
"Apa naik taxi online?" gumam Choki tapi masih bisa didengar oleh keluarga Laura karena mereka berdiri dengan jarak yang dekat.
"Iya, katanya kamu pacarnya Laura, apa kamu tega kalau melihat gadis secantik Laura malam malam seperti ini masih berkeliaran diluar?" pak Atmaja balik bertanya yang tentu saja membuat Choki merasa tersudut.
"Tapi Laura berani kok pa, ngga apa-apa Laura anterin Choki sebentar ya pa." bujuk Laura lagi.
"Eh ngga usah Laura, aku bisa kok naik taxi, bener apa kata papa mu, ngga baik gadis secantik dirimu keluar malam-malam begini."
"Tapi Chok...."
"Pak, bu, saya pamit dulu ya, terimakasih sudah menjamu saya dengan sangat istimewa." belum selesai Laura berkata, Choki sudah terlebih dulu berpamitan sambil bersalaman.
"Hemm." hanya jawaban singkat dari pak Atmaja, sedangkan bu Ani masih bisa tersenyum dan menjabat tangan Choki.
Lalu keluarga Laura menatap Choki hingga keluar pintu gerbang dan bayangannya hilang bersama pekatnya malam.
"Pa, kok tadi ngomongnya seperti itu sih?" tanya Laura sambil menggandeng lengan papanya untuk mengambil hatinya agar bisa merestui hubungannya dengan Choki.
"Seperti itu gimana sayang?" tanya pak Atmaja pura-pura tak paham dengan pertanyaan putrinya.
"Ya kenapa harus tanya tanya yang berlebihan ke Choki."
"Ya biar kamu ngga salah dalam bergaul, dalam memilih pacar apalagi sampai salah memilih pendamping hidup."
"Tapi pa, itu semua kan masa depan Laura, jadi Laura dong yang berhak tentuin mau pacaran atau menikah dengan siapa orangnya."
"Hemm, begini nih kalau mata sudah dibutakan oleh cinta. Ngga bisa lihat dengan jelas mana bibit bebet dan bobot yang baik." pak Atmaja menghela nafas panjang.
"Pa, tentu dong Laura bakal pikirin itu semua. Dan asal papa tau ya, Choki itu anak orang kaya lho, bahkan rumahnya lebih besar dari rumah kita. Apalagi mobilnya juga memenuhi carport nya. selain itu dia juga terlihat tampan iya kan ma?"
"Lho kok jadi tanya mama Laura?"
"Mama emang ngga lihat aura maskulinnya Choki?" tanya Laura lagi. Akhirnya daripada banyak berdebat dengan anaknya bu Ani lebih memilih mengangguk saja agar putrinya itu bahagia.
"Nah mama aja juga percaya kalau Choki itu ganteng, kok papa enggak sih."
"Hemm, terserah kamu saja Laura, yang penting papa sudah mengingatkan kamu, kalau Choki itu bukan orang yang baik. Dan menurut papa, lelaki yang pantas bersanding denganmu adalah Reyhan."
Laura seketika menghembuskan nafas kasar mendengar nama Reyhan disebut dihadapannya.
__ADS_1
'Kenapa harus dia yang disebut bukan choki.' batin Laura kesal. Lalu ia pun berjalan mendahului kedua orangtuanya menuju kamar dengan wajah memerah menahan marah.
"Pa, kasian Laura, jangan terlalu seperti itu." bu Ani mencoba menasehati suaminya ketika sudah berada di kamarnya.
"Lho katanya mama setuju kalau Laura itu deket sama Reyhan kok sekarang berubah pikiran, gimana sih?"
"Siapa yang berubah pikiran pa? Mama tetap dukung keputusan papa kok buat mendekatkan Laura dengan Reyhan, tapi juga harus main cantik pa."
"Main cantik gimana maksudnya ma?" pak Atmaja menatap istrinya yang masih terlihat awet muda itu.
Bu Ani pun segera membisikkan sesuatu tepat ditelinga suaminya.
"Wah bagus juga ide mama ya." puji pak Atmaja sambil tersenyum.
"Makanya pa, jangan gampang marah ntar cepet tua lho. Harus pakai akal buat menghadapi anak jaman sekarang yang kurang berakal kalau sudah menyinggung soal pacaran."
"Iya iya, mama yang paling jago kalau soal taktik pacaran. Jadi ingat waktu kita masih muda dulu ma." ucap pak Atmaja sambil memainkan alisnya.
