
Hari senin tiba, waktu nya Laura kembali masuk kuliah. Tapi ia masih malas jika harus bertemu dengan mahkluk paling menjijikkan seperti Choki dan Mira. Sedangkan, jika tidak masuk, dia akan melewatkan beberapa ujian yang diadakan secara mendadak hari itu. Akhirnya, dengan setengah hati, dia memutuskan untuk tetap berangkat kuliah.
Ketika memasuki carport, ia langsung teringat akan mobilnya yang masih berada di rumah Reyhan. Tiba-tiba ia tersenyum membayangkan 2 hari yang ia lalui bersama Reyhan.
"Sudah siang, keburu telat. Dikawinin secepatnya ngga mau, tapi berdua seharian betah juga." sindir pak Atmaja yang melihat Laura sedang tersenyum sendiri. Tiba-tiba ia sudah berada di samping Laura.
"Ih papa, ngagetin Laura aja. Siapa juga yang mikirin Reyhan."
"Papa ngga bilang kamu mikirin Reyhan. Tapi setelah kamu berkata seperti itu, papa akhirnya mengetahui fakta yang sebenarnya. Tenang saja, 100% papa dukung kamu sama dia."
"Huh, terserah apa kata papa saja deh." balas Laura sambil memasang muka masam, tapi tidak dengan hatinya. Ia segera masuk ke mobil yang satunya.
Sesampainya di kampus, Laura segera turun dari mobil walau dengan langkah yang semakin berat. Semua harus di hadapi, tidak boleh terlalu memikirkan dan atau meratapi perbuatan buruk yang sudah di lakukan oleh Choki padanya.
Beruntung kali ini ia tidak datang terlambat seperti biasanya. Ia segera duduk di bangku depan tanpa menatap teman sekelasnya satu persatu. Ia hanya ingin fokus mencari ilmu.
Sedangkan di sudut belakang sana, ada yang diam diam sedang memperhatikan nya. Ialah Choki dan Mira. Keduanya takut jika Laura akan membongkar aib pada teman-teman sekelasnya.
Tak berselang lama, dosen pun masuk. Ia langsung membagikan soal ujian. Laura segera menerima selembar kertas itu dan mulai mengerjakan. Ia lebih fokus mengerjakan soal ujian itu, sehingga ia menjadi yang pertama menyelesaikan soal itu.
"Nih pak, punya ku sudah selesai. Aku keluar duluan." kata Laura sambil menyerahkan lembar jawaban pada dosen killer nya. Bergegas ia merapikan perlengkapannya lalu melenggang keluar dengan senyum puas.
Dosen itu langsung menurunkan kaca matanya, sambil menatap Laura. Ia merasa ada yang beda sejak tadi. Setelah sekian detik berpikir akhirnya ia mulai menduga.
'Tumben keluar duluan, pacarnya ngga dibantuin. Pasti nih, mereka lagi marahan.' batin dosen itu sambil manggut-manggut.
Sedangkan Choki terperangah kaget, melihat Laura sudah melenggang keluar dengan santainya. Sementara dirinya, satupun belum ada yang mampu ia kerjakan dengan benar.
Selama ini, ia selalu mengandalkan Laura untuk membantu nya dalam segala hal. Tapi setelah kejadian di hotel kemarin, tentu tak mudah lagi bagi Choki untuk mendapatkan bantuan dari Laura. Ia harus berjuang lebih ekstra untuk mengerjakan tiap soal. Sedangkan Mira tentu tak sepintar Laura, karena terkadang ia juga masih minta bantuan pada temannya.
"Arghhh.....Sial."
__ADS_1
Choki menggerutu sambil memukul meja.
"Heh, jangan berisik! Cepat kerjakan soalnya. Malaikat penolong mu sudah keluar duluan." ucap dosen itu sambil memukul kepala Choki dengan lembar jawaban Laura.
Tentu saja hal itu membuat Choki kaget, karena mendapat serangan mendadak dari dosennya.
"Huu...." Seisi kelas menyorakinya, karena sudah membuat kegaduhan. Sedangkan Mira justru geleng-geleng kepala melihat Choki tengah di soraki oleh teman-temannya.
"DIAM!" seru dosen itu akhirnya. Dan seisi kelas langsung kembali diam dan hening.
"5 menit lagi waktu habis!" kata dosen itu lagi.
Semua mulai kasak kusuk dan semakin terlihat panik, karena pekerjaan mereka belum selesai, termasuk Choki. Keringat dingin mulai keluar. Ia pun berbisik memanggil Mira yang masih serius mengerjakan tugasnya sendiri.
