Juragan Muda

Juragan Muda
39. POV Bayu


__ADS_3

Setelah sampai rumah aku segera masuk kamar dan merebahkan diri tanpa bersih bersih dulu.


Baruuu saja lega sudah bisa membeli motor tanpa hutang, kini saatnya mulai bisa bernafas pelan, tapi......


Tumben sekali Tiwi bicara seperti tadi, tapi kalo dipikir memang ada benarnya juga.


Selama ini aku sibuk membantu kakakku meraih kesuksesan, tapi aku tidak memikirkan kesuksesan ku sendiri.


Tapi kak Reyhan adalah kakak terbaikku, belum pernah selama ini ia menolak permintaan ku.


Justru aku yang merasa tak enak jika terus merepotkannya.


Sejak bapak meninggal, biaya sekolah, saku untuk aku dan Bima juga dari kakak.


Jadi sekarang saatnya aku membantunya bukan malah merepotkan nya.


Bikin usaha selain butuh uang modal juga butuh skill, dan aku merasa belum siap dalam hal apapun juga.


Tapi.... alasan apa yang akan aku kasih ke Tiwi kalo dia bertanya?


Arghhh...... kenapa jadi pusing begini?


_____


Tok..... Tok..... Tok


Seperti ada yang mengetuk pintu, jam berapa sekarang? Mata ku mulai mengerjap pelan-pelan.


Dan aku pun terkejut ketika jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Sekali lagi ku kucek mataku untuk memastikan jika penglihatan ku tidak salah.


Hah, tumben bangunku kesiangan.


Tok.... Tok.... Tok


Pintu diketuk lagi, dan suara terdengar lebih keras.


Bergegas aku turun dari ranjang tempat tidur menuju pintu kamar.


"Semalam ngapain aja sih, jam segini belum bangun, apa kamu sakit? Pasti belum sholat subuh." kak Reyhan mencecar ku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Hem... Ada apa sih kak, tumben pagi-pagi udah ngomel kayak emak emak aja."


"Kalau mau jadi orang sukses, ya harus membiasakan diri bangun pagi, biar rezeki ngga di patok ayam. Btw, aku mau berangkat ke counter cabang habis itu berangkat seminar. Nanti kalo ada paket datang suruh meletakkan diteras saja."


"Memang paket apa kak? kok sampai ditaruh teras segala."

__ADS_1


"Alhamdulillah etalase baru reward dari handphone xi*mi."


"Hah, dapat reward lagi?" tanyaku setengah tak percaya.


"Ya kalo jadi dianter kesini berarti jadi, he he he. Ya sudah aku pamit berangkat dulu ya, buruan mandi, sholat Dhuha trus bantuin counter. Assalamu'alaikum."


Jualan pulsa aja bisa dapet logam mulia, etalase baru dan hadiah menarik lainnya.


Hemm.... sepertinya benar apa kata Tiwi, aku juga harus mencoba usaha sendiri buka counter seperti kak Reyhan. Siapa tahu bisa lebih sukses darinya.


Bergegas aku mandi, sarapan lalu menuju counter yang mulai ramai pembeli.


_____


Dua minggu sudah Tiwi menteror ku dengan pertanyaan yang sama, "Gimana, kapan mulai buka counternya?"


Lama-lama aku jadi ngga nyaman kalau begini terus. Bisa-bisa, aku ubanan sebelum tua.


Akhirnya dengan perasaan cemas dan was was kuberanikan diri menyampaikan keinginanku ketika keluargaku sedang kumpul menonton TV.


Ehm.. Ehm


"Keselek duri ikan ya kak?" dengan polosnya Bima bertanya padaku.


Padahal aku sedang mengatur nafas, mengumpulkan energi untuk bicara.


"Emm.... kak, semisal aku buka counter sendiri boleh ngga?"


Huft... lolos juga itu pertanyaan dari mulut ku, yang sudah sejak tadi nyangkut di kerongkongan.


"APA!!" Ibu, kak Reyhan dan Bima kompak menoleh ke arahku.


Tuh kaan, mereka aja shock mendengar perkataanku, apalagi aku.


"Iya." jawabku sambil meringis menghilangkan kecanggungan yang ada.


"Serius, apa kamu udah ngga betah kerja sama aku, atau gaji yang ku beri kurang? atau.... aku punya salah sama kamu?" kak Reyhan menatap ku dengan pandangan mengintimidasi yang semakin merontokkan keberanian ku.


