
Sementara itu, di tempat lain yakni kediaman pak Somad. Adam baru saja bangun tidur setelah tadi sempat sholat subuh. Ia keluar rumah dan duduk di teras sembari menikmati udara desa yang sejuk.
Suasana yang sangat jauh berbeda dengan rumahnya, yang bertingkat, besar, dan pelatarannya cukup luas, serta menggunakan batu paving, dan dihiasi dengan tanaman bunga kesukaan mamanya.
Sedangkan di rumah Tiwi, rumahnya tidak tingkat dan tampak sederhana, pelatarannya tidak terlalu luas serta masih tanah, dan beberapa pohon mangga berjejer rapi di pinggiran yang mengelilingi pelatarannya.
Namun meskipun sangat berbeda, Adam sangat menikmati dan menyukai suasana baru di tempat istrinya.
Setelah sepekan yang lalu acara pernikahan di adakan di rumah mempelai wanita, kini saatnya pesta di gelar di kediaman mempelai pria.
Susunan acaranya sama dengan saat acara pesta di kediaman mempelai wanita. Pasangan Reyhan dan Laura serta Bayu dan Anisa juga kembali datang untuk menghormati sahabat dan keluarga pengantin.
Pesta yang diadakan di kediaman Andre memang tidak semegah pesta di kediaman Rosyidah, namun hal itu tidak mengurangi kesakralan acara. Para tamu juga tampak menikmati acara.
Teman-teman Andre sangat terkejut dengan istrinya. Mereka tak menyangka jika Andre memiliki selera yang cukup berbeda dengan yang lain.
Istrinya sangat tertutup dalam berpakaian. Padahal di jaman yang sekarang, lebih banyak orang yang menyukai berpenampilan terbuka.
Mereka akan memberondong Andre dengan banyak pertanyaan, kenapa sampai menjatuhkan pilihan yang lain daripada lain.
"Pliss, jaga kesopanan. Malu di lihat sama bidadari surga ku." bisik Andre pada teman-temannya saat mereka berfoto, sehingga membuat mereka terkekeh kecil.
Andre ngga mau Rosyidah berpikir yang macam-macam dengannya. Teman-teman sekantornya memang sedikit urakan dimanapun tempatnya.
Sementara Rosyidah tersenyum sendiri,melihat Andre yang tengah menenangkan teman-temannya.
Hidup memang akan terasa lebih berwarna jika kita mau berdampingan dengan orang lain yang berbeda dari kita. Entah itu sifat, sikap, dan cara pandang.
Dan itulah yang di alami oleh Rosyidah, ketika bertemu dengan teman-teman Andre. Karena selama ini, Rosyidah hidup dalam lingkungan pondok, yang selalu ramai dengan para penghafal Al-Qur'an, bukan ramai dengan orang yang bercanda seperti teman-teman Andre.
Setelah pesta pernikahan di kediaman Andre selesai di gelar, pasangan pengantin baru itu segera masuk kamar untuk melepaskan atribut yang menempel yang membuat mereka kesulitan bergerak dan cukup capek.
Andre membantu Rosyidah melepaskan rangkaian bunga melati dan accesoris lainnya. Ia kembali memandangi wajah cantik istrinya yang tanpa menggunakan jilbab itu.
__ADS_1
"Jangan terus memandang ku seperti itu mas." ucap Rosyidah sambil menundukkan wajahnya karena malu.
"Kamu malu sayang? Padahal aku sudah melihat luar dalam milik mu lho." goda Andre sambil menowel dagu istrinya.
Tanpa pikir panjang, Andre segera membopong tubuh istrinya, lalu meletakkan dengan pelan di tempat tidur. Ia ingin sekali melakukan adegan ranjang berderit.
"Ini kan masih siang mas."
"Memangnya kalau siang kenapa? Mumpung masih ada kesempatan, ngga ada salahnya kan dimanfaatkan? Kedua orang tua kita juga sudah mengharapkan cucu dari kita. Jadi kita harus usaha ekstra keras." kekeh Andre.
Setelah berkata seperti itu Andre langsung mengecup kening Rosyidah.
Wanita itu tak berkutik dan hanya bisa pasrah mengikuti kemauan sang suami. Sepekan berhubungan dengan Andre, Rosyidah terus berusaha untuk menyingkirkan rasa malunya.