Hingga akhirnya, waktu habis, dan harus segera di kumpulkan.
"Heh kamu, mana punya mu? cepat bawa kesini!" seru dosen itu pada Choki, karena hanya tinggal dia seorang yang berada di ruang itu.
Sedangkan Laura, sejak tadi ia sudah berada di taman dekat dengan fakultas nya. Ia tengah sibuk belajar untuk materi yang akan di ujikan selanjutnya. Di tengah asyiknya ia belajar, tiba-tiba handphonenya berdering.
"Reyhan?" gumamnya sambil mengernyitkan dahi lalu justru tersenyum. Ia pun segera mengangkat telepon itu.
"Assalamu'alaikum." salam Laura sehalus mungkin.
Tentu saja Reyhan tidak melihat ekspresi Laura saat itu yang sedang tersenyum kala mengucapkan salam untuknya.
"Wa'alaikumussalam." balas Reyhan dari seberang telepon.
"Ada apa Reyhan?"
"Maafkan aku Miss Laura, belum bisa mengantarkan mobilnya. Seharian kemarin aku tidur terlalu pulas, sore sampai malam kembali mengikuti acara dengan rekan counter. Dan sehabis subuh tumben sekali ketiduran lagi, ini baru bangun." ucap Reyhan sambil terkekeh.
__ADS_1
Laura pun ikut terkekeh mendengar suaranya yang masih serak khas orang bangun tidur itu. Tentu saja ia paham dengan kondisi Reyhan saat ini. Semua itu juga karena ulahnya, yang mengajak Reyhan menyusuri setiap sudut jalan Malioboro sampai tak ingat waktu.
"Tidak apa-apa Reyhan, biar di situ saja dulu. Kalau kamu atau adikmu mau pakai ngga apa-apa kok." suara Laura lembut mendayu-dayu mengatakan hal itu. Sungguh jauh berbeda dengan yang dulu.
"Kabari saja pulang nya jam berapa, nanti aku jemput." balas Reyhan lagi dari seberang.
Mendengar Reyhan mau menjemputnya, langsung membuat Laura berbinar bahagia. Ia pun langsung menyetujuinya.
"Iya Reyhan, aku mau. Sampai ketemu nanti. Ini aku harus segera masuk kelas lagi, ada banyak ujian yang harus aku selesaikan hari ini. Assalamu'alaikum." Ucap Laura mengakhiri percakapan itu. Sebenarnya ia masih ingin bercakap-cakap dengan Reyhan, tapi jam kuliah selanjutnya akan segera di mulai.
Setelah Reyhan menjawab salamnya, ia tak langsung mematikan teleponnya, melainkan menunggu Reyhan dulu yang mematikan teleponnya.
Sungguh ia tak tahu kenapa bisa sebahagia itu walau hanya mendengar suara Reyhan dari seberang telepon. Sehingga ia tak menyadari kala ia berdiri dan memutar badan hendak kembali ke kelas, ia menubruk seseorang.
"Arghhh....." Laura mengerang. Ia melihat siapa yang berada di dekatnya saat ini lalu mulai mendengus kesal.
Ia segera merapikan dandanannya lalu melenggang tanpa memperdulikan orang tersebut.
"Hei sayang, kamu masih marah dengan ku ya? Maaf, tapi ku di paksa Mira." suara Choki yang lantang langsung menghentikan langkah Laura.
"Di paksa atau enggak, itu terserah kamu. Ngga ada hubungannya dengan aku." jawab Laura tegas.
Ia sudah mengubur kenangannya bersama Choki. Ia masih bisa memaafkan jika Choki mendua. Tapi tidak, jika mereka sampai melakukan hubungan yang kelewat batas. Dan yang semakin membuat Laura benci, karena Choki melakukan dengan orang yang menjadi musuhnya selama ini.
"Tapi sayang, aku pengen kita tetap pacaran."
"Oh ya? Kamu masih berharap menjadi pacar ku, setelah apa yang kamu lakukan di belakang ku? Nah, tapi sayangnya aku ngga mau jadi pacar mu. Jangan panggil aku sayang lagi! Karena kita sudah PU_TUS." sengaja Laura menekan kata putus, agar Choki tak berharap lagi padanya. Setelah itu Laura kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas dengan senyum puas.
'Sebelum kamu menghancurkan kehormatan ku, lebih baik aku segera menjauh dari mu.' batin Laura sangat puas.
"Arghhh.... sial!"
__ADS_1
Untuk yang kesekian kalinya Choki mengumpat. Karena mulai sekarang benar benar tidak ada yang akan membantunya mengerjakan semua tugas-tugas nya.