
Sore itu, dokter Adam mengantar mamanya untuk membeli oleh-oleh haji. Mamanya memang tidak sempat membeli oleh-oleh di Arab sewaktu umrah, makanya ia membeli di daerah dekat rumahnya.
"Adam. Lebih cepat sedikit dong." teriak mamanya dari balik pintu kamar.
"Sebentar lagi ma. Adam baru ganti baju." balas Adam sambil sedikit berteriak pula.
Mamanya mengurut dadanya, berusaha sabar menunggu anak sulungnya.
Adam memang seorang lelaki yang sangat memperhatikan penampilan. Sehingga ia membutuhkan waktu bermenit-menit hanya untuk mematut diri di depan cermin.
"Ya Allah, mama dari tadi menunggu Adam di sini?"
Adam begitu terkejut ketika membuka pintu kamarnya, dan melihat mamanya tengah bersandar di dinding luar kamarnya.
"Kamu itu, kalau ngga di tunggu mama, pasti bakal jauh lebih lama." mamanya segera berjalan menuruni anak tangga.
Adam segera melajukan mobilnya menuju toko yang di maksud mamanya. Mamanya memang sering belanja di toko itu. Dan biasanya selalu di antar oleh sopirnya. Namun mengetahui Adam ada di rumah, akhirnya ia ingin di antar oleh anak lelaki nya itu.
Sepanjang perjalanan, mamanya terus mengomel dengannya karena tak kunjung menikah. Karena adik perempuannya sudah bertunangan.
Sebenarnya mamanya ingin agar Adam menikah dulu, baru adiknya. Agar tidak di kira bujang lapuk oleh orang lain. Namun pacar saja tak punya, lalu mau menikah dengan siapa dia? Akhirnya, adiknya bertunangan dulu.
"Ma, jodoh itu akan datang tepat pada waktunya. Jangan terus menekan Adam seperti ini dong." pintanya dengan raut wajah memelas. Ia pun fokus kembali menyetir.
"Mama ngga menekan kamu Adam, cuma mengingatkan kamu. Bahwa umur kamu sudah cukup matang untuk membina sebuah hubungan rumah tangga. Mama dan papa dulu menikah umur 19 tahun lho."
Adam tidak lagi berkata, cukup diam mendengarkan mamanya berbicara. Jika dirinya terus menimpali ucapan mamanya, niscaya tidak akan ada habisnya.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah toko yang tampak ramai. Karena lahan parkir yang terlihat penuh. Bergegas keduanya turun dari mobil.
Ibunya yang sudah sering ke toko itu, tentunya sangat hafal dengan letak display barang. Ia segera menuju ke etalase yang di penuhi stok kurma dengan berbagai jenis. Dan Adam mengekor mamanya.
Mamanya memilih varian kurma yang di sukai nya, sedangkan Adam yang berdiri di dekatnya, matanya tampak awas memindai ke setiap sudut ruangan.
'Bukan kah dia.... wanita yang aku tabrak dulu. Tepatnya tabrakan. Karena aku ngga sengaja melakukannya.' batin Adam, ketika melihat wanita yang mengenakan jilbab lebar berdiri di meja kasir sedang melayani pembeli dengan senyum yang ramah.
Tanpa sadar, kakinya bergerak menuju pada wanita yang berdiri di depan kasir itu.
"Kamu sudah sembuh?" sapa Adam yang membuat wanita itu mendongakkan kepala menatap nya.
Awalnya wanita itu mengernyitkan dahi melihat siapa yang menyapanya, lalu menarik senyum di wajahnya
"Alhamdulillah, sudah pak. Terima kasih atas bantuan nya." ucap wanita itu menganggukkan kepalanya sambil kembali tersenyum.
__ADS_1
"Mbak Tiwi, giliran kamu sholat." ucap temannya yang kembali mengejutkan nya. Karena ia menepuk bahu Tiwi dari belakang.
"Permisi pak, saya mau sholat Ashar dulu." pamit Tiwi dengan sopan lalu meninggalkan Adam yang masih terbengong.
Dengan santai Adam bertanya pada Anya soal Tiwi. Hingga sebuah tepukan tangan mengagetkan nya.
"Adam, kamu tega ya meninggalkan mama memilih sendiri."
"Eh, maaf ma, Adam tadi cuma keliling sebentar, terus istirahat di sini." ucap Adam berkilah.
Seorang karyawan menyiapkan pesanan mamanya Adam, lalu Anya mentotal jumlah pembayarannya.
Di saat Anya tengah menghitung uang yang di terima dari mamanya Adam, Tiwi telah selesai menunaikan sholat, dan kembali ke kasir.
Ia tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya ke arah mama Adam. Dan di balas dengan senyuman pula.
