
Acara aqiqah untuk Zakira telah selesai. Sesuai janji Bayu, ia meminjamkan putri semata wayangnya pada Reyhan untuk tidur bersamanya semalam. Setelah selesai disusui, Bayu menyerahkan bayi itu pada Reyhan.
"Pinjam semalam ya Nis." ucap Reyhan sambil meringis ke arah Anisa yang berdiri di ambang pintu.
"Iya mas." Anisa mengangguk sambil tersenyum.
"Kembalikan dalam keadaan lengkap ya. Jangan di kredit." imbuh Bayu yang membuat mereka terkekeh kecil.
Mereka pun memasuki kamar masing-masing.
Suasana yang berbeda tentunya terjadi di dua ruang kamar yang hanya tersekat oleh tembok.
"Wah, asyik nih, bisa berduaan dengan istri tercinta." cicit Bayu.
Anisa menghela nafas panjang lalu geleng-geleng kepala seakan mengetahui maksud ucapan suaminya.
"Aku kan masih nifas mas."
"Memang pengen pelukan harus nunggu masa nifas selesai? Pasti pikiran nya sudah traveling kemana-mana." kekeh Bayu sambil memeluk Anisa dari belakang sehingga membuat Anisa tersipu malu sudah sempat berprasangka buruk pada suaminya.
Sedangkan di kamar sebelah, Laura tampak berbinar ketika menerima bayi itu dari tangan suaminya. Ia mengayun bayi Zakira dengan pelan dan penuh kasih sayang sebelum tidur.
"Sayang nanti kalau nangis kita susulin ke mereka ya." Reyhan sambil rebahan menatap Laura yang masih berdiri mengayun bayi.
"Iya lah, aku kan ngga punya asi."
Setelah puas mengayun, Laura segera menidurkan baby Zakira di tengah-tengah tempat tidur mereka. Ia dengan hati-hati mengecup seluruh wajah bayi mungil itu. Lalu berbaring dan memeluknya.
Reyhan hanya memperhatikan dengan serius istrinya yang sudah sangat menginginkan kehadiran seorang anak dalam hidup mereka. Ia pun ikut mengulurkan tangan memeluk bayi itu.
'Kapan ya bisa tidur berpelukan bareng bayi mungil seperti ini lagi?' batin Laura sedikit penuh harap.
'Hem, sepertinya Miss Laura sudah benar benar nggak sabar pengen cepet-cepet punya anak. Ya Allah, aku bersyukur atas semua pencapaian ini. Jika boleh meminta, tumbuhkan lah benih satu saja di rahim istri ku. Aku kasian melihat nya seperti itu, sampai pinjam bayi milik adik ku.'
Tak lama kemudian mereka sudah terhanyut dalam mimpi indah masing-masing. Hingga menjelang dini hari, bayi Zakira mulai terisak menangis. Laura segera menggendong dan mengantarkan ke kamar samping di ikuti oleh Reyhan.
__ADS_1
"Kita sholat sekalian yuk." ajak Reyhan setelah menyerahkan bayi Zakira pada orang tuanya.
Di sepertiga malam, keduanya bermunajat pada Allah dalam waktu yang cukup lama. Hingga Laura sampai menitikkan air mata. Karena baru kali ini ia meminta pada Tuhan dan belum juga di kabulkan.
Padahal selama ini semua yang di minta selalu dengan mudah ia raih. Dan saat ini, ia merasa berada di titik terendah, namun tetap berusaha tersenyum menghadapi kenyataan hidup yang tetap harus di jalani.
Reyhan yang melihat istrinya menitikkan air mata pun juga turut sedih, walaupun ia tahu jika dirinya sudah berusaha semaksimal mungkin.
"Ayo kita tidur lagi." ajak Reyhan setelah keduanya selesai berdo'a.
"Aku mau membaca Al-Qur'an dulu mas." tolak Laura halus sambil mengambil Al-Qur'an dan duduk lesehan.
Reyhan pun ikut duduk di samping Laura dan keduanya mengaji bersama. Keduanya sangat menikmati momen yang penuh ketenangan itu. Hingga tak terasa waktu subuh pun mulai menyapa.
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Reyhan melarang Laura untuk membantu ibunya memasak. Ia justru memeluk erat Laura, sehingga menimbulkan keinginan keduanya untuk membuat boneka hidup yang lucu.
Semua berjalan sebagaimana mestinya, hingga keduanya sama-sama merasakan kepuasan. Namun tak di sangka Laura mengeluarkan darah.
