
"APA! Saya ngga salah dengar?" pegawai itu terkejut dengan permintaan Reyhan.
"Iya pak, bapak ngga salah dengar. Saya mau lihat koleksi mobilnya. Bisa ditunjukkan mobil yang spesifikasinya paling bagus pak."
Dan sekali lagi pegawai itu dibuat terkejut sampai membulatkan keduanya matanya.
"Ini showroom dek tempat penjualan mobil baru yang harganya fantastis. Bukan tempat standup comedy, jangan asal ngelawak ah, ngga lucu tau. Lagian kamu masih kecil kok ngga sekolah, bolos ya?"
Reyhan terkejut dengan sikap pegawai yang seperti itu lalu menoleh ke arah Rama yang ternyata malah cengar-cengir menahan tawa.
"Tapi pak....."
"Sudah ya, kamu mending berangkat sekolah aja. Belajar yang pinter nanti kuliah terus bisa dapat kerja habis itu baru beli mobil." Belum selesai Reyhan bicara sudah di potong oleh pegawai itu dan menggiringnya menuju pintu keluar.
"Lhoh siapa mereka ini?"
tanya seorang pria yang berbadan tegap memakai jas dan aroma wanginya menguar kemana-mana yang berhenti di ambang pintu masuk menunjuk ke arah Reyhan dan Rama yang tangannya ditarik oleh pegawai showroom.
"Ini pak, cuma anak sekolah yang iseng."
"Anak sekolah?" ulang lelaki berbadan tegap itu sambil menelisik ke arah Reyhan.
"Maaf pak, saya sudah lulus sekolah kok. Saya sebenarnya mau beli mobil di showroom ini. Tapi bapak ini tidak percaya apa kata saya dan malah bilang saya anak sekolah lalu mengusir saya." Reyhan berusaha menerangkan sambil tangannya menunjuk ke arah pegawai tadi.
"Benar apa yang dikatakan anak ini!" bentak bapak itu ke pegawainya.
Lalu pegawai itu mengangguk sambil garuk-garuk kepala merasa takut dengan orang yang ada dihadapannya saat ini, yang tak lain adalah direktur nya.
Direktur pun membuang nafas kasar melihat kelakuan pegawainya yang tidak profesional itu.
Demi menyelamatkan perusahaannya dia segera menyuruh pegawai nya untuk minta maaf ke Reyhan.
Setelah itu, direktur sendiri yang langsung melayani Reyhan. Menjelaskan spesifikasi tiap unit mobil.
Dan akhirnya, pilihan Reyhan jatuh pada mobil Pajero sport warna hitam.
Seketika senyum mengembang di wajah direktur mendengar pilihan Reyhan yang tidak main-main.
Setelah itu mereka berjalan bersama menuju kantor untuk mengisi kelengkapan data dan pembayaran.
Reyhan pun membuka bungkusan plastik hitam yang sejak tadi ia bawa.
Mereka pun sangat terkejut ketika perlahan Reyhan mulai mengeluarkan isinya.
__ADS_1
Lembaran uang merah gambar pak Karno dan pak Hatta masih terbendel rapi dibandit logo sebuah bank, bau khas uang baru segera menusuk Indra penciuman mereka.
Setelah menghitung, Reyhan menyodorkan uang itu ke direktur yang masih tampak terbengong dengan mulut yang terbuka.
"Ini pak, saya bayar cash."
"I_Iya dek ,saya... hitung dulu ya." dan direktur itu mulai komat kamit menghitung bergepok-gepok uang dihadapannya.
"Okay, lunas ya dek." direktur pun menjabat tangan Reyhan dengan sangat erat, hingga Reyhan sedikit meringis kesakitan.
"Mobil akan segera kita antarkam sesuai dengan alamatnya."
"Baik pak, saya tunggu. NGGA PAKEK LAMA, paham?"
"Paham." direktur pun mengangguk.
"Dan satu lagi, saya sudah kerja pak, bukan anak sekolah lagi, umur saya sudah 20 tahun, jadi jangan panggil saya dek lagi."
'Apa! Umur 20 tahun sudah bisa beli mobil secara cash?' batin direktur.
"Ngomong ngomong keluarganya kerja dimana? Apa punya sebuah perusahaan?" tanya direktur itu sambil berjalan mengantarkan Reyhan keluar.