'Tenang Bayu, kamu harus bisa mengambil hati mereka atau Tiwi bakal marah kalau kamu menolak permintaannya.' Batinku berusaha mensugesti diri.


Huft.....


Aku membuang nafas kasar sebelum melanjutkan bicara.


"Em... Kakak ngga ada salah apapun kok, aku juga pengen bisa punya usaha dan merintis nya dari nol kak, aku ingin bisa sukses seperti kakak." aku berusaha tersenyum agar mereka semakin yakin.


Kak Reyhan seketika tersenyum lega mendengar penuturan ku.

__ADS_1


"Oh.... gitu. Ya sudah ngga papa, kapan kamu mulai usahanya? Biar aku siap siap juga cari karyawan baru."


"Jangan merasa kalau aku bakal jadi saingan kakak ya, kita tetap akan jadi saudara."


"Iya, ngga masalah itu, rezeki orang sudah ditakar. Kapan kamu mulai usahanya?"


"Nah ya itu, aku juga belum tahu kapan waktu yang tepat, baru sekedar niat saja. Tahu sendiri uangku sudah habis untuk beli motor."


"Lalu..."


"Em.... aku pinjam uang tabungan kakak boleh ngga?"


"Uang ku juga sudah habis buat beli mobil kemarin."


"Lalu aku gimana?" aku menunduk sedih.


"Berapa modal yang kamu butuhkan Bay?" akhirnya ibu mulai buka suara juga.


"Aku juga belum menghitungnya bu?"


"Lhoh, kamu ini gimana toh, kalau mau buka usaha ya harus diperhitungkan dulu modal modal nya. Kalau sekitar 6 juta ibu ada uangnya, tapi kalau lebih ya harus menjual perhiasan mas kawin ibu."


"APA!"


Kak Reyhan terkejut, aku tahu dia tak rela kalau sampai mas kawin ibu dijual, karena itu peninggalan bapak buat kenang-kenangan.


"Apa aku perlu hutang di bank untuk modal usaha?"


"Jangan Bay, itu riba, bapakmu juga pasti tak tenang di alam sana melihat anaknya sampai jatuh ke dalam dosa riba. Rey, kasian adikmu, dia juga ingin sukses seperti mu, ngga papa ibu rela asal bisa melihat kalian jadi orang yang sukses. Misal nanti ada rezeki nanti bisa beli lagi." Ucapan ibu begitu tulus sehingga aku jadi merasa bersalah.


"Kalau dalam waktu dekat aku belum bisa minjamin kamu uang Bay, mungkin nunggu dulu sekitar 1 bulanan. Dan, selama itu kamu bisa menyiapkan diri mulai dari sekarang. Cari kios yang sekiranya tarif sewanya murah, letaknya juga strategis, lebih banyak memperdalam ilmu, perbanyak juga mendekatkan diri sama Allah. Dan, jangan sering wira-wiri sama anak orang yang belum jelas statusnya. Lebih baik halalkan atau tinggalkan. Takutnya itu mengundang murkanya Allah, karena berikhtilat dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Sambil menunggu semua itu kamu juga bisa mengumpulkan uang gaji, jadi jangan langsung memutuskan untuk pinjam di bank. Semua juga perlu di pikirkan masak-masak."


Oh tidak, kakak ku semakin kesini semakin baik, bijaksana dan gaya bicaranya bisa seperti pak ustadz juga. Ini nih yang bikin dia gampang bergaul dengan siapa saja dan mudah memikat hati para user.


Tapi, untuk menghalalkan Tiwi.... apa itu ngga terlalu cepat. Aku saja belum lama lulus.


Huh, kenapa semakin rumit sih.


"Iya iya, semua saran kalian aku terima. Mulai sekarang, aku akan mempersiapkan secara matang. Bantuin aku ya supaya bisa sukses seperti mu kak. Aku janji ngga bakalan lupain kebaikan mu selama ini."


"Ih, sok melow banget sih, geli aku dengernya."


"Sialan..... Aku tuh ngomong apa adanya ya." Sebel aku orang lagi serius ngomong malah disangka melow. Ku tonjok saja lengan kakakku biar tahu rasa.


Ibu yang sudah tahu kebiasaan kami pun hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


Kalau bukan kami yang membuat ibu tersenyum, ya siapa lagi.

__ADS_1


__ADS_2