
Pagi itu Tiwi hendak berangkat kerja. Tak lupa berpamitan pada kedua orang tuanya. Seperti biasa ia mencari ibunya di dapur, namun ternyata ia tidak ada di sana.
Bergegas Tiwi mencari ibunya, dan akhirnya menemukan ibunya di kamar. Tiwi mendekat ke arah ibunya yang masih tidur.
Ia mengernyitkan dahi ketika melihat wajah ibunya tampak pucat.
"Lhoh, kok badan ibu juga panas sih. Tapi badannya malah terlihat menggigil seperti kedinginan." gumam Tiwi sambil menempelkan tangannya di kening ibu.
"Ibu, ibu, ayo kita ke dokter." Tiwi membangunkan ibunya dengan mengguncang tubuhnya pelan. Akhirnya ibu pun membuka matanya. Ia tersenyum ke arah Tiwi.
"Ngga usah nak, ibu baik baik saja kok." ucapnya sengaja berbohong, karena tak ingin membuat cemas hati anaknya.
Tiwi terdiam sambil terus memperhatikan wajah ibunya. Dan ibunya kembali meyakinkan Tiwi jika dirinya tidak apa-apa.
Semakin ibunya meyakinkan dirinya, semakin membuat Tiwi tidak tenang. Akhirnya setelah membujuk sekian menit, ibunya mau di ajak untuk ke dokter.
Tiwi membantu mengenakan jaket untuk ibunya agar tidak terkena angin, lalu memboncengkan ibunya menuju rumah sakit.
"Ibu pegangan Tiwi yang kenceng ya." ucap Tiwi sebelum melajukan motornya. Ibu pun patuh sambil memegang pinggang Tiwi.
Di perjalanan Tiwi sering menengok keadaan ibunya lewat pantulan kaca spion, terkadang ia juga meraba dan memegang tangan ibunya untuk memastikan tetap berpegangan padanya.
Di belakang Tiwi, tanpa ia sadari ada seseorang di balik mobil yang terus memperhatikan nya.
"Seperti pernah liat pengendara motor itu, tapi dimana?" gumam pengendara mobil sambil memelankan laju mobilnya.
"Lhololoh, ini kenapa motornya?" ucap Tiwi panik. Ibu pun ikut panik. Akhirnya ia menepikan dan mengecek motornya. Mobil yang ada di belakangnya pun ikut berhenti melihat apa yang terjadi dari kejauhan.
"Yah, bannya bocor Bu." keluh Tiwi.
Ia celingukan mencari tukang tambal ban terdekat.
"Ada yang bisa di bantu?" seorang lelaki pengendara mobil tadi menghampiri mereka.
Tiwi menoleh ke asal suara dan matanya membulat melihat orang yang akhir akhir ini mengganggu pikirannya.
Lelaki itu pun sama, ia tak menyadari jika orang yang di tawari bantuan adalah orang yang cukup meresahkan pikirannya akhir akhir ini.
"Kenapa dengan sepeda mu?"
"Bannya bocor pak, eh mas."
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Mengantar ibu berobat ke rumah sakit."
"Ikut aku saja sekalian."
Tiwi merasa sungkan dengan tawaran dokter Adam, tapi melihat kondisi ibunya yang semakin lemah dan pucat membuat ia mau menerima tawaran itu.
Tiwi pun menitipkan sepedanya pada penjual pinggir jalan. Sedangkan dokter Adam memapah Bu Siti menuju mobilnya.
Adam melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang. Bagaimana pun juga ia juga harus tetap memperhatikan keselamatan.
Di sepanjang perjalanan, ibu Siti terus menggigil sehingga Tiwi berinisiatif menggosokkan telapak tangan ibunya untuk mengurangi efek dingin. Dokter yang tak sengaja melihat itu segera mematikan AC mobil.
Tak berselang lama, mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Tiwi membantu ibunya keluar dari mobil dan memapahnya menuju tempat pendaftaran.
"Langsung ke ruangan IGD saja, biar segera aku periksa." Kata Adam sambil membantu memapah ibu Siti.
Sesampainya di ruang IGD, dokter Adam segera melakukan serangkaian pemeriksaan pada Bu Siti.
"Apa yang terjadi dengan ibu saya pak dokter?"
"Ibu mu tipesnya kambuh."
"Iya benar tipes. Dan sebaiknya ibu mu perlu di opname agar keadaan nya cepat membaik." Tiwi mengangguk patuh atas saran dokter.
