Juragan Muda

Juragan Muda
143. Sebuah mahar


__ADS_3

Setelah ijab qobul selesai, kedua mempelai di persilahkan duduk di pelaminan. Di ikuti oleh kedua orang tua mereka. Musik pun kembali mengalun merdu.


Sejak acara ijab qobul selesai, sampai duduk di pelaminan, Reyhan tak melepaskan genggaman tangannya. Bahkan justru mengeratkan nya.


Pembawa acara pun kembali membacakan susunan acara berikutnya. Hingga tiba waktunya berfoto. Kedua mempelai itu masih tampak canggung. Hingga fotografer berulang kali memberikan pengarahan.


"Ayo bos yang mesra, kayak di pantai itu!" seru Aldo yang duduk di deretan depan sambil bertepuk tangan. Teman temannya pun mengikutinya untuk menyemangati bos nya. Agar bisa bergaya lebih natural.


"Dia karyawan ku yang paling rewel, bikin malu aku saja." bisik Reyhan yang membuat Laura menyunggingkan senyumnya.


Keduanya pun kembali bergaya sesuai arahan fotografer. Setelah beberapa gaya, mereka terlihat mulai lihai dan lebih natural. Senyum keduanya terus mengembang melewati rangkaian acara.


Semua tampak berbahagia dengan pernikahan itu. Reyhan sengaja meliburkan counternya agar karyawan nya juga bisa menghadiri acara pernikahan nya di rumah istrinya. Sejak tadi, mereka mengabadikan momen indah bos nya itu.


Teman teman Laura pun sama. Mereka mengabadikan momen indah itu dengan kamera ponsel dan menguploadnya di berbagai media sosial.


"Hai Miss Laura, kesayangan madam." Seru madam Su ketika hendak berfoto. Keduanya yang sudah lama tidak bertemu langsung berpelukan sambil cipika-cipiki. Reyhan yang melihat hal itu segera berdehem, karena ada laki-laki yang main nyosor dengan istrinya.


Ehem...


Laura dan madam Su, yang mendengar segera mengurai pelukan dan melihat ke arahnya.


"Oh, kamu minta di peluk juga ya mas Reyhan ganteng." dengan gaya genitnya, madam Su segera memeluk Reyhan dan tak lupa juga bercipika cipiki. Reyhan menggelinjang geli mendapat perlakuan seperti itu. Sedangkan Laura justru terkekeh.


"Tuh kan, apa aku bilang. Pasti kalian bakalan menikah. Eh, ternyata benar." ceplos madam Su.


Setelah puas berfoto ria, madam Su segera pamit, karena masih ada urusan di salonnya.


"Madam doain nih, semoga cepat dapat momongan yang ganteng kayak papa nya, dan cantik seperti mamanya." ucap madam Su sambil menowel dagu Reyhan dan Laura bergiliran.


"Aamiin, terima kasih madam." ucap Laura sambil memeluk madam.


"Kenapa pelukan sama makhluk jadi-jadian?" bisik Reyhan.


"Madam Su, teman baik ku Reyhan. Dia itu lebih baik dari pada Choki. Jangan cemburu ya." bisik Laura sambil terkekeh.


Setelah itu, giliran Rosyidah yang memberi ucapan selamat kepada mempelai.

__ADS_1


"Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah ya La."


"Terima kasih Ros. Semoga kamu juga cepat nyusul aku ya."


"Aamiin."


Setelah itu, ketiganya berfoto dulu.


Ternyata, tidak semua orang merasa bahagia dengan pernikahan itu.


Sejak tadi, Mira yang hadir terus saja mengerucutkan bibirnya.


Walaupun Laura tak mendapat mas kawin berupa uang yang nilainya fantastis, ternyata keromantisan dan perhatian yang di tunjukkan oleh Reyhan mampu menghipnotis seluruh teman-teman nya. Sehingga mereka berdecak kagum dan memimpikan bisa memiliki pacar seperti Reyhan.


Lagi-lagi ia merasa kalah dengan Laura dan membuatnya semakin iri.


"Sayang, besok kalau kita nikah, aku mau semuanya seperti Laura. Dekorasi yang mewah bak di negeri dongeng. Terus kamu juga harus memberi ku mahar bacaan surat seperti Laura itu." rengek Mira pada Choki.


Seketika Choki membulatkan mata. Terus terang saja, ia merasa begitu kesulitan menuruti permintaan Mira. Uang saja tak punya, bagaimana harus membuat pesta yang mewah seperti itu. Belum lagi, ia tak hafal satu ayat pun dalam Al Qur'an. Sehingga ia hanya bisa meringis menanggapi ucapan Mira.


"Jangan cuma senyum saja, kamu harus janji. Kita kan sudah sering kali melakukannya. Kalau aku sampai hamil, kamu harus bertanggung jawab dan segera mengadakan pesta yang mewah."


"I_iya sayang." jawabnya dengan terbata-bata.


Di deretan kursi lainnya, Anisa tampak takjub sekaligus tak percaya dengan mahar yang di berikan oleh Reyhan. Tak di pungkiri, ada sejumput rasa iri yang tersirat. Karena ia tak merasakan hal itu. Bayu yang menoleh ke arah Anisa dan melihat ada yang berbeda dengannya, langsung menggenggam tangannya erat.


