
"Mbak Laura, mas Reyhan mau ke luar kota. Jadi, dia titip ini untuk mbak." kata Anisa setelah Laura berdiri di depan meja kasir.
Semua menatap ke arah Laura yang terlihat terkejut.
'Ya Allah, ternyata ia sungguhan membelikan aku baju lagi. Dasar cowok nyebelin.' batin Laura.
"Punya saudara seperti mas Reyhan pasti menyenangkan sekali ya mbak. Dia baik dan perhatian pada adiknya." celetuk Anisa.
"Ya harus dong. Kalau ngga seperti itu, bakal aku aduin sama papa mama ku." ceplos Laura. Entah kenapa dia bisa bicara seperti itu.
"Paket komplit ya mbak. Kakaknya ganteng, adiknya juga cantik banget. Aku pikir tadi bidadari yang nyasar kesini, tahunya temannya mbak Anisa." celetuk Anya dengan suara cempreng nya. Tapi mampu mengundang gelak tawa mereka semua.
Setelah membayar total tagihan, Anisa mengajak Rosyidah dan Laura untuk makan siang di restoran terdekat. Keduanya pun tak bisa menolak ajakan Anisa. Akhirnya ketiga nya berjalan bersama menuju restoran yang ada di seberang jalan.
"Alhamdulillah, akhirnya mereka keluar juga." ucap Tiwi dari tempat persembunyiannya.
Kala melihat Laura, ia langsung bersembunyi. Melihat Laura, mengingatkan nya kembali pada kejadian yang dulu, di mana ia bertemu dengan Reyhan dan menyatakan perasaannya. Namun Laura tiba-tiba datang dan mengaku sebagai pacarnya Reyhan. Tapi dari hasil pembicaraan yang ia dengar tadi, ia mengaku sebagai saudara Reyhan. Sehingga timbul pertanyaan di hatinya, siapa Laura sebenarnya.
"Astaghfirullah hal'adzim." Anya mengelus dadanya berulang kali. Tak hanya itu saja, ia juga meneguk air mineral yang ada di meja hingga tandas. Ketika melihat Tiwi sudah berdiri di dekatnya.
"Mbak Tiwi, kebiasaan banget sih. Bisa ngga sih ngga usah mengejutkan Anya?" tanya Anya, matanya mendelik kesal ke arah Tiwi.
"Ya maaf Nya, perasaan aku biasa aja. Kamu aja yang gampang kaget." balas Tiwi tak mau kalah.
Anya pun menceritakan tentang Laura, Reyhan dan semua yang ia lihat tadi pada Tiwi. Sedangkan Tiwi hanya mengangguk dan mulut nya membentuk huruf o menanggapi cerita Anya. Padahal ia sendiri juga melihat hal tadi, makanya ia bersembunyi.
Sementara itu di tempat lain, di mana Laura dan kawan-kawan berkumpul. Mereka tampak asyik bercerita sampai makanan yang mereka pesan pun datang.
Mereka segera menggeser makanannya dan mulai berdoa lalu mulai mencicipinya. Sesaat Laura memperhatikan cara Anisa dan Rosyidah makan. Hanya menyingkap sedikit cadar saja dan makanan itu masuk ke mulut mereka.
__ADS_1
"Apa ngga ribet sih pakai cadar?" celetuk Laura. Ia pun belum menyentuh makanan nya sama sekali dan masih memperhatikan keduanya.
Sesaat Anisa dan Rosyidah saling beradu pandang dan melempar senyum sebelum menjawab pertanyaan Laura. Mereka tidak tersinggung sama sekali dengan pertanyaan Laura.
"Kalau kamu ingin mengetahui gimana rasanya, sebaiknya kamu coba saja sendiri mbak." kata Anisa membalikkan pertanyaan Laura. Tentu saja hal itu langsung membuat Laura mati kutu.
"Cadar itu, memang bukan sesuatu yang wajib. Tapi, kita sebagai wanita hanya ingin menjaga dan mempersembahkan seluruh aset berharga pada suami kita kelak. Logikanya, kaki yang letaknya di bawah dan kurang menarik sama sekali saja di haruskan untuk menutup, apalagi wajah cantik yang letaknya di atas dan selalu menjadi pusat perhatian ketika kita saling berbicara." imbuh Anisa.
Seketika Laura hanya bisa menelan ludah mendengar penjelasan Anisa yang sangat mudah di pahami itu. Keluwesannya dalam berbicara membuat Laura tak lagi banyak bertanya, tapi bisa meresapi sebaris kalimat itu.
