Juragan Muda

Juragan Muda
153. Jaga keamanan


__ADS_3

"Kenapa ngga ada jalan yang lebih lebar?" gumam Reyhan pelan namun masih terdengar oleh Laura.


"Jalan apa yang kamu maksud?" balas Laura bingung.


Di tengah kebingungannya mencari jalan menuju gua keramat Laura, Reyhan meletakkan tubuhnya di atas tubuh Laura dan menyayang wajah serta bibirnya dalam waktu yang lama. Hingga akhirnya, keduanya merasakan sesuatu yang geli di bawah sana dan,


Jlebb...


"Arghhh..... mas." pekik Laura tiba-tiba.


Yang membuat ciumannya seketika berhenti dan justru menitikkan air mata, tangannya pun mencengkeram bantal kuat.


Reyhan langsung melihat perubahan wajah Laura, lalu menghapus air matanya.


"Miss Laura ngga apa-apa?" tanyanya ragu.


"Sakit." desis Laura sambil memejamkan matanya.


Reyhan hendak menyingkirkan tubuhnya dari atas Laura, tapi bagian bawahnya terasa nyangkut. Tak sadar ternyata tongkat ajaibnya berhasil masuk tanpa di duga.


"Nyangkut Miss punya ku." ucapnya sambil meringis.


"Aku lepas pelan-pelan ya."


Laura segera membuka matanya dan menggeleng lemah.


"Sepertinya ngga usah mas, kamu teruskan saja." ucap Laura berusaha tersenyum walaupun menahan sakit. Reyhan pun mengangguk.


"Miss Laura tahan rasa sakitnya ya." ucapnya, lalu mulai menggerakkan badannya pelan. Ia juga menghujani wajah Laura dengan kecupan sayang. Beberapa stampel kepemilikan ia sematkan di tubuh Laura.


Laura hanya bisa memejamkan mata dan air matanya mulai keluar lagi karena menahan rasa sakit yang luar biasa.


Hingga akhirnya keduanya kembali merasa geli yang sangat luar biasa dan akhirnya melenguh puas. Reyhan pun langsung ambruk di atas tubuh Laura.


"Terima kasih Miss Laura, kamu sudah memberikan segalanya untuk ku." ucap Reyhan sambil menatap wajah Laura yang tampak pucat dan penuh keringat.


"Sama-sama, kamu berjanjikan tak kan meninggalkan aku setelah ini?" ucap Laura pelan.


"Hanya laki laki bodoh yang meninggalkan istrinya begitu saja setelah mendapatkan kepuasan." balas Reyhan sambil menyeka air mata dan keringat Laura yang bercampur jadi satu.


Setelah memenangkan pertandingan pada malam hari itu, Reyhan segera melepas tongkatnya pelan-pelan, walaupun tetap menimbulkan rasa sakit bagi Laura.

__ADS_1


Ia segera membersihkan bagian bawahnya lalu memakai kembali pakaiannya. Melihat Laura yang masih terbaring di tempat tidur, ia segera memungut pakaiannya dan membantu memakaikannya.


"Arghh..." Laura mengerang kesakitan ketika hendak berdiri. Lalu Reyhan segera membantunya.


Melihat Laura yang berjalan tertatih, Reyhan tak tega dan segera menggendongnya menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi pun, ia membersihkan bagian bawah tubuh Laura dengan hati-hati.


Sesampainya di kamar, Reyhan begitu terkejut melihat noda darah yang ada di seprei nya.


"Miss Laura masih menstruasi ya?" Reyhan menatap Laura yang masih ada dalam gendongannya.


"Sudah bersih. Kamu lupa kita tadi sholat bareng?"


"Terus itu." tanya Reyhan bingung.


"Bukankah baru saja kamu yang mengambil keperawanan ku? Kenapa justru bertanya seperti itu." dengan gemas Laura mencubit hidung Reyhan. Yang membuat Reyhan kembali menghujani wajah Laura dengan ciuman dan membuatnya merasa geli.


"Alhamdulillah, untung selama pacaran dengan Choki, ngga sampai di unboxing duluan sama dia." kekeh Reyhan.


"Enak saja, aku juga masih tahu batasannya kali. Kita cuma menghabiskan waktu untuk jalan bareng sambil bergandengan tangan. Sudah, aku ngga mau membahas dia lagi. Sudah ada seseorang yang mengisi hati ku sekarang."


"Dan itu aku." sahut Reyhan sambil kembali menyayang wajah Laura. Harum tubuh Laura seakan menjadi candu bagi dirinya dan sulit untuk di hilangkan.


"Mas.... geli." Laura meronta dalam gendongan Reyhan, karena Reyhan tak berhenti menyayangnya.


"Em.. karena sekarang kamu sudah menjadi imam ku, aku akan berusaha menghargai mu. Yah, walaupun hanya sekedar panggilan saja sih." kekeh Laura. Walaupun itu memang ungkapan dalam hatinya.


