Juragan Muda

Juragan Muda
70. Menyatakan perasaan


__ADS_3

"Sayang, aku capek kerja tiap hari dari pagi sampai malam. Harusnya kamu juga tambah karyawan lagi." keluh Tiwi ketika di counter bersama Bayu.


"Tapi sayang, counter ini kan masih bisa kita handle berdua." sahut Bayu sambil mengelus tangan Tiwi mencoba untuk memberi ketenangan.


"Tapi, sejak kita berdua jaga counter, kita jarang ada waktu untuk bersama. Kita udah lama ngga jalan bareng." keluh Tiwi dengan muka manyun.


"Walaupun kita jarang bisa jalan bareng, tapi kita tetap bisa berduaan disini kan?"


"Tapi itu membosankan." sahut Tiwi ketus.


Bayu pun menghela nafas kasar. Semakin bingung dengan maunya Tiwi.


"Ya sudah nanti aku coba cari karyawan ya sayang." akhirnya Bayu hanya mengiyakan permintaan Tiwi agar dia senang.


"Sayang, kenapa kamu semakin kesini semakin berubah?" tanya Bayu hati-hati takut menyinggung perasaan Tiwi.


"Berubah gimana? Aku masih sama seperti yang dulu kok." sahut Tiwi tampak salah tingkah.


"Ya ngga seasyik dulu rasanya, dulu kalau kita lagi jaga berdua kita sering becanda, ngakak bareng. Sekarang kamu sibuk dengan handphone ku terus."


"Eh aku cuma kepo saja sama status teman teman ku." Tiwi langsung meletakkan handphonenya.


Akhirnya setelah sebulan Bayu mendapatkan seorang karyawan perempuan. Pekerjaannya lebih rajin dari Tiwi dan lebih ramah kepada pelanggan.


Setelah hutang Bayu ke ibu dan kakaknya lunas sebenarnya ia mulai bisa bernafas sedikit lega. Paling tidak bisa kembali mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Tapi karena permintaan Tiwi, akhirnya setiap bulan dia harus kembali menambah pengeluaran untuk membayar karyawan.


Walaupun hatinya sedikit berat, tapi dia berusaha ikhlas, karena itu semua demi Tiwi.


Setelah memilik 2 orang karyawan, Bayu jadi ada waktu untuk mengistirahatkan badannya. Sambil rebahan ia bisa membuka handphone nya lebih lama untuk mencari ilmu yang lebih dalam mengenai usahanya saat ini.


Bayu pun mulai mempromosikan stok produk nya di berbagai market place. Tak lupa menghubungi teman-temannya untuk menawarkan produk counternya.


"Boleh kredit handphone ngga Bay?" isi pesan WhatsApp dari salah satu temannya.


"Astaga, baru juga promosi, sudah ada yang mau ngutang saja." gumam Bayu lalu ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesaat ia terdiam sambil memikirkan pertanyaan teman nya.


'Kak Reyhan saja yang sudah kaya tak pernah menghutangkan handphone nya, apalagi aku yang masih miskin. Tapi, kalau itu menjadi jalan rezeki ku ya aku bisa apa." batin Bayu mulai berperang.


Akhirnya Bayu pun membalas pesan temannya dengan mengiyakan permintaannya.


Tak berselang lama, ada notifikasi masuk dari market place yang meminta cod karena jarak rumah dengan counter terlalu jauh.


Tak pikir lama Bayu langsung menerima tawaran itu juga. Keadaan yang memaksa harus lebih bekerja ekstra untuk mempertahankan counternya.

__ADS_1


Bergegas Bayu melajukan motornya menuju counter untuk menyiapkan pesanan.


Hari itu bisa sold out handphone dengan sistem pembayaran cod dan kredit sudah membuat Bayu senang dan kembali terpacu semangatnya.


"Apa ngga rugi sayang kalau seperti itu caranya." tanya Tiwi setelah Bayu selesai mengantarkan pesanan.


"Ya mau gimana lagi, aku harus berjuang juga agar counter ini semakin maju."


Hari itu, Bayu sengaja selonjoran di counter, sambil menunggu calon pembeli dari berbagai market place.


Tiwi pun kembali mengotak atik handphonenya. Hanya Susi karyawan baru yang selalu melayani pembeli.


Bayu menghela nafas panjang lalu bergegas menyiapkan pesanan dari market place lagi. Ketika berjalan menuju etalase tak sengaja ia melihat Tiwi sedang asyik kepo tentang media sosial milik kakaknya. Bayu pun terdiam sambil terus mengamati.


Hatinya berdesir aneh, merasa tak percaya dengan perbuatan Tiwi. Dia sengaja mendiamkan Tiwi sambil mengambil beberapa paket data untuk cod. Sengaja tak langsung bertanya ke Tiwi, lebih baik mencari bukti terlebih dahulu. Dan semoga saja persangkaan nya tidak benar.


