
Setelah sekian lama Anisa tidak berkunjung ke rumah orang tuanya, akhirnya sore itu dengan di temani oleh Bayu keduanya berkunjung kesana.
"Assalamu'alaikum." ucap keduanya kompak.
"Wa'alaikumussalam. Anisa."pekik umi Salwa ketika membuka pintu dan melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.
Anisa dan Bayu segera mencium tangan uminya.
Ibu dan anak itu saling berpelukan erat, melepaskan kerinduan yang membuncah.
Meskipun toko Anisa dekat dengan rumah kedua orangtuanya, tapi ia jarang mampir ke rumah. Tentunya karena banyak nya kesibukan yang ia jalani selama ini.
Keduanya segera di persilahkan masuk rumah. Tak lama kemudian, pak Gofur masuk rumah dan begitu terkejut ketika melihat siapa yang tengah duduk di ruang tamu.
"Anisa, Bayu." ucapnya mengabsen kehadiran anak dan menantunya.
Anisa dan Bayu segera bangkit berdiri dan meraih tangan abinya.
"Semenjak menikah, kamu ngga pernah kesini sayang." ucap umi Salwa, yang juga mewakili ungkapan hati pak Gofur.
"Di sana ada Laura kan umi, jadi tambah seru dan ramai. Lupa mau pulang." kekeh Anisa.
Abi dan uminya hanya bisa menghela nafas kasar, sekaligus juga tersenyum bahagia. Melihat anak semata wayangnya yang tampak bahagia dengan pernikahan dan keluarga barunya.
Dulu pak Gofur dan umi Salwa sempat khawatir ketika Anisa memutuskan menikah dengan Bayu. Karena tidak begitu paham dengan seluk beluknya. Tapi melihat Anisa yang tampak bahagia, seketika rasa khawatir itu hilang.
Anisa dan uminya berjalan ke dapur untuk membuat minuman dan menyiapkan cemilan. Sedangkan Bayu dan pak Gofur duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang.
Tak lama berselang, Anisa dan uminya sudah kembali membawa seteko teh dan beberapa toples kue kering.
Kini empat orang beda generasi itu kembali berbincang-bincang sambil menikmati hidangan yang ada.
Anisa yang tak mampu menyimpan rasa bahagianya lebih lama, segera mengeluarkan test pack dari tas nya.
"Ini oleh oleh untuk abi dan umi." kata Anisa sambil meletakkan benda kecil itu di atas meja.
Pak Gofur dan umi Sofiah terkesiap dan bersamaan mengulurkan tangan hendak meraih benda pipih itu. Sehingga membuat seisi ruangan terkekeh.
"Ya Allah, alhamdulillah. Kamu hamil sayang?" pekik umi Salwa dengan mata yang berbinar bahagia, karena menunjukkan garis merah dua pada benda pipih yang sedang di pegang nya itu.
Pak Gofur yang mendengar perkataan istrinya, langsung mengucapkan syukur.
__ADS_1
Anisa mengangguk sambil tersenyum pada uminya. Umi Salwa dan pak Gofur pun segera memeluk nya sambil mengucapkan hamdalah berulang kali.
"Jaga baik-baik ya kandungannya, jangan sampai kecapekan." kata umi Salwa mengingatkan.
"Iya benar, apa yang umi mu katakan. Sebaiknya kamu kurangi aktivitas mu." imbuh pak Gofur.
Bayu tersenyum melihat mertuanya yang begitu perhatian pada Anisa. Baginya hal itu wajar, karena Anisa adalah anak tunggal.
"Selama tidak menggangu kehamilan, Anisa ingin tetap melakukan semua aktivitas itu umi, abi."
"Jangan memutuskan segala sesuatu nya sendiri. Ingat kamu sudah punya suami sayang." ucap pak Gofur mengingatkan.
"Iya abi. Mas, aku boleh kan melakukan aktivitas ku?"
pandangan Anisa kini tertuju pada Bayu.
"Selama tidak menggangu kehamilan, in shaa Allah ngga apa-apa sayang. Tapi kita harus rutin memeriksakan kandungan mu ke dokter." ucap Bayu yang membuat mereka merasa lega.
Setelah puas berkunjung, Anisa berpamitan pulang.
"Sayang, menginap lah di sini sehari atau dua hari. Umi masih kangen sama kamu." rengek umi Salwa.
"Iya sayang, betul apa yang dikatakan umi mu." imbuh pak Gofur.
"Kita menginap disini saja sayang, sebentar lagi kan sudah masuk waktu Maghrib. Ngga baik ibu hamil keluar rumah." potong Bayu.
