
Siang itu seorang laki-laki yang seumuran dengan Reyhan datang ke counter cabang nya.
"Ada yang bisa saya bantu mas?" seperti biasa Reyhan menyapa dengan sopan.
"Saya Naufal promotor dari viv* mas, kesini disuruh sama pak Harjo manager yang ada di kantor cabang Surakarta. Ini saya bawa data diri saya." pemuda itu pun menyerahkan map ke Reyhan. Sambil mengiyakan, Reyhan segera membuka map itu.
"Maaf mas, 2 bulan lalu sebenarnya saya disuruh kesini tapi pas perjalanan menuju ke counter saya mengalami kecelakaan. Dan baru bisa kesini sekarang."
"Iya mas saya maklum, dulu pak Harjo juga cerita ke saya. Semoga cepet sembuh ya."
"Aamiin.. Jadi kapan saya disuruh kerja mas."
"Hari ini bisa mas?" Reyhan balik bertanya untuk memastikan kesehatan rekan kerja nya.
"In shaa Allah siap mas."
Setelah itu mereka mulai bercakap-cakap sambil menunggu pembeli.
Ketika counter Reyhan mulai di serbu pembeli, Naufal promotor pun ikut membantu melayani semampunya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Reyhan segera menyuruh Naufal untuk bersiap siap pulang.
Tak lupa menyelipkan sekedar uang makan untuk hari ini. Awalnya Naufal menolak karena gajinya sudah di tanggung oleh perusahaan, tapi Reyhan bersikukuh memberikan karena seharian ini Naufal sudah membantu nya banyak hal.
Walaupun seorang promotor yang tugas utamanya hanya melayani pembelian handphone untuk target perusahaan nya, tapi tak segan segan untuk ikut melayani user yang membeli paket data, pulsa atau pun lainnya.
Setelah mengucapkan terimakasih Naufal segera berjalan ke arah parkiran dimana motor nya berada. Setelah membunyikan klakson dan sedikit membungkukkan badan Naufal segera melajukan motornya.
Tinggallah Reyhan sendiri sambil menatap Naufal yang berlalu seraya berdoa dalam hati semoga Naufal bisa dipercaya, jadi ketika ada keperluan mendesak Reyhan bisa sewaktu-waktu meninggalkan counter dengan ditunggu promotor itu tentunya.
"Drett... drett..." getar handphone mengagetkan Reyhan dari pikirannya yang melayang sesaat.
"Ibu... tumben telepon?" gumam Reyhan sambil mengernyitkan keningnya, lalu segera menggeser tombol hijau ke atas. Karena tau ibunya jarang menghubungi nya jika di rasa tak penting.
"Hallo bu, ada apa bu?" Reyhan mulai menyapa ibunya yang ada di ujung telepon dan menyimak baik baik ucapan nya.
Seketika wajahnya menjadi bersemu merah menandakan kepanikan. Setelah menutup telepon, Reyhan bangkit dari duduknya mengambil buku transaksi dan memasukkan nya ke tas lalu segera memakai jaket sambil berjalan dan kemudian menutup rolling door dengan terburu-buru.
"Lhoh mas, kok sudah tutup?" sapa penjual sate yang sedang duduk, penjual disekitarnya pun juga ikut mengalihkan pandangannya ke Reyhan.
"Eh, ini mas, adik saya sakit, saya harus buru-buru kerumah sakit. Duluan ya mas, pak. mari." pamit Reyhan dengan sopan ke semua penjual yang melihatnya.
"Iya mas, semoga adiknya cepet sembuh ya." serempak mereka pun mendoakan adik Reyhan dan hanya di balas anggukan kepala diiringi senyum.
__ADS_1
"Kasian ya, masih muda udah jadi tulang punggung keluarga, untung saja counter nya selalu rame pembeli." celetuk salah satu penjual.
"Iya, rezeki orang baik mah gitu, usaha nya pasti jaya." imbuh penjual sate. mereka pun mulai menceritakan kebaikan Reyhan dan mulai membanding bandingkan dengan counter di sebelah kanan dan kiri Reyhan.
_____
Setelah bertanya ke bagian resepsionis, Reyhan segera berjalan menuju ruang dimana Bayu dirawat.
Kali ini jalan nya lebih pelan, memperhatikan dengan baik setiap sudut ruangan, kejadian soal bapaknya kembali melintas di kepalanya.
'Semoga ngga terjadi sesuatu yang serius.' batin Reyhan sambil memutar pelan handle pintu, lalu pandangan nya menyapu seisi ruangan.
Perlahan langkahnya mendekat ke bilik yang sedikit terbuka, tampak ibunya sedang mengelus elus kaki Bayu.
"Bu." sapa Reyhan sambil menepuk ringan pundak ibunya, dan setelahnya pandangan nya beralih ke Bayu.
"Sakit apa Bay?" Reyhan pun juga menyapa adiknya yang terbaring dengan wajah yang pucat. Tangannya menempel di kepala Bayu yang ternyata sedikit panas.
