Juragan Muda

Juragan Muda
94. Kembali bertemu dengannya


__ADS_3

"Tunggu disini sebentar." titah Anisa. Reyhan mengernyitkan dahi bingung dengan maksud Anisa tapi juga tetap menunggunya.


Segera ia menuju rak baju koko. Setelah itu ia segera kembali ke meja kasir, dan membungkus baju itu.


"Ini untuk kamu, sebagai ungkapan terimakasih ku padamu karena sudah menolongku waktu itu."


"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot, aku ikhlas kok. Nanti kalau kamu dimarahi sama atasanmu gimana, kok main ambil barang." jawab Reyhan.


"Aku tidak merasa direpotkan kok, dan aku juga ikhlas. Ini semua barang ku, jadi aku tak khawatir ada yang memarahi ku."


"Oh, maaf." Reyhan menutup mulutnya menyadari bahwa ia salah bicara. Anisa pun tersenyum dibalik cadarnya melihat tingkah lucu Reyhan.


"Tidak apa-apa. Kamu bisa panggil aku Anisa." jawab Anisa yang membuat Reyhan kembali menatapnya.


"Iya baik. Sekali lagi terimakasih Anisa. Aku pamit dulu." ucap Reyhan tanpa menyebutkan namanya. Sebenarnya Anisa ingin juga mengetahui namanya, tapi Reyhan sudah pamit duluan, dan ia malu untuk kembali menahannya.


"Mbak!" suara Anya mengejutkan Anisa, sehingga membuat ia tersentak kaget.


"Mas ganteng sudah pulang ya?" tanya Anya.


"Mas ganteng siapa?" tanya Anisa tak tahu.


"Itu cowok yang pake kaos putih celana krem selutut." Anya menyebutkan ciri-ciri Reyhan tadi.


"O..... itu maksudmu? Ia baru saja pulang. Kenapa memangnya?"


"Ih kok sudah pulang sih, padahal baru aku tinggal pup sebentar." gerutu Anya. Anisa yang mendengarnya tertawa geli.


"Makanya kebiasaan buruknya dihilangkan dong, masak tiap ketemu cowok langsung deg degan dan bawaannya pengen kebelakang." Anisa kembali terkikik.

__ADS_1


Ada sebuah tanda tanya besar dibenak Tiwi, ketika melihat Anisa dan Reyhan berbicara cukup lama. Sayangnya, ia tak bisa mendengar dengan jelas. Tapi yang jelas, apapun itu, Tiwi benar benar tidak mau tahu. Justru ia malah mendoakan yang terbaik untuk keduanya. Segera ia keluar dari tempat persembunyiannya dan ikut bergabung dengan Anya dan Anisa.


"Ini juga, mbak Tiwi baru muncul. Gagal deh harapan untuk bisa ngobrol sama mas ganteng dan tanya namanya." gerutu Anya ketika melihat Tiwi menghampiri mereka. Tiwi dan Anisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Anya.


'Sampai saat ini aku beruntung karena masih bisa menghindar, tapi suatu saat jika ia datang lagi kesini dan hanya ada aku, gimana?' batin Tiwi.


_____


"Mbak Laura ngga ikut mengaji pak?" tanya Rosyidah ketika semua sudah berkumpul kecuali Laura saja. Sore itu, Rosyidah kembali mengisi majelis karena abi nya berhalangan hadir.


"Katanya baru kurang enak badan ustadzah, jadi sejak pulang kuliah ia tidak keluar kamar."


"Ya sudah, kalau begitu kita mulai saja belajar iqro'nya sekarang." kata Rosyidah. Semua mengangguk setuju.


"Alhamdulillah, menurutku ini adalah sebuah perkembangan yang bagus. Semua sudah lancar melafadzkan setiap huruf hijaiyah. Hanya ada sedikit yang masih perlu dibenahi." ucap Rosyidah diringi senyum. Semua juga tersenyum dan merasa lega mendengar ucapan Rosyidah tadi.


Selanjutnya Rosyidah menyampaikan materi. Semua khusyu' mendengarkan. Setelah materi selesai, seperti biasanya, mereka menikmati jamuan yang ada.


"Oh tentu ustadzah. Bibi, antarkan ustadzah Rosyidah ke kamar Laura ya." pinta bu Ani pada bibi.


"Mari ustadzah." bibi berjalan beriringan dengan ustadzah Rosyidah.


Tok.....Tok.....Tok


"Non, ada ustadzah Rosyidah mau bertemu." ucap bibi.


