
"Kamu memuji suami ku, ngga ada niatan ingin merebutnya dari ku kan Nis?" tanya Laura sambil mengernyitkan keningnya.
Laura tak ingin ada wanita lain yang memuji suaminya di hadapannya. Karena itu bisa membuat hatinya semakin cemburu. Bukan kekayaan yang membuat Laura bahagia dan tenang, tapi perhatian Reyhan yang selama ini di berikan padanya.
"Anisa, kenapa kamu diam."
Laura mengulang pertanyaan nya. Sungguh ia tak sabar dengan jawaban Anisa.
Sedangkan Anisa masih terdiam sekian menit sambil menatap Laura.
"Astaghfirullah La, kenapa kamu tega menuduh ku seperti itu."
Laura terdiam sekian detik, sampai akhirnya Anisa kembali berbicara.
"Ya ngga mungkin lah La, aku tega melakukan hal itu. Setelah lika liku yang kalian alami. Buat apa aku belajar sampai ke negeri seberang kalau tak untuk di amalkan."
Setelah berkata seperti itu, meledak lah tawa Anisa. Laura yang merasa gemas karena tingkah Anisa, langsung memukul pelan lengannya sambil mencubit.
"Miss Laura, apa yang kamu lakukan?" suara Reyhan mengejutkan keduanya. Laura menengok dan kini ia sedang di tatap oleh Reyhan.
"Aku..... hanya becanda saja dengan Anisa. Iya kan Nis?" pandangan nya beralih pada Anisa.
"Siapa bilang kita lagi becanda. Kita kan bicara serius sejak tadi." bantah Anisa. Yang membuat Laura mengernyitkan dahi.
"Tapi...."
Reyhan mengalungkan kedua tangannya di leher Laura dan mulai menjelaskan.
"Sudah. Miss Laura jangan main pukul seperti tadi. Ngga baik, nanti di kira sesama menantu ngga akur." Laura tertunduk lesu sambil mengangguk.
Melihat hal itu, Anisa kembali terkekeh geli, karena berhasil mengerjai sahabatnya sekaligus kakak iparnya. Laura seketika mengangkat kepala nya dan menatap Anisa.
"Ya Allah, maaf ya. Sepertinya aku ketularan mas Bayu yang suka bercanda. Dari tadi kita berdua disini memang cerita sambil bercanda, ngga ada yang serius mas. Aku tahu Laura suka main tangan. Aku ngga mungkin marah sama sahabat sekaligus kakak ipar ku sendiri." kekeh Anisa.
Dengan gemas Laura kembali memukul pelan lengan Anisa. Reyhan yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tahu sifat Laura yang seperti anak kecil itu, karena ia juga merasakan nya sendiri.
__ADS_1
Seminggu telah berlalu, Laura semakin senang dan betah berada di rumah itu. Walaupun ada beberapa hal yang sedikit mengganggu privasi nya. Yaitu setiap kali ia harus mandi wajib dan melewati dapur, di mana ibunya sudah mulai memasak.
Hari kian beranjak malam. Semua sudah memasuki kamar masing-masing.
Di dalam kamar, Laura duduk bersandar dinding. Sedangkan Reyhan tiduran dengan berbantal paha Laura. Ia membelai kepala suaminya dengan lembut.
Keduanya tengah asyik bercengkrama. Ada banyak hal yang mereka ceritakan, bahkan seperti tak ada habisnya. Sesuatu yang sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Dimana ketika dulu mereka bertemu hanya diam saja.
Reyhan menceritakan tentang usahanya yang terus mengalami kenaikan omset.
Laura yang mendengar hal itu, tentu saja sangat bersyukur. Dan ia juga mendoakan agar usaha Reyhan semakin dan terus berkembang dengan baik.
Setelah berkata seperti itu, Reyhan bangkit dari tidurnya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Surat tanah." gumam Laura, ketika menerima surat itu dari suaminya.
"Kenapa di kasih ke aku?" tanya Laura bingung.
"Buka saja." Reyhan menatap istrinya dengan serius.
"Ya Allah mas..." Laura memekik terkejut. Matanya membulat dan tangannya menutup mulutnya yang terbuka.
