
"Tahu ngga? Aku semakin iri dengan takdir yang menyatukan kalian hingga bisa tinggal serumah." ucap Rosyidah dengan sendu.
"Hey, jangan mayun gitu. Buruan cari calon suami terus bikin rumah di dekat rumah ibu. Jadi kita bisa setiap hari kumpul bareng." Anisa menowel dagu Rosyidah. Laura pun mengangguk setuju dengan saran Anisa.
"Ah, kamu bikin aku galau Nis. Hilalnya saja belum terlihat jelas." kekeh Rosyidah.
"Anisa ngga pakai hilal, langsung datang tuh jodohnya." imbuh Laura, yang membuat ketiganya kembali terkekeh.
Mereka terus saja beradu mulut, meluapkan kebahagiaan karena bisa berkumpul lagi. Hingga akhirnya umi Sofiah datang menghampiri mereka. Laura dan Anisa segera mencium tangan umi Sofiah dengan takzim.
"Ya Allah, siapa yang ngidam ini? Bikin lotis sebanyak itu."
Ketiganya saling melempar pandang, bingung dengan maksud ucapan umi Sofiah.
"Lhoh, kok malah diam saja?" umi Sofiah kini ikut duduk di tikar yang sama.
"Ngga ada umi, tapi ini permintaan Anisa." tutur Rosyidah.
"Kamu hamil Nis?" umi Sofiah langsung menodongnya dengan pertanyaan hingga membuat Anisa terkesiap. Semua kini menatap ke arahnya.
"Memang tanda tanda kehamilan apa saja umi?" bukannya menjawab Anisa justru melempar pertanyaan pada uminya Rosyidah. Sehingga membuat nya terkekeh.
"Ya ampun Anisa, masa kamu ngga tahu. Biasanya orang hamil itu ngga haid, suka makan makanan yang masam, perilakunya juga berbeda dari biasanya. Banyak lagi tanda tanda seseorang itu hamil. Yang jelas, setiap orang beda-beda pembawaan nya. Kalau kamu masih ragu, sebaiknya beli test pack saja."
"Iya umi." ucap Anisa penuh semangat sambil mengangguk.
Laura mencerna setiap perkataan umi Sofiah tadi, hingga hatinya mulai menyimpulkan jika ada kemungkinan besar Anisa hamil.
Setelah berkata seperti itu, umi Sofiah berpamitan pergi.
"Hei, kok pada diam sih?" tegur Rosyidah.
"Eh Nis, kalau kamu beneran hamil, pasti rumah mertua semakin tambah ramai." imbuh Rosyidah lagi.
"Iya. Aku jadi ngga sabar mau beli test pack. La, nanti kita mampir ke apotik ya."
Laura mengangguk menyetujui permintaan Anisa. Dalam hatinya berpikir, apakah ia juga akan hamil secepat itu. Jika iya, pasti suaminya akan tambah bahagia.
Anisa kembali menikmati lotis itu, sedangkan Laura tak menyentuhnya sama sekali. Ketiganya kembali melanjutkan cerita mereka sampai siang menjelang.
Setelah puas melepas rindu, keduanya segera berpamitan pulang.
Sesuai permintaan Anisa, mobil berbelok ke pelataran apotik. Bergegas Anisa turun dari mobil dan tak lama kemudian kembali membawa beberapa test pack.
__ADS_1
"Lhoh, kok cuma beli 2 Nis?"
"Sepertinya cukup La. Mendengar penjelasan umi Sofiah tadi, membuat hati ku semakin yakin kalau aku memang lagi hamil." ucap Anisa yang tersenyum di balik cadarnya, sambil memegang perutnya yang datar.
"Hem, semoga benar ya Nis." setelah berkata seperti itu, Laura segera melajukan kembali mobilnya.
Sesampainya di rumah, Anisa segera berlari ke kamar mandi, dan tak lama berselang, ia keluar dengan senyum mengembang. Ia berlari kecil ke kamar Laura.
Tok...Tok...Tok
Dengan tak sabar, Anisa terus menggedor pintu kamar Laura.
Laura yang baru saja selesai menunaikan sholat bergegas membuka pintu dan melongokkan kepalanya. Sampai ia belum melepas mukenanya.
"Ada apa sih Nis?" Laura menghela nafas kasar.
Tak lama berselang matanya membelalak melihat benda pipih yang di sodorkan Anisa tepat di depan matanya.
"Apa artinya ini Nis?" tanya Laura dengan polosnya, karena tak pernah melihat benda seperti itu.