Meskipun sudah menghidupkan AC kamar, tetap saja peluh membanjiri wajah mereka. Andre pun mengelap wajah Rosyidah dengan tangannya setelah beberapa kali adegan. Karena kelelahan keduanya terlelap tidur. Hingga ketika menjelang sore, barulah keduanya bangun.
"Ya Allah mas, aku ngga enak sama keluarga mu. Sore hari baru bangun."
Andre tersenyum samar mendengar cicitan Rosyidah. Ia paham, pasti istrinya itu tidak enak dengan mertuanya. Padahal hal seperti itu lumrah terjadi.
Matahari telah kembali ke peraduannya. Waktu adzan maghrib berkumandang, Andre bersiap-siap ke masjid dengan bapaknya. Sedangkan Rosyidah dan ibu mertua sholat di kamar masing-masing.
Setelah Andre pulang dari masjid, keduanya mengaji bersama sambil menafsirkan artinya. Dalam hal ini, Rosyidah berperan lebih banyak tentunya. Andre pun manggut-manggut mendengarkan setiap penuturan istrinya.
"Sayang, kalau belajar seperti ini, enaknya ramai ramai. Bapak dan ibu mau ikut. Kamu mau kan mengajari mereka juga?"
Rosyidah terdiam sekian detik. Ia sering mengisi tausyiah untuk anak anak kecil, remaja dan dewasa. Namun, ia merasa tidak nyaman ketika harus mengisi tausyiah di depan mertuanya.
"Kamu keberatan sayang?" tanya Andre ketika melihat Rosyidah terdiam.
"Eh, eng_enggak kok seperti itu mas. Aku..... cuma ngga percaya diri saja kalau bicara banyak di depan mertua. Aku takut di kira menggurui. Apalagi mungkin saja jika nanti ada kata kata ku yang menyinggung perasaan mereka."
"Orang tua ku sendiri yang meminta. Jadi mereka sudah siap menerima apapun yang akan kamu sampaikan. Biar nanti kita bisa berkumpul di surganya Allah kelak."
__ADS_1
"Iya mas, in shaa Allah aku siap." ucap Rosyidah akhirnya menyetujui permintaan suaminya.
_____
Sedangkan di tempat lain, acara yang sama juga tengah di gelar. Yakni di kediaman keluarga Adam.
Rekan rekan dari rumah sakit dan juga rekan dari mamanya memenuhi kursi undangan. Pesta yang di buat memang lebih besar, dari pada pesta saat di rumah Tiwi.
Mamanya Adam sangat bersyukur akhirnya anak sulungnya melepas masa lajangnya. Ia menemukan seorang gadis desa yang cukup baik sifatnya. Sehingga karena rasa syukurnya itu, ia mengadakan pesta yang cukup besar.
"Akhirnya, setelah sekian lama cuma menyuntik pasien, sekarang sudah bisa menyuntik anak orang." kekeh teman seprofesi Adam.
"Hust... mulut mu di jaga dong. Nanti istri ku dengar, bisa malu dia." bisik Adam pada teman-temannya.
Namun percuma saja, karena teman-temannya tetap bercanda yang semakin membuat Tiwi malu. Ternyata dokter dokter itu bisa bercanda juga.
Setelah acara selesai, Adam menggandeng dengan lembut tangan Tiwi menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Sedangkan Tiwi pandangannya tampak memindai seluruh ruangan yang jauh lebih segala-galanya dari rumahnya.
Ia semakin syok ketika memasuki kamar suaminya yang lebih luas dari kamarnya. Tiwi masih merasa tak percaya jika saat ini dirinya telah menjadi istri seorang dokter yang cukup kaya.
Adam yang melihat Tiwi terbengong segera mengangkat tubuh istrinya ke atas tempat tidur.
"Eh kamu mau ngapain mas." jerit Tiwi sambil meronta dan memukuli tubuh Adam.
"Aku cuma mau mendudukkan kamu di tempat tidur kita. Pasti kamu capek kan menyalami tamu yang berjubel tadi?" balas Adam setelah meletakkan tubuh istrinya di pinggir ranjang tempat tidur.
"Oh kirain..." Tiwi tak meneruskan kalimatnya karena merasa malu sudah salah menduga.
"Memangnya kamu pikir aku mau ngapain?"
"Enggak jadi. Aku lupa tadi mau bicara apa." balas Tiwi sambil mengalihkan pandangannya.
Adam terus memperhatikan Tiwi lalu dengan cepat menyerangnya dengan kecupan, yang membuat ia membulatkan matanya.
__ADS_1
"Aku ingin menyuntik mu lagi."