
Sesuai rencana kemarin, Bayu yang mengatur seluruh akomodasi nya. Ia menghubungi jasa sewa bus pariwisata. Karena hanya untuk kalangan karyawan nya sendiri, maka cukup menggunakan satu bus.
Setelah itu, Bayu memesan snack box untuk sarapan pagi. Sedangkan makan siang, nanti beli di tempat piknik. Hal itu sudah di rencanakan dengan team travel guide, jadi tidak bingung lagi mencari tempat makan.
Setelah semua siap, Bayu segera melaporkan hal itu pada kakaknya lewat pesan singkat. Reyhan yang menerima pesan dari adiknya tersenyum puas dengan hasil kerjanya.
Sepulangnya dari seminar, Reyhan mengajak Bima dan ibunya untuk membeli door prize bagi seluruh karyawannya. Sedangkan Bayu, sibuk dengan urusan counternya yang perlahan mulai merangkak pelan pelan mencapai omset yang stabil kembali walaupun tetap banyak omset milik Reyhan.
"Rencana mau di beliin apa Rey?" tanya ibunya ketika mobil mulai melaju pelan.
"Menurut ibu mau di beliin apa?"
"Lhoh, kok jadi bertanya balik?" ibunya mengerutkan keningnya karena Reyhan justru bertanya balik.
"Ya siapa tahu ibu punya pemikiran yang berbeda dengan ku."
"Buku, pensil, bolpoin, tas..." celetuk Bima.
"Itu kan hadiah untuk anak sekolah Bim, mana mau karyawan kakak di kasih kayak gituan." ucap Reyhan memotong usulan Bima sambil terkekeh.
"Terus apa dong kak?"
Mobil pun berhenti di sebuah toko elektronik.
"Ayo turun." ajak Reyhan sambil membuka pintu. Ibunya dan Bima pun segera mengikuti ajakan Reyhan.
"Kita beli door prize nya di sana saja Bim." Reyhan pun menggandeng tangan adik dan ibunya masuk.
Ketiganya mengedarkan pandangan ke setiap barang yang di display dengan rapi.
"Ayo kita ke arah sana." ajak Reyhan menunjuk deretan kipas angin. Ibunya dan Bima langsung mengikuti langkah Reyhan.
Tak hanya menuju deretan kipas angin, mereka juga menuju ke tempat radio bluetooth, magic com dan masih banyak lagi barang lainnya yang mereka lihat termasuk TV.
Setelah puas melihat dan memilih, mereka segera menuju meja kasir untuk membayar total belanja.
__ADS_1
"Totalnya 10.500.000 kak." kata kasir itu.
Bima dan ibunya tercengang mendengar total tagihan yang banyak sekali jumlahnya itu. Tapi Reyhan terlihat biasa sambil mengeluarkan kartu saktinya dan menyerahkan pada kasir untuk di gesek.
"Terima kasih kak, barang akan segera kami kirim secepatnya." kata kasir ramah mengakhirinya transaksi mereka pada siang hari itu.
"Reyhan, apa ngga terlalu berlebihan, kamu memberikan itu semua pada karyawan mu? Sudah di piknik kan gratis, masih dapat makan gratis, dan tadi, kamu malah membelikan door prize yang banyak. Totalnya sampai buat ibu syok." tanya bu Rohmah sambil geleng-geleng kepala.
"Ibu, ngga ada salahnya kan aku berbagi sama karyawan ku. Selama ini mereka juga sudah bantuin aku. Yang penting doakan saja bu, semoga semuanya lancar dan apa yang aku lakukan ini menjadi berkah."
"Hemm, iya iya." jawab ibunya sekenanya.
Dalam hati, ibunya tak menyangka jika bisa merasakan semua ini. Uang 10 juta dulu baginya sangat banyak, dan perlu mengumpulkan selama hampir setahun.
Tapi sekarang dengan begitu mudahnya Reyhan mengeluarkan uang sebanyak itu cuma cuma hanya untuk karyawannya. Belum lagi biaya akomodasi. Akan tetapi melihat Reyhan yang selalu pulang dari counter, dengan membawa sekantong kresek uang. Membuat hati bu Rohmah lega. Itu tandanya omsetnya tiap harinya selalu melimpah.
