Juragan Muda

Juragan Muda
127. Melamar


__ADS_3

"APA! Poligami?" seru Rosyidah.


"Iya poligami." haji Dahlan kembali menjawab sambil mengangguk.


Rosyidah sangat terkejut dengan ucapan abinya. Tak menyangka jika abinya akan bicara seperti itu demi menjaga hubungan persahabatan dan kekeluargaan sekaligus.


Walaupun Anisa adalah teman baiknya. Tapi, jika soal hati, apa bisa keduanya mengalah dan rela berbagi suami?


Itulah yang menjadi pertanyaan di hati Rosyidah.


"Hust... Jangan bilang kalau itu sebuah kode dari abi kalau sebenarnya yang pengen poligami itu abi." dengan gemas umi mencubit pipi haji Dahlan.


"Abi sudah tua, ngga mau nikah lagi, biar yang muda saja." haji Dahlan terkekeh sambil menatap Rosyidah.


"Rosyidah belum siap untuk berpoligami bi. Itu ilmu terberat yang belum bisa Rosy lakukan."


Haji Dahlan pun kembali melajukan mobilnya. Sedangkan Rosyidah, ia hanya diam sepanjang perjalanan sampai rumah.


______


Setelah acara pengajian di rumah Anisa. Ketiga sahabat itu masih rutin bertemu. Tapi mereka tetap menyimpan rasa suka pada lelaki yang sama dan enggan untuk berkata jujur.


Pak Gofur semakin sering mampir ke rumah Reyhan ketika mengantar pesanan. Anisa bahkan juga beberapa kali ikut serta agar dekat dengan keluarga Reyhan.


Sedangkan haji Dahlan, ia juga selalu meluangkan waktu untuk lebih lama bercerita ketika Reyhan datang ke pondoknya untuk memberi sumbangan rutin. Ia pun sering menyinggung soal pernikahan.


Apalagi pak Atmaja, ia selalu menjadi yang terdepan dalam mendekatkan anak satu-satunya mereka dengan Reyhan.


Ketiga orang tua itu diam diam juga bersaing untuk mendapatkan menantu idaman seperti Reyhan.


_____


Dan pada suatu malam, ketika tengah berkumpul, haji Dahlan menyampaikan suatu hal penting pada Rosyidah.


"Idah, seperti nya abi sudah tidak bisa menahan lagi....."


"Abi sakit apa?" raut wajah Rosyidah langsung berubah tegang. Umi Dahlia pun juga ikut tegang.


"Ish, dengarkan dulu sampai abi selesai cerita dong." haji Dahlan langsung terkekeh. Suasana yang tadi tegang seketika mencair.


"Abi ingin menjodohkan Rosyidah dengan Reyhan." cetus haji Dahlan kemudian.


Suasana pun kembali tegang mendengar ucapan haji Dahlan barusan. Rosyidah langsung pucat pasi. Ia tak menyangka abinya akan secepat ini bertindak. Tapi di balik wajahnya yang pucat, hatinya bahagia. Semoga belum keduluan Anisa.

__ADS_1


"Ros." umi Dahlia menyenggol lengan putri nya itu. Rosyidah pun langsung menengok ke arah uminya.


"Iya um."


"Gimana, kamu setuju ngga dengan perkataan abi?" imbuh uminya lagi.


Rosyidah menunduk menyembunyikan raut bahagia sebelum menjawab. Akhirnya ia pun hanya mengangguk menanggapi ucapan orang tuanya.


"Alhamdulillah." kedua orang tua Rosyidah mengucap syukur bersamaan.


______


Sementara itu, di malam yang sama namun berbeda tempat dan dengan pembahasan yang sama terjadi.


"Abi tahu ngga, sewaktu umi belanja sayur, umi di tanya macam-macam sama ibu ibu di sini."


"Ya ngga tahulah mi, orang umi belum cerita." pak Gofur terkekeh mendengar ucapan istrinya yang absturd itu.


"Memang mereka tanya apa sama umi?" Anisa yang penasaran menatap umi nya sambil menyuap makanan ke mulutnya.


"Mereka tanya siapa yang kemarin tilawah bareng Anisa? Kok keliatan serasi sekali."


Uhuk... uhuk....


"Sudah enakan?" Anisa pun mengangguk menjawab pertanyaan abinya.


"Oh ya, terus umi jawab apa?" pak Gofur kini sangat penasaran. Anisa pun sama penasarannya, tapi sudah terwakili oleh pertanyaan abinya.