"Apa Miss Laura menstruasi?" tanya Reyhan dengan ragu.
Laura mengernyitkan dahi agak bingung. Seingatnya beberapa bulan ia justru tidak haid.
Reyhan semakin merasa bersalah.
Akhirnya, keduanya segera membersihkan diri dan Reyhan berniat mengajak Laura ke dokter. Namun istrinya menolak, karena perutnya tak terasa sakit. Sehingga Reyhan hanya bisa menghela nafas panjang.
Sebulan telah berlalu. Terkadang Laura sakit masuk angin sehingga Reyhan dan papanya tak mengijinkan nya masuk kerja. Bahkan selama sebulan itu Laura juga kurang bisa memuaskan Reyhan. Meskipun begitu, Reyhan tak marah ataupun kecewa. Yang penting istrinya sehat dulu. Kesibukannya di rumah hanya membantu merawat baby Zakira.
Ia memperlakukan bayi itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang seperti layaknya anak sendiri.
Seperti sore itu, Laura tengah berdiri di teras sambil menggendong baby Zakira, karena Anisa baru mandi, dan tak ada orang lain di rumah. Sengaja ia di teras sambil menunggu kepulangan suaminya.
Arghhh....
Tiba-tiba Laura mengerang kesakitan sambil memegang perutnya. Sementara tangan satunya memeluk Zakira erat agar tak jatuh.
__ADS_1
Reyhan yang kebetulan baru saja pulang kerja langsung melempar tas nya ke sembarang arah dan membantu Laura. Ia mendudukkan Laura di kursi teras.
"Ayolah sayang, kita periksakan ke dokter. Mas takut terjadi apa-apa dengan diri mu. Mas ngga mau menyesal seumur hidup." segala bujuk rayu Reyhan keluarkan agar Laura mau di ajak periksa.
Akhirnya Laura pun menyerah, ia mengangguk menyetujui permintaan suaminya untuk periksa ke dokter.
Anisa yang baru saja selesai mandi mendengar keributan kecil di depan rumah segera mendekat.
"Laura kenapa mas?" Anisa tampak sangat khawatir ketika melihat Laura meringis seperti menahan sakit.
Ia segera meraih baby Zakira dari Laura, agar Reyhan bisa menolong istrinya.
"Pamit kan ke ibu ya Nis, aku mau memeriksakan Laura ke dokter."
Dengan sigap Reyhan langsung mengangkat tubuh Laura seperti kuli panggul. Ia pun melangkah dengan cepat menuju mobilnya, karena berat badan Laura seperti kapas jadi tidaklah begitu membuatnya encok.
Sepanjang perjalanan, Laura terus meringis kesakitan. Dan Reyhan sambil menyetir, ia berusaha menenangkan hati dan pikiran istrinya.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai." Laura mengangguk mengiyakan.
"Sepertinya kita butuh membeli pesawat terbang, kalau ada sesuatu yang mengkhawatirkan seperti ini pasti akan sangat membantu. Tapi sayangnya mas baru punya pesawat terbang dari kertas, tak kan cukup untuk memuat kita berdua. Kena air hujan pun langsung remuk."
Laura sejenak memalingkan wajahnya ke arah suaminya, lalu memukul lengannya sekenanya sambil menarik senyuman di wajahnya.
"Aku kan baru sakit perut mas, kenapa bercanda sih."
Reyhan menggaruk kepalanya yang tak gatal, menyadari kesalahannya. Harusnya saat situasi genting seperti itu ia tidak bercanda.
"Maafkan mas sayang. Mungkin ini efek sebulan ngga dapat jatah dari mu, jadi otak ku sedikit geser."
Laura kembali menarik senyum, walaupun perutnya juga masih sakit. Tapi ketika mendengar candaan suaminya, membuat rasa sakit yang ia rasakan sedikit teralihkan.
Tak lama kemudian, keduanya sudah sampai di klinik terdekat. Reyhan kembali mengangkat tubuh Laura.
"Kenapa berat badan mu seperti tidak terasa sayang? Apa selama ini kau hanya memakan kapas? Atau butiran debu?"
__ADS_1
"Kapastian cinta yang aku makan setiap harinya dari mu sayang."
Keduanya terkekeh bersamaan, padahal Laura masih sedikit merasakan sakit perut. Tapi entah kenapa ia masih bisa menanggapi kekonyolan suaminya.