
Akhirnya Ali bin Abi Thalib pun memberanikan diri menjumpai Rasulullah untuk menyampaikan maksud hatinya, meminang putri nabi untuk jadi istrinya. Awalnya beliau hanya duduk di samping Rasulullah dan lama tertunduk diam. Hingga Rasulullah pun bertanya ” wahai putra Abu Thalib, apa yang engkau inginkan?”
Sejenak Ali terdiam, dan dengan suara bergetar ia pun menjawab, ” Ya Rasulullah, aku hendak meminang Fatimah” Mendengar jawaban Ali ini beliau SAW tidak terkejut. "Bagus, wahai Ibnu Abu Thalib, beberapa waktu terakhir ini banyak yang melamar putriku, tetapi ia selalu menolaknya, oleh karena itu, tunggulah jawaban putriku”
Kemudian Rasulullah meninggalkan Ali dan bertanya kepada putrinya, ketika ditanya Fatimah hanya terdiam dan Rasulullah SAW menyimpulkan bahwa diamnya Fatimah pertanda kesetujuannya.
Rasulullah kemudian mendekati Ali dan bersabda "Apakah engkau memiliki sesuatu yang akan engkau jadikan mahar wahai Ali?
Ali pun menjawab ” Orang tuaku yang menjadi penebusnya untukmu ya Rasulullah, tak ada yang aku sembunyikan darimu, aku hanya memiliki seekor unta untuk membantuku menyiram tanaman, sebuah pedang dan sebuah baju zirah dari besi.”
Dengan tersenyum Rasulullah SAW bersabda.
"Wahai Ali, tidak mungkin engkau terpisah dengan pedangmu, karena dengannya engkau membela diri dari musuh-musuh Allah SWT, dan tidak mungkin juga engkau berpisah dengan untamu karena ia engkau butuhkan untuk membantumu mengairi tanamanmu, aku terima mahar baju besi mu, jual lah dan jadikan sebagai mahar untuk putriku.”
"Wahai Ali, engkau wajib bergembira sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di Langit sebelum aku menikahkan engakau di Bumi." Diriwayatkan oleh Ummu Salamah ra.
Ali bin Abi Thalib menjual baju besi tersebut dengan harga 400 dirham dan menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah SAW, dan nabipun membagi uang tersebut ke dalam 3 bagian. Satu bagian untuk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk wewangian dan satu bagian lagi di kembalikan kepada Ali bin Abi Thalib sebagai biaya untuk jamuan makan untuk para tamu yang menghadiri pesta.
Setelah segala-galanya siap,dengan perasaan puas dan hati gembira dan di saksikan oleh para sahabat Rasulullah mengucapkan kata ijab kabul pernikahan putrinya.
Kemudian Nabi SAW bersabda:"Sesunguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah Putri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, Maka saksikanlah sesunguhnya aku telah menikahkanya dengan mas kawin empat ratus dihram(nilai sebuah baju besi) dan Ali Ridho(menerima)mahar tersebut.
__ADS_1
Maka menikahlah Ali dengan Fatimah Pernikahan mereka penuh hikmah walau di arungi di tengah kemiskinan Bahkan di sebutkan oleh Rasulullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar karena harus menepung gandum untuk membantu suaminya.
Dan malam harinya setelah dihalalkan oleh Allah SWT, terjadilah dialog yang sangat menggetarkan. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”,
Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.
Sambil tersenyum Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.”
Subhanallah, itu adalah pujian terbaik dari seorang istri yang bisa membahagiakan hati suaminya.
Ali dan Fatimah saling mencintai karna Allah mereka mencintai dalam diam,menjaga cintanya dan Allah satukan dalam ikatan suci pernikahan. Semoga kita dapat mentauladani perikehidupan anak dan menantu Rasulullah SAW ini sayang.
