Juragan Muda

Juragan Muda
215. Pernikahan Rosyidah


__ADS_3

"Ini." ucap Rosyidah dan Tiwi bersamaan sambil meletakkan lembaran kertas di atas meja.


Anisa dan Laura memperhatikan lembaran kertas tersebut, lalu meraih dan membukanya.


"Ya Allah, kamu mau menikah?" ucap Laura dan Anisa yang terkejut, sambil melihat kedua sahabatnya lalu kembali membaca undangan.


"Ya Allah, kalian menikah di tanggal dan bulan yang sama." pekik Laura.


Sejenak Rosyidah dan Tiwi saling beradu pandang, lalu semua pun tertawa.


"Ngga bisa kah di maju mundurkan harinya, supaya bisa datang ke acara resepsi pernikahan kalian?" cicit Anisa yang kembali mengundang tawa.


"Kita hanya ngikutin apa kata orang tua saja sih." balas Rosyidah, Tiwi pun mengangguk setuju.


"Ya sudah ngga apa-apa, kita usahakan bisa hadir di acara kalian." balas Laura.


Mereka pun bercakap-cakap, hingga akhirnya mobil Reyhan memasuki pelataran.


Laura bangkit berdiri dan mendekati mobil suaminya. Ia mencium punggung tangan Reyhan, lalu membawakan tas kerjanya. Keduanya saling melempar senyum hangat, lalu Reyhan merangkul bahu Laura.


Begitulah pemandangan yang terjadi setiap hari. Membuat iri sahabat yang melihatnya. Apalagi Reyhan pernah menjadi pujaan hati mereka.


"Kamu temani mereka saja dulu sayang, biar mas membersihkan diri. Mas ngga pede baunya kecut."


"Bukankah mas juga menciumi ku walaupun badan ku bau kecut." kekeh Laura sebelum meninggalkan suaminya di kamar sendiri, dan kembali menemui sahabatnya.


Mereka kembali bercanda tawa sampai akhirnya, matahari kian tenggelam, sehingga dengan terpaksa harus berpamitan pulang.


Selama seminggu baik Rosyidah maupun Tiwi di pingit. Keduanya tidak diijinkan keluar jauh. Kesibukan mereka adalah memperbanyak doa. Di rumah masing-masing sudah mulai di pasang tenda. Hingga akhirnya hari yang dinantikan pun tiba.


Laura dan Anisa sepakat menghadiri acara resepsi pernikahan Rosyidah dulu, baru ke rumah Tiwi. Sekarang keduanya tengah bersiap-siap.


Setelah membantu mengeringkan rambut, Reyhan mengucir rambut Laura yang sudah terlihat panjang agar tidak berantakan sewaktu mengenakan jilbab.


"Semakin hari, semakin aku bertambah jatuh cinta dengan mu Miss Laura." dengan gemas Reyhan mencubit pipi Laura.


Ia mengecup kedua pipinya sambil mengalungkan tangannya di leher Laura. Ia menghirup dalam-dalam aroma wangi yang menguar dari tubuh istrinya. Keduanya saling melempar senyum lewat pantulan cermin.


"Terima kasih mas, sudah sabar menerima segala kekurangan ku. Maaf ya, aku belum bisa memberi mu seorang anak."

__ADS_1


"Kenapa harus minta maaf? Bukankah itu kehendak Tuhan? Jika Allah belum berkehendak, kita bisa apa? Memiliki mu adalah anugerah terindah dalam hidup ku Miss Laura. Aku sangat bersyukur memiliki mu."


Reyhan membelai lembut rambut panjang istrinya sambil mengecup keningnya sekali lagi.


Setelah memastikan rambutnya rapi, Laura mengenakan jilbab warna nude, senada dengan gamisnya. Mereka pun keluar kamar, setelah memastikan penampilan rapi mereka.


"Hai, sudah siap?" sapa Laura pada Anisa yang juga baru saja keluar dari kamar.


"Sudah."


Mereka pun berangkat bersama dalam satu mobil. Sepanjang perjalanan Zakira banyak berceloteh, sehingga membuat mereka terkekeh. Perjalanan jauh pun tidak terasa, hingga akhirnya mobil sudah berhenti di pinggir jalan dekat kawasan pondok haji Dahlan.


"Maa syaa Allah, tamunya banyak sekali." gumam Laura kagum.


"Dulu di pernikahan mu, tamunya juga lebih banyak dari kan La."


"Lupa, yang ku ingat cuma dekat sama mas Reyhan doang." kekeh Laura.