Sebenarnya Bayu juga merasa senang, melihat Anisa yang betah berada di rumah nya. Tapi, mendengar rengekan mertuanya pada Anisa, membuat ia tak tega. Akhirnya ia mencari alasan seperti itu, dan kebetulan memang benar.
"Nah, benar apa yang di katakan suami mu." celetuk umi Sofiah.
Akhirnya Anisa pun mengikuti perkataan suaminya untuk menginap di situ. Yang membuat kedua orangtuanya bernafas lega sekaligus bahagia.
Bayu segera menghubungi ibunya, bahwa malam ini ia akan menginap di tempat mertuanya.
Sayup-sayup mereka mendengar suara adzan. Bayu dan mertuanya segera bersiap ke masjid. Sedangkan Anisa dan uminya sholat di rumah.
Hari mulai merangkak malam, Anisa yang sudah mengantuk bergegas ke kamar nya. Sedangkan Bayu masih asyik menikmati siaran sepak bola bersama pak Gofur.
Kedua lelaki itu akan bersorak kegirangan ketika team sepakbola mereka berhasil memasukkan bola ke gawang.
Hubungan keduanya sudah seperti anak dan bapak kandung. Terlihat harmonis.
__ADS_1
"Bayu, ayo segera istirahat. Kalau kita terlampau kemalaman, bisa di omeli Anisa dan uminya." pak Gofur mengingatkan sambil terkekeh.
Bayu mengangguk dan membenarkan ucapan mertuanya itu. Karena Anisa selalu saja mengingatkan untuk tidak tidur terlalu larut malam.
Akhirnya mereka segera menyusul istri istri mereka di kamar.
Bayu membelai lembut wajah Anisa sebelum tidur. Memberinya kecupan di kening dan perutnya yang masih datar.
Ia tak menyangka akan secepat ini mendapat anak dari wanita cantik dan tulus menerima cintanya.
"Mas, kamu belum tidur?" suara serak Anisa mengejutkan nya.
Bayu menggeleng pelan sambil tersenyum hangat.
"Ya buruan tidur, nanti ngga bisa bangun pagi lho." suara serak Anisa membuat Bayu semakin gemas dengannya. Hingga menghujani nya dengan kecupan yang bertubi-tubi di wajahnya.
"Mas, kamu bikin aku geli. Pasti mau minta sesuatu kan?" tanya Anisa seperti biasanya.
Bayu menggeleng pelan. Walaupun sebenarnya ia ingin menunaikan hak nya malam ini, tapi ia harus menahan nya, karena kasian dengan bayi yang ada dalam perut istrinya.
"Kita kan belum cek kondisi bayi nya sayang, aku ngga mau terjadi apa apa kalau sampai aku terlalu memaksakan kehendak ku."
"Ish, pinternya suami ku. Tumben sekali bisa tahan godaan." ucap Anisa sambil mencubit hidung Bayu.
"Sudah, sebaiknya kamu tidur. Besok kita cek kandungan mu. Kalau kamu terus-terusan menggoda ku, bisa khilaf aku." kekeh Bayu. Ia lalu memeluk Anisa dan mulai memejamkan mata.
Sesuai janji keduanya, pagi setelah sarapan keduanya berboncengan menuju ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Anisa.
Sambil menunggu antrian, keduanya duduk di kursi tunggu dengan harap harap cemas. Karena baru sekali itu mereka akan memeriksakan kandungan.
Tak lama kemudian, nomor antrian Anisa pun di panggil. Bergegas keduanya masuk ke ruang periksa.
Dokter itu mempersilahkan keduanya duduk untuk menyampaikan segala keluhannya.
Anisa di persilahkan berbaring dan dokter mulai mengusapkan gel ke perutnya, sebelum melakukan USG.
Jantung Bayu kian berdetak cepat menatap layar monitor yang memperlihatkan sebuah titik sebesar toge dan bergerak gerak.
"Hem, memang benar nyonya, anda sedang hamil. Dan menurut pengamatan saya, usia kandungannya sudah 2 bulan. Kondisinya cukup bagus. Tak ada yang perlu di khawatirkan. Silahkan melakukan aktivitas apa saja, yang penting jangan berlebihan." kata dokter dengan senyum hangat.
Anisa dan Bayu menyunggingkan senyum mendengar penuturan dokter. Hati keduanya merasa bahagia sekaligus lega.
__ADS_1
Sebelum berpamitan, dokter memberi resep vitamin untuk menguatkan ibu dan bayi yang harus mereka tebus.