Juragan Muda

Juragan Muda
238. Mainan baru


__ADS_3

Pagi itu, sepulang dari masjid, Bayu menggendong Zakira yang tengah rewel. Sementara Anisa menyusui Fatih, karena bayi kecil itu ikut menangis ketika, mendengar suara kakaknya menangis.


Setelah sekian menit berlalu, akhirnya kedua bayi itu berhenti menangis. Pasangan suami-istri itu bisa bernafas lega.


Setelah memastikan keduanya tidur dengan pulas, Bayu pamit ke belakang untuk mencuci baju keluarga kecilnya.


Keduanya memang kini masih berada di rumah orang tua Anisa. Meskipun begitu, Bayu terlihat sudah biasa. Menganggap rumah kedua orang tua Anisa selayaknya rumah sendiri.


Kedua orang tua Anisa sangat senang sekaligus bersyukur memiliki menantu seperti Bayu, yang terlihat humble dan apa adanya.


Matahari mulai menampakkan sinar kemerahan, ketika Bayu menjemur pakaian. Setiap hari jemurannya memang banyak, mengalahkan tukang loundry. Meskipun begitu, Bayu tetap senang menjalani semuanya.


Kilau sinar matahari yang menerobos masuk, melalui jendela, membuat bayi-bayi kecil itu mulai menggeliat bangun. Yang bertepatan dengan Anisa masuk kamar. Karena tadi ia sedang ke dapur untuk merebus air yang akan digunakan untuk keduanya mandi.


Anisa segera menghibur mereka sambil menunggu airnya hangat.


"Hai, anak abi sudah bangun lagi ya." sapa Bayu dengan senyum sumringah. Ia mendekati istri dan kedua bayinya.


Anisa mendongakkan kepalanya menatap suaminya, dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Wajah lelaki itu terlihat basah oleh tetesan keringat, dan bajunya juga basah oleh air cucian. Hal itu membuatnya semakin terlihat maskulin di mata Anisa.


"Eh, kenapa liatin aku seperti itu." tiba-tiba Bayu menoleh ke arah Anisa.


"Hem, pasti sedang memperhatikan wajah tampan ku ya." kekeh Bayu.


"Ih, kamu ngeselin. Kenapa pede banget sih?" Anisa yang gemas, mencubit paha suaminya.


Keduanya saling mencubit dan tertawa bersama, terlihat sangat bahagia.


"Ada apaan sih, kok kelihatannya seneng banget?" celetuk pak Gofur, yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.


Memang pintunya tadi tidak ditutup rapat oleh Bayu, karena ia berpikir sebentar lagi waktunya memandikan kedua bayinya.


Anisa dan Bayu pun saling beradu pandang, lalu serempak menjawab.


"Tidak ada apa-apa kok bi. Kita cuma becanda saja."

__ADS_1


"Hem, kalian ini, sudah besar, hobi sekali becanda." ucap pak Gofur sambil menggelengkan kepalanya.


"Sejak Anisa menikah denganmu, dia jadi ketularan hobi mu bercanda Bay. Tapi Abi juga senang sih, biar tetap awet muda." pak Gofur memuji menantunya.


"Nah, itu Abi tau." imbuh Bayu.


Mereka pun terkekeh bersama.


"Eh, ada apaan sih ini? Kok tertawanya kenceng banget. Sampai kedengaran dari dapur." celetuk umi Salwa sambil memasuki kamar Anisa.


"Ah, tidak apa-apa umi. Kami hanya becanda." balas Bayu.


"Abi, tadi kesini niatnya apa?" tanya umi Salwa pada suaminya.


Laki-laki itu pun seketika menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil meringis, karena menyadari kesalahannya.


"Maafkan Abi mi." ucap pak Gofur.


"Memangnya ada apa sih bi?" tanya Anisa yang heran.


"Umi minta tolong sama Abi, untuk memanggil kalian, karena air hangat untuk mandi bayi sudah siap. Eh, malah asyik bercanda disini."


"Mungkin, Abi sudah semakin tua. Makanya jadi pelupa. Itu tandanya, kalian harus segera punya anak banyak."


"APA!" seru Anisa dan Bayu bersamaan, sambil membulatkan matanya.


