Juragan Muda

Juragan Muda
28. Menangkap tikus


__ADS_3

"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Bima, pak Somad dan Tiwi serempak menoleh dan menjawab salam ibu yang sudah berdiri di depan etalase counter.


Bima langsung menghambur memeluk ibunya tak lupa juga mencium tangannya.


"Apa yang terjadi sama kak Bayu bu?"


"Iya bu, sakit apa nak Bayu?" pak Somad pun ikut bertanya, dan semua menatap serius ke arah Bu Rohmah yang menggeser kursi dekat meja hendak duduk.


"Dari gejala nya sama seperti Reyhan dulu pak, mual muntah ngga selera makan. Sepertinya, sakit asam lambung. Tadi baru di ambil sampel darahnya, dan belum keluar." ucap ibu sambil duduk di kursi dekat meja.


"Lho, nak Reyhan juga punya sakit asam lambung toh. Trus kok Bu Rohmah pulang, siapa yang nungguin nak Bayu?"


"Habis dari counter cabang, tadi Reyhan langsung kesana pak. Katanya ngga tega kalo Bima dirumah sendiri. Maaf jadi ngrepotin bapak dan mbak Tiwi ya."


"Kita ngga merasa direpotkan kok bu, lagian ibu dan sekeluarga sudah banyak berjasa untuk keluarga kami. Mungkin ini belum ada apa apanya bu. Saya juga jadi kasian kalo nak Reyhan yang nungguin, pasti kecapekan karena seharian sudah jaga counter yang pasti selalu ramai dan sekarang masih jagain nak Bayu." Ucap pak Somad dengan mata yang berkaca-kaca mengingat kebaikan keluarga bu Rohmah terutama Reyhan.


"Iya pak." Pandangan ibu terlihat menerawang.


Lalu setelahnya pandangannya pun beralih ke Tiwi yang duduk di lantai.


"Oh iya, mbak Tiwi sudah dikasih tau belum pulang nya jam berapa?"


"Sudah bu, katanya setelah ibu sampai rumah counter nya disuruh tutup. Besok tetap buka."


"Bu, kalo semisal ibu ngga tega ninggalin nak Bayu, ibu ikut menemani ngga papa. Biar saya atau istri saya sama Tiwi yang menemani dek Bima dirumah."


"Mau ngga ditemani bapak le?" pandangan pak Somad mengarah ke Bima yang duduk didekat nya lalu mengusap kepala anak itu penuh kelembutan dan Bima pun mengangguk setuju.


Walaupun Bima masih kecil, tapi pikiran nya bisa dikatakan lebih dewasa ketimbang kedua kakaknya. Tidak bersikap manja walaupun dia anak bungsu.


Justru malah bu Rohmah yang sungkan dan segera menolak tawaran pak Somad.


"Oh jangan pak, saya jadi bener bener ngga enak. In shaa Allah kami mampu melewatinya, doakan saja ya."


"Baik bu." pak Somad mengangguk.


"Besok kan hari minggu bu, Bima biar dirumah sama kami, dan ibu bisa kerumah sakit seharian nunggu mas Bayu bu. Semisal mas Reyhan mau istirahat dulu atau tetap buka counter cabang juga bisa." Ucap Tiwi memberi ide agar semua tidak merasa sungkan.


Setelah saling bertukar pandang akhirnya Bu Rohmah pun mengangguk menyetujui.

__ADS_1


"Ya sudah kalo begitu langsung tutup saja counter nya ya mbak biar pulang nya ngga kemalaman. Sekali lagi terimakasih ya pak, mbak."


Setelah itu, counter pun segera tutup. Sebelum pulang tak lupa Tiwi menyalami tangan Bu Rohmah dan menyerahkan kunci counter.


_____


"Lhoh kok kamu ngga buru-buru mandi toh nduk, keburu dingin lho."


Sontak Tiwi yang sedang tiduran terkejut dengan suara ibunya yang sudah masuk ke kamar. Dirinya segera menggeliat dan duduk di tepi ranjang tempat tidur.


"Rasanya mau rontok badan Tiwi bu."


"Rasa capek mu juga sesuai dengan gaji yang kamu terima kan nduk." Bu Siti mengelus punggung anak sulungnya.


"He em bu. Mas Reyhan itu orangnya baiiik banget bu." ucap Tiwi dengan wajah yang berbinar.


"Lhoh, ibu kira lagi mikirin mas Bayu. Kata bapak mas Bayu jatuh pingsan dan sekarang opname."


Tiwi pun menganggukkan kepala membenarkan perkataan ibunya.


