Juragan Muda

Juragan Muda
87. Pertemuan pak Atmaja dengan haji Dahlan


__ADS_3

"Hallo sayang?" sapa Laura dengan senyum sumringah melihat Choki yang baru saja masuk ke mobilnya.


"Hallo juga sayangku....." Choki memeluk Laura dengan gemas.


"Akhirnya bisa jemput kamu juga ya." ucap Laura terdengar sangat bahagia, lalu mulai tancap gas.


Akhir akhir ini memang Choki selalu beralasan ketika di antar jemput Laura. Tentunya karena ada Mira yang perlahan menggeser posisi Laura di hati Choki.


Orang tua Mira memang tak sekaya orang tua Laura, tapi mereka jauh lebih baik dan tidak sesangar orang tua Laura. Itulah alasannya Choki lebih nyaman dengan Mira.


"Sayang, aku kangen nih ngemall bareng kamu." Choki mulai beraksi.


"Okay, nanti pulang kuliah kita cus ya." jawab Laura dengan bersemangat.


Setelah mata kuliah selesai, mereka berdua menjalankan aksinya. Berjalan jalan keliling mall. Seperti biasa, Choki asal tunjuk benda yang ada dihadapannya. Dan dengan suka rela Laura akan membayarkan.


"Sayang, kamu ngga ingin main ke hotel gitu?" celetuk Choki, sambil menyeruput soft drink nya.


"Apa!" mata Laura membelalak mendengar pertanyaan konyol Choki.


"Buat apa kita kesana sayang?" tanya Laura.


"Ah, kamu itu pura pura ngga tahu ya? Kan banyak tuh orang pacaran dalam hotel."


"Buat ku, hotel itu fasilitas nya sama seperti rumahku. Jadi ngapain juga mesti pacaran di hotel. Mending kita kerumah ku saja. Kamu mau kan?" tawar Laura.


Choki menepuk jidatnya, karena nyatanya Laura tak seagresif Mira. Yang dengan suka rela ketika diajak berkencan di hotel.


Masuk kerumah Laura, seakan masuk ke kandang serigala. Sungguh sangat menyeramkan bagi Choki.


"Kalau kamu aku ajak ke hotel, pasti kamu ketagihan."


"Memangnya di dalam hotel ada apa?"


"Nanti kamu bakalan tahu sendiri kalau sudah sampai sana."


"Em... mungkin lain kali saja sayang, ini kan sudah terlalu sore." tolak Laura dengan perasaan tak enak.


"Hem... Okay lah. Tapi janji ya." seru Choki, namun Laura hanya mengedikkan bahunya. Karena masih bingung mau menjawab apa.


"Kok ngga segera turun? Kamu masih kangen ya sama aku?" tebak Laura sambil matanya mengerling nakal.

__ADS_1


"Tentu sayangku." jawab Choki sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Laura.


Cupp...


Choki mencium tangan Laura sambil memejamkan matanya.


"Lhoh kok, kamu gitu sayang?" ucap Choki dengan wajah yang ditekuk. Niat hati ingin mencium Laura, tapi Laura lebih dulu tahu, dan langsung menghalanginya dengan tangan kirinya.


"Kenapa ngga minta ijin dulu kalau mau nyium aku." protes Laura.


"Kita kan sudah lama pacaran, kita sering bergandengan tangan dan berpelukan mesra. Masa mau mencium bibirmu saja tidak boleh."


"Ma_maafkan aku sayang. Tapi kalau untuk sekarang aku belum bisa. Em... aku merasa kurang enak badan." Laura sengaja berbohong.


"Kamu kok ngga asyik seperti itu. Ya sudah aku turun." ucap Choki dengan muka jutek.


"Dagh..... sayang. Besok aku jemput kamu lagi ya." ucap Laura sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.


Choki hanya membalas lambaian tangan Laura tanpa tersenyum karena masih merasa kesal dengannya.


'Sebelum putus dengannya, paling tidak kan aku harus bisa nyobain dia duluan. Seperti sama Mira yang sudah berulangkali.' batin Choki yang menatap mobil Laura yang perlahan menjauh.


Sementara itu didalam mobil, Laura tampak gelisah. Masih terbayang dengan hal yang baru saja terjadi.


Setelah sampai rumah, Laura langsung membanting pintu kamarnya. Begitulah moodnya yang sangat cepat berubah tiap waktu semenjak kenal Reyhan.


Laura menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya. Pikirannya bercabang kemana mana. Sehingga ia membolak-balikkan badan nya ke kanan dan kiri.