"Ini untuk aku." dengan suara yang bergetar Laura bertanya.
Dan Reyhan pun mengangguk sambil tersenyum. Seketika air mata Laura jatuh membasahi pipinya.
Sungguh ia merasa terharu akan kejutan yang diberikan oleh Reyhan padanya.
"Doakan mas ya, biar bisa segera bangun rumah untuk Miss Laura. Dan untuk keluarga kecil kita nantinya." Laura mengangguk sambil tersenyum mendengar permintaan Reyhan.
"Tapi mas, aku suka tinggal di rumah ini. Kalau rumah kita jauh, siapa teman ku nanti. Aku pasti kesepian lagi. Terus terang, aku suka tinggal di rumah ini." ucap Laura yang tampak sendu.
"Tanah itu berada tepat di seberang jalan itu Miss. Sawah yang kemarin Miss Laura lihat. Kalau Miss Laura kangen sama rumah ini, tinggal buka gorden saja, lalu keliatan deh rumahnya. Atau kalau kangen tidur di kamar yang sempit ini, tingkah melangkah, juga sampai." kekeh Reyhan sambil menghapus air mata Laura.
Laura langsung berbinar bahagia mendengar ucapan Reyhan. Sungguh ia tak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini.
__ADS_1
Sedangkan Reyhan, ia juga bahagia luar biasa, karena berhasil membeli tanah dan mengatas namakan Laura. Istri yang sangat di cintainya.
Keduanya saling beradu pandang dan melempar senyum.
Setelah sekian menit dalam suasana yang mengharu biru, Reyhan mulai mengajak Laura kembali berbicara.
"Oh ya Miss, selama kita menikah, aku belum pernah mengajak mu jalan. Besok kita keluar yuk." Ajak Reyhan penuh semangat, Laura pun mengangguk sambil tersenyum.
"Kemana?" tanya Laura dengan suara yang serak.
"Mau ke mall, bioskop...."
"Aku ngga suka tempat tempat seperti itu mas." potong Laura.
"Aku ingin kita menikmati keindahan alam. Terasa lebih menyejukkan dan menenangkan hati." imbuhnya.
"Baiklah." jawab Reyhan singkat. Namun matanya menatap Laura intens.
Melihat Laura yang semakin cantik dan menawan, karena ia kembali memakai baju dinasnya di malam hari, membuat Reyhan tak kuasa untuk menolak pesona nya. Hingga ia menghujani wajah Laura dengan ciuman. Dan akhirnya malam itu keduanya kembali mereguk nikmat duniawi.
Pagi pun tiba, Reyhan seperti biasa segera mandi dulu. Setelah ia selesai, baru di susul oleh Laura. Ibu yang melihat kecanggungan mereka, hanya menyunggingkan sedikit senyum.
Seperti biasanya, setelah Laura sholat, akan menyusul ibu mertuanya dan membantu sebisa mungkin. Selama seminggu lebih ia tinggal di rumah itu, belum pernah sekalipun ia melihat Anisa bangun pagi dan membantu ibunya memasak. Tapi untuk bertanya ia merasa sungkan. Sehingga lebih memilih diam saja.
Karena hari itu adalah hari minggu, mereka terlihat lebih santai dari hari biasanya.
Setelah selesai sarapan, Bima sudah pergi bermain ke rumah temannya. Sedangkan bu Rohmah duduk di depan tv dan mendengarkan dengan seksama pengajian ustadz Abdul Somad, yang terkenal jenaka. Sehingga materi yang disampaikan mudah di terima.
Dan, setelah sarapan, tumben sekali Anisa mengajak Bayu jalan jalan di cfd yang rutin diadakan tiap minggunya di kota itu. Keduanya berpamitan dan tak lupa mencium tangan ibunya dengan takzim.
Tidak hanya Laura, ternyata bu Rohmah pun juga merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Anisa.
Anisa dulu sering bangun pagi dan sigap membantunya di dapur. Tapi sekarang, ia sholat subuh saja sering telat, belum lagi ke kamar mandi yang cukup lama. Ia juga sering bercanda, padahal dulu sangat pendiam.
Bu Rohmah berharap Anisa tidak ketularan sifat buruk Bayu yang sering bangun siang.
__ADS_1