Juragan Muda

Juragan Muda
118. Sebuah foto


__ADS_3

Laura segera berlari kecil menuju bibir pantai. Ia merentangkan kedua tangannya dan menghirup nafas sedalam-dalamnya. Angin pantai dan percikan ombak, seakan akan menerbangkan sakit di hatinya.


Reyhan berdiri tepat di belakang Laura yang jaraknya tak kurang dari satu meter. Sengaja ia ingin memberi waktu wanita itu untuk menenangkan diri.


Keduanya benar-benar larut dalam pikiran masing-masing.


Sedangkan Aldo si karyawan usil yang melihat hal itu terlintas sebuah ide. Bersama dengan temannya ia melakukan suatu hal yang tak di sangka.


Byur.....


Aldo mendorong kasar tubuh Reyhan dari belakang sehingga menabrak tubuh Laura, dan keduanya terjebur di pinggiran pantai. Setelah berbuat seperti itu Aldo dan kawan-kawan segera menghindar menghilangkan jejak.


Arghh....


Rintih Laura kesakitan. Badannya tertindih tubuh Reyhan yang tentu lebih berat darinya. Wajah dan bajunya langsung basah.


Tapi Reyhan justru diam mematung tak segera menjauhkan tubuhnya yang masih berada di atas Laura. Ia merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba tegang dan mendesak di bawah sana.


Laura memalingkan muka melihat wajah Reyhan.


"Reyhan sakit." rintihnya pelan, namun terdengar manja di telinga Reyhan.


Bergegas Reyhan menggeser tubuhnya yang sudah basah. Ia duduk di dekat Laura dan membantunya duduk. Lagi-lagi ia disuguhkan pemandangan yang membuat semakin sesak celananya. Karena melihat lekuk tubuh Laura yang sangat jelas karena baju nya basah.


"Kamu sengaja ya?" maki Laura kesal karena merasa terganggu di saat ia sedang mencoba untuk rileks.


"Bu_bukan aku. Tapi....." Reyhan menengok ke kiri dan kanan tapi tidak melihat rombongan karyawannya. Sementara hatinya yakin jika yang mendorongnya tadi adalah mereka.


"Kamu mau menyalahkan karyawan mu lagi?"


"Tapi mereka yang biasanya tega berbuat seperti itu."


Laura yang kesal justru memercikkan air di muka Reyhan, sehingga Reyhan membalas dengan melakukan hal yang sama. Keduanya pun tertawa lepas.

__ADS_1


Setelah capek, keduanya berjalan ke daratan dan berteduh di bawah payung. Sambil menyeruput es degan, keduanya melihat gulungan ombak yang berdebur.


Merasa sudah cukup istirahat, Reyhan mengajak Laura ikut volley pantai bersama karyawan nya. Awalnya Laura menolak karena tidak bisa, tapi karena di paksa Reyhan akhirnya ia mau juga.


"Yang penting kalau bola nya dekat langsung tangkis aja yang keras. Seperti orang meluapkan emosi." Reyhan memberi nasehat pada Laura. Ia mengangguk angguk mencerna omongan Reyhan.


Setelah paham, Laura segera bergabung dengan karyawan perempuan, dan Reyhan bersama karyawan laki-laki. Semuanya tampak asyik dalam permainan itu. Kebahagiaan jelas tergambar di wajah mereka.


Bu Rohmah yang melihat hal itu, tersenyum bahagia sambil menemani Bima membuat rumah rumahan dari pasir.


"Ibu kenapa senyum senyum sendiri?" celetuk Bima sambil menatap wajah ibunya.


"Memangnya ngga boleh senyum?"


"Ya boleh sih. Ibu melihat kak Reyhan dan Miss Laura yang lagi pacaran ya?"


"Hust... anak kecil ngga boleh bicara seperti itu." bu Rohmah lalu mengalihkan pandangannya pada Bima. Ia segera membantu nya membuat rumah rumahan itu.


Setelah puas bermain volley, mereka bermain di dalam air sampai sore.


Akhirnya Reyhan kembali mengajak Laura istirahat. Mereka berteduh di payung yang sama dengan ibunya Reyhan.


Laura segera meneguk minumannya sambil memperhatikan Bima yang sedang serius membuat rumah rumahan. Reyhan pun juga tak ingin kalah dari adiknya, ia segera membuat rumah rumahan di samping adiknya. Sehingga terlihat keduanya seperti sedang berlomba.