"Maafkan aku yang belum bisa memperlakukan mu dengan istimewa, seperti kak Reyhan memperlakukan Laura. Tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu selalu bahagia berada di samping ku." setelah berkata seperti itu, Bayu mengecup tangan istrinya dan menggenggam nya erat.


Anisa langsung tersadar dari lamunannya, ia segera beristighfar. Tak seharusnya ia merasa iri dengan apa yang di miliki oleh orang lain. Justru harus mensyukuri apa yang sudah di miliki. Ia pun tersenyum di balik cadarnya sambil menatap Bayu.


"Ngga perlu minta maaf mas, kamu ngga salah kok." Anisa mengeratkan genggaman nya.


Rosyidah dan keluarganya juga tampak hadir dalam acara itu. Ia begitu terpana dengan penampilan kedua mempelai, tampak cantik dan gagah. Ia merasa terharu dengan pernikahan sahabat nya itu. Hingga akhirnya ia menitikkan air mata. Walau tak di pungkiri, hatinya juga sangat ingin di perlakukan oleh Reyhan seperti itu. Tapi apa daya, karena Reyhan bukan jodohnya.


"Suatu saat pasti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Reyhan." umi Sofiah menggenggam tangan anaknya untuk memberi kekuatan. Rosyidah mengangguk sambil tersenyum, tak ingin memperlihatkan kesedihan yang sedang ia rasakan.


Setelah berkata seperti itu, umi Sofiah berdiri mengajak Rosyidah untuk mengambil makanan yang sudah tersaji. Rosyidah pun segera mengikuti ajakan umi nya sambil membersihkan air matanya. Karena pandangannya belum terlalu jelas sehabis menangis, ia tak sengaja menabrak laki-laki yang membawa sepiring penuh makanan.

__ADS_1


Bruk....


Makanan yang di bawa lelaki itu pun tumpah, mengenai jilbab bagian depan Rosyidah. Keduanya saling menatap.


"Maafkan aku tak sengaja." Rosyidah terlebih dahulu meminta maaf sambil membersihkan jilbabnya.


"Oh, tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena kurang hati-hati." Lelaki itu segera mengulurkan tisu pada Rosyidah.


"Terima kasih." ucap Rosyidah sambil menerima tisu itu. Lelaki itu terus memperhatikan penampilan Rosyidah yang menurutnya cukup aneh itu. Di pesta pernikahan memakai baju yang ekstra lebar dan memakai penutup wajah. Sangat jauh berbeda dengan dandanan Mira yang tampak seksi dengan pakaian minimnya.


"Choki, apa yang kamu lakukan? Ayo kita pulang." Tiba-tiba suara Mira mengejutkan keduanya.


"Saya permisi dulu." ucap Choki sebelum pergi meninggalkan Rosyidah yang masih membersihkan jilbabnya.


"Choki, sejak kapan kamu minta maaf sama orang lain?" tanya Mira ketika mereka sudah sedikit menjauh.


"Hah, aku juga ngga tahu kapan sayang. Kenapa buru-buru pulang sih. Aku belum jadi ambil makanan lho." gerutu Choki.


"Halah, itu gampang, kita jajan di luar saja. Ayo." Mira menggandeng tangan Choki meninggalkan pesta pernikahan itu.


Rosyidah memperhatikan keduanya yang berlalu pergi seperti terburu buru. Ia merasa tergelitik, ketika teman wanitanya itu memanggil nya dengan sebutan Choki. Terasa lucu di dengar namanya sehingga membuat ia justru tersenyum.


Semua tampak menikmati hidangan, dan musik yang di sajikan. Setelah itu, teman-teman dari kedua mempelai satu persatu meminta foto untuk mengabadikan momen indah itu.


Walaupun capek, keduanya tetap tersenyum dan melayani permintaan seluruh teman-teman mereka.


"Semoga sakinah, mawadah dan warohmah ya bos pernikahan nya. Kita juga doa kan semoga cepat di karuniai anak yang sholih dan sholihah. Berguna bagi nusa dan bangsa. Anaknya banyak. Kalau perempuan cantik kayak mamanya, kalau laki laki ganteng kayak aku." dengan serius Aldo berdoa.


Karyawan yang bergerombol di pelaminan itu seketika bersorak, menanggapi doa Aldo.


"Woi, kalau berdoa yang serius dong, amit amit kalau anak ku ada yang mirip kamu mukanya." protes Reyhan.


Mereka pun terkekeh, termasuk Laura. Hanya dengan berada di dekat Reyhan, ia bisa tertawa lepas seperti itu.


Hingga tak terasa, waktu sudah beranjak sore, yang bertepatan dengan selesai nya acara itu. Setelah selesai menyalami semua tamu. Pak Atmaja menyuruh kedua pengantin itu untuk segera membersihkan diri, karena sebentar lagi mendekati waktu maghrib.


"Oh iya Reyhan, semua perlengkapan mu sudah bibi taruh di kamar Laura." imbuh bu Ani.

__ADS_1


Reyhan mengernyitkan keningnya lalu tersenyum dan mengangguk pada mertuanya itu.


Tak ada pembicaraan di antara pasangan suami-istri itu selama berjalan hingga sampai kamar Laura. Yang ada hanya keduanya yang saling mengeratkan genggaman tangannya dan melempar senyum. Mewakili kebahagiaan yang tak mampu di ucapkan oleh kata kata.


__ADS_2