"Kamu sudah sembuh nak?" tanya mamanya Adam pada Tiwi.
"Alhamdulillah, sudah Bu." balas Tiwi.
Adam merasa sedikit aneh, melihat mereka yang tengah melempar senyum dan mamanya bertanya tentang keadaannya, seolah-olah sudah lama saling mengenal.
"Apakah orang yang menabrak mu juga bertanggung jawab penuh pada mu?" tanya mama Adam lagi yang membuat Adam semakin berkerut keningnya.
"Em, alhamdulillah iya Bu. Orang itu baik sekali, mau bertanggung jawab penuh atas kejadian tempo hari." balas Tiwi sambil menunduk.
"Alhamdulillah, ibu senang mendengarnya. Ibu itu ngga suka kalau ada orang yang tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya. Kalau ibu ketemu orang seperti itu, siap siap bakal ibu pukul pakai tongkat kayu." ucap mama dengan menggebu gebu.
Adam bergidik ngeri mendengar ucapan mamanya, hingga membuatnya meringis sambil mengusap lengan tangannya. Tiwi yang melihat hal itu tak kuasa menahan senyumnya.
"Kamu kenapa Dam? Apa jangan-jangan kamu yang menabraknya?" mamanya mengernyitkan dahi menatapnya.
"Mama, sudah ayo pulang." Adam menarik lengan mamanya.
"Tunggu sebentar ya pak. Kami bungkus paket gitf nya dulu."
"Pak?" ulang mama. Ia mengernyitkan dahi ketika Tiwi menyebut anaknya dengan sebutan pak.
"Nak, ini anak ibu, tolong jangan di panggil pak. Dia belum berkeluarga. Bisa mati pasarannya kalau kamu memanggil nya seperti itu." cerocos mama yang membuat Adam dan Tiwi salah tingkah. Namun Anya yang masih berada di situ terkikik kecil.
Tiwi dan Anya segera membungkus setiap paket gift itu. Sementara Adam dan mamanya duduk di kursi tak jauh dari meja kasir. Keduanya terus memperhatikan Tiwi yang sangat luwes membungkus paket gift.
Setelah semua urusan selesai, pasangan ibu dan anak itu segera keluar membawa paketan gift itu dengan di bantu oleh Tiwi dan Anya, karena jumlahnya cukup banyak. Bahkan mereka harus bolak-balik mengambilnya.
__ADS_1
Karena kelelahan, Tiwi sampai hampir ambruk. Beruntung Adam yang ada di depannya segera menangkap tubuhnya.
"Kamu ngga apa-apa?"
"Ngga apa-apa pak. Eh dok." ucap Tiwi dengan pandangan sayu.
"Tapi muka kamu pucat? Kamu sakit?"
"Aku, baru puasa."
"Ya sudah, kamu istirahat dulu saja. Biar aku yang ambil sisa paket nya."
Adam memapah Tiwi masuk ke dalam dan mencari tempat duduk. Mamanya yang melihat, terlihat mengembangkan senyum di wajahnya.
'Apa anak ku mulai jatuh cinta?' mama pun segera menyusul keduanya ke dalam.
Mama segera mengeluarkan minyak kayu putih dan membalurkan ke tangan Tiwi agar tidak gemetaran, lalu mendekatkan minyak itu ke hidungnya agar bisa melegakan pernafasan nya.
"Sebaiknya kamu batalkan dulu puasa mu. Daripada sakit." saran Adam. Namun Tiwi menggeleng lemah.
"Tanggung mas, 2 jam lagi juga buka."
"2 jam itu lama lho. Kamu mau pingsan di jalan?"
"Adam. Sudah sebaiknya kamu ambil paket nya yang masih tersisa. Biar mama temani nak Tiwi di sini." tegur mamanya.
Adam mendengus kesal lalu beranjak dari duduknya hendak mengambil paket.
Semua paket telah di masukkan ke dalam mobil. Adam segera menyusul mamanya yang masih berada di dalam. Lalu keduanya berpamitan pada Tiwi.
Di dalam perjalanan, Adam tampak terdiam. Dengan seribu tanya di benaknya. Kenapa mamanya bisa mengenal Tiwi.
"Ma, kenapa mama terlihat akrab dengan karyawan toko tadi?"
"Mama kan sudah langganan di sana Dam, tentu akrab lah. Dari pemilik hingga karyawan nya."
Tak hanya itu saja, mama nya juga bercerita panjang lebar mengenai satu persatu karyawan toko. Dan bagi mamanya, Tiwi cukup menarik hatinya. Adam manggut-manggut mendengar penjelasan mamanya.
'Ah, kenapa mama jadi lebih banyak memuji karyawan itu?'
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1