Sesekali Laura tersenyum melihat Reyhan yang tampak serius itu. Sedangkan bu Rohmah sendiri justru tengah menatap Laura. Kemudian ia memberanikan diri untuk mengajaknya bercerita. Tak di sangka, ternyata Laura sangat merespon setiap kata kata yang keluar dari mulut ibunya Reyhan. Keduanya tampak asyik bercerita.


Hari sudah semakin sore. Reyhan bangkit dari duduknya dan segera memanggil karyawannya untuk segera bersih bersih. Karena masih ada satu tujuan utama yaitu pusat perbelanjaan.


Mereka segera menaiki kapal untuk kembali. Reyhan memperingatkan terlebih dahulu dengan cara berbisik pada karyawannya untuk tidak memandang Laura. Mereka mengangguk patuh pada bos nya.


"Reyhan, aku ngga bawa baju ganti." celetuk Laura ketika Reyhan hendak mengambil baju ganti yang ada di bus.


"Gampang, nanti tinggal beli." Jawab Reyhan datar.

__ADS_1


Reyhan segera mengantar Laura untuk membeli baju ganti yang masih berada di kawasan pantai itu.


"Kenapa bajunya seperti ini semua modelnya? Aku ngga suka." gerutu Laura kesal.


Berkali kali mereka singgah di lapak penjual, yang ada hanya daster untuk wanita.


"Miss Laura tetap cantik kok pakai baju apa saja." Reyhan berusaha menyenangkan hati Laura. Ia tak ingin ada drama berkepanjangan, karena hari sudah semakin sore.


"Ya sudahlah, ini saja." sambil mengerucutkan bibirnya Laura menyerahkan 1 daster pada penjual untuk di bungkus.


Dengan sigap Reyhan segera mengeluarkan dompetnya untuk membayar daster itu. Setelah membayar keduanya segera menuju kamar mandi yang letaknya berjejer rapi di belakang penjual baju.


Reyhan membulatkan matanya, ketika melihat Laura keluar dari kamar mandi. Rambut yang masih basah tergerai dengan indah. Kulit putih nya kembali memancar, di sertai bau wangi yang menguar. Walaupun hanya mengenakan daster murahan yang harganya ngga sampai 50rb tapi terlihat sangat cocok di pakai Laura.


"Ngga usah kelamaan lihat, nanti bisa jatuh cinta." setelah berkata seperti itu, Laura segera meninggalkan Reyhan yang masih mematung. Segera Reyhan berlari kecil mengejar Laura yang sudah sedikit jauh.


Saat keduanya naik bus, kembali mengundang perhatian. Penampilan Laura yang berbeda selalu menjadi daya tarik bagi penghuni bus. Reyhan yang paham segera berdehem keras sebagai kode untuk para karyawannya. Laura merasa Reyhan semakin posesif padanya, sehingga ia lebih memilih turun dari bus dan menaiki mobilnya bersama Reyhan. Sedangkan keluarga Bayu kembali ikut armada bus.


Reyhan mengemudikan mobil dengan pelan sambil menikmati suasana kota yang indah. Ia merogoh handphone dari tasnya karena terus bergetar.


Sederet foto di kirim oleh karyawannya di grup WhatsApp counter. Ada yang memberi emoticon love, tertawa terbahak-bahak dan ada juga yang mendoakan pada foto tersebut.


"Kurang ajar, karyawan ngga ada akhlak." maki Reyhan.


Laura yang mendengar itu menoleh ke arah Reyhan, lalu pandangannya beralih pada handphone yang sedang menampilkan gambar dirinya dengan Reyhan.


"Siapa yang mengambil foto kita?" tanya Laura sambil memperhatikan gambar gambar itu.


"Siapa lagi kalau bukan mereka. Tenang saja, fotonya akan aku hapus sekarang." bergegas Reyhan menekan tombol keranjang sampah.


"Eh jangan!" seru Laura, yang membuat Reyhan mengurungkan niatnya.


"Buat kenang-kenangan, kirim aja ke handphone ku. Nanti baru kamu hapus ngga apa-apa. Aku suka sama suasana pantai nya." tutur Laura.

__ADS_1


Reyhan segera mengikuti perintah Laura untuk mengirim semua foto itu ke handphonenya. Ia juga mengurungkan niatnya untuk menghapus foto. Biarlah tersimpan rapi untuk kenang-kenangan. Bahwa keduanya pernah menikmati waktu bersama yang sangat menyenangkan. Walaupun tidak tahu, apakah hari esok mereka masih bisa menghabiskan waktu bersama lagi atau tidak.


Hai kak tetap dukung terus mas Reyhan sampai menemukan cinta sejatinya ya dengan tekan like hadiah vote dan favorit 😘😘


__ADS_2