Juragan Muda

Juragan Muda
82. Makan malam


__ADS_3

Tak urung Reyhan berdiri mendekati pelayan menyampaikan menu tambahan untuk keluarga pak Atmaja.


"Kompak sekali kalian, minum dan menu makanannya bisa sama." ujar pak Atmaja sambil tertawa kecil melihat ke arah Reyhan dan Laura. Ketika menu tambahan sudah dihidangkan.


"Biar Miss Laura ngga ngelirik makanan saya pak." Reyhan sengaja bergurau.


"Memangnya aku anak kecil yang suka iri dengan milik orang lain." balas Laura tak mau kalah. Seketika tangan kirinya yang berada dibawah mencubit paha Reyhan. Yang membuat Reyhan langsung memekik terkejut, pahanya bagai disengat tawon.


"Kenapa Rey?" semua menatap ke arahnya.


"Oh, ngga apa apa, cuma digigit semut." jawab Reyhan sedikit meringis karena menahan sakit, tapi pandangannya sekilas melirik Laura. Kedua orang tua mereka tersenyum lalu kembali menikmati makanan.


"Sudah lama kita tidak bertemu, aku kira Miss Laura sudah berubah, taunya masih sama seperti yang dulu, suka kdrt." bisik Reyhan.


"Siapa suruh bermain main denganku."


Sambil menikmati makanan kedua orang tua itu mulai mengajak bercerita tentang banyak hal. Bima yang paling kecil paling asyik berceloteh dan selalu menjawab dengan antusias setiap pertanyaan dari orang tua Laura.


Semenjak berkenalan dengan Reyhan, pak Atmaja banyak berubah. Lebih humble terhadap semua orang disekitarnya. Dan itu adalah anugrah terbesar baginya. Seorang Reyhan dari keluarga biasa yang mampu merubah seorang pak Atmaja yang berasal dari golongan orang kaya. Yang showroom mobilnya tersebar di beberapa kota.


"Oh ya, kata Laura kemarin, kamu mau umrah ya nak Rey?" tanya bu Ani disela-sela aktivitas makannya.


"Sudah bu, 2 minggu yang lalu."


"Hebat ya kamu, masih muda tapi sudah umrah." puji bu Ani, pak Atmaja pun mengangguk setuju.


"Mama pengen?" pak Atmaja menoleh ke arah istrinya.


"Ya maulah pa." semua orang pun langsung tergelak dengan ucapan polos bu Ani.


"Kapan kapan kita agendakan umrah bareng keluarga Reyhan, mau?"


"APA!"


Semua orang menatap pak Atmaja dengan heran.


"Bwahaha....."


Tawa pak Atmaja seketika langsung meledak melihat semua orang menatapnya dengan wajah yang kebingungan.

__ADS_1


"Tenang, semua biar jadi urusan papa. Tinggal kita atur kapan berangkatnya. Bima, kamu mau ikut umrah juga kan?" pak Atmaja tersenyum sambil mengangkat satu alisnya. Bima pun tambah speechless sampai mulutnya terbuka lebar.


"Bap_bapak serius?" tanya Bima untuk memastikan pendengaran nya tak bermasalah.


"Pak Atmaja tak pernah ingkar janji." jawab pak Atmaja santai sambil menyuap makanannya lagi.


"Ap_apa maksud pak Atmaja?" bu Rohmah memberanikan diri untuk bertanya.


"Bu, saya ingin mengajak keluarga ibu untuk berangkat umrah bareng dengan keluarga saya. Semua administrasi nya akan saya urus. Jelas?"


Semua orang pun kembali menatap pak Atmaja. Bima langsung bersorak kegirangan mendapat tawaran gratis itu.


"Tapi pak, kita kan ngga ada hubungan saudara. Jadi saya merasa ngga enak dengan penawaran bapak yang sangat luar biasa itu. Biar saya saja yang mengurusi keluarga saya, karena itu memang tanggungjawab saya sebagai anak sulung." ucap Reyhan yang membuat pak Atmaja dan bu Ani semakin terkesima.


"Bukankah rezeki itu tidak boleh ditolak? Dan jika Allah berkehendak menjadikan hubungan kita lebih dari sekedar saudara, apa kamu tetap mau menolaknya? Dari dulu sudah pernah saya jelaskan, bahwa kamu harus memanggil saya dengan kata papa, bukan bapak. Dan kamu tidak bisa menolak hal itu." balas pak Atmaja yang membuat Reyhan terdiam.


"Maksud papa apa?" akhirnya Laura bersuara melihat tingkah konyol papanya.


"Ah, itu urusan orang tua. Iya kan ma, bu Rohmah?" pak Atmaja menaikkan satu alisnya seakan memberi kode.