"Tentulah mas Reyhan itu orangnya baik, kalo ngga baik belum tentu kamu bisa beliin ibu gelang emas ini dari uang gaji mu. Bukan hanya mas Reyhan saja, tapi pasti seluruh keluarganya juga orang orang baik." Mereka pun tersenyum bersama.


"Tapi.... jangan terlalu menyanjung orang yang berlebihan lho nduk, apalagi itu yang kamu sanjung laki-laki. Takut jatuh cinta, wanita itu butuh diperjuangkan bukan malah memperjuangkan. Ya sudah buruan mandi sana." ibunya pun bangkit berdiri meninggalkan Tiwi yang masih duduk.


Selain memikirkan Reyhan, Tiwi pun juga memikirkan Bayu yang tadi hampir saja jatuh kalo tidak di tahannya dari belakang.


"Kenapa yang aku tolongin bukan mas Reyhan tapi justru malah adiknya. Sebenarnya aku juga ngga tega kalo mas Bayu sakit, tapi kalo ada dia selalu aja godain aku trus. Tapi kenapa beberapa hari ini sikapnya semakin aneh. Ahhh.... Kapan aku bisa berduaan dengan mas Reyhan." Tiwi sambil mengusap muka nya yang kembali suntuk.


"Wi!" Lagi-lagi suara ibunya mengagetkan nya yang ternyata sudah berdiri diambang pintu.


"Iya buu....."


Lalu segera berjalan dengan langkah gontai mengambil baju ganti.


_____


"Yah, aku cerita panjang lebar, malah ditinggal tidur." gumam Reyhan ketika melihat adiknya sudah tertidur pulas.


Reyhan pun merapikan selimut Bayu yang sedikit berantakan.


Setelahnya segera mengecek handphone. Karena badannya yang juga terasa capek wira wiri akhirnya tertidur di sisi ranjang.

__ADS_1


"Egrhhh...."


Bayu, menggeliat kan badannya sambil mengerang. Sekujur tubuhnya serasa bagai dikeroyok ribuan massa. Dan, tanpa sengaja tangannya menyenggol kepala Reyhan. Reyhan yang masih pulas tertidur, seketika langsung jatuh dari kursinya dan menimbulkan bunyi yang keras.


"Brugh!"


"Arghhh...."


"Bayu........." Teriak Reyhan sambil meringis menahan sakit.


"Ada apa mas." Tanya bapak bapak yang sudah berdiri di dekat tirai penyekat kamar. Beberapa orang juga tampak berdiri menonton atraksi kakak beradik itu.


Reyhan dan Bayu sesaat melongo melihat orang orang yang sudah mengerubungi bangsalnya.


'Astaga. Ini dirumah sakit.' Batin keduanya yang baru saja sadar.


"Ada apa mas?" Bapak itu mengulangi pertanyaannya lagi karena kakak beradik itu masih diam membisu dan hanya bertukar pandang.


"Eh anu... pak." Reyhan sibuk mencari alasan sambil garuk-garuk kepala.


"Eh, itu pak. Kakak saya mau nangkep tikus yang masuk kamar." poles Bayu.


"Waduh, kudu hati hati mas. Apalagi tikus liar itu pasti gede gede."


"Ah. I-iya bener pak. Hitam banget pula." Balas Reyhan sambil menatap Bayu.


"Ya sudah, kalo tikusnya sudah ngga ada jangan duduk dilantai terus mas, dingin."


"Oh, i-iya pak." jawab Reyhan yang masih duduk terpaku menahan tulang ekornya yang sakit.


"Saya kira ada penampakan hantu mas." Imbuh yang lainnya.


"Biasanya kalo rumah sakit kan sering ada penampakan penampakan gitu. Apalagi ini kan rumah sakit bangunan lama."


Mereka yang ada pun saling tukar pandang, termasuk kedua kakak beradik yang mukanya mulai terlihat memucat.


"Ah, bikin merinding saja mas. Sudah, mungkin ngga semua rumah sakit juga seperti itu. Ayo pada bubar istirahat masing-masing pak, mas." Ajak bapak yang menegur tadi. Dan kerumunan pun bubar.


"Monggo mas, istirahat lagi, duduk di atas ya jangan lupa." Ucap bapak itu sambil tersenyum.


"Nggih pak." Kembali Bayu dan Reyhan menjawab bersamaan.

__ADS_1


"Huh.... Apaan kamu cengar-cengir kayak gitu. Dijagain malah nyiksa aku." Reyhan bersungut-sungut sambil berdiri dan mengusap pantatnya yang masih terasa sakit.


"Udah udah, kan aku juga ngga sengaja. Yuk, anterin pipis."


__ADS_2