Dokter segera memasang infus di pergelangan tangan Bu Siti. Setelah semua selesai, ia berpamitan keluar untuk mengerjakan tugas-tugas nya.
"Terima kasih dok, sudah membantu saya dan ibu saya. Semoga pekerjaan dokter hari ini di mudahkan dan di lancarkan Allah, sebagaimana dokter memberi kemudahan bagi kami." ucap Tiwi sambil membungkukkan badan.
Dokter Adam yang melihat itu hanya menarik senyum.
Setelah kepergian dokter Adam, Tiwi duduk di samping brankar ibunya sambil memijit pelan lengannya.
Ia lalu mengabari bapaknya yang masih di pasar untuk membeli keperluan membuat cilok. Karena daging ayam sudah di giling, maka pak Somad memutuskan hari ini akan tetap berjualan. Setelah dagangan habis ia akan segera menyusul ke rumah sakit.
Tiwi menenangkan hati bapaknya. Ia tidak keberatan menunggu ibunya sendirian di rumah sakit. Ia teringat ketika sakit, orang tuanya juga menungguinya sampai sembuh. Ia ingin membalas kebaikan yang kedua orang tuanya lakukan untuknya.
Tak lupa, Tiwi juga mengabari Anisa, jika sementara waktu ia minta ijin tidak masuk kerja, selama menunggu ibunya di rumah sakit, karena tak ada yang bisa menunggunya.
Beruntung sekali, Anisa tidak keberatan memberikan ijin padanya. Karena selama ini Tiwi memang menjadi seorang karyawan kepercayaan Anisa. Selain itu ia juga tidak pernah ijin.
__ADS_1
Sebelum pulang dari rumah sakit, Adam menyempatkan diri untuk menjenguk Bu Siti.
Langkahnya terhenti, dan seulas senyum menghiasi wajahnya, ketika melihat Tiwi sedang menyeka badan ibunya dengan lembut.
'Ternyata di adalah wanita yang cukup baik. Sangat menyayangi ibunya.'
Tiwi terkejut ketika hendak membuang air bekas membersihkan ibunya dan melihat dokter Adam berdiri di ambang pintu.
"Dokter, sejak kapan pak dokter berdiri di situ?"
"Eh, baru saja kok."
Adam merasa tidak enak, karena ketahuan menatap Tiwi terlalu lama. Ia segera melangkahkan kakinya mendekat ke arah brankar lalu mengecek kondisi Bu Siti.
"Alhamdulillah, keadaan nya sudah jauh lebih baik daripada tadi pagi. Jangan lupa minum obat dan makan yang teratur ya Bu, agar lekas sembuh dan bisa segera pulang."
"Iya dok, terima kasih untuk semua bantuan nya." balas bu Siti.
"Sama sama Bu."
Pandangan Adam lalu beralih ke Tiwi. Ia melihat gadis itu tengah menatapnya, lalu segera mengalihkan pandangannya ketika netra mereka saling bertemu. Adam menarik senyum melihat hal itu.
"Aku bantuin jaga ibumu, kamu bisa mandi, sholat atau mengerjakan hal lain dulu." tawar Adam yang melihat Tiwi tampak canggung karena tadi ketahuan menatapnya.
Tiwi pun menoleh ke arah ibunya, ibunya yang paham langsung mengangguk, membiarkan Tiwi untuk mandi sore dan sholat.
"Terima kasih sebelumnya dok. Dan maaf sudah merepotkan dokter." ucap Tiwi sambil menundukkan kepalanya.
Ia pun segera berlalu ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, ia memegang dadanya. Ia merasakan detak jantungnya yang berdetak lebih kencang.
'Tumben sekali aku merasa gugup ketika bertemu dengan lelaki. Biasanya aku santai dan tenang dalam menghadapi pembeli. Entah itu laki laki ataupun perempuan.'
Setelah mengatur nafas berulang kali, ia segera mandi, karena tak ingin lebih lama merepotkan dokter Adam.
Setelah selesai mandi, ia sholat ashar di sudut kamar.
Dokter Adam yang sejak tadi bercakap-cakap dengan Bu Siti menoleh sebentar ke arah Tiwi sambil tersenyum, namun karena asyiknya memperhatikan, sampai tak sadar jika Tiwi telah selesai mengerjakan sholat. Bu Siti yang melihat hal itu merasa sedikit aneh.
'Tidak mungkin dokter tampan itu menyukai Tiwi.'
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1