Juragan Muda

Juragan Muda
148. Jodoh itu rahasia Allah


__ADS_3

Tiga sahabat beda cerita.


Di tengah kebahagiaan yang Anisa dan Laura rasakan saat ini. Rosyidah justru tampak murung.


Ia masih teringat kala Bayu dengan suara lantang nya meminang Anisa di hadapan orang banyak tanpa takut akan di tolak. Dan ternyata Anisa menerima nya. Betapa cinta itu punya jalannya sendiri yang indah. Niat hati ingin melamar, eh malah di lamar.


Ia juga masih teringat, kala Reyhan mengucap janji setia nya untuk Laura dan bahkan memberikan sebuah mahar yang tak biasa. Hati Rosyidah seketika berdesir. Ia adalah lelaki pertama yang mengisi hatinya. Tapi justru telah menikahi sahabat nya sendiri. Padahal Rosyidah dan Laura sudah cukup lama berteman, tapi Laura tak pernah menceritakan tentang Reyhan. Sehingga Rosyidah yakin jika Laura dan Reyhan hanya sekedar bersaudara.


Kenapa kedua temannya lebih dulu mendapatkan jodoh idaman, sedangkan dirinya tidak. Padahal jika di pikir pikir, ia lebih menguasai ilmu agama dari pada Laura. Tetapi kenapa justru Reyhan malah memilihnya. Itulah pertanyaan yang sering muncul di benaknya akhir akhir ini.


Rasa hati ingin melupakan semua bayangan itu tapi ternyata sulit.


"Jodoh itu rahasia Allah. Pasti kamu juga akan menemukan jodoh terbaik mu. Jangan terus-terusan bersedih atas kebahagiaan yang tengah di rasakan oleh orang lain." suara umi Sofiah mengejutkan Rosyidah yang tengah duduk melamun di bawah pohon kersen. Tempat di mana ia dan kedua sahabatnya pernah duduk dan menceritakan tentang seorang lelaki yang sama.


"Rosy hanya ingin menikmati semilir angin di sini kok mi. Terasa segar saja." Rosyidah sengaja berkilah. Ia tak ingin ditertawakan oleh orang lain gara-gara putus cinta.


"Hem... Kamu mau membohongi umi? Tentu tak kan bisa."


Rosyidah membenarkan perkataan uminya. Suatu hal yang sulit ia lakukan adalah berbohong. Sedari dulu ia tampak energik dan penuh percaya diri.


Tapi setelah di tinggal Anisa dan Laura menikah, ia langsung tak bergairah sama sekali. Biasanya mereka akan berkumpul dan bercengkrama, tapi sekarang mungkin sudah tak bisa.


Rosyidah menghembuskan nafas panjang untuk mengusir pikiran yang berkecamuk di dalam benaknya.


_____


Sementara itu, di sudut ruangan. Choki tengah memikirkan sesuatu. Ia teringat pernikahan Laura dengan Reyhan. Ternyata ia justru merasa sakit hati setelah melihat Laura menikah. Padahal dulu, dia lah yang berkhianat. Dengan Laura ia begitu di manjakan. Sedangkan dengan Mira, ia mulai menuntut yang macam-macam. Choki semakin takut jika tak mampu menuruti permintaan Mira.


Tak hanya itu saja yang ia pikirkan saat ini. Karena beberapa hari ini ia juga sibuk memikirkan perempuan bercadar yang ia temui di pesta pernikahan Laura. Jujur saja, baru sekali itu berjumpa dengan wanita bercadar. Yang membuat hati dan pikiran nya sangat penasaran, kenapa dia harus menutup wajahnya. Apakah jawabannya juga sama seperti yang Laura sampaikan. Hanya memperlihatkan auratnya pada suaminya nanti.

__ADS_1


'Apakah dia cantik, atau justru sebaliknya? Ah, aku jadi semakin penasaran, ingin melihat wajahnya.'


"Hai sayang, ayo kita ke kantin." suara Mira yang mengejutkan Choki yang sedang melamun. Ia pun menggeleng lemah.


"Hah, kamu ngga lagi sakit kan? Tumben menolak ke kantin, biasanya juga selalu menjadi yang pertama mengajak." Mira terperangah tak percaya, sambil memegang kening Choki yang tampaknya memang baik baik saja. Tapi kenapa sikapnya aneh akhir akhir ini.


