhan.
__ADS_1
"Ish, sialan. Ngatain adiknya sendiri seperti itu. Aku juga mau berubah kali, semua demi Anisa."
"Baguslah. Istri itu sumber semangat suami. Mulai sekarang harus semakin sibuk memperbaiki diri Bay, biar nular ke pasangan kita, anak turun kita. Keluarga kita jadi sakinah mawadah warahmah sampai ke surga."
"Iya iya, paham pak ustadz." Keduanya kembali terkekeh.
Keduanya tak sadar jika parcel seserahan sudah jadi sejak tadi. Petugas Cs yang melayani mereka, geleng-geleng kepala dan terkikik geli mendengar obrolan yang terkesan lucu tapi benar itu. Akhirnya cs itu pun segera memberi tahu keduanya. Hingga membuat keduanya terkejut.
"Lhoh, kak Reyhan ngga beli sekalian?" tanya Bayu sambil membawa parcel itu.
"Miss Laura itu kan anak orang kaya, pasti jenis make up nya beda Bay. Aku ngga mau salah pilih, nanti aku cari info dulu."
"Hem, percaya deh. Anak sultan mah memang beda." Reyhan hanya terkikik mendengar ocehan adiknya.
"Menurut kakak, perlu di kasih baju ngga? Dia kan sudah punya toko sendiri."
"Perlu, ayo buruan pilih." ajak Reyhan. Keduanya masuk di store baju.
Keduanya terkikik geli ketika melihat deretan baju tidur wanita yang tipis seperti saringan tahu.
"Ih, aku ngga bisa bayangin kalau Anisa pakai baju kayak ginhi kak." Bayu meringis.
"Wkwkwk, kok aku geli. Miss Laura punya baju kayak gini ngga ya."
Bayu pun segera mengambil beberapa potong dan menyerahkan pada cs. Tak hanya itu saja, ia juga mengambil beberapa set gamis untuk Anisa.
"Eh kak, itu perlu di beli ngga?" bisik Bayu sambil menunjuk deretan bra.
"Awas juga ya mata mu kalau lihat yang begituan." kekeh Reyhan.
Keduanya pun segera mendekat dan memilih.
"Yang mana nih ukurannya? Makin pusing." Bayu memegang dan mengamati satu persatu bentuknya.
"Daripada bingung, mending beli satu setiap ukuran Bay."
"Bisa jebol dong tabungan ku."
"Lhoh, istri itu pembuka rezeki suami lho. Nanti pasti dapat gantinya." Bayu pun manggut-manggut dan menuruti saran kakaknya.
Keduanya sangat asyik di store baju itu, hingga tak sadar banyak pasang mata yang memandangnya. Beberapa dari mereka ada yang berbisik dan terkikik. Hingga akhirnya Reyhan segera tersadar ketika pandangannya bersirobok dengan pasang mata yang melihat ke arah nya.
"Bay, ayo cepat. Mereka mulai melihat kita seperti dua makhluk aneh."
Keduanya pun segera menuju meja kasir dan membayar total belanja.
__ADS_1