Juragan Muda

Juragan Muda
200. Saling menilai


__ADS_3

Setelah selesai sholat, Tiwi segera menghampiri ibunya. Ia merasa canggung karena bingung harus bicara apa lagi. Tidak mungkin baginya untuk terus mengucapkan kata terima kasih. Karena sejak tadi ia sudah mengucapkan kata itu hingga berulang kali pada orang yang sama, dokter Adam.


Tiba-tiba pintu di ketuk, dan dokter Adam segera berdiri membukakan pintu. Lalu tak lama kemudian ia sudah kembali menutup pintu sambil membawa plastik besar.


"Pasti kamu belum makan sejak tadi. Makanlah dulu." Adam menyerahkan bungkusan itu pada Tiwi.


"Dan ini untuk ibu. Saya letakkan di sini ya." Adam meletakkan parcel buah dan cemilan.


"Ibu mau makan apa? Biar saya bantu kupaskan."


"Tapi saya bisa melakukan nya kok dok, ngga usah repot-repot begitu." tolak Tiwi. Ia merasa dokter itu terlalu baik sampai mengerjakan yang bukan tugasnya.


"Hem, jadi kamu mengusir ku?"


Tiwi terperangah kaget dengan tuduhan Adam. Sebenarnya dia hanya tidak ingin merepotkan siapapun.


Tak berselang lama, pintu kembali di buka. Ternyata pak Somad. Ia datang sambil membawa tas yang berisi perlengkapan. Sambil mengucapkan salam, pak Somad menjabat tangan dokter Adam, lalu anak dan istrinya.


Mereka bercakap-cakap sejenak sebelum akhirnya Adam meminta ijin pulang. Keluarga pak Somad sekali lagi mengucapkan terima kasih padanya.


'Walaupun lelaki itu dulu sedikit menyebalkan ternyata baik juga.' batin Tiwi ketika melihat Adam berpamitan.


Setelah keluar dari ruangan Bu Siti, Adam terus menyunggingkan senyum. Entah kenapa hatinya merasa sangat bahagia. Hingga ia tak sadar tengah di perhatikan oleh beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Dokter Adam kenapa senyum senyum sendiri? Apa jangan-jangan dia...."


"Hust, jangan bilang kalau kamu mikir dokter Adam sudah gila." balas karyawan satunya sambil memiringkan jari telunjuk di depan kening.


"Aku ngga bilang dokter Adam gila. Mungkin dia baru tergila-gila sama wanita. Itu maksud ku." lalu karyawan yang saling berbisik itu terkekeh.


Di sepanjang perjalanan, Adam terus bersiul sambil sesekali menyunggingkan senyum. Rasanya ia tak pernah sebahagia itu. Sesampainya di rumah pun ia juga tetap bersiul dengan riang gembira. Mama dan adiknya yang melihatnya tampak aneh.

__ADS_1


"Ma, sepertinya kak Adam mulai..."


"Jangan bilang kalau kakak mu mulai gila. Tapi tergila-gila dengan seseorang." potong mamanya.


"Iy itu maksud Dira ma. Dira penasaran sama ceweknya ma. Apa besok kita ikutin kak Adam aja." usul Dira, dan mama pun menganggukkan kepalanya.


Sesampainya di kamar Adam menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Terbayang kejadian hari ini yang membuatnya terus tersenyum.


Cinta itu terkadang aneh. Datangnya tiba-tiba. Bisa menyerang siapa saja. Tidak memperdulikan status sosial. Juga menerjang apapun yang ada di hadapannya. Cinta itu seperti angin, kamu tak bisa melihatnya, namun kau bisa merasakan nya.


Mungkin itulah yang tengah di rasakan oleh 2 insan yang selalu di pertemukan dalam kejadian kejadian yang tidak di sengaja. Yang awalnya mereka tidak menyukai kehadiran seseorang tersebut. Namun pada akhirnya berkat seseorang itu, membuat hati kita merasa lebih bahagia dan terasa berwarna.


Setelah mandi, sambil merebahkan diri, Adam memainkan handphonenya. Ia mengecek berbagai akun media sosial nya.


"Ini akunnya....Tiwi." desisnya ketika melihat foto Tiwi yang tampak cantik di profil aplikasi biru.


