Juragan Muda

Juragan Muda
131. Mendapatkan cintaku


__ADS_3

Perawat itu segera masuk ke kamar Laura dan mengecek keadaan nya.


"Menurut saya, pasien dalam keadaan yang cukup baik." kata perawat itu setelah memeriksa kondisi Laura. Ia juga sempat memberi Laura pertanyaan yang ringan, untuk mengetes apakah ia mengalami amnesia atau tidak.


"Alhamdulillah." ucapan syukur keluar dari mulut kedua orang tua Laura.


"Sebentar lagi, dokter akan kesini. Beliau pasti yang lebih paham dengan keadaan pasien. Karena tadi hanya diagnosa saya saja. Sarapannya silahkan di habiskan dulu ya agar cepat sembuh." ucap perawat itu sebelum berlalu meninggalkan kamar itu.


"Baik sus." ucap bu Ani.


"Kamu dengar kan, apa kata perawat itu tadi. Habiskan makanannya, karena dokter akan segera mengecek kondisi mu." Bu Ani membujuk Laura yang sejak tadi tak berselera makan.


"Kemarin apa yang terjadi sayang? Apa Reyhan melakukan sesuatu yang buruk pada mu?"


"Papa." tegur bu Ani karena langsung menodong dengan pertanyaan seperti itu. Ia khawatir jika Laura akan mengingat sesuatu yang buruk.


"Papa kan sangat penasaran ma."


Sementara itu, setelah perawat itu keluar, Reyhan kembali mencegahnya dan bertanya.


"Bagaimana kondisinya sus? Apa terjadi sesuatu yang serius padanya?"


"Ini baru diagnosa saya saja, saya melihat tidak ada yang serius. Mungkin karena ada benturan di kepala nya, jadi pasien merasakan pusing dan bahkan bisa saja mual. Silahkan masuk saja."


"Baiklah terima kasih sus." Reyhan tetap tidak berani masuk dan menunggu di luar.


Tak lama berselang, dokter muda itu kembali datang dan memeriksa kondisi Laura. Ia tersenyum hangat menyapa Reyhan yang tengah duduk di kursi tunggu luar kamar Laura.


"Selamat pagi." sapa dokter muda itu.


"Pagi dok." pak Atmaja dan istrinya menjawab salam itu. Sedangkan Laura hanya menyunggingkan sedikit senyum.


"Baiklah, saya cek dulu ya."


Dokter itu melakukan pengecekan, mulai dari detak jantung, beberapa bekas luka dan memberi Laura beberapa pertanyaan. Ia juga melihat hasil rongten dan CT-scan yang baru saja keluar.


"Semuanya bagus, tinggal menunggu luka kering saja. Jika kepala terasa pusing itu wajar, karena sempat mengalami benturan yang keras. Dan bahkan bisa juga pasien mengalami mual."


"Alhamdulillah." kedua orang tua kembali mengucap syukur, karena diagnosa dokter dan perawat tadi sama.


"Oh ya, bukan kah pasien ini pernah di rawat di sini juga karena penyakit asam lambung?"


"Iya dok benar sekali." balas pak Atmaja.


"Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu."


"Iya dok, sekali lagi terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama, seharusnya tidak perlu berterima kasih pada saya, karena ini memang sudah kewajiban saya. Berterima kasih saja pada saudara bapak yang sudah membawa pasien kesini, dan sedang menunggu di luar."


Keluarga pak Atmaja itu langsung mengernyitkan dahi mendengar penuturan dokter.


'Apa yang di maksud dokter ini adalah Reyhan? Apa itu artinya semalaman ia tidur di luar.' batin orang tua Laura. Sedangkan Laura sendiri tidak tahu siapa yang sudah menolongnya.


"Ya sudah saya permisi." dokter muda itu segera berlalu pergi.


"Dok, bagaimana kondisinya?" Reyhan menghadang dokter yang baru saja menutup pintu kamar rawat inap itu.


"Pasien dalam keadaan yang cukup baik, tidak ada luka yang serius. Beberapa hari lagi pasti ia sembuh."


"Alhamdulillah, syukur lah kalau begitu. Terima kasih dok." Dokter hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyum dan segera berlalu pergi.


Setelah kepergian dokter, pak Atmaja kembali bertanya pada Laura.


"Kamu ingat dengan kejadian kemarin sayang? Itu sewaktu kamu mengantar makanan ke rumah Reyhan." desak papanya.


"Papa." lagi-lagi bu Ani menegur suaminya.


