
Sepulang kerja, Adam mampir ke salah satu toko perhiasan. Ia berniat membeli cincin untuk melamar Tiwi nanti malam.
"Silahkan mas, ada yang bisa kami bantu?" tawar pegawai toko dengan ramah menyambut kedatangan Adam.
"Saya mau mencari cincin untuk melamar mbak."
"Silahkan bisa di pilih di deretan sini. Mau pilih yang mana, bentuk dan ukuran bisa disesuaikan jika pilihan yang kami tawarkan kurang cocok. Atau bisa membawa pasangan nya untuk di ukur dulu."
'Aku kan berniat memberi kejutan untuknya. Tapi kenapa aku malah terkejut sendiri. Aku kan ngga tahu berapa ukuran jemarinya. Tapi kelihatannya kecil sih.'
Matanya tampak awas memperhatikan satu persatu bentuk cincin yang indah indah sambil berpikir mana yang cocok untuk Tiwi.
"Ini saja mbak."
Adam menunjuk sebuah cincin emas bermata ungu.
Setelah membayar ia keluar toko dengan wajah yang sumringah.
"Semoga kamu mau menerima cincin ini Tiwi. Bukan hanya cincinnya saja, tapi orangnya juga." gumamnya sebelum tancap gas.
Malam yang di nantikan pun tiba. Mama dan Andira sudah siap dan keduanya menunggu di bawah. Sedangkan Adam masih mematut diri di depan cermin.
Ia tampak semakin tampan dalam balutan kemeja batik.
"Walaupun ini terkesan mendadak, semoga keputusan yang ku ambil benar."
"Kakak. Kakak." Andira berteriak memanggil namanya berulangkali. Padahal dia belum masuk ke kamar kakaknya.
"Ya ampun, tuh anak, ngga bisa sabar sedikit saja." dengan mendengus kesal Adam membuka pintu kamarnya.
"Sabar sedikit dong Ra. Yang mau melamar kan aku. Kenapa kamu yang ngga sabar?"
"Ya maaf kak, abis nungguin kak Adam tuh lama banget. Kirain ketiduran."
Keduanya pun berjalan menuruni anak tangga dan menghampiri mama yang tengah duduk di kursi tamu.
"Ayo ma." Adam mengulurkan tangan dan segera di sambut mamanya. Ia membantu mamanya berdiri.
"Kamu tampan sekali Adam." puji mamanya dengan mata yang berbinar.
"Kan mau lamaran ma, jadi harus tampil keren dan ganteng, biar di terima." sahut Andira.
Setelah semua siap, mereka pun segera menaiki mobil yang sudah disiapkan di depan teras. Adam sengaja menyetir sendiri, tidak mengajak sopirnya.
Sepanjang perjalanan, Adam tampak fokus memperhatikan jalan. Sedangkan mama dan Andira terlihat menikmati pemandangan malam disekitarnya.
__ADS_1
"Mama, Dira. Adam mohon, nanti sampai sana jangan terkejut ya. Soalnya rumah nya hanya sepertiga dari rumah kita. Meskipun mereka orang biasa, tolong tetap jaga sikap dan sopan santun."
"Kamu mengajari mama Dam? Kalau soal itu, mama tak masalah. Yang penting Tiwi sekeluarga adalah orang baik."
Meskipun keluarga Adam orang kaya, namun mereka tidak membeda-bedakan dalam bergaul. Karena sejak kecil mereka sudah di didik dengan baik.
Mobil yang melaju dengan kecepatan sedang itu akhirnya berbelok di sebuah rumah yang sederhana.
"Ini kak rumahnya?" tanya Andira sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling pelataran.
"Iya, ingat pesan ku tadi ya. Harus sopan."
Mereka pun bersiap turun.
Sedangkan di dalam rumah, keluarga Tiwi yang mendengar suara deru mobil mengernyitkan dahi karena heran.
Hanya ada 2 tamu yang mengunjungi mereka dengan menggunakan mobil. Yaitu Bayu dan Adam.
Bayu dulu sering ke rumahnya mengendarai mobil Reyhan, dan semenjak menikah dia tidak pernah lagi datang. Sedangkan Adam, ia sudah mendapatkan peringatan dari orang tua Tiwi.
Pak Somad segera membukakan pintu, sedangkan Tiwi dan ibunya ke kamar masing-masing mengambil jilbab.
"Assalamu'alaikum." terdengar suara salam yang bersamaan.