Mobil pun belok ke sebuah rumah makan. Karena sudah jam makan siang, Reyhan pun mengajak ibu dan adiknya itu untuk sekalian makan siang.
"Yey, mau jajan lagi kak?" seru Bima kegirangan. Reyhan hanya tersenyum melihat adiknya bersorak kegirangan.
Setelah mendapat tempat duduk dan memilih menu makanan mereka mulai bercerita lagi.
"Kak Reyhan itu sebenarnya duitnya berapa banyak sih. Semua semua di beli, apa ngga takut duit nya habis?"
"Tenang, kalau habis nanti di isi lagi."
"Siapa yang mau ngisi uang kakak?"
"Ya Allah lah. Kayak sumur itu, semakin di timba air nya, bukannya air nya makin habis tapi justru semakin bertambah banyak dan jernih. Itulah hakikat rezeki yang di sodaqoh kan. Jadi ngga usah takut kalau uang kita bakalan habis."
"Iya juga kak. Kok kak Reyhan sekarang pinter. Katanya dulu nilainya cuma 5 sama 6." ceplos Bima dengan polosnya.
Yang membuat Reyhan garuk-garuk kepala. Sedangkan ibunya justru tersenyum melihat tingkah kedua anaknya itu. Dalam hati bu Rohmah, ia merasa lebih lega karena mendapat penjelasan dari Reyhan soal hakikat rezeki yang di sedekah kan.
"Hustt... Jangan keras-keras dong, kan malu kalau kedengaran orang." bisik Reyhan sambil menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya.
__ADS_1
Tak lama pesanan pun datang. Mereka segera menikmati makanan yang sudah tersaji. Bima tampak lahap menikmati menu makanan nya.
"Tambah lagi Bim." tawar Reyhan sambil menyodorkan ayam penyet pada adiknya. Tentu saja, Bima tak menolak. Tangan nya segera meraih ayam penyet yang mengeluarkan bau khas nya itu.
Bu Rohmah selalu memperhatikan gerak-gerik Reyhan. Dalam hatinya, ia sangat bangga memiliki anak sulung seperti Reyhan. Ia bisa mengayomi adik adiknya. Ia bisa menjadi pengganti ayahnya yang sudah lama pergi meninggalkan mereka.
Makanan sudah habis, perut sudah kenyang, dan sekarang waktunya mereka pulang. Selama perjalanan Bima asyik bercerita sampai kecapekan sendiri lalu ketiduran. Sehingga ketika sampai rumah, lagi lagi Reyhan harus menggendong adiknya itu.
Tak berselang lama, mobil pick up yang mengantar pesanan barang elektronik Reyhan tadi datang. Barang segera di turunkan satu persatu. Reyhan pun juga ikut mengecek total kelengkapan barang. Di saat itu, tiba tiba ada seorang lelaki datang menghampirinya.
"Permisi mas."
"Iya pak." kata Reyhan sambil mendongakkan kepala menatap wajah yang bertanya.
"Lhoh, Reyhan."
"Pak Gofur." keduanya saling beradu pandang dan menyebut nama masing-masing.
"Kenapa bapak bisa sampai sini?"
"Biasanya langganan saya yang datang ke rumah untuk ambil tempe dan tahu. Tapi, katanya sepedanya baru rusak. Karena kebetulan bapak lewat sini, ya sudah rencana mau saya antarkan. Tapi, kurang tahu alamat rumah nya. Cuma di kasih share look, eh berhenti di sini." jelas pak Gofur.
"Siapa pak nama langganan nya?"
"Pak Cipto."
"Oh, itu rumahnya di belakang saya. Nanti saya anter gimana, setelah urusan itu selesai " tawar Reyhan sambil menunjuk petugas toko yang masih mengangkat barang.
"Boleh."
Sambil menunggu petugas mengangkat barang, keduanya bercerita. Setelah urusannya selesai barulah Reyhan mengantar pak Gofur ke rumah tetangganya yang memang sejak dulu berjualan tempe dan tahu keliling.
"Terima kasih nak Reyhan sudah mengantarkan saya sampai sini."
"Iya pak sama sama. Kalau kebetulan lewat sini, silahkan mampir ke rumah saya pak." tawar Reyhan sopan.
__ADS_1
"In shaa Allah, pasti saya bakal mampir ke rumah nak Reyhan."