"Terima kasih untuk semuanya Miss Laura sayang." Reyhan mengecup tangan dan kening Laura.


"Mulai sekarang mas Reyhan panggil aku nama saja. Ngga usah pakai Miss. Aku ngga enak, karena panggilan itu mengingatkan ku pada kesombongan dan keangkuhan ku dulu padamu."


"Ngga mau. Karena itu adalah panggilan terindah dan aku sangat menyukainya. Itu adalah panggilan istimewa untuk istri ku dan memang sangat cocok dengan parasnya yang cantik. Jadi wajar sih kalau sombong." Kekeh Reyhan.


"Dan hanya Miss Laura seorang yang boleh memakai nama itu." tegas Reyhan berikutnya.


Ia berdiri dan segera mengganti seprei nya. Laura memandang suaminya dengan penuh tatapan cinta. Rasanya segala bentuk perhatian Reyhan sudah cukup membuat hatinya bahagia.


Walaupun tadi malam adalah malam pertama bagi keduanya merasakan nikmat surga dunia, tapi Reyhan tetap bangun pagi seperti biasanya. Karena tak ingin melewatkan kesempatan untuk subuh berjama'ah di masjid.


Jam 4 ia sudah bangun dan bergegas mandi lalu berangkat menuju masjid.


"Kak, tungguin." seru Bima yang tengah merapikan sarungnya. Keduanya pun jalan beriringan menuju masjid. Sedangkan Bayu, masih tidur indah dalam pelukan Anisa.

__ADS_1


"Tumben sih kak, pagi pagi sudah mandi. Ngga dingin?" celetuk Bima, yang membuat Reyhan meringis. Tak mungkin jika mengatakan hal yang sebenarnya.


"Hawanya semalam panas banget Bim, jadi ini mandi biar seger." kilah Reyhan. Dan Bima hanya membulatkan mulutnya sebagai tanda paham.


Seperti biasa, setelah selesai sholat, Bima akan berlari pulang. Meninggalkan Reyhan yang jalan kaki dengan santainya sambil menikmati udara pagi.


"Arghhh........" teriak Bima, sedangkan Laura hanya bengong melihat Bima berteriak seperti itu.


Reyhan yang mendengar suara teriakan adiknya dari dalam rumah, sontak terkejut. Ia segera berlari ke dalam melihat apa yang terjadi.


Reyhan membulatkan mata melihat pemandangan yang ada di depannya, lalu segera menarik tangan Laura ke kamar.


"Miss Laura tunggu di sini dulu ya, jangan keluar." ucap Reyhan lalu mengecup kening Laura. Setelah itu bergegas ia keluar dan membekap mulut Bima.


"Ssttt.... sudah. Jangan berteriak." bisik Reyhan di telinga adiknya.


Setelah Bima diam, Reyhan segera melepaskan tangannya dari mulut Bima.


"Ke_kenapa pakaian Miss Laura aneh seperti itu kak?" tanya Bima penasaran.


"Dia juga sama kepanasan, biasanya di kamarnya kan ada AC. Sedangkan di kamar kakak tidak ada."


"Oo... seperti itu."


"Iya, kamu jangan bilang siapa siapa ya. Nih, buat jajan di sekolah nanti." Reyhan menyodorkan selembar uang merah.


"Hore....." seru Bima kegirangan.


"Ingat ya. Jangan bilang siapa siapa." ulang Reyhan lagi. Tangan Bima mengisyaratkan ok. Lalu bergegas masuk kamar.


Bayu yang baru saja keluar kamar langsung terkekeh. Sehingga Reyhan mengurungkan niatnya masuk kamar.


"Makanya di jaga dong keamanannya."


"Keamanan apa?" tanya Reyhan mengernyitkan dahi.


"Semalam aku sama Anisa ngga bisa tidur karena dengar suara aneh dari dalam kamar mu. Eh sekarang ketahuan Bima. Apa namanya kalau kurang menjaga keamanan." jelas Bayu sambil terkekeh.


"Huh dasar." Reyhan tak melanjutkan bicaranya lalu segera masuk kamar, meninggalkan Bayu yang masih terkekeh.


Sedangkan Laura yang berada di dalam kamar dan hanya terhalang pintu masih bisa mendengar jelas suara di luar sana.

__ADS_1


"Mas." Reyhan menangkup wajah Laura yang terlihat bersalah sekaligus bingung.


"Dia masih kecil. Sangat tabu melihat Miss Laura yang memakai pakaian seperti ini. Dan, hanya aku saja yang boleh melihat Miss Laura berpakaian seperti ini. Jadi, kalau keluar kamar, Miss Laura harus pakai hijab ya. Misal kita di rumah Miss Laura ngga apa-apa Miss Laura pakai pakaian seperti ini, karena yang bekerja di dalam rumah semua perempuan. Tapi, kalau di sini, ada adik ipar, dan keduanya laki-laki. Nanti, kalau di terkam Bayu gimana." Reyhan berusaha memberi pengertian pada Laura agar tidak terlihat sedih.


__ADS_2