Ia semakin mengernyitkan dahi bingung, kenapa Adam bersama keluarganya datang ke rumahnya.
"Pak."
Adam tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pak Somad yang masih tampak terkejut.
Setelah bersalaman, Adam memperkenalkan mama dan adiknya. Walaupun masih diliputi kebingungan, pak Somad mempersilahkan mereka masuk.
Ibu yang baru saja keluar dari kamar terkejut melihat kedatangan Adam sekeluarga. Bergegas ia menghidangkan minuman dan cemilan untuk mereka, lalu menemani mereka bercakap-cakap.
Tiwi yang hafal dengan suara Adam, sengaja berdiam diri di kamar, sambil mendengarkan percakapan mereka.
Sementara itu, setelah berbasa-basi sebentar, Adam segera menyampaikan maksud kedatangannya.
"Pak, mohon maaf sebelumnya, jika kedatangan saya mengganggu bapak dan ibu sekalian. Maksud edatangan saya kesini adalah untuk melamar putri bapak, Pratiwi."
"Apa!" Seru kedua orang tua Tiwi bersamaan.
Mama dan Andira heran dengan kedua orang tua Tiwi yang terkejut. Sedangkan di dalam kamar, Tiwi jauh lebih terkejut, hingga ia terasa sesak nafas.
"Memangnya kamu ngga bilang sama Tiwi kalau mau melamarnya. Sehingga kedua orang tuanya terkejut?" bisik mama. Adam hanya mengangguk sambil meringis.
__ADS_1
Ia memang berniat memberi kejutan untuk keluarga Tiwi. Dan mungkin rencananya itu berhasil. Sedangkan mama ingin rasanya mencubit Adam, karena gemas dengan sikapnya.
"Maafkan jika kedatangan kami mendadak dan keinginan putra saya membuat bapak dan ibu terkejut. Sebenarnya niat dia baik, ingin menjauhi dosa dengan segera mengajak nak Tiwi menikah pak, Bu." tutur mama dengan sopan. Adam mengangguk setuju dengan ucapan mamanya.
Kedua orang tua Tiwi juga setuju dengan ucapan mama Adam.
"Tapi mohon maaf sebelumnya, apa ini berkaitan dengan ucapan saya yang tempo hari nak Adam?"
"Bukan pak. Niat saya memang ingin melamar Tiwi."
"Kami sebagai orang tua Tiwi setuju saja, tapi semua keputusan ada ditangan Tiwi. Ia yang berhak memutuskan. Biar kami panggil dulu."
Ibu Siti segera berdiri menuju kamar Tiwi. Setelah mengetuk pintu berulang kali namun tak ada jawaban, ia mendorong pintu yang ternyata tidak di kunci.
"Hah, Tiwi." Bu Siti kaget melihat Tiwi duduk bersandar tembok sambil memegang dadanya.
"Kamu kenapa nak?" Bu Siti panik sambil menepuk pelan pipi anaknya. Ia melihat air putih di atas meja dan segera mengambil lalu meminumkan ke Tiwi.
"Kamu mendengarkan percakapan kami?"
Tiwi mengangguk lemah.
"Apa aku tidak salah dengar Bu?"
"Tidak, kamu tidak salah dengar nak. Ayo kita kesana temui mereka. Kamu beri jawaban agar mereka tidak kelamaan menunggu."
Mendengar suara berisik dari kamar Tiwi, mengundang perhatian mereka yang tengah duduk di ruang tamu. Pak Somad pun bergegas mendekat dan menanyakan apa yang terjadi.
Adam yang merasa tak tenang segera mendekati mereka, padahal mamanya sudah melarangnya, karena kurang sopan.
"Tiwi. Apa yang terjadi dengan mu?" Adam pun kaget melihat Tiwi masih bersandar tembok dan terlihat lemah.
Ia segera berjongkok dan memeriksanya.
"Aku ngga apa-apa kok." kata Tiwi merasa ngga enak.
Adam segera mengangkat tubuh Tiwi dan meletakkan di tempat tidur. Ia meminta Bu Siti untuk menggosok tangan dan kaki Tiwi dengan minyak kayu putih. Sedangkan pak Somad mengambil teh hangat.
Setelah sekian menit berlalu, Tiwi merasa jauh lebih baik. Mereka pun berkumpul di kamar Tiwi.
"Tiwi, nak Adam kesini untuk melamar mu. Apa kamu bersedia?" tanya bapak.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1