
Sementara itu setelah Reyhan meninggalkan showroom, direktur segera masuk ke ruangan nya.
Bersandar pada kursi empuknya lalu membuka laci dan mengeluarkan bungkusan uang dari Reyhan.
"Masih utuh, ngga berubah jadi daun." gumamnya.
'Aku jadi penasaran, bapaknya meninggal, ibunya cuma buruh pabrik paling besar gajinya cuma 2 juta. Lalu kerja apa dia kalau bukan dari pesugihan? Tapi uangnya tetap, ngga berubah jadi daun.' batin direktur sambil meraba uang itu kembali.
"Apa sebaiknya aku ikut mengantarkan mobilnya? Biar tahu kerja apa dia sebenarnya. Ah, kenapa aku jadi penasaran seperti ini? Padahal dia cuma customer. Tapi......"
"Halo." suara direktur setelah menekan tombol interkom yang menghubungkan dengan karyawannya.
"Bilang ke pak Bejo, kalau mau mengantar mobil atas nama Reyhan Perdana Kusuma panggil saya." setelah karyawan mengiyakan permintaannya panggilan diputus.
Detik berganti jam akhirnya pintu ruangan direktur ada yang mengetuk.
Tok.... Tok.... Tok....
"Masuk."
Direktur melihat pak Bejo menyembulkan kepalanya setelah pintu sedikit terbuka.
"Permisi pak, ini mobil atas nama Reyhan Perdana Kusuma sudah siap, akan segera dikirim sekarang."
"Bagus, saya bersiap siap dulu, tunggu saya dibawah." kata direktur sambil merapikan berkas yang ada di atas meja.
"Maksud bapak....." Tanya pak Bejo supir yang belum tahu arah bicara direktur nya.
Sejenak direktur pun menghentikan aktivitasnya dan menatap pak Bejo, "Ya saya mau ikut."
"Mau ikut?" ulang pak Bejo takut salah dengar.
"Iya, saya mau ikut nganterin mobil nya, PAHAM!" Lalu Direktur mengibaskan tangannya sebagai tanda menyuruh pak Bejo untuk segera keluar.
"Paham paham pak. Saya permisi." Tergopoh-gopoh pak Bejo segera keluar takut direktur nya bertambah marah.
Ketika melewati meja resepsionis segera pak Bejo berhenti karena petugas resepsionis memanggilnya sambil melambaikan tangan.
Karyawan yang tadi sempat merendahkan Reyhan juga ikut mendekat ke meja resepsionis setelah mengetahui pak Bejo keluar dari ruangan direktur.
Pasalnya hanya orang orang tertentu saja yang diijinkan masuk ke ruang direktur, dan pak Bejo selama ini tak pernah di panggil kesitu.
"Ada apa pak sampai masuk keruangan direktur, dipecat ya?" karyawan tadi menyerobot bertanya mendahului petugas resepsionis.
"Sembarangan. Tapi ini tuh berita paling menghebohkan showroom." kata pak Bejo dengan antusiasnya mulai mengghibah.
"Apa apa pak." tanya keduanya penasaran.
__ADS_1
"Pak direktur mau ikut mengantarkan mobil pesanan atas nama Reyhan Perdana Kusuma."
"APA!" "Kita ngga salah dengar?" jawab keduanya bersamaan sambil beradu pandang.
"Tanya pak bos sendiri kalau ngga percaya."
"Mau tanya apa?" suara direktur mengejutkan mereka, karena tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka.
Petugas resepsionis segera pura pura sibuk, pak Bejo segera melangkah ke arah pintu keluar, sedangkan karyawan yang merendahkan Reyhan akan pergi tapi ditahan oleh direktur.
"Jangan sekali-kali merendahkan customer, mereka kesini mau setor uang ke kita. Apapun kerjaan mereka, apapun status mereka, entah masih sekolah, duda, janda segala macam tetap layani dengan baik. Atau kamu mau gajimu saya potong separuhnya karena tak menjaga attitude?"
"Jangan jangan pak, mohon maafkan kesalahan saya. Saya janji tak akan membuat kesalahan seperti tadi." ucap karyawan itu menghiba sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Direktur mengangguk dan lantas keluar menghampiri pak Bejo yang sudah siap di dalam mobil.
Setelah direktur keluar, petugas resepsionis segera tertawa terbahak bahak melihat teman nya dimarahi.
