
Di saat Laura, Anisa dan Tiwi asyik bercakap-cakap, tiba tiba pintu di buka.
"Assalamu'alaikum." ucap Rosyidah sambil menyembulkan kepalanya.
"Wa'alaikumussalam." balas mereka kompak.
Rosyidah pun melangkahkan kakinya masuk menghampiri mereka sambil tersenyum di balik cadarnya. Mereka saling bersalaman dan tak lupa berpelukan.
"Ya Allah, aku sangat kaget sewaktu Laura memberitahu kamu lahiran Nis. Bukankah kamu pernah bilang kalau masih sebulan lagi lahirannya?" ucap Rosyidah setelah mengurai pelukan.
"Ternyata maju dari Hpl Ros, aku bersyukur meskipun maju, semua sehat dan normal." ucap Anisa penuh haru. Rosyidah manggut-manggut, dan mereka pun juga mengucapkan syukur.
Kini mereka pun bercakap cakap dan bercengkrama. Tiwi yang ikut mendengarkan percakapan mereka, juga sangat salut. Karena mereka bertiga adalah kumpulan wanita yang cantik dan baik hati.
'Andai aku memiliki sahabat yang baik hati seperti mereka, pasti senang banget. Hidup ku tambah berwarna tentunya. Ngga mungkin aku memberi warna dalam hidup ku lewat berpacaran, karena mbak Anisa sendiri sudah mewanti-wanti. Aku senang mbak Tiwi peduli sama aku yang cuma seorang karyawannya."
"Hai Wi, kok kamu diam saja?"
Anisa mengguncang lengan Tiwi sehingga membuatnya kaget. Memang sejak tadi ia hanya diam saja menyimak baik-baik percakapan mereka. Ia sungkan untuk nimbrung bicara, padahal semua terlihat biasa saja. Tidak membeda-bedakan satu sama lain.
"Eh, ngga apa-apa kok mbak. Aku cuma senang saja mbak Anisa punya teman-teman yang baik."
Ketiganya tertawa mendengar ucapan polos Tiwi.
"Memang nya kamu ngga punya teman?" celetuk Anisa.
"Hem, mana ada yang mau temanan sama anak orang miskin kayak aku mbak. Selama ini aku juga fokus kerja mbak, mana mikir cari teman."
"Sebenarnya kita juga bersahabat tanpa sengaja kok."
Anisa pun menceritakan perihal pertemuan mereka yang tak sengaja hingga terjalin lah pertemanan di antara mereka. Yang membuat Tiwi merasa terharu.
"Kita pun juga bisa berteman kok. Memang kamu ngga pernah menganggap ku sebagai seorang teman gitu?" Anisa menepuk tangan Tiwi sambil tersenyum.
"Yang ada malah Tiwi menganggap kamu bos Nis." kekeh Laura.
"Iya nih, mungkin bos nya kurang merendah." sambung Rosyidah sambil terkikik.
__ADS_1
Mereka pun kembali melempar canda, hingga membangunkan bayi Anisa.
"Biar aku yang ambil Nis." Laura segera berjalan menuju box bayi.
Dengan sangat hati-hati ia mengambil dan menggendongnya.
"Cup cup cup sayang." dengan penuh kasih Laura menggendong bayi itu hingga membuatnya kembali terdiam. Ia juga mengecup berulang kali wajah bayi itu.
"Wah hebat, mbak Laura jago juga ya menenangkan bayi. Semoga cepet di karuniai momongan ya mbak." puji Tiwi dengan mata berbinar.
"Aamiin. Terima kasih ya Wi doanya. Siapa tahu kalau aku sering momong anaknya Anisa jadi cepet ketularan." cicit Laura.
"Aku juga pengen gendong bayi mbak. Pinjam dong." pinta Tiwi.
Laura pun akhirnya menyerahkan bayi itu dengan hati-hati padanya. Dengan gemas Tiwi menghujani wajah bayi itu dengan kecupan hingga kembali menangis. Semua akhirnya menyorakinya sehingga membuatnya meringis malu.
"Ah, apa ini kok hangat hangat." ucap Tiwi sambil mengernyitkan dahi. Tangannya bergerak pelan di bawah pantat bayi.
"Mungkin pipis." celetuk Anisa yang kembali membuat mereka terkekeh, kecuali Tiwi. Ia langsung mengecup pipi bayi itu dengan gemas.
