Juragan Muda

Juragan Muda
205. Bertemu dengannya


__ADS_3

Hari sudah sore ketika Andre sampai rumah. Dengan penuh semangat, ia mandi lalu bergegas ke masjid yang terletak cukup jauh dari rumahnya untuk menunaikan sholat Maghrib. Dengan khusu' ia memanjatkan doa, memohon ampun karena selama ini selalu mengingkari kewajibannya.


Sesampainya di rumah, ia mengambil Al Qur'an yang selama ini di museumkan dalam lemari. Ia berusaha membaca setiap hurufnya walaupun tertatih, serta menghayati setiap artinya.


Selama kembali menjalin pertemanan dengan Reyhan, dan beberapa kali bertemu dengan wanita wanita yang mengenakan gamis dan jilbab lebar menjadi salah satu pemacu semangat nya dalam mendalami agama.


Terkadang Allah memberikan sesuatu yang kurang kita sukai, padahal itu adalah yang terbaik untuk kita. Begitu pun sebaliknya, Allah menjauhkan kita dari sesuatu yang kita sukai, karena itu mendatangkan keburukan untuk kita.


Lingkungan sekitar juga bisa mempengaruhi sikap tingkah laku dan perbuatan seseorang. Oleh karena itu juga sangat penting dalam memilih teman.


Bukan melarang untuk berteman dengan orang yang kurang baik sikap dan perbuatannya. Namun jika kita kurang mampu dan takut terpengaruh, alangkah baiknya untuk sementara waktu menjauh dulu. Dan jika merasa mampu, maka tetaplah berdoa, semoga diberi ketetapan di atas agama kita.


Sebuah nasehat mengatakan, agama seseorang tergantung dengan agama temannya. Maka hendaklah kamu melihat dengan siapa berteman. (HR. Ahmad)


Dan Andre tengah berusaha untuk melakukan hal itu. Mendekatkan diri pada orang-orang yang baik, agar tertular energi positif nya.


Ia melihat perubahan yang besar pada diri Reyhan. ia berharap bisa seperti temannya itu. Ketika tadi bercakap-cakap dengan haji Dahlan, ia merasa sangat nyaman.


Beliau banyak memberi nasehat. Dan dalam penyampaiannya sangat berkesan. Karena terlihat tidak menggurui. Membuat Andre merasa nyaman. Ia berharap bisa bertemu dengannya lagi, agar bisa mendapat lebih banyak ilmu.


Tanpa terasa, hari sudah berganti bulan. Andre perlahan berubah menjadi lebih taat dalam keyakinannya. Suaranya juga terdengar lebih enak di dengar saat membaca Al Qur'an. Semua itu tak luput dari usaha dan kerja keras nya.


Kedua orang tuanya yang melihatnya selalu berangkat ke masjid dan membaca Al Qur'an sangat bersyukur. Akhirnya, kedua orang tuanya pun ikut mengerjakan perintah Tuhan yang selama ini juga ditinggalkannya.


Minimnya pengetahuan, dan tidak adanya kesadaran dalam diri sendiri, membuat beberapa orang tidak mengindahkan status agama dalam KTP nya seperti keluarga Andre. Kembali lagi mereka mengucapkan rasa syukur karena masih di beri kesempatan untuk memperdalam pengetahuan.


Melihat kedua orang tuanya yang akhir akhir ini selalu menunaikan ibadah, membuat Andre terdorong untuk memberikan hadiah bagi mereka.


Di hari Minggu yang cerah, Andre pergi ke sebuah mall untuk membeli hadiah.


Pertama Andre masuk ke store buku. Ia ingin mencari referensi lewat buku. Ia berjalan menyusuri setiap lorong, sambil mencari buku yang di maksud.


Karena terlalu asyik membaca hingga leher nya sedikit kram. Ia berusaha menoleh ke kiri kanan untuk agar lebih rileks.


Tanpa sengaja ia melihat seorang wanita berpakaian lebar yang ada di sampingnya. Ia terus mengamatinya sambil berusaha mengingatnya.

__ADS_1


Setelah Andre menemukan buku yang di cari, bergegas ia membuntuti wanita tadi hingga keduanya kini tengah antri di kasir.


"Maaf mbak, saya saja yang membayar bukunya mbak ini." ucap Andre kemudian. Yang membuat kasir dan wanita itu menoleh bersamaan ke arah Andre.


Ia pun tersenyum ke arah wanita yang tengah menatapnya heran.


