Juragan Muda

Juragan Muda
220. Saling menyuapi


__ADS_3

"Aku ingin menyuntik mu lagi."


"Ah, jangan sekarang mas. Aku malu sama keluarga mu."


"Ngga usah malu. Kamar mandi ada di dalam kamar ini. Kita bisa melakukan sepuasnya, tanpa malu diketahui oleh yang lain kalau kita habis mandi besar."


Dengan cepat Adam membuka jilbab dan segala accesoris yang melilit.


Setelah makan malam, Tiwi tidak diijinkan untuk membantu membereskan dapur. Ia di suruh masuk ke kamar oleh ibu mertuanya.


"Kamu susul Adam saja ke kamar, dia pasti sudah menunggu mu untuk proses bikin cucu buat mama."


"Ha..." Tiwi menganga dengan ucapan mamanya Adam. Dia sangat heran, kenapa selalu saja hal itu yang di bahas. Seperti tidak ada pembahasan lainnya. Ia pun mengangguk lalu berjalan gontai menuju kamar Adam.


Sesampainya di kamar, Adam sudah menunggunya di tempat tidur.


"Kenapa lama sekali di bawah sayang?"


"Aku mau bantuin mama beresin meja tapi malah di larang."


"Mama ku kan pernah muda. Jadi dia tahu apa yang harus dilakukan oleh setiap pasangan pengantin baru. Ayo kita main suntik suntikan lagi." Adam menaikkan satu alisnya sambil menyunggingkan senyum.


"Apa!" Tiwi terkejut mendengarnya.


Selama seminggu ini Adam selalu saja mengajaknya seperti itu, tadi siang pun juga sudah. Dan sekarang ia justru kembali mengajaknya.


'Anak sama mamanya kok sama saja sih, itu melulu yang di bahas.' batin Tiwi. Belum hilang rasa terkejutnya Adam sudah mendekati dan tangannya mulai bergerak tak tentu arah.


____


Hari hari yang berlalu dengan begitu indah, di lewati oleh mereka pasangan suami-istri muda. Para suami semakin giat mencari nafkah, karena kewajiban mereka pun juga semakin bertambah.


Reyhan tetap dengan pekerjaannya, mengurus counter dan showroom. Bayu mengurus 2 counter nya, di tambah membantu mengelola usaha pabrik tahu dan tempe milik mertuanya. Adam tetap menjadi dokter di sebuah Rumah sakit. Sedangkan Andre, sebelum memutuskan resign dari pekerjaannya, mengikuti jejak sahabatnya, yaitu membuka counter di dekat pabrik tempat kerjanya.


"Doakan ya sayang, semoga usaha ku ini berhasil." ucap Andre pada suatu malam. Ia memegang erat tangan Rosyidah.


"In shaa Allah, aku akan selalu mendoakan mu mas." Rosyidah tersenyum hangat untuk memberi dukungan.


Percakapan singkat itu mereka akhiri dengan membuat dedek sebelum tidur. Hal yang sangat umum bagi pasangan pengantin baru. Memanfaatkan waktu luang semaksimal mungkin.

__ADS_1


Pada pagi harinya, pasangan suami-istri itu, setelah selesai sarapan, pergi ke rumah Reyhan. Tentunya harus membuat janji terlebih dahulu, mengingat Reyhan benar-benar sangat sibuk. Dan untung saja karena hari itu adalah hari Minggu, Reyhan cukup santai di rumah.


Reyhan dengan di bantu Laura menyiapkan barang barang pesanan Andre. Tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah.


"Assalamu'alaikum." salam tamu itu.


"Wa'alaikumussalam." balas Reyhan dan karyawannya kompak.


"Tunggu sebentar ya, baru aku siapkan pesanan mu." ucap Reyhan ketika mengetahui Andre dan Rosyidah yang datang.


"Iya, tenang saja." Ucap Andre sambil memperhatikan design counter. Rosyidah pun juga melakukan hal yang sama.


Setelah selesai menyiapkan, Reyhan mengangkat barang-barang itu menuju mobil Andre. Sedangkan Laura masuk ke rumah untuk menyiapkan hidangan.


Setelah semua selesai, para suami bercakap-cakap di teras sambil menyiapkan hidangan yang sudah disiapkan.