"Gimana kejadiannya?" lagi Reyhan bertanya dengan raut wajah penasaran mengalihkan pandangan ke Bayu lalu ke ibu.
"Beberapa hari ini badan ku hangat, lemes aku pikir cuma kecapekan, nafsu makan ku juga menurun."jawab Bayu dengan suara pelan.
"Lalu kata dokter gimana?"
Reyhan termenung sejenak, mungkin benar apa yang dikatakan adiknya, kalo dirinya kecapekan, karena setiap hari menjaga counter nya. Dia juga butuh libur sekedar untuk merilekskan otot otot nya, tapi Bayu tetap menolak nya dengan alasan counter selalu ramai.
Tapi kalo sudah seperti ini mau tak mau juga harus mencari karyawan baru lagi. Tidak mungkin Tiwi bekerja seorang diri, takut nya juga jatuh sakit seperti Bayu. Kalo libur beberapa hari bisa mengecewakan pelanggan.
Reyhan pun menghela nafas panjang sebelum akhirnya bicara lagi.
"Ya udah, kamu fokus sama kesehatan mu dulu aja. Nanti biar aku coba cari karyawan baru agar tidak kecapekan."
Ibu dan Bayu pun terkejut lalu menatap Reyhan sejenak.
"Kamu yakin Rey?"
"Iya bu." jawab Reyhan mantap, lalu pandangan nya beralih ke Bayu.
"Kamu banyakin istirahat dulu aja, biar cepet sembuh."
"Pengen makan apa, aku beliin."
__ADS_1
Bayu pun menggeleng, walaupun dia belum makan sejak tadi pagi.
"Jangan seperti itu, kasian ibu juga yang nungguin. Kamu cepet sembuh, ya. Mau makan apa? Pasti belum makan kan? Biasanya kalo makan siang bareng Tiwi kamu semangat. Apa.... beberapa hari ini kamu ngga makan bareng dia?" Reyhan mencecar adiknya dengan pertanyaan.
"Roti bakar saja." jawab Bayu singkat lalu mulai memejamkan mata.
"Ibu?" Reyhan pun bertanya ke ibunya.
"Udah roti bakar itu aja di makan bareng bareng." jawab ibunya datar.
"Kalo gitu aku keluar sebentar ya." pamit Reyhan.
Sambil berjalan Reyhan pun segera menghubungi nomor yang ada di kontaknya untuk menyampaikan lowongan kerja.
Dan tak terasa dirinya sudah tiba di pinggir rumah sakit, sejenak mengedarkan pandangan untuk mencari penjual roti bakar.
"Nah, itu dia." gumam Reyhan lalu segera mendekat dan memesan.
'Astaghfirullah.' batin Reyhan, baru teringat jika Bima pasti sendirian di rumah. Sejenak timbul rasa bersalah dalam hatinya, Bayu sudah membantu nya sampai sejauh ini dan terbaring lemas di ranjang rumah sakit, dan pasti Bima sendiri dirumah.
Setelah membayar pesanannya Reyhan berlari kecil menuju kamar Bayu, membuka bungkus roti yang langsung mengeluarkan bau khas nya. Tak lupa Reyhan juga menuang susu hangat untuk mereka.
"Nih, diabisin ya." Reyhan menyodorkan box roti bakar ke Bayu lalu beralih ke ibunya.
"Bima di rumah sama siapa bu?"
"Tadi masih ada pak Somad yang menemani, Tiwi juga masih jaga counter. Coba kamu telepon Tiwi dia udah pulang belum, kasian Bima kalo sendirian dirumah."
Reyhan pun mengangguk dan segera mengikuti perintah ibunya. Menekan nomor yang dituju, sekian menit berlalu dan percakapan selesai.
"Mereka masih dirumah semua bu. Sebaiknya ibu pulang, aku pesankan ojek, biar aku yang disini nemenin Bayu bu. Kasian juga kalo mereka kelamaan nunggu."
Ibunya terlihat berpikir sejenak, karena semua anak anak yang disayanginya. Terasa berat untuk mengambil keputusan. Dengan cemas dirinya bertanya ke Bayu.
"Gimana Bay, kamu keberatan ngga ibu tinggal?"
"Em.... ngga papa kok bu, nanti kalo aku butuh apa apa atau pengen pipis biar di gendong kak Rey aja." jawab Bayu asal agar ibunya tak mengkhawatirkan nya.
Ibu hanya menepuk ringan kaki Bayu yang sudah di pijit nya sejak tadi.
"Hemm.... kalo ngga kuat aku seret aja bu dia, orang badannya lebih gede gitu."
__ADS_1
"Bu, yuk ku anter ke depan ojol nya udah dateng. Tunggu bentar ya Bay, kamu habisin tuh roti sama susu segar nya. Ngga biasanya kamu kelaparan sampai jatuh sakit."
"Ish.. sialan lu kak." balas Bayu sambil menimpukkan bantal kecil ke arah kakak nya dan langsung menghindar. Seulas senyum tersungging di bibir ibu nya.