"Memangnya kita ternak kucing. Tiap waktu melahirkan. Enak saja." balas Anisa dengan bersungut-sungut kesal. Sehingga untuk yang kesekian kalinya mereka terkekeh.


"Ngga salah juga mau ternak kucing, biar rumah semakin ramai."


"Kalau mau ramai, panggil saja penyanyi dangdut, nanti juga rumah bakalan ramai bi. Tidak hanya rumah kita yang ramai, bahkan sampai seluruh kampung." imbuh Anisa lagi.


Mereka pun kembali tertawa.


Kebahagiaan hanya akan didapatkan bagi orang orang yang mau menerima takdir hidupnya dengan ikhlas.


Dan, kesedihan adalah bagi orang-orang yang tidak bisa menerima takdir hidupnya dengan kelapangan hati.

__ADS_1


Bagi sebagian orang yang tidak mengenal Anisa dan Bayu, akan menganggap mereka bukan pasangan yang serasi. Karena adanya beberapa perbedaan.


Namun bagi orang yang mengenal keduanya, akan menganggap bahwa keduanya memang pasangan yang serasi.


Mereka terlihat sangat kompak. Bayu sering membantu Anisa mengerjakan pekerjaannya, dan selalu mendukungnya mengerjakan hal-hal yang positif.


Bayu ingin memperlihatkan pada kedua anaknya, bahwa, umi mereka adalah seorang wanita yang hebat.


Tidak hanya sibuk meraih bekal dunia, tapi juga sibuk mencari bekal akhirat. Hidupnya dikorbankan tidak hanya untuk keluarganya, tapi juga orang-orang disekitarnya.


"Airnya keburu dingin, ayo kita ke belakang." ajak umi Salwa lagi.


Pak Gofur menggendong baby Fatah. Sedangkan istrinya menggendong Zakira. Keduanya berjalan beriringan. Terlihat keduanya asyik menggoda cucunya masing-masing.


Sementara, Bayu yang masih berada di kamar, tengah menyiapkan baju ganti untuk kedua anaknya. Ia meletakkan baju dan bedak di atas tempat tidur.


"Sayang, sebaiknya kamu mandi dulu deh." ucap Bayu, sambil melakukan aktifitasnya itu.


"Okay deh mas. Terima kasih ya, selalu membantuku." ucap Anisa sambil melingkarkan tangannya di pinggang Bayu.


Jantung lelaki itu seketika berdetak kencang. Ia pun membalikkan tubuhnya menghadap istrinya.


"Sayang, jangan pegang-pegang gitulah. Bisa kesetrum lho kamu." kekeh Bayu.


"Kesetrum? Kok bisa?" Anisa justru bertanya balik, ia memang belum paham dengan arah pembicaraan suaminya, yang serba penuh canda tawa dan hal konyol.


"Enggak ah, lupain aja. Kamu mandi duluan gih. Ntar habis itu aku. Biarin aja bayi kita dimandiin sama kakek dan neneknya. Keliatannya keduanya seneng banget, berasa dapat mainan baru gitu."


"Mas, memang abi dan umi ku anak kecil apa?" sungut Anisa. Setelah itu, ia pun bergegas keluar.


"Kalian itu ngapain aja sih dikamar? Sampai kita udah selesai mandiin bayi, kalian belum juga keluar." ucap umi Salwa yang sudah kembali lagi ke kamar sambil membawa bayi yang di bungkus menggunakan handuk. Disusul oleh pak Gofur.


"Kami baru menyiapkan baju ganti untuk baby kami umi." balas Anisa, lalu bergegas keluar.


Bayu pun segera memakaikan keduanya baju. Dan tak perlu waktu lama, tangan lincah Bayu telah mengubah penampilan kedua anaknya menjadi lebih tampan dan cantik.


"Pintar sekali kamu Bay. Baru juga sebentar, sudah rapi saja mereka. Kalau begitu, kami ajak main mereka. Dan kamu awasi para karyawan kita, yang sudah bekerja sejak tadi."

__ADS_1


"Hem, iya-iya bi."


Sepertinya benar apa yang dikatakan Bayu, mertuanya merasa mendapat mainan baru. Sehingga melupakan perkejaan yang menjadi tanggungjawab keduanya.


__ADS_2