
Dia adalah seorang gadis desa yang pernah mengenyam pendidikan di salah satu universitas Islam di mesir. Setelah wisuda, ia lebih memilih pulang ke Indonesia untuk membaktikan seluruh ilmu yang ia punya kepada lingkungan sekitarnya.
Pagi sampai siang Anisa gunakan waktunya untuk mengajar di sebuah sekolah madrasah, ketika sore ia menggunakan waktunya untuk mengajari anak-anak TPA, dan ba'da isya ia mengisi acara pengajian ibu-ibu. Begitulah kegiatannya setiap hari.
Setelah beberapa hari libur mengajar TPA di masjid dekat nya karena umroh, kini Anisa mulai aktif lagi mengajari anak-anak untuk bisa baca tulis Al-Qur'an.
Hatinya tergerak untuk melakukan tugas yang mulia itu. Melihat banyaknya anak-anak yang cenderung lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain gadget.
Tidak hanya itu saja alasan ia melakukan tugas mulia itu, karena semakin kesini semakin banyak anak-anak yang melakukan tindakan tidak terpuji karena kurangnya perhatian dari orangtuanya. Sehingga ia ada niat untuk memberi nasehat dan perhatian yang lebih ke anak-anak agar jangan sampai menjadi generasi yang rusak.
Sebagian besar gaji dari mengajar di sekolah, ia gunakan untuk menyediakan fasilitas mengajar di TPA. Antara lain untuk membeli sejumlah buku iqro', meja, papan tulis, dan biaya lain-lain ketika mengikuti sebuah acara antar TPA.
Niatnya itu tentu saja disambut baik oleh semua orang dekatnya. Dan untuk itu semua, ia memberikannya secara cuma-cuma.
Banyak dari rekan nya dan para donatur datang untuk memberikan bantuan, baik materiil maupun spiritual. Sehingga kegiatan TPA di desanya kian berkembang pesat.
Dulu awalnya hanya Anisa seorang yang mengajar. Tapi karena semakin banyak anak-anak yang mendaftar TPA, maka mau tak mau ia harus mencari guru baru untuk membantu mengajar.
Dan sekarang, sudah ada 5 asatidzah yang mengajar di TPA itu termasuk dirinya, untuk mendidik 100 santriwan dan santriwati.
Keempat asatidzah itu tiap bulan nya akan Anisa beri uang sebagai ganti ongkos bensin. Tentunya uangnya diambilkan dari uang kas yang didapat dari para donatur. Karena Anisa disini bertindak sebagai koordinator para asatidzah.
"Ustadzah Anisa.... ustadzah Anisa..... Hore ustadzah Anisa sudah pulang." teriak anak-anak itu kegirangan menyambut kedatangan Anisa yang berjalan kaki, karena letak rumahnya yang memang tak jauh dari masjid itu.
"Assalamu'alaikum." suara lembutnya menyapa anak-anak yang girang menyambut kedatangannya.
"Wa'alaikumussalam." seru anak-anak itu kompak. Lalu mereka segera berdesakan agar bisa menyalami Anisa terlebih dulu.
Tak berselang lama, para asatidzah yang lain juga mulai berdatangan.
"Assalamu'alaikum us...." mereka saling sapa.
Mereka pun saling berjabat tangan dan berpelukan. Karena itu adalah adab ketika bertemu dengan sesama saudara muslim.
Setelah sejenak melepas rindu, bergegas mereka memasuki gedung yang ada disamping masjid, yang memang diperuntukkan untuk kegiatan dakwah umat Islam seperti kegiatan TPA.
Kali ini pembukaan dipandu oleh ustadzah Sofi. Bacaan surah Al Fatihah, doa belajar, syahadat menjadi doa pembuka acara TPA pada sore itu.
__ADS_1
Setelah pembukaan selesai, dilanjutkan belajar membaca, menulis dan muroja'ah surah pendek.
Pukul 5 kegiatan itu selesai. Sebagai doa penutup mereka kembali melafadzkan beberapa surah lalu dilanjutkan doa kafaratul majlis.
Sebelum pulang, para asatidzah membagikan bungkusan oleh-oleh yang tadi dibawa oleh Anisa kepada seluruh santriwan santriwati.
Sorak gembira terdengar riuh memenuhi gedung itu karena sesuatu yang sederhana.
"Ketika dikasih kita harus bilang apa?" seru ustadzah Sofi.
"Jazakallahu khoir ustadzah Anisa." seru mereka kompak.
Dengan demikian, acara TPA pada sore hari itu pun selesai. Setelah seluruh anak-anak pulang, para asatidzah itu juga menyusul pulang.
Sesampainya dirumah, sambil menunggu waktu sholat Maghrib, Anisa menyiapkan materi untuk disampaikan nanti saat pengajian ibu-ibu.
