Juragan Muda

Juragan Muda
123. Berkumpul dengan sahabat


__ADS_3

"Pak Gofur." sapa Reyhan yang baru saja pulang dari rumah Laura.


Pak Gofur dan Anisa menoleh mengenali asal suara. Hati Anisa langsung berdegup kencang kala kedua netra nya beradu pandang dengan Reyhan. Reyhan pun langsung menjabat tangan lelaki paruh baya itu.


"Nak Reyhan, dari mana?"


"Dari rumah pak Atmaja."


Anisa terkesiap ketika mendengar nama pak Atmaja di sebut. Tanpa sengaja Anisa melihat mobil yang terparkir di pinggir jalan. Bukan mobil yang selama ini sering di pakai oleh Reyhan ketika bepergian. Nomor plat nya pun menggunakan nomor khusus. L 4 URA. Jika sekilas di baca menjadi Laura.


'Mobil siapa yang di pakai mas Reyhan? Apa mobil milik Laura?' batin Anisa yang sangat penasaran.


"Oh ya, mari masuk." tawar Reyhan. namun Anisa justru masih mematung karena tidak mendengar. Akhirnya ia tersadar setelah di senggol abinya.


"Kamu lihat apa?" tanya pak Gofur pada anaknya itu, lalu pandangannya beralih ke pinggir jalan di mana mobil Laura terparkir.


"Kamu pengen punya mobil seperti itu?" tanya pak Gofur.


"Eh, eng_enggak kok bi."


Reyhan langsung merasa tak nyaman, karena Anisa terus memperhatikan mobil Laura. Akhirnya ia kembali mempersilakan masuk.


Tanpa di perintah, si kecil Bima berlari ke dapur segera membuatkan minuman untuk tamu kakaknya itu.


"Ada perlu apa pak Gofur kemari? Harusnya saya sebagai yang muda bersilaturahim ke rumah bapak."


"Kebetulan tadi habis nganter pesanan, jadi sekalian mampir. Iya betul itu, saya sudah lama menunggu kamu bersilaturahim ke tempat saya." ujar pak Gofur sambil terkekeh.


Walaupun hanya sekedar gurauan, sebenarnya ia juga mengharap kehadiran Reyhan di rumahnya.


"Silahkan di minum." kata Bima sambil meletakkan es sirup dan sepiring pisang coklat krispi di meja tamu.


"Terima kasih." Anisa menjawab dengan suara yang lembut. Jiwa keibuannya muncul ketika melihat anak kecil yang baik seperti Bima. Di sekolah ia memang biasa bersikap seperti itu pada seluruh murid nya.


Reyhan segera mempersilahkan tamunya untuk mencicipi hidangan. Setelah itu mereka terlibat percakapan yang cukup lama. Sesekali Anisa ikut bicara jika itu menyangkut tentang dirinya.


Saat mereka akan pulang, tiba-tiba muncul bu Rohmah yang sudah sampai teras. Ia baru pulang kerja.


"Assalamu'alaikum." ucapnya.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam." semua serentak menjawab salam.


Setelah menjawab salam, Reyhan mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. Anisa pun melakukan hal yang sama.


Bu Rohmah tersenyum hangat menyapa wanita bercadar yang ada di hadapannya saat ini. Walaupun hatinya juga sedikit heran dan bertanya-tanya, siapa dia sebenarnya.


"Siapa mereka Rey?" tanya bu Rohmah, ketika Anisa dan pak Gofur sudah pergi.


"Tak sengaja kami kenal bu."


"Apa perempuan itu anaknya?"


"Iya, seumuran ku."


"Apa mereka mengatakan hal yang serius padamu? Kenapa sampai mengajak anak perempuannya kesini?" bu Rohmah mencecar Reyhan dengan pertanyaan.


Entah mengapa firasat nya mengatakan tidak enak. Mungkin hatinya sudah terpikat dengan Laura. Jadi ia lebih sensitif ketika Reyhan bersama dengan wanita lain. Walaupun wanita itu lebih baik dari Laura.


"Ibu ini ngomong apa sih? Kebetulan mereka mampir kesini, sehabis mengantar pesanan di tempat pak Citro tetangga kita." ujar Reyhan sambil terkekeh.


Ibu pun bernafas lega mendengar penuturan Reyhan.


Sore itu Laura datang sendirian ke toko Anisa untuk mengantar oleh-oleh. Anisa sangat senang menerima pemberian Laura itu.