"Ya umi bilang apa adanya dong, kalau Reyhan itu cuma temannya abi Gofur saja. Eh, mereka ngga percaya. Malah di kira Reyhan itu calon suaminya Anisa."


Untuk yang kesekian kalinya Anisa terkejut. Tak menyangka jika secepat ini para netizen akan berkomentar tentang dirinya. Tapi ia juga suka jika omongan para netizen itu menjadi kenyataan.


"Wah, abi juga setuju dengan mereka. Keduanya memang serasi sekali." Pak Gofur tersenyum menatap Anisa yang tertunduk dengan wajah yang bersemu merah.


"Jika orang lain saja bisa menilai seperti itu, lalu bagaimana pendapat mu Nis? Apa kira-kira kamu siap untuk berta'ruf denahnya?" imbuh pak Gofur dengan muka yang serius.


Anisa kian menunduk, bingung memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan abinya. Jawaban yang mudah tapi sulit untuk dia lontarkan. Akhirnya ia pun mengangguk.


Pak Gofur dan istri seketika menghirup nafas panjang karena merasa sangat lega dengan keputusan Anisa.


"Baiklah, nanti abi akan atur waktunya."


______

__ADS_1


"Aneh sekali, kenapa haji Dahlan dan pak Gofur mau kesini? Waktunya bersamaan pula." Gumam Reyhan kala mendapat pesan singkat dari kedua orang yang sangat dekat dengannya itu.


"Mikirin apa?" suara ibunya mengejutkan dari belakang.


"Eh, ngga apa-apa bu. Cuma ini kok haji Dahlan dan pak Gofur mau kesini, waktu nya bersamaan pula. Katanya ibu nanti juga di suruh menemani."


Ibunya mengernyitkan dahi mendengar penuturan Reyhan.


"Mungkin ada kesalahan yang pernah kamu buat, jadi mereka kesini untuk menasehati mu."


"Masa sih bu? Reyhan salah apa ya? Kok aku malah deg-degan gini."


"Eh, ya sudah bu. Besok sore ibu bisa kan temani Reyhan? Sama tolong siapkan jamuan untuk mereka." Reyhan merogoh dompet nya dan hendak mengeluarkan uang untuk ibunya.


"Ngga usah, kayak ibu ngga punya uang saja. Uang mu di tabung saja buat persiapan nikah. Anak orang jangan cuma di tempel terus. Harusnya segera kamu halalkan." tangan ibunya mendorong dompet itu ke dekat Reyhan.


"Jangan pura-pura ngga tahu." imbuhnya lagi, lalu segera pergi meninggalkan Reyhan yang masih termenung.


"Memangnya anak siapa yang aku tempel? Main halalin aja, memang mau sama aku." gerutu Reyhan.


_____


Sore yang sangat di tunggu oleh keluarga Anisa dan Rosyidah pun tiba. Kedua keluarga itu tengah bersiap siap.


Beberapa hari sebelumnya, baik Rosyidah ataupun Anisa memanjatkan doa yang cukup lama dalam tahajud nya. Keduanya memohon agar dimudahkan urusan nya dan di beri jodoh yang terbaik.


"Idah, cepet." Seru haji Dahlan yang sudah tak sabar.


Sejak tadi ia menunggu Rosyidah yang katanya hanya tinggal memakai jilbab tapi sudah seperti orang tidur, karena lama sekali.


"Rosy sudah siap bi." tak lama kemudian Rosyidah keluar dari kamarnya dengan memakai set gamis warna pink.


Warna yang sebenarnya kurang ia sukai, tapi entah kenapa ia ingin agar penampilannya itu bisa membuat Reyhan terkesan.


Sejenak haji Dahlan memperhatikan penampilan Rosyidah yang menurutnya lain dari biasanya.


"Jangan liatin Rosy melulu bi, atau kita ngga jadi berangkat?" sengaja Rosyidah berkata seperti itu karena malu di pandangi abinya.


Haji Dahlan pun bangkit berdiri dan berjalan keluar di ikuti Rosyidah. Sedangkan umi Salwa dengan tergopoh-gopoh membawa bingkisan untuk keluarga Reyhan.


"Sudah siap semua?"


"In shaa Allah sudah bi." jawab Rosyidah dan uminya bersamaan.

__ADS_1


"Bismillah. Kita berangkat."


__ADS_2