Dengan semangat Adam menyecroll layar handphonenya ke atas. Adam manggut-manggut membaca setiap tulisan yang ada di statusnya Tiwi. Karena kebanyakan berisi pesan singkat, dan kutipan tausyiah. Di kolom komentar banyak sekali yang berkomentar. Dan di kolom like juga banyak yang memberi like.


"Terima kasih sudah mau berbagi ilmu yang sangat bermanfaat. Semoga ilmu yang kamu sebar menjadi amal jariyah untuk mu." sebuah komentar yang berhasil di kirim Adam. Lalu setelah nya ia kembali menyecroll melihat status Tiwi lainnya sampai ia ketiduran.


Tiwi belum bisa memejamkan matanya sedikit pun. Melihat ibunya yang tidur cukup pulas, serta suhu badannya mulai terlihat normal, akhirnya Tiwi memutuskan untuk rebahan di sofa sambil memainkan handphonenya.


Seperti biasa, ia mengecek akun media sosial nya satu persatu.


"Adam Suseno." gumam Tiwi ketika melihat satu nama dengan foto profil yang wajahnya tak asing di matanya, karena sehari ini terus bertemu dengannya.


Tiwi mengklik komentar dari Adam untuknya, lalu membaca sederet kalimat. Ia tersenyum sendiri, tak menyangka jika dokter itu mau berkomentar di statusnya.


'Aku balas apa ngga ya? Kalau ngga di balas nanti dikira aku sombong. Kalau aku balas, kenapa jadi terasa aneh gitu. Apa cuma perasaan ku saja?'


Setelah sekian detik berpikir akhirnya Tiwi membalas komentar itu. Tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin menjalin pertemanan dengan banyak orang. Dan itu Tiwi lakukan dengan aktif di dunia maya ketika memiliki waktu senggang.

__ADS_1


"Aamiin, aku masih dalam taraf belajar, jika status ku bermanfaat bagimu, maka ambillah manfaatnya. Jika status ku ada kesalahan, ingatkan aku. Terima kasih." sebuah pesan balasan dari Tiwi.


Baru saja Tiwi tertidur sebentar, ibunya mengerang, Tiwi yang masih samar tertidur, membuka matanya perlahan lalu melihat ke arah ibunya.


"Ada apa bu?" Tiwi berada di samping ibunya sambil mengusap pelan tangan ibunya.


"Haus." lirih ibu.


Bergegas Tiwi mengambilkan air hangat yang sudah di campur sari kurma untuk ibunya.


Setelah minum, Tiwi duduk sambil memijit pelan tangan dan kaki ibunya agar bisa kembali tertidur, meskipun dirinya juga mulai mengantuk.


Setelah sholat subuh, pak Somad berpamitan pulang, karena harus berjualan. Sedangkan Tiwi tetap menemani ibunya. Bagaimana pun juga seorang perempuan lebih telaten dalam hal merawat.


"Hati-hati ya pak." pesan Tiwi sebelum bapaknya pulang.


Untuk mengusir rasa bosan, Tiwi membaca Al Qur'an saku yang senantiasa ia bawa kemana-mana. Ia membacanya dengan suara yang pelan namun merdu. Ibunya yang mendengar juga terhanyut dan merasa lebih tenang dan nyaman.


Setelah ruangan di bersihkan oleh cleaning servis, Tiwi kembali masuk. Rasa kantuk yang hebat menyerangnya karena hanya 2 jam tidur semalam. Akhirnya kepalanya tertunduk di brankar tempat tidur ibunya. Ia langsung tertidur dengan pulas.


Jam operasional kerja dokter Adam di mulai. Satu persatu ia memasuki kamar untuk mengecek kondisi pasien. Hingga tiba di kamar Bu Siti.


Entah kenapa hatinya merasa deg degan. Terbayang balasan komentar yang di berikan oleh Tiwi. Lalu akan bicara apa ketika bertemu nanti.


"Dokter, silahkan masuk." ucap perawat yang setia mengekor di belakangnya. Dia merasa aneh ketika melihat dokter Adam tidak segera masuk ke ruangan pasien.


Setelah menghirup nafas dalam, ia pun melangkah masuk ke dalam ruangan. Matanya membulat ketika melihat Tiwi tengah tertidur di samping brankar ibunya.


❤️❤️❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2