"Ngapain Rosyidah mau ketemu sama aku?" gumam Laura diatas pembaringannya. Bergegas ia segera mengganti pakaiannya dengan gamis.


"Kamu sakit apa?" tanya Rosyidah setelah dipersilahkan masuk. Wajah Laura terlihat sangat pucat, lingkar matanya juga terlihat sedikit menghitam. Karena beberapa malam, ia kurang tidur demi terus belajar membaca iqro'. Sebenarnya rasa sakit bisa ia tahan, yang tidak bisa ia tahan adalah ketika semalam tadi ia menelpon Reyhan tapi tak ada jawaban sama sekali.

__ADS_1


"Ngga apa-apa, paling cuma kecapekan saja kok." ucap Laura sambil tersenyum dan membenarkan letak duduknya.


Rosyidah banyak bertanya ke Laura, begitu juga sebaliknya. Tak disangka, walaupun mereka dari kasta yang berbeda tapi sangat nyambung ketika mengobrol. Setelah Reyhan, Rosyidah adalah orang yang bisa menaklukkan hati Laura. Karena tak sembarang orang bisa berteman dengan Laura.


"Besok in shaa Allah aku akan kesini lagi, kamu harus sudah sehat, agar kita bisa belajar bersama." ucap Rosyidah sebelum pulang. Laura hanya tersenyum simpul dan mengangguk.


Sementara itu dilantai bawah, Reyhan baru saja kembali setelah tadi mengambil sesuatu dari mobilnya.


"Ma, titip ini untuk Miss Laura ya." Reyhan menyodorkan paper bag besar.


"Apa ini?" Bu Ani mengernyitkan dahi, lalu setelahnya mengucapkan terimakasih dan tersenyum.


"Sayang, Reyhan bawa sesuatu untukmu." bu Ani langsung nyelonong masuk ke kamar Laura.


"Apaan sih ma." dengan enggan Laura menengok ke arah mamanya. Lalu bu Ani meletakkan paper bag itu di dekat Laura dan mengecek suhu tubuhnya yang menurutnya masih normal. Setelah membenarkan letak selimut, bu Ani meninggalkan Laura agar bisa istirahat lebih lama.


Setelah kepergian mamanya, Laura baru membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya satu persatu. Matanya membulat sempurna ketika melihat seluruh isinya adalah set gamis. Tak tanggung-tanggung, Reyhan membelikan 5 set gamis untuknya.


Laura tidak tahu harus senang atau justru sebaliknya menerima semua itu. Karena baju baju seperti itu bukanlah style nya selama ini. Tapi, karena hendak memata-matai hubungan Reyhan dengan Rosyidah dia mau memakainya.


"Oh my God, kenapa aku harus terjebak dengan keadaan seperti ini?" gumam Laura sambil meremas gamis itu. Ia kembali memasukkan potongan baju itu ke dalam paper bag, tapi melihat ada sesuatu dan ia kembali merogohnya.


"Buku panduan sholat?" gumam Laura sambil mengernyitkan dahi. Kemudian ia membuka lembar demi lembar dan membacanya. Ditengah keasyikannya membaca buku tiba tiba handphonenya bergetar. Baru melihat namanya saja ia langsung menyunggingkan senyum. Setelah membaca pesan itu, ia justru bingung mau segera membalasnya atau tidak. Teringat semalam teleponnya tak direspon.


Sementara itu, sesudah Reyhan mengantar Rosyidah pulang, ia segera menepikan mobilnya. Perasaannya tak tenang karena mendengar Laura sakit. Padahal semalam Laura baru saja menelpon dirinya, tapi tak sempat ia jawab karena tertidur. Dan baru sadar tadi pagi ketika mengecek handphone. Setelah berpikir sekian menit, akhirnya Reyhan memutuskan untuk mengirimi pesan. Terlihat jika pesannya sudah dibaca karena layar sudah menunjukkan centang biru dua. Tapi setelah menunggu sekian menit tetap tak ada balasan.


"Apa dia benar benar sakit? Atau.... Sengaja menghindari ku karena marah?" gumam Reyhan.


"Kenapa aku harus terus memikirkan dia? Mau marah atau tidak, bukankah itu menjadi urusannya sendiri?" Reyhan kembali mengucap istighfar ketika sudah bergumam yang buruk tentang Laura sembari mulai kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa ya tetap dukung terus mas Reyhan sampai bertemu dengan cinta sejatinya dengan kasih like bunga vote dan favorit ❤️❤️


__ADS_2