Dakwah nya dikalangan ibu-ibu dulunya juga tak semudah membalikkan telapak tangan. Karena kebanyakan akan menganggap ******* wanita yang memakai niqab.
Tapi dengan pembawaan nya yang ramah, cara menyampaikan materi yang tidak bertele-tele tapi mudah diterima, setiap pertanyaan yang keluar dari mulut jama'ah mampu Anisa jawab dengan mudah. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi ibu-ibu jama'ah pengajian.
Tidak hanya itu saja, terkadang Anisa juga membawakan buah tangan untuk dibagikan kepada seluruh jama'ah. Menjenguk serta mendoakan bila ada anggota jamaah yang sakit.
Bahkan sudah ada beberapa ibu-ibu yang selalu mengenakan jilbab kemanapun ia melangkah pergi.
Setiap perubahan itu membuat Anisa senang dan semakin bersemangat untuk berdakwah.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh." Anisa memulai acara pengajian pada malam hari itu.
Lalu ia mulai menyampaikan bab tentang penanaman aqidah pada anak usia dini.
Sebagai contoh, kebanyakan yang terjadi di lapangan. Orangtua akan bilang ke anak, jika tidak menghabiskan makanannya, maka ayamnya akan mati. Padahal yang mampu menghidupkan dan mematikan makhluk adalah Allah.
Sebagai contoh lagi, ketika anak tak menghabiskan makanannya, maka orangtua akan menakut-nakuti kalau makanannya nanti dihabiskan setan, padahal tak ada setan yang mau makan nasi, yang ada ya orang tua yang akan menghabiskan makanan anaknya tadi.
"Hahaha...." suara gemuruh tawa memenuhi seisi ruangan itu.
"Pantas saja ustadzah, anak saya malah ngatain saya setan waktu saya kasih tahu seperti itu." celetuk salah satu ibu-ibu yang kembali mengundang tawa.
__ADS_1
"Lalu bagaimana cara yang benar kita menasehatinya ustadzah?" tanya yang lainnya.
"Berikan ananda keterangan yang mudah untuk dipahami sesuai dengan tingkat usianya. Misalnya, yang memberi rezeki itu Allah, jika ananda dikasih rezeki sama Allah sering ditolak maka gimana kalau Allah tak mau memberi rezeki ke ananda lagi? Atau bisa juga dengan bahasa lainnya yang bermakna sama. Misal, jika ananda dikasih coklat sama ibu tapi ananda selalu menolaknya, terus kalau sewaktu-waktu ananda minta dibelikan coklat tapi ibu tidak mau membelikannya gimana?" terang Anisa sambil tersenyum.
"Oo..... begitu ya ustadzah. Pasti akan saya coba dirumah. Seneng banget dapat tambahan ilmu dari ustadzah Anisa ini." celoteh seorang jama'ah.
"Tapi, ngomong ngomong soal anak, ustadzah Anisa ngga pengen gitu cepet cepet nikah biar bisa ngerasain punya anak." celetuk salah satu jama'ah yang membuat tertawa seisi ruangan.
Tiba-tiba pikiran Anisa teringat akan pemuda yang ia temui sewaktu umrah kemarin.
"Sstt.... itu ustadzah diam saja, apa marah ya?" bisik seorang jama'ah, dan mereka mulai berkasak kusuk.
"Sstt... jangan berisik, nanti ustadzah denger lho." sahut yang lain.
"Jama'ah.......?" seru salah seorang jama'ah.
"Ei jama'ah....." balas mereka kompak, yang membuat Anisa tersadar dari lamunannya.
"Oh iya, ada yang mau ditanyakan lagi?" tanya Anisa dengan sedikit gelagapan karena tersadar dari lamunannya.
Setelah beberapa pertanyaan selesai dijawab, dan waktu kian merangkak malam, acara pengajian itu pun selesai. Setelah saling bersalaman, mereka sama-sama pulang. Begitu juga dengan Anisa yang kembali jalan kaki bersama-sama tetangganya.
Sesampainya dirumah, bergegas ia membersihkan diri sebelum tidur.
"Fitrah setiap manusia adalah saling mencintai. Lantas apakah aku tengah mengalami itu?" gumam Anisa sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya ditempat tidur.
Nah, setelah sekilas membaca biografi ustadzah Anisa. Kira-kira siapa ya yang cocok jadi pasangan Reyhan kelak? Ataukah ada orang lain lagi?
Bisa komen ya untuk menunjukkan dukungannya 😉😉
Berteman yuk kak di FB.
FB: Nurul khanifah
Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Tekan like, hadiah, vote dan favoritkan ya biar karya ini makin populer 🔥🔥
__ADS_1
Terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