
"Laura."
"Hem, ada apa ma?" tanya Laura sambil sibuk menyecroll layar handphonenya. Sedang asyik membaca tentang cara menjaga keharmonisan rumah tangga.
"Besok kamu kan di boyong ke rumah Reyhan. Mama harap kamu bisa menjaga sikap mu. Kalau mertua mu bangun pagi masak, kamu juga harus bangun pagi bantuin dia masak, mencuci piring atau bantuin pekerjaan lainnya. Jangan seperti di rumah ini, kamu bebas mau ngapain saja. Ingat, sekarang dia itu suami mu, menjadi kepala keluarga untuk mu dan anak anak kalian nanti nya. Jadi, kamu harus menghormati dia. Walaupun keluarga kita lebih kaya dari keluarga Reyhan, jangan sekali-kali kamu merendahkan mereka. Oh ya, jangan memanggil dia dengan namanya saja. Panggil dengan sebutan yang membuatnya merasa lebih di hargai, seperti mas, darling, atau yang lainnya lah. Kamu paham kan? Mama itu yakin, dia bakal jadi suami yang baik dan ngga neko neko. Jadi, kamu juga harus mengimbanginya. Buat Reyhan semakin bangga memiliki istri seperti kamu."
Laura diam sambil mencerna nasehat dari mamanya yang memang sangat benar itu.
"Iya ma, Laura paham. Tapi, Laura ngga bisa masak." Laura mendengus kesal.
"Makanya kamu buruan belajar masak sana. Tuh bibi ada di dapur, minta di ajari masak yang gampang."
Laura mengangguk, ia meletakkan handphonenya dan berjalan menuju dapur.
"Bi."
"Eh non Laura, bikin kaget bibi saja. Ada apa non?"
"Ajarin Laura masak."
Bibi terperanjat kaget dengan ucapan majikan nya itu. Selama ini Laura tak pernah masuk ke dapur, dan sekarang justru minta di ajari masak.
"Bibi kenapa diam saja. Ayo ajari Laura masak."
"Eh iya iya non. Non Laura mau belajar masak apa?"
Laura mengerutkan keningnya, bingung mau masak apa.
"Masak apa saja deh bi, yang penting jangan yang susah susah." Kali ini bibi yang mengerutkan keningnya, karena bingung mau mengajari apa pada majikannya itu. Akhirnya pelajaran pertama adalah menggoreng telur.
__ADS_1
Sementara itu Reyhan yang baru saja selesai bermain badminton dengan pak Atmaja merasa haus dan kelelahan. Akhirnya ia menyudahi permainan nya. Bergegas ia menuju dapur untuk mengambil air minum. Langkah nya terhenti ketika melihat Laura yang tengah memasak di dapur bersama bibi. Ia pun berdiri di dekat kongliong dapur, dan memperhatikannya.
"Argh..... bibi... kenapa meletus meletus seperti ini?" teriak Laura panik sambil menutup wajahnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih memegang solet.
"Ya ampun non, ini apinya kebesaran." teriak bibi sambil mengecilkan apinya.
"Arghhh...." teriak Laura ketika tangannya terkena letusan telur.
Melihat hal itu, Reyhan segera berlari mendekat dan mengecek tangan Laura yang tampak memerah.
"Ayo kita obati lukanya." Reyhan menuntun Laura duduk, lalu bergegas mengambil kotak p3k. Tak lama ia sudah kembali dan mengoles salep luka di tangan Laura.
"Nah, sebentar lagi juga sembuh." ucap Reyhan sambil tersenyum memperhatikan bekas luka itu. Sedangkan Laura dari terus menatap nya.
"Sebenarnya Miss Laura mau masak apa?"
"Eh itu......"
Laura hanya mendengus kesal, karena bibi sudah mendahuluinya bicara.
"Jadi Miss Laura belum bisa masak?" Reyhan bertanya di iringi senyum sumbing.
"It's okay. Jadi istri ku ngga harus pintar masak kok. Ya sudah ayo kita ke kamar." ajak Reyhan sambil menggandeng Laura.