"Laura... mengantar makanan itu, terus pulang." pak Atmaja manggut-manggut mendengar penuturan Laura.


"Terus habis itu kenapa kamu bisa kecelakaan? Apa mobilnya sudah tak nyaman di kendarai? Atau ada hal lainnya?"


"Iya itu salah satunya."


"Kamu tahu siapa yang mengantarkan kamu kesini?" Laura menggeleng lemah.


"Sayang ayo habiskan makanannya." bu Ani menyodorkan sesendok bubur pada Laura. Sedangkan pak Atmaja setelah bertanya seperti itu, ia keluar.


"Kamu dari semalam di sini?"


Reyhan tersentak kaget mendengar suara pak Atmaja. Ia pun mengangguk. Berusaha untuk merapikan dandanannya.


"Kamu tak ingin menemui anak ku?" Reyhan tercengang dengan ucapan pak Atmaja. Yang seakan memberi ijin untuknya bisa bertemu dengan Laura.


"Apa papa mengijinkannya."


"Hem." pak Atmaja melakukan mode hemat bicara. Tapi berhasil membuat Reyhan berbinar bahagia.


"Panggilkan istri ku kesini." imbuh pak Atmaja sebelum Reyhan melangkah masuk.


"Iya pak." jawabnya dengan seuntai senyum.


Sesampainya di kamar Laura, Reyhan segera menyampaikan pesan pak Atmaja pada bu Ani. Ia segera menaruh piring itu di nakas dan berlalu pergi.


Reyhan berdiri mematung sambil menatap Laura yang langsung mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


'Aduh, kenapa jadi grogi begini?' maki Reyhan dalam hati.


'Kenapa dia diam saja? Ngga ngomong sesuatu. Apa dia mulai bisu?' batin Laura.


'Apa aku harus bertanya sekarang, apakah dia mencintai ku atau tidak? Tapi kalau di sangka aku ke gimana?' batin Reyhan.


'Apa dia menerima lamaran Anisa? Ah kalau iya, apa hubungannya dengan ku. Dia bukan siapa siapa ku. Tapi, dia selalu ada untukku menumpahkan segala rasa.' batin Laura.


'Apa aku harus bilang kalau tidak menerima lamaran Anisa sekarang?'


"Ehem." sengaja Laura berdehem sedikit keras sambil mengelus tenggorokannya.


"Miss Laura haus?" tanya Reyhan polos. Ia segera menyodorkan air putih ke dekat Laura. Dengan pelan-pelan ia membantu Laura minum.


Arghhh...


Laura mengerang kesakitan sambil meraba wajahnya.


"Arghhh... essakit." desisnya.


"Sudah di kasih obat terbaik, pasti cepet sembuh." ucap Reyhan, tapi Laura masih enggan menanggapi. Ia justru melihat ke kanan dan kiri.


"Miss Laura cari apa?"


Laura tetap diam sambil berusaha meraih handphonenya. Reyhan tersenyum sambil mendekatkan handphone itu.


"Arghhh.... Muka ku." seru Laura. Ia langsung menangis sesenggukan.


Reyhan terkejut dan langsung mengusap dadanya sambil beristighfar.


"In shaa Allah bakal cepet sembuh kok. Miss Laura yang sabar ya." Reyhan berusaha menenangkan Laura. Dengan gerak refleks ia mengelus wajah Laura, sambil merapikan rambutnya.


Ceplek...


"Arghh, kok di pukul?" ucap Reyhan kaget, karena mendapat serangan mendadak dari Laura.


"Jangan cari kesempatan, sebentar lagi kamu mau menikah." ucap Laura sambil mengerucutkan bibirnya.


Reyhan tersenyum melihat Laura bertingkah seperti itu.


"Kenapa senyum senyum? Kamu suka lihat aku kena musibah!" ucap Laura dengan ketus.


"Kalau aku suka Miss Laura kena musibah, ngapain aku capek-capek gendong dan bawa ke rumah sakit."


"Ih... Kamu ngga ikhlas nolong aku." dengan gemas Laura mencubit tangan Reyhan yang sejak tadi menggenggam jemarinya.


"Ih, apaan sih, kok kdrt melulu sejak dulu."

__ADS_1


"Kamu pantas mendapatkan nya." dengan sebal Laura menjawab pertanyaan Reyhan.


"Iya. Dan Miss Laura pantas mendapatkan cinta ku." Reyhan tersenyum menatap Laura.


__ADS_2