"Lho mama kan emang masih muda, ngga tau kalau papa." ucap Bu Ani lalu keduanya serempak tertawa.
_____
"Sial tuh papanya Laura. Masa pulang dijemput pulang tak diantar. Lhoh kok udah kayak jailangkung aja jadinya. Ih kok serem." Choki yang sedari tadi mengoceh sendiri lalu mulai memperhatikan sekelilingnya dengan pandangan tajam sambil mengusap tengkuknya yang mulai berdiri bulu kuduknya karena takut apa yang baru saja disebutkan nya tadi menjadi kenyataan.
"Waduh, suara apa itu." mendengar bunyi itu semakin membuat Choki merasakan virus HIV (Hasrat ingin Vivis) karena sedari tadi ia tak melihat ada orang yang lewat. Karena rumah Laura berada di kawasan elit tentu saja tak ada orang yang akan berjalan kaki.
Meong....
Tiba-tiba seekor kucing muncul dari tempat sampah dan melompat tepat di depan Choki, dan ia pun langsung terkejut lalu berteriak histeris.
"Mamaaaaah......"
Tiba-tiba kakinya terasa sulit untuk digerakkan hingga akhirnya sebuah aliran air yang tenang dan menghangatkan membasahi celana Choki. Karena kehangatan air itu akhirnya membuat Choki bisa berlari cepat, hingga sampailah ia di pos satpam komplek dengan nafas yang terengah-engah.
"Mas. Ada apa?" teriak satpam yang kebetulan berjaga sambil membenarkan letak sarungnya yang sampai menutupi seluruh badannya karena kebetulan malam itu hawanya sangat terasa dingin.
Choki pun segera menoleh ke asal suara dan matanya membulat seketika, ketika ia melihat satpam itu dengan dandanan yang tak lazim.
"Set_setaaaaaan......." teriak Choki, lalu dia lari terbirit-birit sampai gang depan jalan raya.
__ADS_1
"Wooo..... sontoloyo tenan, ditanya baik-baik kok malah dikira setan." satpam itu memaki Choki yang sudah lari tunggang langgang.
Setelah sampai di depan jalan raya, Choki bisa bernafas sedikit lega. Sambil duduk di emperan toko, dia meraih handphone dari tasnya.
"Yah, kok ngga aktif." gerutu Choki ketika beberapa kali menelepon ke nomor yang sama tapi tak kunjung diangkat.
"Malam-malam gini juga jelas ngga ada angkutan umum lewat. Kalau mau naik taxi online juga mahal, apa aku naik ojek aja ya." ucap Choki dengan senyum mengembang merasa mendapat sebuah ide.
Setelah mengotak atik aplikasi ojek online, tak lama kemudian ojek yang dimaksud pun datang. Choki pun segera membonceng.
15 menit akhirnya sampai dirumah Choki yang megah itu. Dan ia segera turun.
"20rb mas tarifnya."
Choki pun segera merogoh dompet nya dan membentangkan dengan luas. Namun apalah daya, karena ternyata isinya tak seluas wadahnya.
"Ini ya mas." kata Choki sambil menyerahkan selembar uang warna ungu bergambar orang ngajak perang.
"Lhoh mas, ini masih kurang ya."
"Tapi itu penghuni terakhir dompetku mas."
"Saya kan juga kerja mas cari uang, kalau kurang tetap aku tagih dong." tukang ojek pun mulai meradang dengan kelakuan Choki yang seenaknya.
"Huh repot amat sih jadi orang, ya udah tungguin sini bentar, aku masuk dulu ambil uang."
"Bener lho mas saya tunggu disini, jangan sampai ditinggal tidur. Oh ya, mana handphone mas buat jaminan kalau ngga bakal kabur."
"Ya elah ngga percaya banget sih, nih." kata Choki sambil menyerahkan handphone nya lalu bergegas ke pos satpam.
Tak lama berselang, Choki segera keluar kembali. Tapi tak melihat tukang ojek yang mengantarkannya tadi. Ia segera berjalan mondar-mandir mencari keberadaan tukang ojek namun hasilnya nihil.
Choki pun merebahkan diri dijalan dengan lemas.
"Arghhh......... Sialan aku di rampokkk....."
Berteman yuk kak di FB.
FB: Nurul khanifah
__ADS_1
Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