Mereka berdua memutuskan untuk ke rumah Rosyidah mengantar oleh-oleh. Dengan mengendarai mobil Laura, keduanya berangkat kesana.


Sesampainya di rumah Rosyidah, mereka di sambut hangat oleh kedua orang tuanya.


Ketiganya menghabiskan waktu di belakang rumah Rosyidah dengan bertukar cerita.


"Kemarin aku di ajak abi ku mengantar pesanan di dekat rumah mas Reyhan. Tapi aku tidak melihat kamu ada di rumah. Apa kamu belum pulang kuliah?" tanya Anisa pada Laura. Sengaja ia bertanya seperti itu untuk mencari info lebih banyak tentang hubungan keduanya.


Laura sedikit terkejut ketika Anisa bertanya seperti itu. Tapi ia segera tersenyum agar ia tidak curiga dengannya. Laura tahu, baik Rosyidah ataupun Anisa sangat menjaga hubungan antara lawan jenis. Ia pun tak ingin keduanya berburuk sangka padanya jika ternyata antara dirinya dan Reyhan tidak ada hubungan apapun juga.


" Sepertinya kamu sama seperti ku dulu Nis, mengira kalau Laura dan mas Reyhan itu kakak beradik kandung. Tapi ternyata bukan." sahut Rosyidah, lalu ia terkekeh. Laura pun ikut terkekeh dan mengiyakan perkataan Rosyidah.


Baik Rosyidah ataupun Anisa saling bertanya soal Reyhan pada Laura. Ia pun menjawab semampu yang ia bisa. Walaupun sebenarnya ia merasa kurang nyaman. Ia tak ingin menyakiti hati kedua temannya itu.


Laura tak tahu gimana akhirnya, jika tidak memiliki teman sebaik Rosyidah dan Anisa. Mungkin seumur hidupnya ia bagai burung dalam sangkar emas.

__ADS_1


Hari kian beranjak sore, Anisa segera mengajak Laura pulang.


"Sampai bertemu besok di rumah mu ya La." ucap Rosyidah sambil melambaikan tangan saat mobil Laura bergerak hendak pulang.


"Iya aku tunggu Ros." balas Laura sambil melambaikan tangannya juga.


"Memang ada acara apa di rumah kamu La?" tanya Anisa ketika mobil sudah memasuki jalan raya.


"Eh kamu lupa ya, dulu kan Rosyidah pernah cerita kalau dia ngajarin keluarga ku belajar ngaji."


"Astaghfirullah." Anisa menepuk jidatnya karena lupa.


"Kapan kapan aku boleh dong main ke rumah mu." imbuhnya lagi.


"Tentu boleh dong Nis, besok saja sekalian bareng sama Rosyidah."


"Sip." Anisa mengacungkan 2 jempolnya.


"Sampai ketemu besok ya kalau gitu." ucap Laura kala Anisa turun dari mobil.


"In shaa Allah La. Kamu hati-hati di jalan ya." seru Anisa sambil melambaikan tangan juga. Laura pun mengangguk sambil tersenyum lalu mulai melajukan kembali mobilnya.


"Aku heran sama mereka, kenapa selalu bertanya soal Reyhan? Apa mereka suka sama Reyhan? Kalau iya, dan Reyhan tahu, siapa ya kira-kira yang akan di pilih? Keduanya kan sama baiknya. Aku aja yang perempuan bingung mau milih siapa."


Sore berikutnya, Anisa dan Rosyidah benar-benar datang ke rumah Laura untuk mengisi majelis.


"Maa syaa Allah, besar sekali." Anisa berdecak kagum ketika melihat rumah megah Laura.


"Ih, kamu sama seperti aku dulu Nis. Waktu pertama kali datang kesini juga kaget. Ini rumah apa istana. Gedenya sama dengan pondok pesantren abi." Dengan terkekeh Rosyidah mengingat waktu itu.


Ting tong....


Setelah menekan bel beberapa kali akhirnya pintunya terbuka.


Bibi terkejut ketika melihat 2 orang wanita bercadar yang ada di hadapannya saat ini.


"Bibi, ini Rosyidah. Jangan kaget." ucap Rosyidah sambil menahan tawa. Ia tahu bibi itu pasti terkejut karena melihat kedatangannya bersama Anisa yang juga sama-sama mengenakan cadar.


"Oh, ustadzah Rosyidah. Bibi kira siapa." ucap bibi bernafas lega.

__ADS_1


__ADS_2