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada paper bag oleh oleh dari Reyhan yang belum sempat ia buka. Dengan langkah gontai Laura mengambil paper bag itu dan mengeluarkan isinya.


"Madu? Kan aku sudah manis, kenapa pake dikasih madu segala? Habbattussauda? Memangnya aku sakit? Harus minum obat ini segala. Kurma, kacang fustuk?" gumam Laura lalu mencoba mencicipi.


"Apa ini?" gumam Laura lagi sambil membolak-balik sesuatu yang masih terbungkus rapi. Segera ia membuka dan merentangkan karena sangat penasaran.


"Hah! Apa apaan dia itu, kenapa ngasih aku baju kayak gini?" Laura mendengus kesal sambil melempar baju pemberian Reyhan.


Tok.... Tok.... Tok


"Siapa?" teriak Laura.


"Ini mama sayang." kepala bu Ani langsung menyembul di balik pintu.

__ADS_1


"Kenapa berantakan sekali?" tanya bu Ani yang penasaran melihat kamar Laura saat ini yang tampak berbeda dari biasanya.


"Ini oleh oleh dari Reyhan kemarin?" tanya bu Ani ketika memungut baju yang baru saja dilempar ke lantai. Laura lantas mengangguk.


"Kamu pakai ini ya, Reyhan sudah datang dengan seorang ustadz." kata bu Ani sumringah.


"APA! Yang benar saja ma, masa Laura disuruh pakai baju kayak gitu?" protes Laura tak terima.


"Hari ini kita mau belajar ngaji, masa iya kamu pakai baju seperti itu? Mau ditaruh mana muka papa sama mama sayang? Kalau cuma Reyhan yang kesini, ngga apa-apa kamu pakai baju seperti itu. Itung-itung ngetes kekuatan Reyhan seberapa besar dalam menghadapi godaan syetan." Bu Ani menunjuk Laura yang berpakaian super mini.


"APA! Jadi mama ngatain Laura syetan?" Laura membulatkan mata tak percaya.


"Eh, bu_bukan seperti itu maksud mama. Em... untuk melihat seberapa kuat Reyhan mengalahkan hawa nafsunya melihat kamu yang berpakaian seperti itu. Dan, mama rasa dia termasuk laki-laki yang kuat, tidak terpengaruh sama sekali. Justru mama melihat ia yang berusaha menundukkan pandangan ketika melihatmu. Mama semakin salut sama dia. Andaikan....."


"Ih, kenapa mama malah memuji dia? Andaikan apa?" potong Laura.


"Ya sudah, kamu cepetan ganti baju yang ngasih Reyhan tadi ya, sudah ditunggu."


"Ngga mau." Laura kembali menjatuhkan tubuhnya di pembaringan dan menutup wajahnya dengan bantal.


Akhirnya setelah membujuk laura beberapa kali tapi tak berhasil, bu Ani keluar dan segera menemui tamu mereka.


"Pa, Laura ngga mau ikut, katanya capek habis pulang kuliah." bisik bu Ani sedikit berbohong pada suaminya.


"Maafkan anak kami yang tidak bisa ikut pak, dia kecapekan sehabis pulang kuliah." kata pak Atmaja.


"Tidak apa-apa pak, ya sudah, gimana kalau kita mulai sekarang?" jawab haji Dahlan dan semua mengangguk setuju.


Haji Dahlan menyimak bacaan pak Atmaja dan bu Ani. Setelah itu, ia memberikan sedikit tausyiah. Semua menyimak dengan serius termasuk Reyhan.


Ia selalu mencatat poin poin penting dalam sebuah notebook yang selalu ia bawa dalam tasnya. Agar suatu saat bisa kembali membuka catatan ketika ingatannya mulai lupa.


Tak terasa hampir 2 jam, dan kegiatan itu akhirnya selesai yang bertepatan dengan adzan Maghrib. Pak Atmaja segera mengajak mereka sholat berjamaah.


"Reyhan bapak ingin kamu mengimami kita." titah pak haji, yang mau tidak mau Reyhan harus mengangguk sebagai wujud hormat pada wali Allah.


Kembali seluruh makmum dibuat takjub dengan suara Reyhan yang sangat merdu dan menghanyutkan jiwa.


"Bapak rasa kamu harus sering sering datang ke pondok untuk ikut membantu mengajar santri." haji Dahlan tersenyum puas sambil menepuk bahu Reyhan.


Hai readers, jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya, like hadiah vote dan favorit agar menambah semangat author untuk terus update 😘😘

__ADS_1


Mari mari mampir sayang, di karya besti author yang seruπŸ˜‰πŸ˜‰



__ADS_2