
"Astaghfirullah, Miss Laura!" seru Reyhan sambil mengelus dadanya. Laura pun menoleh ke arahnya.
"Ada apa Reyhan?" Laura mengernyitkan keningnya. Heran kenapa suaminya malah mengucapkan istighfar ketika melihat istrinya berpenampilan cantik dan menarik.
Sedangkan Reyhan sendiri tak menyangka jika Laura malam ini akan berpakaian seperti itu. Dengan langkah pelan ia mendekatinya.
"Apa Miss Laura kegerahan sampai berpakaian seperti ini?" tanya Reyhan polos sambil menatap wajah istrinya.
'Ish, bukannya di puji malah bertanya seperti itu. Aku kan sudah berusaha berpenampilan menarik supaya dia bahagia. Lhah, kenapa dia malah bertanya seperti itu? Terus aku harus jawab apa?'
"Kok malah diam?"
"Itu, aku... iya memang sedikit kegerahan." sambil meringis Laura menjawab.
"Masa sih, perasaan kamar nya sudah ada ac nya, kok masih kegerahan. Ya sudah aku naikkan volume nya, mana remote nya?"
"Eh, ngga usah."
Laura langsung menarik tangan Reyhan yang baru saja berdiri, namun belum tegap. Sehingga membuatnya ambruk menjatuhi dirinya.
Keduanya saling menatap dengan intens, jantung mereka pun kian berdetak cepat, deru nafas keduanya terdengar tak beraturan.
'Cantik dan luar biasa sempurna istri ku malam ini. Apa dia sengaja mau menggoda ku? Atau memang ingin mempersembahkan semuanya untuk ku?' batin Reyhan.
'Apa aku terlihat seperti wanita penggoda? Kenapa dia terus menatap ku seperti itu?' batin Laura.
"Kamu luar biasa cantik dan sempurna Miss Laura. Sungguh aku sangat beruntung memiliki istri seperti dirimu." Laura hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Reyhan.
Setelah itu, mereka kembali diam, bingung mau bicara apa lagi. Tiba-tiba suasana menjadi kaku. Tapi posisi Laura masih berada dalam kungkungan Reyhan.
'Aku sudah berpenampilan semenarik ini, kenapa dia tak juga menyentuh ku? Apa harus aku goda dulu?'
'Apa Miss Laura benar benar sudah siap melakukan itu, kenapa dia terlihat pasrah? Astaghfirullah, aku lupa belum menghafalkan doa malam pertama. Gimana ini?'
Seketika Reyhan tertunduk lesu, dan menelungkup kan wajahnya. Ia pikir yang ada di hadapannya saat ini adalah bantal, ternyata adalah bibir Laura yang terasa manis. Jantungnya kembali berdetak kencang, ia memberanikan diri lebih lama berada dalam posisi itu, menikmati rasa manisnya.
Sedangkan Laura bagaikan tersengat aliran listrik, mendapat kecupan di bibirnya yang mendadak. Jantungnya kian berdetak cepat dan berusaha menikmati kecupan itu.
"Apa Miss Laura siap melakukan hal itu sekarang?"
'Pertanyaan bodoh macam apa itu? Sebenarnya aku juga belum siap, tapi kalau kamu memaksa tentu saja aku tak bisa menolak.' batin Laura kesal.
Melihat Laura yang diam saja dengan wajah yang merona merah membuat Reyhan yakin akan melakukan hal itu sekarang, walaupun cukup membaca basmalah.
__ADS_1
Ia pun mengecup kening Laura, menjalar ke bibir dan lehernya. Walaupun terasa geli, Laura berusaha konsentrasi. Karena itu akan menjadi pengalaman pertama nya.
Sementara itu di lantai bawah. Pak Atmaja tengah terbangun dari tidurnya.
"Mau kemana pa?" tanya bu Ani yang juga terbangun.
"Mau cek rumah ma." jawab pak Atmaja datar.
"Kan sudah ada satpam. Lihat dari cctv juga bisa." bu Ani mengerutkan keningnya.
"Ah, ngga usah banyak tanya. Kalau mama penasaran ikut saja." Pak Atmaja mulai membuka pintu kamarnya. Karena penasaran bu Ani mengikuti langkah suaminya itu.
"Mau kemana sih pa?"
"Sstt.. mama diam dong, nanti kalau kedengaran gimana?"
Bu Ani geleng-geleng kepala, walau akhirnya ia tetap mengikuti langkah suaminya yang ternyata berhenti di depan pintu kamar Laura. Ia semakin mengernyitkan keningnya kala melihat kelakuan aneh suaminya.
"Papa apa-apaan sih, kenapa telinga nya di tempelkan di pintu? Mau nguping?"