"Semua butuh proses mbak, tidak ada sesuatu yang instan. Nikmati saja proses nya, suatu saat mbak Laura akan merasakan hasilnya." imbuh Anisa lagi.
Laura tersenyum menanggapi perkataan Anisa.
"Ayo di makan mbak." ajak Rosyidah, melihat makanan di piring Laura masih utuh.
"Ih, kok bisa sih?" Laura meringis melihat piring nya sendiri dan piring milik teman temannya itu. Akhirnya, ia pun mulai menyuap makanan itu ke mulutnya. Mereka saling bercerita. Dan di akhir pembicaraan, mereka sepakat untuk menyebut nama masing-masing tanpa embel-embel 'mbak.'
Setelah puas bercerita mereka segera kembali ke toko Anisa dimana mobil Rosyidah masih terparkir di sana.
"Semoga usahanya makin sukses ya Nis." Laura mendoakan Anisa dengan tulus.
"Aamiin ya rabbal aalamiin." balas Anisa.
Rosyidah pun juga mendoakan hal yang sama untuk Anisa.
Setelah berpamitan, keduanya segera masuk ke mobil, dan mobil pun melaju pelan. Ketiganya saling melambaikan tangan sebelum akhirnya keluar dari pelataran toko Anisa. Rosyidah segera mengantar Laura pulang, karena sore harinya ia masih ada acara di pondoknya.
"Laura, aku ngga mampir ya. Sore ini ada acara di pondok." ucap Rosyidah setelah sampai di rumah Laura.
__ADS_1
"Iya, hati hati ya Ros. Makasih udah di ajak jalan-jalan." balas Laura sambil melambaikan tangan ke arah Rosyidah yang mulai kembali melajukan mobilnya.
Laura masuk ke kamarnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia meletakkan seluruh belanjaannya di ranjang tidur nya, dan segera berjalan mengambil baju ganti untuk mandi.
Setelah mandi, ia merasa jauh lebih segar. Ia pun segera mengecek belanjaan nya. Yang pertama kali di buka adalah paper bag pemberian Reyhan. Ia mengeluarkan 6 pcs set gamis dengan aneka warna.
"Ih, gayanya sok banget. Beliin aku sebanyak ini." gumam Laura setelah membolak-balik semua baju itu.
Walaupun mulutnya berkata seperti itu, tapi tidak dengan hatinya. Yang justru bahagia dengan perhatian dari Reyhan. Lagi-lagi hatinya membandingkan Reyhan dengan Choki.
Reyhan selalu memperhatikan nya hingga urusan baju. Berbeda dengan Choki yang tidak pernah memperhatikannya sama sekali. Bahkan, justru sebaliknya, ia yang memperhatikannya.
"Kirim pesan enggak... kirim pesan enggak." Laura terus mengulang kalimat itu hingga berulang kali.
Ia bingung, ingin mengucapkan rasa terima kasih pada Reyhan, tapi terbentur rasa gengsi nya yang tinggi. Akhirnya ia merebahkan diri sampai ketiduran, tanpa mengucapkan kata terima kasih sama sekali.
Berulang kali bu Ani mengetok pintu kamar Laura, tapi tak ada sahutan sama sekali. Ia coba memutar handle pintu yang ternyata tidak di kunci.
Dengan pelan-pelan ia mendorong pintu itu. Bu Ani berjalan pelan ke arah Laura. Hingga melihat Laura tengah tertidur lelap di antara tumpukan baju baru yang berserakan di atas tempat tidurnya.
"Laura, bangun sayang. Ayo, kita makan malam dulu." beberapa kali bu Ani membangunkan Laura tapi tidak juga bangun.
Akhirnya ia pun merapikan baju baju itu agar Laura bisa tidur dengan nyaman, tapi Laura justru mengigau menyebut nama Reyhan.
"Terima kasih Reyhan, sudah membelikan ku gamis baru." beberapa Laura berkata seperti itu, sambil tersenyum dan meremas guling yang di peluknya.
Bu Ani kaget melihat ekspresi anaknya yang mengigau. Ia tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk membangunkan Laura, dan tetap membiarkan seluruh baju itu berserakan di ranjang tempat tidur.
"Ya Allah, ternyata diam-diam kamu mulai menyukainya ya." gumam bu Ani pelan sebelum keluar kamar.
__ADS_1