Juragan Muda

Juragan Muda
110. Kejutan untuk Anisa


__ADS_3

"Kamu." Ucap Laura dan Reyhan bersamaan.


Laura langsung mengerucutkan bibirnya melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Jiwa manjanya seolah keluar begitu saja.


"Ini yang ambil aku duluan." kata Laura langsung menarik gamis berwarna nude itu.


Reyhan yang melihat Laura bersikap seperti itu hanya menyunggingkan senyum dan geleng-geleng kepala, menyadari sikap Laura seperti awal mereka kenal dulu.


"Ambil saja, nanti aku yang bayar."


"Apa! Kamu merendahkan ku? Kamu pikir aku ngga sanggup bayar?" sentak Laura.


Berada di samping Reyhan bagai memberi warna warni di hati Laura, kadang ia berubah manja, angkuh, halus dan sikap lainnya yang sulit di tebak. Sehingga membuat Reyhan harus bersiap sport jantung.


Seumur hidup Reyhan, ia kenal dengan wanita wanita yang kalem, periang dan tidak ada yang judes sama sekali. Dan hanya pada diri Laura lah ia menemukan perbedaan yang sangat kontras itu.


"Bukan maksud ku merendahkan Miss Laura. Aku jelas tahu Miss Laura anak orang kaya, harta nya berlimpah. Tentu hal kecil untuk memborong toko ini beserta isinya. Aku senang melihat Miss Laura memakai gamis pemberian ku, semakin terlihat cantik. Jadi, aku hanya ingin membelikan lagi. Miss Laura menutup aurat dapat pahala, aku pun juga." terang Reyhan setelah menghela nafas panjang.


Mendengar Reyhan memujinya seketika membuat Laura sedikit tersenyum dan mengelus wajahnya karena tersipu malu. Entah kenapa pujian Reyhan terasa berbeda di telinga Laura.


"Ehem...Ehem."


Reyhan sengaja berdehem karena melihat perubahan sikap Laura. Jelas jelas ia menyunggingkan senyum dan tersipu malu mendengar penjelasan nya tadi.


"Ayo kita pilih lagi bajunya." ajak Reyhan. Tangannya segera meraba satu persatu baju yang tergantung. Melihat hal itu, Laura justru hanya diam sambil memperhatikan Reyhan yang sibuk memilih baju untuknya.


"Kenapa kamu selalu baik sama aku?" celetuk Laura.


"Aku kan baik sama semua orang, jangan ge-er." ucap Reyhan sambil tetap memilih baju.


"Ih, kamu nyebelin." bisik Laura sambil mencubit pinggang Reyhan. Ia pun juga mengerucutkan bibirnya.


"Adduuh..... Kok kebiasaannya belum hilang sih." kata Reyhan sambil meringis mengelus pinggangnya yang terasa sakit.


"Memangnya aku salah lagi? Padahal niat ku baik lho mau beliin Miss Laura, tetep aja di cubit. Bikin gemes aja, mau gantian nyubit." seloroh Reyhan. Tangannya bergerak hendak mencubit pipi Laura, tapi ia mampu menghindar dan segera berlari kecil menjauh.


"Hah, astaghfirullah. Apa yang sudah aku lakukan tadi? berani beraninya mau nyubit pipi Miss Laura. Bisa di telan mentah-mentah sama dia nanti." gumam Reyhan setelah Laura pergi menjauh.

__ADS_1


Ia pun segera menuju kasir untuk membayar total belanja nya. Sambil menunggu kasir mentotal jumlah nya, ia memperhatikan sekeliling ruangan, namun tidak juga melihat di mana Laura berada.


"Mas, mas ganteng. Totalnya 3 juta." kata Anya mengagetkan Reyhan.


"Oh i_iya mbak." jawab Reyhan, sambil merogoh dompet nya.


Anya terus memperhatikan Reyhan yang semakin terlihat tampan dan berdompet tebal itu. Hingga tak sadar jika berulangkali Reyhan juga memanggil nya.


"Mbak!" seru Reyhan sambil menyodorkan beberapa lembar uang merah.


"Eh i_iya mas." Anya segera menerima uang itu tanpa menghitungnya dan memasukkan nya dalam laci. Dalam hatinya, cowok seganteng Reyhan tidak mungkin berbohong.


"Lhoh mbak, kok ngga di hitung dulu?" protes Reyhan.