"Ah, dasar kamu terlalu bucin." sungut Anisa yang segera berlalu keluar mobil.


Dengan bergandengan tangan, kedua pasangan itu memasuki tempat acara yang sudah di penuhi oleh tamu. Tak lupa, mereka memasukkan amplop sumbangan di kotak yang telah disediakan.


Baru saja mereka akan duduk di kursi yang di maksud, kedua orang tua Laura memanggil. Laura pun melambaikan tangan dan tersenyum hangat pada mereka. Setelah saling bersalaman dan berpelukan, lalu duduk. Mereka pun bercakap-cakap hingga akhirnya acara di mulai.


Andre, penghulu dan beberapa saksi sudah duduk mengelilingi meja yang akan digunakan untuk ikrar ijab qobul. Sementara Rosyidah masih berada di dalam kamarnya.


Penghulu mulai memberi pengarahan pada Andre. Lalu prosesi pembacaan ikrar pun di mulai. Penghulu menjabat tangan Andre erat.


"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikah dan kawin kan engkau Andre Hermawan dengan anakku Rosyidah Fauziah binti Dahlan Muhammad Rusdi dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan perhiasan senilai 50 juta di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Rosyidah Fauziah binti Dahlan Muhammad Rusdi dengan maskawin tersebut di bayar tunai." ucap Andre lantang.


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sah, sah, sah."


"Alhamdulillah."


Semua ikut bersyukur atas pernikahan itu. Rosyidah yang berada di kamar menitikkan air mata sambil mengucap syukur. Karena hari ini adalah hari pertama dia menyandang gelar seorang istri.

__ADS_1


"Rosyidah, hari ini kamu resmi menjadi seorang istri. Baik buruk kehidupan rumah tangga mu, cukup kalian berdua yang tahu. Sekarang, ayo sayang, kita temui suami mu." ajak umi Sofiah. Rosyidah menganggukkan kepala lalu bangkit dari duduknya.


Rosyidah tampak anggun dengan balutan gamis syar'i warna putih yang berhias taburan kristal. Andre yang sejak tadi memperhatikan Rosyidah berjalan mendekatinya, hatinya semakin berdegup kencang.


"Silahkan mas, kecup kening istrinya." ucap penghulu yang menyadarkan Andre dari lamunannya.


"I_iya pak." jawab Andre dengan gugup.


Andre mengulurkan tangan, yang di sambut Rosyidah dengan mengecup tangannya. Lalu Andre pun mengecup kening Rosyidah sambil berdo'a.


"Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa a'udzibikanmin syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi."


Sekali lagi Rosyidah menitikkan air mata harunya. Andre yang melihat segera menghapusnya pelan. Keduanya dipersilahkan duduk di kursi pengantin.


Serangkaian acara lanjutan pun siap di mulai. Kedua mempelai sungkem dengan kedua orang tua mereka. Mereka pun saling terisak karena haru. Kedua orang tua mereka banyak memberi nasehat pada mempelai.


Mereka pun juga terlihat kikuk saat melewati proses pemotretan. Hingga terkadang mengundang tawa sebagian tamu karena tingkah lucunya. Seumur hidup, Andre adalah lelaki asing pertama yang menyentuh tubuhnya.


Laura dan Anisa serta suami mereka tak lupa dipersilahkan berfoto. Sebelum berfoto, mereka saling mengucapkan selamat dan bersalaman.


"Semoga selalu sakinah, mawadah dan warohmah." ucap Reyhan, sambil memeluk Andre.


"Aamiin, terima kasih Rey."


Mereka banyak mengabadikan momen kebersamaan dengan berbagai gaya.


Tanpa terasa satu persatu acara telah di lewati, dan akhirnya selesai. Satu persatu tamu mengucapkan selamat dan berpamitan pulang, termasuk Reyhan sekeluarga.


Tak lupa Reyhan dan Laura berpamitan pada papa dan mamanya ketika mereka bertemu diparkiran. Meskipun Laura dan Reyhan sering tidur di rumah pak Atmaja, tetap saja orang tua itu kangen pada anak-anaknya.


"Pa,ma, kita pamit mau ke pernikahan teman kita yang satunya lagi ya." pamit Laura.


"Iya, jangan lupa, pulang ke rumah papa dan mama, kita kangen."


"Iya ma, Insyaa Allah. Kita ngga lupa jalan pulang kesana kok." balas Reyhan sambil terkekeh.


❤️❤️❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2