Juragan Muda

Juragan Muda
38. POV Tiwi


__ADS_3

Baru saja aku merasa menjadi wanita yang sempurna. Dibelikan cincin sebagai tanda pacaran dengan mas Bayu.


Sering diajak keliling untuk melepas beban pikiran atau sekedar jajan dipinggir jalan dengan mengendarai motor baru nya yang keren itu.


Apalagi baik tetanggaku ataupun tetangganya belum ada yang memiliki, maka semakin percaya diri aku diboncengnya.


Tak hanya itu saja, apapun yang aku mau juga dituruti. Intinya mas Bayu sangat memanjakan ku. Ibu pun juga sangat setuju aku menjadi kekasih mas Bayu. Rasanya bahagiaaa sekali.


Tetapi, sayangnya kebahagiaan ku ngga berlangsung lama.


Ada sedikit rasa kecewa hinggap di hati ketika mengetahui mas Reyhan baru saja membeli mobil baru yang pasti harganya aku sendiri tak sanggup membayangkan.


Apalagi yang mengantar mobil adalah direkturnya sendiri, bukan hal yang wajar menurutku karena itu bukan tugasnya.


Apalagi tiba-tiba datang seorang wanita yang cantik jelita dan penampilannya bak artis terkenal yang memanggil direktur itu dengan sebutan papa.


Permainan apa yang kira-kira sedang dilakukan oleh direktur itu? Apa sengaja ingin mengenalkan mas Reyhan dengan anaknya itu? Ah... betapa serasi mereka. Yang satu ganteng dengan muka baby face nya yang satu cantik bak artis.


Dan entahlah hati ini semakin tak terima dan merasa tersaingi, padahal aku tahu sendiri juga kalau mas Reyhan tak pernah menaruh perhatian yang lebih kepadaku, hanya sebatas bos dan karyawan saja.


Aku sudah belajar melupakan mas Reyhan dan berusaha fokus dengan mas Bayu tapi melihat kenyataan sekarang kok rasanya sesak dada ini.


Bagai pungguk merindukan bulan, keadaanku yang menginginkan mas Reyhan tapi tak pernah kesampaian.


"Ada apa nduk, kok keliatan suntuk banget mukanya?" ibu menyapa ku seperti biasanya kala aku pulang kerja.


Aku pun menggeleng lemah, pertanda lagi malas untuk bercerita tentang hatiku yang mudah berubah melihat kesuksesan orang yang aku suka.


"Ya sudah, nanti kalau ada apa-apa cerita saja ke ibu. Eh tapi kata bapak tadi, nak Reyhan beli mobil baru ya."


Aku pun mengangguk lemah karena sedari tadi itulah yang sedang aku pikirkan.


Menghindari percakapan lebih banyak dengan ibu, lebih baik aku segera mandi agar badan kembali segar dan siapa tahu pikiran buruk tentang mas Reyhan hilang terbawa guyuran air.


Aku tak boleh terjebak dengan perasaan seperti ini terus menerus.


Lagian, kalau aku tak bisa memiliki mas Reyhan, mas Bayu pasti bersedia memenuhi permintaan ku agar bisa berjuang lebih keras lagi agar bisa mengubah nasib seperti kakaknya.


"Semangat Tiwi, kamu pasti bisa meyakinkan mas Bayu agar juga bisa sukses seperti mas Reyhan." batinku mensugesti diri.


_____

__ADS_1


Malam itu seperti biasa mas Bayu datang menjemput ku untuk menikmati malam minggu bersama.


Setelah sampai di taman kota, bergegas kami menyusuri sepanjang jalan trotoar yang dipakai sebagai tempat jualan.


Berulangkali aku diajak kesini, tetap saja tak merasa bosan.


Setelah puas jalan jalan, mas Bayu mengajak ku mengisi perut.


Pilihan kami jatuh pada seafood yang sedang di masak oleh penjual di pinggir trotoar itu. Aromanya yang wangi membuat jiwa kuliner kami tak sabar untuk segera mencicipinya.


Sambil menunggu pesanan kami datang, kami bisa melihat lalu lalang kendaraan yang memantulkan cahaya nya yang berwarna warni dalam kegelapan malam, indah sekali.


Dan seperti biasa, mas Bayu selalu memulai pembicaraan diantara kami. Kesempatan bagus untukku menyemangati dirinya agar bisa sehebat mas Reyhan.