"Bapak sudah meninggal, ibu kerja dipabrik, ada apa pak memangnya?"
"Ya sudah saya permisi dulu pak." kata Reyhan yang sudah berdiri diambang pintu keluar.
"Em, tadi kesini naik apa?" tanya direktur yang masih diliputi rasa penasaran.
"Tuh. motor saya pak." Reyhan menunjuk motor beat nya yang berjejer dengan deretan mobil.
Direktur itu langsung berOoooo panjang karena kekagumannya dengan Reyhan yang sangat sederhana namun mampu membeli mobil yang harganya fantastis secara cash padahal dipikirnya bukan dari golongan orang yang mampu.
Bahkan tidak menyangka kalau bungkusan plastik hitam misterius yang sejak tadi dibawa Reyhan berisi uang.
Dan direktur juga merasa takjub, di jaman sekarang masih ada orang yang sangat rendah hati seperti Reyhan.
Terbersit dipikirannya, jika anak gadisnya memiliki pasangan seperti Reyhan, pasti akan bahagia hidupnya.
"Hati-hati ya dek, jangan khawatir mobil akan segera kami antar dengan selamat." direktur itu berteriak ke Reyhan yang sudah mulai berjalan ke arah motor nya terparkir.
Rupanya ketika direktur sedang berkhayal, Reyhan dan Rama sudah berjalan meninggalkannya mematung di ambang pintu.
Wkwkwk......
__ADS_1
Rama tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian di dalam showroom tadi.
"Bisa-bisanya mereka menuduh mu seperti itu Rey Rey. Yang dikira pelawak lah, anak sekolah lah dan yang paling akhir dikira anak horang kaya, haduh duh..." kata Rama masih diikuti dengan ketawanya.
"Seneng kan kamu mas, dapat tontonan gratis." Reyhan bersungut-sungut dan mulai menyalakan mesin motor nya. Rama segera naik dimotor takut ditinggal melihat Reyhan yang sedikit cemberut.
"Kalo aku jadi kamu pasti udah marah marah ngga jelas."
"Ya jelas beda dong. Aku kan bawaannya bagai air tenang menghanyutkan, kalau kamu bagai air comberan." Reyhan tertawa puas membalas cacian Rama.
"Huh dasar kamu." Rama menoyor kepala Reyhan tak terima. Lalu keduanya tertawa lepas bersama.
"Tapi aku dulu juga ngira kalau kamu masih sekolah, soalnya mukanya baby face banget."
"Apa mas?" sengaja Reyhan menaikkan nada bicaranya karena Rama memujinya.
"Baby face." jawab Rama setengah berteriak.
Reyhan tertawa cekikikan karena temannya itu memujinya.
"Iya dong, baru percaya kan sekarang?" goda Reyhan.
"Iya iya aku percaya. Btw, Ini kita ngga mampir kemana dulu buat nimbun lemak?" tanya Rama sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Sementara puasa dulu mas karena uangku sudah habis buat bayar mobil."
"Sialan lu." maki Rama sambil memukul punggung Reyhan, sehingga tawanya kembali pecah.
Motor pun akhirnya berbelok kesebuah restoran dengan menu khas rica-rica mentok yang menjadi kegemaran para juragan pulsa.
"Pilih sepuasnya mas, jangan lupa bayar sendiri sendiri." Reyhan menyodorkan buku menu ketika sudah duduk bersila di gazebo.
"Kampret lu." Rama sengaja memukul tangan Reyhan dengan buku menu karena selalu becanda.
"Eh mas, dosa lho menganiaya anak orang. Ngomong buruk pun juga kena dosa, hati-hati lho bisa masuk neraka." Reyhan berkata sambil tersenyum.
Begitu lah cara Reyhan mengingatkan dirinya dan orang lain disekitarnya.
Walaupun terkesan apa adanya dan to the point, mereka tidak marah dan justru semakin menyayanginya.
Reyhan segera membantu karyawannya yang kerepotan melayani pembeli ketika sudah sampai rumah.
Setelah itu, segera berlalu mengerjakan sholat dhuhur dan merebahkan tubuhnya dikasur.
__ADS_1
"Wow, siapa yang beli mobil baru? Kok berhenti nya tepat di seberang jalan ini." kata Dinda lalu Tiwi ikut mengalihkan pandangannya ke arah yang dimaksud Dinda.