"Iya ma. Papa penasaran sama mereka. Kira kira sudah buat adonan cucu apa belum. Sudah mama jangan berisik. Nanti ketahuan mereka." bisik pak Atmaja. Bu Ani terkikik geli lalu mengikuti kelakuan suaminya, menempelkan telinganya di pintu.
"Arghhh.... Reyhan sakit." teriak Laura.
Pak Atmaja dan bu Ani yang mendengar suara anaknya kesakitan justru terkikik.
"Iya pa, pasti gara-gara minum jamu buatan mama tadi." imbuh bu Ani. Keduanya pun kembali menempelkan telinganya di pintu.
"Brugh....."
"Arghhh..."
Bu Ani dan pak Atmaja mengerang kesakitan.
"Papa, mama? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Reyhan dengan wajah yang terlihat bingung sekaligus khawatir.
"Oh, ki_kita ngga ngapa-ngapain kok. Cuma mau mengecek rumah saja. Ternyata aman. Ayo ma kita balik ke kamar." kilah pak Atmaja.
"Tunggu pa, ma, itu Miss Laura sakit perutnya."
"Ngga apa-apa, nanti lama kelamaan pasti ngga sakit, justru mau minta nambah lagi." pak Atmaja terkekeh.
Reyhan seketika bingung dengan ucapan mertuanya itu.
__ADS_1
"Tapi Miss Laura benar benar kesakitan pa. Reyhan yang melihat jadi ngga tega. Dimana letak obatnya?"
"Itu ngga usah di kasih obat Reyhan, nanti bakal sembuh sendiri kok, kamu tenang saja." imbuh bu Ani.
"Papa sama mama ini bicara apa sih? Kok dari tadi Reyhan ngga paham. Ayo masuk, cek keadaan Miss Laura dulu." Reyhan menarik tangan pak Atmaja.
"Eh, kita ngga mau mengganggu malam pertama mu Rey, kok maksa sih?" ucap pak Atmaja dengan langkah yang terseret, di ikuti oleh istri nya.
"Laura, kamu kenapa sayang? Wajar kalau baru awalan memang sakit. Nanti lama kelamaan juga enak kok." bu Ani mengelus wajah Laura yang meringis menahan sakit. Bahkan keringat dinginnya sampai keluar.
"Ngomong apaan sih ma? Sepertinya Laura mau menstruasi, ambilin obatnya dong ma. Laura sudah ngga kuat nih."
"Hah. Apa!" seru pak Atmaja dan bu Ani bersamaan. Keduanya pun membulatkan matanya.
"Jadi kamu berteriak sakit dari tadi bukan karena sedang anu!"
"CEPAT!" seru Laura.
"I_iya." Bu Ani bergegas keluar kamar, hendak mengambil obat menstruasi yang sering di konsumsi Laura bila sedang menstruasi.
Sedangkan pak Atmaja memijit pelan kaki Laura. Reyhan pun mengelap peluh yang membasahi wajah istrinya.
Tak lama berselang, bu Ani datang dan segera menyerahkan obat itu pada Reyhan untuk membantu Laura meminum obatnya.
"Sekarang istirahat dulu ya." ucap Reyhan penuh perhatian, sambil membenahi letak selimut Laura.
"Cepat sembuh ya sayang. Papa sama mama keluar dulu." ucap pak Atmaja sambil mengelus wajah Laura.
"Kenapa ngga tidur di sini saja pa? Reyhan takut kalau sewaktu-waktu sakit nya Miss Laura kambuh lagi."
"Kamu tenang saja, setelah minum obat itu, pasti sakitnya segera hilang." bu Ani menepuk bahu Reyhan sambil tersenyum untuk menenangkan nya.
"Lagian kamu aneh, sudah punya istri, kenapa pakai ngajak tidur mama sama papa di sini? Kalau Laura sakit lagi, kamu langsung saja gedor pintu kamar papa. Di jamin papa langsung bangun." pak Atmaja terkekeh, agar Reyhan tidak terlalu panik.
"Baiklah pa." Reyhan seketika meringis mendengar ucapan mertuanya yang memang benar.
"Ya sudah, kami keluar dulu, jangan lupa kunci pintunya."
"Gimana, sudah enakan belum?" tanya Reyhan sambil membelai wajah Laura. Ketika kedua orang tuanya sudah keluar kamar. Laura hanya tersenyum samar.
"Maaf Reyhan, sepertinya aku belum bisa melayani mu dengan baik malam ini." Reyhan terkekeh kecil mendengar ucapan Laura.
"Ngga apa-apa, lagian aku juga lupa belum menghafal doanya kok."
__ADS_1
"Kamu ngga marah sama aku?"
"Kenapa harus marah, lagian kita juga bisa melakukannya di lain waktu." Reyhan menaikkan satu alisnya. Agar Laura tak lagi bersedih.