"Rasain tuh pak, makanya jangan suka menghina, kena batunya kaan? Kalah sama anak kemarin sore."
"Hush... diam kamu. Pastinya ada udang dibalik tepung." ucap karyawan itu sambil menatap kepergian direktur.
"Maksudnya?"
"Ya jadinya rempeyek, dodol." karyawan itu menoyor kepala resepsionis lalu segera pergi mengerjakan pekerjaan yang tertunda akibat mengghibah.
"Pak ini sesuai ya dengan alamat yang tertera?" tanya direktur ketika mobil car carrier berhenti di depan sawah.
"Iya pak bos benar."
Sejenak direktur mengedarkan pandangan ke sekeliling nya. Disamping sawah berjejer tempat cuci motor, sebuah mini market dan para penjual makanan junk food.
Sementara di seberang jalan tampak sebuah counter yang sedang ramai pembeli, counter itu tampak menyatu dengan rumah mungil nan asri karena banyaknya tanaman hias yang berjajar rapi.
Disamping kanannya tampak sebuah masjid, sedangkan disebelah kiri counter tempat foto copy.
'Ini bukan jalan ditengah kota, tapi cukup ramai juga.' batin direktur sambil manggut-manggut.
"Pak, kamu pastikan rumahnya yang mana ya."
"Baik pak bos." lalu pak Bejo supir segera turun dari mobil dan berjalan menuju tempat cuci mobil.
Tak sampai 5 menit sudah kembali masuk ke dalam mobil.
"Itu pak rumah mas Reyhan, yang ada counternya." kata pak Bejo sambil menunjuk kearah counter Reyhan.
"Hemm..... ya sudah ayo turun."
__ADS_1
"Permisi mbak, ini benar rumah nya mas Reyhan Perdana Kusuma?" direktur memastikan dengan bertanya ke Dinda pegawai counter.
"Iya pak benar, ada yang bisa dibantu."
"Sampaikan kalau mobilnya sudah datang."
"APA! Mas Reyhan beli mobil." Tiwi dan Dinda seketika membulatkan matanya dan saling beradu pandang dengan mulut setengah terbuka.
Belum selesai rasa kekaguman mereka melihat mobil indah yang masih didalam car carrier sekarang sudah dikejutkan lagi bahwa mobil itu adalah punya Reyhan.
"Oh, ba_baik pak sebentar saya panggilkan."
Dinda segera berjalan menuju pintu penghubung kamar Reyhan dan mengetuknya dengan keras.
Tok.... Tok..... Tok....
"Mas, mas Reyhan, bangun mas, mobilnya sudah datang." Dinda setengah berteriak saking semangatnya.
Reyhan yang baru saja tidur mendengar seperti suara speaker rusak segera terbangun dan mendekat ke sumber suara.
Klek.... pintu terbuka.
"Hem, Ada apa?" tanya Reyhan datar karena nyawanya belum sepenuhnya kembali.
"It_itu mas, mobil baru mas Reyhan udah dateng, itu udah ditungguin sama sopirnya." Seketika Reyhan berhenti mengucek dan matanya langsung terbuka lebar.
"Okay, suruh tunggu diteras aku cuci muka bentar."
Pak direktur segera ke teras setelah diberi tahu Dinda, sedangkan pak Bejo supir berjalan menuju car carrier untuk segera menurunkan mobil.
Bima yang sedang berada di masjid untuk mengikuti kegiatan TPA segera berlari mendekat karena kagum melihat mobil masuk ke truk, lalu diikuti semua temannya.
Ibu yang baru saja turun dari bus karyawan juga menatap takjub.
Begitu pula dengan seluruh teman-teman nya yang masih berada dalam bus, ada mobil halus mulus terparkir di halaman Bu Rohmah.
Ketika Reyhan membuka pintu depan rumah, tersentak kaget karena yang mengantar mobil nya pak direktur langsung.
Sedangkan dihalaman nya sudah berkumpul ibu, Bima dan teman teman nya.
Ibu segera menyuruh anak-anak kembali TPA, lalu ikut Reyhan menemui tamunya itu.
Setelah bersalaman mereka duduk dan mulai membahas soal mobil.
Dan, tak berselang lama, datang mobil warna merah menyala yang berhenti di seberang jalan.
"Papa."
__ADS_1