"Tambah ini ya mbak." Andre menyerahkan beberapa buku di meja kasir.


"Terima kasih sudah membayar belanjaan ku." ucap wanita itu saat Andre sudah membayar dan kini keduanya tengah berjalan sejajar.


"Sama-sama Rosyidah." balas Andre.


"Kamu tau nama ku?"


Andre mengangguk sambil melempar senyum.


"Boleh aku minta bantuan mu?"


"Selagi aku bisa akan aku bantu."


"Temani aku mencari mukena untuk ibu ku. Aku ingin memberi hadiah untuk ibu ku, tapi tidak tahu bagaimana selera perempuan. Aku jadi takut kalau ngga cocok."


Ia terharu mendengar penjelasan Andre itu. Baginya lelaki yang memberi hadiah pada kedua orang tuanya, pasti adalah seorang anak yang berbakti. Jika kelak memiliki istri, ia pasti akan bertanggungjawab.


Pikirannya langsung tertuju pada Reyhan. Karena abinya sering menceritakan. Dan bahkan ia juga melihatnya sendiri.


'Astaghfirullah, dia sudah memiliki istri. Aku ngga boleh terus menerus memikirkannya. Move on rosyidah.' batinnya mensugesti diri.


Keduanya lalu berjalan beriringan menuju store yang menjual perlengkapan muslim. Andre terus mengekor Rosyidah saat asyik memilih mukena.


Pikirannya terfokus pada wanita itu dan melupakan tujuan utamanya. Sampai akhirnya Rosyidah membalikkan badan sambil membawa satu set mukena berwarna hijau sage yang cantik dengan bordiran bunga di tepinya.


"Mas, menurut ku ini cantik."


"Eh, i_iya ambil saja. Nanti aku yang bayarin." ucap Andre sambil tersenyum.

__ADS_1


"Lhoh kok ambil saja? Bukankah tadi bilang kalau ingin membelikan untuk ibu?"


Andre seketika menggaruk kepalanya karena salah ucap.


"Em, maksud ku, jika kamu suka, kamu bisa kembaran dengan ibu ku, begitu."


Rosyidah tersenyum lalu menolaknya. Bukannya ia ingin menolak rezeki, tapi karena rasa sungkannya. Baru bertemu dengan lelaki sudah di belikan macam macam. Ia menegaskan dalam hatinya, bahwa ia bukanlah perempuan matre.


Namun Andre yang sudah kadung bersimpati dengan Rosyidah kukuh untuk membelikan mukena yang sama. Andre segera berjalan mendekati karyawan lalu meminta 2 mukena yang sama.


Setelah ia kembali mendekati Rosyidah, ingin memintanya untuk mencarikan corak sarung dan kemko yang cocok untuk ayahnya. Rosyidah pun akhirnya kembali membantunya.


Setelah mendapatkan apa yang di cari, keduanya berjalan beriringan sampai ke tempat parkir. Andre menawarkan bantuan dengan mengantar Rosyidah pulang. Namun terpaksa di tolak, karena sudah membawa kendaraan sendiri.


"Aku sangat lapar, bisa kamu temani aku makan?"


Andre sengaja mencari alasan agar bisa dekat dengan Rosyidah. Niatnya sudah bulat untuk bisa mendapatkan istri Sholihah seperti istrinya Reyhan.


Padahal sebenarnya Andre masih cukup kenyang, karena sebelum berangkat, ia sudah menghabiskan 3 piring nasi dengan sayur tumis jamur.


"Apa aku ngga merugikan mu? Tadi sudah membayar belanjaan ku."


"Lelaki harus bertanggungjawab. Ngga mungkin menyuruh perempuan untuk membayar semuanya. Ayo?" Andre menarik tangan Rosyidah yang langsung segera di tepisnya.


"Maaf mas. Kita belum muhrim."


Andre menepuk jidatnya menyadari kekhilafannya, karena terlalu bersemangat.


"Kita belum muhrim? Berarti ada harapan agar kita bisa menjadi muhrim?" balik Andre sambil menyunggingkan senyum.


Rosyidah baru menyadari kesalahannya bicara.


"Maaf." Rosyidah pun menundukkan kepalanya.


"Ngga apa-apa, ayo, perut ku sudah keroncongan." ucap Andre, dan pas sekali dengan perutnya yang tiba-tiba berbunyi nyaring hingga Rosyidah juga mendengarnya.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️



__ADS_2