"Maa syaa Allah mas, aku sampai terharu dengan kisah keduanya. Tentu aku sangat setuju. Semoga segala kebaikan yang ada pada diri beliau, bisa menurun ke putri kita yang cantik ini."
"Aamiin ya rabbal aalamiin."
Setelah mendengar kisah panjang yang diceritakan oleh ayahnya, baby Fatim yang sejak tadi menangis terisak, kini justru tampak tertidur pulas.
"Ya Allah mas, mungkin bayi kita menyukai nama yang kamu beri. Buktinya, kini dia malah tertidur pulas, padahal sejak tadi terus rewel." dengan mata berbinar, Tiwi mengecup kening putrinya pelan. Ia meletakkan bayinya di box dan menjaganya, sementara Adam segera mandi terlebih dahulu.
__ADS_1
Siang harinya, setelah olahan daging kambing selesai di masak, dan telah di susun dalam wadah, makanan itu dibagi-bagikan kepada tetangga sekitar. Tak lupa, mereka yang menerima makanan pun mengucapkan terima kasih serta mendoakan segala kebaikan Baby Fatim.
Saat malam harinya, bintang di langit tampak bersinar terang. Cuaca tidak dingin dan tidak panas. Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan dan segera disambut oleh Tiwi sekeluarga. Meskipun rumah rekan sesama dokter cukup jauh, namun tidak menyurutkan niat mereka untuk menghadiri acara aqiqah pada malam hari itu.
Setelah seluruh tamu undangan datang, acara aqiqah itu pun segera di mulai. MC mengawalinya dengan ucapan salam, lalu dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Quran, dan sambutan dari pihak keluarga.
Adam yang duduk di panggung, segera menggeser tubuhnya untuk sedikit lebih maju. Setelahnya ia pun mulai memberi sambutan.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh. Terima kasih kami ucapkan atas kehadiran bapak/ibu, saudara/saudari, atas kesediaanya menghadiri acara aqiqah putri pertama kami.
Sesuai dengan nama yang kami sematkan pada putri kami yakni Fatimah Az-Zahra. Kami menaruh sebuah harapan besar, agar kelak putri kami mewarisi segala kebaikan sikap, sifat dan segalanya dari beliau Fatimah Az-Zahra putri nabi yang sangat dicintai.
Kami juga berharap agar putri kami, kelak bisa menjadi seorang anak yang berbakti, tidak hanya bagi kedua orang tuanya, tapi juga berbakti pada agama serta Nusa dan bangsa, tanah air Indonesia yang kita cintai ini.
Dan sekali lagi, atas segala doa serta kehadirannya para tamu undangan, kami ucapkan banyak terima kasih. Sekian kata sambutan dari saya. Bila ada kata yang kurang berkenan, maka mohon dengan kerelaan hati untuk memaafkan. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh." demikianlah kata sambutan dari Adam.
Setelah selesai memberi sambutan, acara dilanjutkan dengan potong rambut bayi. Tiwi berdiri sambil menggendong baby Fatim. Pak ustadz, pak Somad, Adam serta saudara lelaki yang lain berdiri dan bergiliran memotong sedikit rambut baby Fatim.
Acara pemotongan rambut selesai, dilanjutkan dengan ceramah oleh pak ustadz, mengenai pentingnya aqiqah. Lalu dilanjutkan dengan doa bersama dan terakhir menikmati hidangan yang telah disediakan.
Acara aqiqah untuk putri Tiwi dan Adam pun akhirnya selesai dilaksanakan. Para hadirin, mulai meninggalkan tempat acara. Tak lupa, pihak keluarga memberikan bingkisan cemilan untuk para hadirin.
__ADS_1
Setelah selesai acara, Tiwi menggendong baby Fatim masuk kamar, sedangkan Adam berniat membantu membersihkan sisa acara, sehingga membuat pak Somad takjub dengan kepribadian menantunya. Meskipun terlahir dari golongan orang kaya, namun tetap mau membantu mengerjakan pekerjaan apapun juga.