Sedangkan para istri bercakap-cakap di dalam rumah. Sengaja mereka melakukan hal itu, karena pembahasan yang berbeda.


Anisa dan Bayu yang baru saja pulang dari sebuah tempat terapi bayi ikut bercakap-cakap dengan mereka. Sehingga terasa lebih seru dan lucu. Ada saja hal yang membuat mereka terkekeh.


Entah bagaimana ceritanya, sehingga Reyhan memiliki sebuah rencana, yaitu camping. Tak perlu banyak kata, semua setuju dengan usul itu.


Setelah percakapan sore itu selesai. Para suami memberitahu tentang ide camping.


"Iya, mau ngga? Ini gunung umum yang bakal kita pakai untuk camping."


Laura mengangguk antusias. Karena ia belum pernah camping.


"Kok ada gunung umum, memang ada gunung khusus juga ya?"


"Ada." balas Reyhan sambil mengerling nakal.


_____


Di kamar samping, Bayu juga tengah membicarakan perihal camping pada Anisa.


"Ya Allah, camping mas? Bagaimana itu rasanya? Seumur hidup aku belum pernah camping."


Bayu terkekeh mendengar ungkapan hati istrinya.

__ADS_1


"Makanya besok kita ikut camping ya."


"Zakira gimana?"


"Tenang ada ibu kan." balas Bayu santai.


Anisa pun mengangguk setuju.


_____


"Apa! Kita mau camping mas?" Rosyidah sampai terkejut. Andre mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu ngga suka ya."


"Aku senang sekali mas, karena belum pernah camping. Makanya aku terkejut sekali waktu kamu mengajakku."


Andre banyak bercerita soal camping yang sering ia lakukan bersama teman-temannya dulu sewaktu masih jaman sekolah.


"Anak laki-laki kan beda sama perempuan mas. Yang sedikit diberi kelonggaran daripada anak perempuan." celetuk Rosyidah ketika suaminya sudah selesai bicara.


"Semua sudah dengan porsinya masing-masing sayang. Abi juga melakukan itu semua demi kebaikan kamu. Setelah menikah kita bisa menikmati camping berdua jika kamu menginginkannya. Atau kamu ingin kemana, in shaa Allah aku akan berusaha untuk menemani nya.


Percakapan itu terhenti, ketika mobil mulai berhenti di counter depan pabrik Andre. Keduanya segera turun dari mobil. Rosyidah mendorong pelan rolling door, sedangkan Andre mengangkat satu persatu kardus, dan memasukkan ke dalam.


Mereka berdua bekerja sama membersihkan dan mendisplay ruangan dengan sedemikian rapi dan indah. Hingga suara ketukan pintu terdengar, bergegas Andre segera menuju ke arah pintu. Setelah membayar pesanannya, ia kembali mengunci pintunya.


"Ayo sayang, kita makan dulu." ucap Andre sambil membuka box makanan.


"Lhoh, ada 3 boxnya?"


"Sengaja aku beli lebih, agar kamu kenyang dan cepat tumbuh besar." kekeh Andre.


"Ya Allah, kamu ada-ada saja mas." tawa Rosyidah.


Setelah mencuci tangan, keduanya segera melahap makanan. Andre menyodorkan tangannya ingin menyuapi Rosyidah. Wanita itu membalas dengan senyuman sebelum membuka mulutnya. Ia sangat terharu dengan perhatian dari suaminya, sehingga ia pun juga menyodorkan tangannya menyuapi Andre.


"Maaf ya sayang, kamu ikut capek-capek seperti ini."


"Dari dulu aku memang menyukai banyak kegiatan. Apalagi kegiatan yang positif. Sejujurnya aku lebih suka mas mendirikan usaha kecil-kecilan daripada ikut orang bekerja di pabrik. Seberapa besar gaji seseorang, ia tetaplah karyawan. Sedangkan seberapa kecil hasil usaha sendiri, ia tetaplah seorang bos, yang bisa membagi waktunya sendiri. Rasulullah saja pekerjaan nya juga berdagang kok. Jadi aku semakin mendukung dan ridho dengan usaha mas. Semoga usahanya berkembang pesat."

__ADS_1


"Aamiin ya rabbal aalamiin terimakasih. Terima kasih sayang."


Setelah percakapan singkat itu, keduanya kembali bekerja.


__ADS_2