Setelah pesanan kami datang, segera kami mencicipinya.


"Mas Bayu." di sela-sela makan aku bermaksud menyampaikan keinginanku.


"Hemm, apa sayang?" panggilan itu terasa menghangatkan hatiku.


"Boleh aku bertanya?"


"Kok seperti itu tanyanya, tentu dong apapun yang mau kamu tanyakan pasti aku jawab." senyum mengembang kala dia berbicara terasa menenangkanku.


"Apa selamanya kamu akan menjadi karyawan kakakmu?" ucapku coba memancing sejauh mana mas Bayu berpikir.


Uhuk.... uhuk...


Mas Bayu langsung tersedak mendengar aku melontarkan pertanyaan seperti itu lalu segera ku sodorkan segelas jus alpukat miliknya.


Setelah baik baik saja, aku mengulang pertanyaanku tadi.


"Kenapa tanya seperti itu sayang, aku kira bakal tanya soal lainnya."


"Ya karena aku pengen tahu saja, dijawab dong biar aku ngga makin penasaran."


"Entahlah, yang jelas aku sudah nyaman kerja sama kakakku sendiri. Ngga kepikiran mau cari kerja yang lainnya."


"Emm.... mas Reyhan sudah bisa beli mobil lho pakai uang hasil usahanya sendiri, apa kamu juga ngga pengen seperti dia? Nanti kita bisa pergi liburan berdua pakai mobilmu."


"Kan bisa pinjam mobil kakakku sayang kalau kita mau liburan."

__ADS_1


"Tapi, aku maunya liburan pakai mobilmu."


"Iya iya, ntar aku ngumpulin uang dulu buat beli mobil."


"Kalau ngumpulin uang dari gaji tentu kelamaan mas."


"Terus?" mas Bayu masih saja bingung dengan maksudku, huh aku harus menjelaskan yang sejelas jelasnya kalau begitu.


"Ya apa salahnya di coba seperti mas Reyhan, membuka usaha counter. Aku akan menjadi yang pertama yang siap mendaftar jadi karyawan mu mas."


"Maksudnya aku akan jadi saingan kakakku sendiri?" mas Bayu berhenti mengunyah dan memandangku sambil mengernyitkan dahi.


"Bukan begitu mas, anggep saja mas Reyhan itu seorang partner bisnis. Kamu kan udah tahu bagaimana cara mengelola counter, jadi apa salahnya dicoba membuka counter sendiri. Siapa tahu hasilnya bisa melebihi mas Reyhan, jadi bisa cepet deh beli mobilnya." aku berusaha terus meyakinkan mas Bayu agar mau menerima pendapatku.


"Tapi..... uang tabunganku sudah habis untuk beli motor, itu pun kak Reyhan juga ikut membantuku. Trus dari mana aku dapat modal untuk buka counter yang biayanya tentu tidak sedikit sayang. Aku pun juga sudah nyaman kerja sama kakakku sendiri, tak perlu ribet mengurus segala sesuatunya."


"Pinjam di bank aku rasa ngga papa kok, banyak juga orang yang pinjam di bank untuk buka usaha. Atau, coba aja tanya mas Reyhan pasti punya banyak uang."


"Kalo ibu atau mas Reyhan tidak mengijinkan gimana? apa aku harus nekat."


"Kan belum dicoba, harus dibujuk terus sampai mau, karena ini semua demi kebaikan kita."


"Emm... coba nanti aku pikirkan kembali ucapanmu sayang." dengan setengah ragu mas Bayu mengucapkan hal itu.


"Jangan hanya dipikirkan sayang, tapi juga harus dibuktikan. Biaya nikah itu ngga murah lho...." sengaja aku terus mendesak mas Bayu.


"Iya iya, aku cari waktu yang tepat untuk bicara sama ibu."


"Nah, bagus itu." ucapku merasa sedikit lega mas Bayu mau mencoba saranku.


"Masih mau nambah makan atau pulang? makanannya udah habis lho." tanya mas Bayu dengan wajah sedikit lesu.


"Ya pulang lah, emang kamu mau aku gendut kalau sampai nambah lagi?"


Berteman yuk kak di FB.


FB: Nurul khanifah


Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.


jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, terimakasih semoga sehat lalu dan lancar rezekinya.😘

__ADS_1


__ADS_2