"Kak, bantuin dong." Susi yang keberatan mengangkat kardus berisi paket data segera memberanikan diri minta tolong ke Tiwi.


Sebenarnya Susi juga merasa tak enak karena tampang Tiwi yang tak pernah bersikap ramah padanya. Namun Susi tetap bersabar mengingat ia juga butuh kerjaan itu.


Dengan ogah-ogahan Tiwi bangkit dari duduknya lalu membantu mengangkat kardus itu. Setelahnya ia duduk dan kembali memainkan handphone nya.


Seperti menelpon seseorang berulangkali namun tetap tak diangkat. Lalu jarinya seperti mengetik sebuah pesan. Dan kembali menelpon lagi. Tak berselang lama, akhirnya panggilan pun berakhir.


Beberapa bulan sudah Bayu berjuang keras untuk membesarkan usahanya. Mulai dari melayani cod yang setiap hari ia jalani, dan juga membungkus tiap paket pesanan customer dari market place.


Dan kini hasilnya mulai terlihat. Untuk membayar gaji kedua karyawannya ia tak kesulitan. Terkadang ia juga memberikan bonus jika hasil penjualannya meningkat. Sedikit demi sedikit ia pun mulai bisa menabung.


Namun hal itu tetap tak membuat hati Tiwi tersentuh. Baginya Reyhan tetap jauh lebih kaya. Selama ini Tiwi tetap diam diam menghubungi Reyhan. Dan selalu mencari celah untuk bisa mendekati nya.


"Mas Reyhan." sapa Tiwi dengan senyum mengembang. Sengaja Tiwi menemuinya di salah satu cabang couter milik Reyhan.


"Tiwi. Kenapa kamu ada disini?" tanya Reyhan yang penasaran melihat kemunculan Tiwi yang tiba-tiba.


"Em, sengaja mau lihat suasana counter mas Reyhan."


"Oh ya sudah lihat lihat saja. Aku mau ada acara."


"Aku juga pengen ngobrol sama mas Reyhan. Soalnya aku kangen, sudah lama ngga ngobrol sama mas Reyhan."


Huft....


"Mau bicara apa?"

__ADS_1


"Kita bicara diluar saja yuk mas, ngga enak bicara di dalam."


Akhirnya dengan setengah terpaksa Reyhan mengikuti kemauan Tiwi. Tiwi memulai percakapan sore itu. Dan Reyhan hanya menjawab seperlunya saja.


"Mas Reyhan, terima ini ya." Tiwi mengulurkan sebuah kado kecil.


"Apa ini?" tanya Reyhan sambil mengernyitkan dahi.


"Buka saja ketika nanti sudah sampai rumah."


"Tapi maaf, aku tak bisa menerima kadomu."


"Dosa lho mas kalau menolak pemberian orang lain." jawab Tiwi. Lalu setelah puas bertemu dengan Reyhan, Tiwi berpamitan pulang.


Begitu juga dengan Reyhan. Ketika masuk mobil dan masih membawa kado kecil itu, rasa penasarannya bertambah. Segera ia membukanya.


"Jam tangan." gumam Reyhan sambil membolak-balik jam tangan itu. Lalu menemukan sepucuk surat. Bergegas ia membacanya.


Alangkah sedih hatinya ketika selesai membaca isi surat itu. Reyhan tak menyangka jika ada wanita yang tega berbuat demikian pada adiknya.


Bergegas ia menelpon Tiwi untuk mengajak bertemu di tempat yang sudah ditentukan olehnya.


Dengan senyum cerah Tiwi menyambut ajakan Reyhan. Bergegas Tiwi berdandan secantik mungkin untuk menyambut pangeran pujaannya.


"Hai mas Reyhan." sapa Tiwi dengan senyum terbaiknya. Reyhan pun membalas dengan tersenyum pula yang membuat Tiwi melayang dengan hanya melihat pesona Reyhan.


"Duduk."


"Apa maksudmu memberikan ini semua padaku?"


"Ya seperti yang ada dalam surat itu mas."


"Apa kamu bilang!"


Hadiah berupa pulsa 50rb untuk juara pertama yang memberi dukungan terbanyak.


hadiah berupa pulsa 25rb untuk pemberi dukungan kedua terbanyak.


Hadiah akan diumumkan setelah novel ini tamat.


Dan untuk kapan tamatnya, author juga belum bisa memastikan. Bisa jadi sebentar lagi🤭🤭


Jadi untuk kakak readers semua, ayo dukung terus karya author dengan meningkatkan memberi hadiah dan vote. Pastikan kalian membaca dulu sebelum menekan like nya ya. Jangan asal spam like😉😉

__ADS_1


"Apa kamu bilang!"


__ADS_2