Bu Rohmah menyunggingkan senyum walau belum jelas apa yang dikatakan pak Atmaja, tapi enggan untuk bertanya. Sedangkan bu Ani justru malah menyunggingkan senyum bahagia karena bisa berada ditengah-tengah keluarga Reyhan.


Entah kenapa hatinya semakin tak senang ketika melihat keluarga pak Atmaja yang sangat menyanjung Reyhan. Apalagi mereka seakan menganggap Reyhan anak sendiri dengan menyuruhnya memanggil papa dan mama. Padahal mereka hanya dipertemukan dengan cara kebetulan saja dan sejak dulu tak pernah ada hubungan darah.


Diam diam Bayu juga memperhatikan Laura yang sejak tadi entah mengapa terlihat sangat dekat dengan Reyhan. Walaupun Laura selalu ketus dalam bicara, tapi Bayu bisa melihat cemistry antara Laura dan Reyhan.


Semakin lama Bayu menatap Laura semakin tak sadar jika dirinya membandingkan kecantikan Tiwi yang tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Laura.


Dan lagi lagi, dia tak siap jika harus bersaing dengan kakaknya untuk merebut perhatian pak Atmaja sekeluarga. Keadaannya sungguh sangat jauh berbeda. Bayu yang sedang dalam fase merintis usaha dan Reyhan yang seakan sudah menggenggam dunia ditangannya.


Pasti dengan segala yang sudah dimiliki Reyhan akan lebih mudah mendekati orang orang level atas pikir Bayu.


'Kenapa kak Reyhan bisa seberuntung ini? Kenapa bukan aku yang mendapatkan keberuntungan ini? Bukankah sudah jelas kalau kak Reyhan sejak dulu selalu dibawah ku, kalah saing dengan aku?' lagi lagi pikiran buruk melintas dibenak Bayu.


Bayu pun sengaja tak menghabiskan makanannya yang sudah terasa hambar sejak tadi karena melihat tingkah aneh orang disekelilingnya.


"Mau kemana Bay?" tanya bu Rohmah ketika melihat Bayu bangkit berdiri dan tidak menghabiskan makanannya.


"Mau ke toilet sebentar bu."

__ADS_1


"Oh ya sudah, nanti habis itu makanannya dihabiskan lagi." kata bu Rohmah mengingatkan, dan Bayu hanya mengangguk saja.


Bayu segera berjalan meninggalkan mereka yang tengah asyik bercengkrama, menuju ke toilet. Dia segera membasuh mukanya untuk menghilangkan rasa suntuknya.


Setelah selesai cuci muka Bayu memilih tak kembali ke gazebo dan justru berjalan berkeliling restoran untuk mencari udara segar. Karena dadanya sesak oleh segala pencapaian Reyhan.


Bruk....


Tak sengaja Bayu menabrak seorang wanita.


"Arghhh......"


Wanita itu langsung memekik. Ia meringis menahan p*ntatnya yang kesakitan.


"Ma_maaf." ucap Bayu spontan.


"Lihat lihat jalan dong mas, jangan asal nyelonong aja." seru wanita itu lagi.


"Iya, sekali lagi, aku minta maaf ya mbak." wanita itu akhirnya mengangguk. Lalu Bayu mengulurkan tangan hendak membantu wanita itu berdiri.


"Terimakasih." ucap wanita itu ketika sudah berhasil berdiri, walaupun p*ntatnya masih terasa sedikit sakit karena terjauh di jalan setapak yang penuh dengan kerikil yang tersusun rapi.


"Em, mau aku anter ketempat duduknya?" tawar Bayu.


"Aku mau pesan makanan untuk dibawa pulang. Kalau pesan lewat aplikasi kelamaan nunggu."


"Mau pesan apa memangnya? Biar aku saja yang pesankan, kamu tunggu di...... kursi itu." Bayu menunjuk sebuah kursi yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Apa tidak merepotkan mu?" tanya wanita itu sambil menatap Bayu.


"Tentu tidak, bahkan sebagai permintaan maaf ku, aku mau membayar pesanan mu." Bayu menjawab dengan senyum. Sekian menit wanita itu berpikir dan akhirnya mengangguk setuju. Lalu ia memesan 4 paket ayam katsu dan 1 box soufle.


"Okay, kamu tunggu sebentar disini ya." setelah berkata demikian Bayu langsung pergi menuju pelayan.


"Hemm.... Lumayan royal juga dia." gumam wanita itu sambil menyunggingkan senyum.


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak setelah membaca ya😘😘


Hai kak, sambil nunggu author update bab selanjutnya, mari mampir dikarya temen author yang Joss gandosss 😉😉

__ADS_1



__ADS_2