"Sepertinya ngga perlu mas, saya percaya sama mas." ucap Anya dengan wajah yang berbinar. Reyhan geleng-geleng kepala melihat kelakuan aneh kasir yang ada di depannya saat ini.


Anisa yang melihat Reyhan sedang berdiri di meja kasir segera mendekat. Mungkin inilah kesempatan untuk bisa sekedar ngobrol dengannya.


"Ada apa Nya." tanya Anisa yang sudah berada di dekat Anya.


"Mas Reyhan, apa ada masalah?" tanya Anisa lembut. Anya terperangah mendengar Anisa menyebut mas ganteng itu dengan nama Reyhan.


'Oh, jadi namanya Reyhan.' batin Anya.


"Em... ngga ada kok mbak." jawab Reyhan merasa tidak enak. Sebenarnya ingin mengadukan sikap kasir yang kurang teliti itu pada Anisa. Tapi ia juga merasa tidak enak jika mengatakan langsung di depan yang bersangkutan.


"Terima kasih ya sudah mau berbelanja di toko saya." ucap Anisa lagi.


"Iya sama-sama. Ya sudah saya permisi dulu ya." ucap Reyhan yang ingin melangkah meninggalkan mereka. Namun Anisa lagi lagi menghentikan langkahnya.


"Oh iya mas, kenapa kesini nya ngga bareng dengan mbak Laura?" tanya Anisa lagi.


"Oh itu. Anu... kebetulan saya ada beberapa acara. Terus tadi dari counter yang ada di seberang jalan, jadi sekalian mampir kesini." ucap Reyhan yang berbohong. Padahal ia ke toko Anisa hanya untuk sekedar membelikan Laura baju.


"Oh pantes, mbak Laura kesini nya sama Rosyidah." gumam Anisa.


"Iya, ngga apa-apa. Biar mereka semakin akrab." balas Reyhan sekenanya.

__ADS_1


"Apa mereka sudah pulang?" hati Reyhan tergelitik untuk bertanya, karena ia tak menemukan Laura.


"Belum mas, mungkin masih sibuk memilih milih. Perempuan kan suka lama kalau memilih." cerocos Anisa.


"Oh ya sudah, saya titip ini, tolong berikan sama Miss Laura ya mbak." Reyhan pun menyerahkan paper bag yang berisi beberapa potong gamis yang baru saja di beli nya itu.


"Lhoh, kenapa tidak di serahkan saja nanti sewaktu di rumah?" tanya Anisa lagi yang sengaja ingin mengetahui seluk beluk Reyhan sekeluarga.


"Soalnya saya nanti masih ada acara mbak, mungkin sampai menginap. Jadi, biar di bawa sekalian sama Miss Laura."


"Em.... kenapa mas Reyhan manggil mbak Laura dengan sebutan Miss?" terus saja Anisa memburu Reyhan dengan banyak pertanyaan.


Tanpa memperhatikan Anya yang masih berada di sampingnya. Dan Anya pun sejak tadi juga serius memperhatikan mereka.


'Waduh, kenapa soal panggilan saja perlu di tanyakan sih.' batin Reyhan mulai merasa tak nyaman. Untuk berbohong lagi, ia juga merasa takut berdosa.


"Itu.... memang dia yang sengaja meminta nya. Agar berbeda dengan yang lain katanya." ujar Reyhan sambil terkekeh.


Melihat Reyhan yang terkekeh membuat hati Anisa berdesir.


'Sama adik saja sayang banget, apalagi sama istrinya nanti.' batin Anisa.


"Ya sudah saya pamit dulu ya mbak." pamit Reyhan sekali lagi.


Reyhan pun melangkah meninggalkan mereka yang masih mematung menatap kepergiannya sampai tak terlihat.


"Mbak, kok mbak Anisa malah sudah tahu namanya duluan sih." tanya Anya sambil menyenggol lengan Anisa.


"Oh itu, dia teman abi ku Nya."


"Wah, berarti ada kesempatan yang lebih dong untuk bisa deketin mas... Reyhan." ceplos Anya.


Tak lama kemudian, Rosyidah dan Laura muncul dari arah yang berbeda dengan menenteng belanjaan mereka masing-masing.


"Mbak Laura, mas Reyhan mau ke luar kota. Jadi, dia titip ini untuk mbak." kata Anisa setelah Laura berdiri di depan meja kasir.


Semua menatap ke arah Laura yang terlihat terkejut.

__ADS_1


__ADS_2