Saat pulang kuliah, ia juga lebih banyak diam walaupun Mira selalu mengajaknya berbicara.


"Kamu kenapa sih sayang, semenjak dari rumah tuh meses seres jadi beda begini? Belum bisa moved on atau kesambet setan?"


"Sepertinya dua duanya." ceplos Choki apa adanya.


"Ya sudah sampai besok ya, aku masuk dulu." pamit Choki setelah mobil berhenti di depan gerbang. Mira terbengong-bengong melihat Choki yang berubah.


Setelah sidang skripsi dan dinyatakan harus mengulang, Choki perlahan mulai berubah. Ia belajar memperbaiki tugas skripsi nya, karena sudah tak ada yang membantu nya kali ini.


_____


Hari sabtu pagi ibu ibu sudah kembali berkumpul untuk membuat aneka masakan. Sedangkan bapak bapak mulai menata kursi tamu.


Beberapa orang crew mendesign pelaminan dengan tema Jawa. Kursi untuk mempelai dan orang tuanya menggunakan kursi kayu yang terdapat ukiran bunga yang indah. Di sekelilingnya terdapat banyak rangkaian bunga segar. Lampu warna warni di bentuk berlekuk lekuk dan akan bersinar indah ketika nanti sudah di hidupkan.


Bima yang baru saja pulang sekolah, menatap takjub depan rumah nya yang kini sudah di sulap dengan sedemikian indah.


"Bu, kak Reyhan sama Miss Laura pasti suka sama design nya.' celetuk Bima ketika sudah masuk rumah dan mengadukan hal itu pada ibunya.


"Aamiin, semoga saja begitu. Non Laura kan anak orang kaya. Apalagi ketika kemarin melihat pesta mereka yang sangat mewah, kok ibu jadi minder sendiri ya."


"Mereka walaupun orang kaya tapi tidak sombong kok bu. Aku juga pengen kalau sudah besar nanti bisa menikah sama anak orang kaya yang tidak sombong." celetuk Bima.

__ADS_1


"Sekolah saja dulu yang bener. Baru SD saja sudah mikir nikah." Bayu langsung menoyor kepala Bima. Bu Rohmah terkekeh melihat hal itu.


"Jangan seperti itu dong mas. Di aminkan saja apa salahnya sih." Anisa keluar dari kamarnya dan mendekati mereka.


"Tuh, mbak Anisa saja baik sama aku. Kenapa kak Bayu tidak." Bayu meringis melihat Anisa yang tengah menatapnya.


"Mbak Anisa, kak Bayu dari dulu memang selalu begitu kok. Aku nih yang jadi korbannya setiap hari."


"Sstt.... Jangan suka ngadu." Bayu langsung membekap mulut Bima agar tidak banyak bercerita yang bisa menjatuhkan harga dirinya di depan Anisa.


"Sudah mas, kasian Bima. Kamu mandi dulu gih, baunya kok ngga enak begini." Anisa menutup hidungnya.


Bayu terperanjat kaget, tumben Anisa berani bicara seperti itu. Selama ini dia tak pernah protes dengan bau badannya.


"Kamu ngga lagi sakit kan sayang?" Bayu menempelkan tangannya di kening Anisa.


"Ih, aku ngga apa-apa kok." Anisa kembali masuk kamar dan merebahkan diri. Entah kenapa akhir-akhir ini begitu malas melakukan aktivitas nya.


Bayu pun mengekor Anisa, ia masuk ke kamar dan duduk di dekat Anisa.


"Kok kamu aneh sih sayang. Aku biasa kok seperti itu sama adik dan kakak ku. Maafkan aku ya. Jangan ngambek dong."


"Sudah aku maafkan, tapi kamu buruan mandi sana."


"Lhoh, aku kan baru saja mandi terus mengecek dekorasi depan rumah, sudah ngga kemana mana. Masa iya di suruh mandi."


"Aku ngga mau tahu, pokoknya kamu harus segera mandi sekarang. Atau kamu mau nanti tidur di luar."


Bayu semakin terkejut dengan ucapan Anisa itu. Bagaimana bisa ia di usir dari kamarnya sendiri. Akhirnya ia pun segera keluar kamar dan bergegas mandi.

__ADS_1


__ADS_2