"Aku hamil La." seru Anisa dengan girangnya, hingga ia memeluk Laura dengan erat.
Laura pun ikut senang dengan kabar itu.
Anisa mengangguk sambil tersenyum. Tak henti hentinya ia mengucapkan kalimat syukur.
"Pantas saja Nis, sikap mu akhir akhir ini berbeda sekali."
Akhirnya Laura pun menceritakan segala keganjalan yang ia rasakan selama ini ketika tinggal serumah dengan Anisa. Akhirnya terjawab sudah segala tanda tanya di benaknya.
"La, jangan kamu ceritakan sama siapa pun ya soal kehamilan ku. Karena aku mau beri kejutan untuk seisi rumah ini, terutama mas Bayu." pinta Anisa. Laura langsung mengangguk sambil tersenyum.
Malam itu, semuanya tengah berkumpul di depan tv untuk menikmati makan malam bersama.
"Mas, aku mau beri sesuatu untuk mu." kata Anisa sambil merogoh saku bajunya.
"Wah, dapat kejutan apa dari istri cantik ku." kekeh Bayu, yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Semua menatap ke arah Anisa dengan penuh rasa penasaran, kecuali Laura.
"Apa ini? Kecil sekali?" celetuk Bayu ketika menerima benda pipih dari Anisa.
"Itu kan test pack Bay." kata ibunya yang tentu saja lebih paham.
__ADS_1
Degup jantung Bayu seketika berdetak kencang kala mendengar ibunya berkata seperti itu.
"Sayang, ini apa artinya?" tanya Bayu dengan suara bergetar.
"Aku hamil mas." ucap Anisa dengan mata yang berbinar.
Bayu langsung memeluk Anisa dan mengucapkan syukur berulang kali. Tak sadar jika tengah menjadi tontonan keluarganya.
Mereka bersyukur mendengar kabar bahagia itu. Apalagi bu Rohmah yang memang menginginkan kehadiran seorang cucu, tentu saja sangat bahagia ketika mendengar kabar baik itu.
Laura tersenyum melihat sahabat sekaligus iparnya itu bahagia. Begitu juga dengan Reyhan. Ia tampak bahagia dan sekaligus berdoa dalam hati, agar secepatnya juga di beri momongan.
"Hore, aku bakalan punya adik." seru Bima.
"Iya Bim. Ingat ya jangan di nakalin." kata Bayu. Bima pun mengacungkan jempolnya.
"Tinggal menunggu adik dari kak Reyhan. Pasti bakal tambah ramai kalau adiknya bisa keluar bareng." celoteh Bima. Yang membuat seisi ruangan itu terkekeh.
Dalam hati, semua orang membenarkan ucapan Bima. Pasti akan bertambah seru jika bayi mereka bisa lahir bersamaan. Tapi, sekarang, Laura belum menunjukkan tanda-tanda jika dirinya hamil.
Setelah puas meluapkan kebahagiaan, mereka memulai makan malam.
Malam kian merangkak, mereka mulai memasuki kamar masing-masing.
Kini Laura tengah memijit pelan lengan suaminya, yang sedang tiduran di pangkuan nya.
"Mas, kamu pengen cepat punya anak ngga?"
"Kenapa Miss Laura bertanya seperti itu?"
"Lihat Anisa hamil, aku juga pengen cepet-cepet hamil. Semakin banyak orang di rumah ini, pasti semakin ramai dan seru. Seperti kata Bima tadi." kekeh Laura.
"Katanya dulu ngga mau punya anak selusin." goda Reyhan, mengingat ketika Laura membuka surat dari salah satu temannya yang mendoakan agar di beri anak selusin.
"Aku berubah pikiran mas." Laura terkekeh lagi.
"Anak itu kan anugerah, mau di kasih kapan saja, berapa pun jumlahnya, harus di terima. Yang penting kita kan sudah usaha." ujar Reyhan dengan penuh pengertian.
Sebenarnya ia juga ingin secepatnya memiliki anak. Tapi, mengingat usia pernikahan nya yang baru berjalan sebulan, membuatnya harus bersabar dulu.
"Iya iya mas, aku akan terus berdoa supaya kita bisa segera di karuniai anak." ucap Laura sambil tersenyum manis.
"Ya sudah, malam ini kita usaha lagi." goda Reyhan sambil bangkit dari tidurnya dan menatap Laura. Yang membuat ia tersipu malu dan akhirnya mengangguk.
__ADS_1