"Kamu kok tega sih mipisin tante. Mau aku culik? Hem?"
"Memangnya kamu bisa Wi gantiin kain bedong?"
"Tentu bisa dong mbak, ini perkara mudah." jawab Tiwi sambil tangannya bergerak lincah mengganti kain bedong dengan yang bersih.
"Nah, sudah bersih lagi ngga bau ompol. Ikut tante lagi yuk." gumam Tiwi.
"Gantian aku dong Wi, kan sedari tadi aku belum gendong." protes Rosyidah. Ia pun segera mendahului Tiwi.
"Sudah jangan pada rebutan. Aku ngga mau ya sampai bayi ku jatuh. Bikinnya susah tahu." omel Anisa dengan muka cemberut. Semua pun kembali terkekeh mendengarnya.
"Sumpah, kamu tuh cerewet banget sih Nis." cicit Laura.
"Iya, itu pasti ketularan mas Bayu, dia kan cerewet." celetuk Tiwi.
"Kok kamu bisa tahu Wi?" Rosyidah bertanya dengan polosnya, karena hanya dia yang belum tahu soal kisah asmara antara Bayu, Tiwi dan Anisa.
__ADS_1
"Itu rahasia perusahaan." sahut Anisa dan Tiwi kompak yang membuat Rosyidah mengerucutkan bibirnya, karena ada rahasia yang tidak ia ketahui tentang sahabat nya. Sedangkan Laura, tampak menarik senyum karena dia sudah mengetahui rahasia itu.
Seharian sudah mereka menemani Anisa, dan kini waktunya pulang. Satu persatu dari mereka berpamitan. Dan Tiwi yang paling akhir berpamitan.
"Yah, baju dan jilbab ku basah. Pasti bau pesing." gerutu Tiwi sambil melebarkan baju dan jilbabnya melihat noda pipis yang masih menempel. Hingga ia tak memperhatikan jalan di depannya.
Brughh...
Tiwi seperti menabrak seseorang hingga badannya sedikit terhuyung, dan kepalanya terasa sakit.
Arghh...
Mereka pun mengerang kesakitan.
"Kamu lagi." celetuk orang yang ada di hadapan Tiwi sehingga membuatnya mendongakkan kepalanya.
"Oh, maaf pak, seperti nya kita tidak sengaja." ucap Tiwi ketika melihat yang berdiri di hadapannya adalah dokter yang ia tabrak tadi tadi pagi.
Dokter itu pun juga mengernyitkan dahi karena kesal harus bertemu dengan wanita yang selalu menabrak nya. Terlebih kali ini menguar bau pesing dari tubuh wanita itu.
"Apa kamu pipis di sembarang tempat? Sehingga menimbulkan bau yang pesing seperti ini." bukannya menjawab permintaan maaf Tiwi, dokter itu justru kembali menuduh nya sehingga membuat Tiwi semakin geram.
"Saya sudah minta maaf baik-baik. Pak dokter ngga menjawab, dan sekarang justru kembali menghina saya dengan menuduh saya pipis sembarangan hingga bau pesing. Tega sekali sih."
Dengan bersungut-sungut kesal Tiwi meninggalkan dokter yang masih diam mematung karena mendengar kecepatan bicaranya seperti kereta api.
"Apa aku salah bicara lagi? Tapi memang kenyataannya dia bau pesing kok. Kenapa aku yang jadi di salahkan? Apa benar wanita itu memang ingin di mengerti, seperti lagunya Ada band? Ya ampun, kenapa aku jadi teringat omongan perawat ku tadi." gumam dokter itu sambil geleng-geleng kepala.
Ia pun kembali melanjutkan perjalanan nya menuju mobilnya terparkir. Sedangkan Tiwi melenggang pergi menuju motornya terparkir. Ia sedikit terburu-buru karena belum sholat dhuhur.
Setelah sampai jalan raya, ia segera menambah kecepatan laju motornya agar tidak kehabisan waktu sholat dhuhur.
Di depan motornya, ada sebuah mobil putih yang melaju dengan kecepatan sedang, ia berniat hendak melanggarnya. Akhirnya Tiwi pun menambah kecepatan motornya.
Namun sayang, mobil itu ternyata juga menambah laju kecepatannya. Sehingga sebuah benturan keras terjadi.
Arghhh....
__ADS_1
Brughh..