Setelah mandi sore, keduanya menyiapkan baju dan segala perlengkapan untuk besok di bawa ke rumah Reyhan. Reyhan tersenyum kecil ketika melihat Laura yang terlihat sibuk menata setiap pernak pernik nya dalam pouch lalu menyusunnya dalam koper. Setelah selesai ia menyandarkan 2 koper itu di dekat pintu keluar.
"Reyhan kenapa kamu diam saja? Punya mu sudah selesai?" tanya Laura sambil mengedarkan pandangannya pada ruang kamar nya, takut melewatkan sesuatu.
"Kemarin kan aku kesini cuma bawa satu tas saja, jadi ini pulang nya juga tetap bawa satu tas. Ngga mungkin beranak jadi 2 atau 3 tas." kekeh Reyhan.
__ADS_1
"Kamu selalu bercanda." Laura mencubit gemas hidung mancung Reyhan. Dengan cepat Reyhan menangkap tangan Laura sehingga tak mampu bergerak dan jatuh ke pangkuannya. Keduanya saling beradu pandang. Tangan Reyhan membelai rambut Laura yang hitam pekat dengan penuh cinta.
_____
Persiapan pesta pernikahan di rumah Reyhan sudah 99%. Deretan kursi yang di tata rapi sepanjang jalan depan rumah yang sudah di naungi tenda tarub. Dekorasi pelaminan khas Jawa semakin terlihat indah karena di depannya di tambah hiasan air mancur mini. Hiruk pikuk ibu ibu yang menyiapkan hidangan juga tampak menambah semarak kebahagiaan terpancar di rumah yang kecil nan asri itu.
Seluruh keluarga bu Rohmah juga sedang di rias agar semakin terlihat tampan dan cantik untuk menyambut tamu.
"Anisa, ayo bangun." Berulang kali Bayu membangunkan Anisa yang sejak tadi subuh kembali tidur.
Ia semakin heran ketika melihat istri nya yang sangat jauh berubah. Padahal dulu ia sangat rajin. Akhirnya Anisa menggeliat dan matanya mulai mengerjap.
"Ayo bangun sayang, semua sudah di rias lho, tinggal kamu saja." lagi bayi menggoyang goyangkan tubuh Anisa.
"Hem, iya mas. Kamu mandi dulu sana, nanti baru aku yang mandi, terus di rias."
"Anisa, aku sudah mandi dari tadi. Nih, aku juga sudah pakai beskap lengkap."
"Ngga mau tahu, pokoknya kamu mandi dulu, habis itu aku." Anisa mendengus kesal lalu kembali memeluk guling nya. Bayu semakin heran dengan perubahan Anisa. Ia pun segera menuruti permintaan Anisa, dari pada ia semakin marah padanya.
_____
Sementara itu di rumah Laura, seluruh anggota Laura mulai di rias satu persatu setelah selesai sarapan pagi. Kali ini karena sudah resmi menikah, baik Laura maupun Reyhan di rias di satu tempat yang sama. Terkadang Reyhan mencuri pandang ke arah Laura yang tak kunjung selesai di rias.
"Istrinya ngga kan hilang kok mas, ngga usah di liatin melulu." ucap salah satu mua ketika sejak tadi Reyhan terus memperhatikan Laura sambil terkekeh. Hingga membuat semua yang berada di ruangan itu ikut terkekeh.
Akhirnya setelah sekian jam, mereka selesai di rias. Bergegas rombongan pengantin itu memasuki mobil masing-masing. Setelah memastikan tak ada satupun yang tertinggal, mobil perlahan meninggalkan kediaman pak Atmaja.
Sepanjang perjalanan, Laura tampak memperhatikan jalan di sekelilingnya. Melihat sawah yang padinya terlihat masih hijau dan menyegarkan mata. Sedangkan Reyhan, ia terus menggenggam erat tangan Laura dan tak bosan memandang wajahnya. Hingga akhirnya mereka sayup sayup mendengar suara musik yang mengalun merdu, menandakan sudah sampai di rumah Reyhan.
__ADS_1
Laura takjub karena melihat tenda tarub yang di pasang memanjang dari perempatan jalan sampai ke rumah Reyhan. Sehingga mereka harus memarkirkan mobilnya agak jauh.