Juragan Muda

Juragan Muda
170. Obat lelah


__ADS_3

Kini Reyhan dan Laura sudah memasuki ruangannya, yang menjadi satu dengan ruangan papanya.


Sengaja mereka memilih satu ruangan dengan papanya, agar sewaktu waktu ada hal yang di tanyakan, tinggal bilang. Mereka pun bekerja dengan giat.


Terkadang Reyhan melewatkan jam makan siangnya, karena harus bertolak ke seluruh counternya terlebih dahulu.


Ia tak ingin, pekerjaan barunya mengalahkan pekerjaan lamanya, yang telah memberikannya banyak pemasukan.


Seperti siang itu, ia memanfaatkan waktu istirahatnya untuk mengunjungi counternya.


Karyawannya terlihat melongo melihat penampilan Reyhan yang lain dari biasanya. Semakin terlihat gagah dan rupawan dalam balutan jas mewah.


Bahkan pembeli yang melihatnya juga terlihat berbisik dan tersenyum ke arahnya, seakan menggodanya.


Sayangnya Laura tak ikut, karena perutnya terasa lapar, sehingga ia memutuskan makan siang dengan papanya.


Jika Laura melihat hal itu, pasti ia akan di bakar rasa cemburunya. Ia ingin segala perhatian dan kasih sayang Reyhan untuknya.


"Bos, ngantor dimana?" goda Aldo.


"Hust, mau tahu saja urusan orang lain. Urusin tuh kerjaan mu." Reyhan tak ingin menggubris candaan Aldo.


Reyhan segera memeriksa data di komputer yang menunjukkan angka angka yang tinggi.


Ia juga tersenyum puas setiap kali mengunjungi counternya yang selalu ramai dengan user.


Reward demi reward terus ia dapatkan dari pusat, karena kemajuan usaha nya.


Setelah semua selesai, ia segera keluar dan melajukan mobilnya menuju ke counter berikutnya.


Pandangan pandangan yang sengaja menggoda nya sejak tadi di dalam counter, tak ia hiraukan. Baginya hanya ada nama Miss Laura yang bertahta tinggi di dalam hatinya. Karena hanya dia wanita angkuh yang mampu menggetarkan hatinya.


Setelah semua selesai, waktunya ia kembali ke showroom.


Sesampainya di showroom, ia melihat Laura yang bekerja seorang diri di ruangannya.


"Papa kemana sayang?" ucap Reyhan sambil mendekati Laura.


"Kunjungan ke showroom Jogja mas. Sebenarnya tadi kamu mau di ajak, tapi berhubung belum pulang, akhirnya papa berangkat sama teamnya. Sudah makan belum?" Reyhan menggeleng lemah. Bagaimana ia bisa makan, jika pekerjaan di counter nya lumayan menyita waktu sehingga ia kecapekan.


Laura yang paham dengan kebiasaan suaminya segera menyodorkan nasi box padanya.


"Harus di makan. Aku ngga mau mas Reyhan sakit." titah Laura.

__ADS_1


Melihat Reyhan yang hanya senyum senyum menatapnya, ia membuka box itu, dan segera menyuapkan nasi padang ke mulut suaminya, sampai isinya habis.


"Dasar manja." gumam Laura. Ia segera melangkah hendak membuang box itu. Tapi tangannya segera di tarik Reyhan. Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pangkuan Reyhan.


"Mas capek banget sayang. Makanya sejak tadi hanya diam saja." ucap Reyhan dengan sendu.


Guratan di wajahnya juga menggambarkan bahwa ia memang benar-benar capek dan lelah. Laura membingkai wajah suaminya dengan lembut.


"Istirahat saja dulu mas. Biar aku yang kerjakan semuanya. Mungkin tinggal sedikit kok."


Reyhan menggeleng lemah, yang membuat Laura mengernyitkan dahi bingung. Akhirnya ia hanya diam mematung di pangkuan suaminya.


Sedangkan Reyhan yang terus memandangi wajah istrinya itu kini pelan pelan mulai mendekatkan wajahnya, lalu perlahan mengecup nya, sembari merenggangkan dasi yang mengikat lehernya.


"Mas, ini di kantor." ucap Laura lirih, namun Reyhan mengabaikan nya.


Baginya memadu kasih dengan istrinya menjadi obat yang paling ampuh mengobati segala rasa capek yang mendera tubuhnya.


Reyhan segera menekan remote di dekatnya, lalu pintu otomatis terkunci. Ia membuka jilbab istrinya dan memulai aksinya.


Awalnya Laura merasa canggung, karena pertama kalinya melakukan hal itu di kantor. Namun tangan dan bibir Reyhan terus bergerak, hingga akhirnya ia menyambut hangat ajakan suaminya.


Berharap usahanya kali ini berhasil. Kini keduanya hanyut dalam surga dunia yang begitu indah. Sesekali keduanya saling mengusap peluh yang membanjiri wajah dengan lembut.


Tok...Tok...Tok


Suara ketukan pintu yang berulang-ulang membuat keduanya tergeragap bangun.


Sontak keduanya kalang kabut mengambil baju yang di lemparkan Reyhan ke segala arah.


Laura segera berlari ke kamar mandi setelah memunguti bajunya. Sedangkan Reyhan segera memakai bajunya, lalu membuka pintu.


"Ayo silahkan masuk." ucap Reyhan, tapi staf nya justru melongo melihat penampilan Reyhan yang berantakan.


"Hei, kamu dengar suara saya kan?" ucap Reyhan sambil melambaikan tangannya ke arah pandang stafnya, sehingga ia gelagapan.


"I_iya pak." Staf itu segera mengekor Reyhan yang berjalan menuju mejanya.


Reyhan membulatkan matanya ketika melihat bra milik Laura berada di kursi tamu depan mejanya.


Ia langsung menyambar bra itu lalu meletakkan di kursinya dan segera menduduki nya.


Staf nya yang mengetahui hal itu, menyunggingkan senyum kecil. Akhirnya ia tahu jawaban atas pertanyaan yang muncul di benaknya, ketika melihat bos nya berpakaian semrawut.

__ADS_1


"Ada yang perlu kamu sampaikan?" ucap Reyhan dengan suara yang sumbang. Ia menghirup nafas panjang agar tidak grogi di depan stafnya.


"Ini pak, laporan yang di minta ibu Laura tadi." ucap staf sambil menyodorkan sebuah map berwarna hijau, yang berisi laporan pengeluaran bulan kemarin.


Reyhan menerima nya dan membolak-balikkan.


"Hem, terima kasih. Kamu bisa pergi sekarang."


"Baik pak. Jika boleh tahu, bapak tadi habis ngapain? Kenapa dasinya bisa miring, dan kancing bajunya tidak pas."


Reyhan segera menelisik penampilan nya saat ini. Yang membuat wajahnya seketika merah padam karena malu.


"Bukan urusan mu. Kalau tidak ada yang di sampaikan lagi, kamu bisa keluar sekarang." titah Reyhan dengan tegas.


Staf itu segera berdiri lalu membungkuk memberi hormat sebelum keluar.


Sampai luar tentu saja staf itu segera menceritakan hal yang baru saja di lihatnya ketika memasuki ruangan bos nya. Sehingga membuat mereka terkekeh.


Sementara itu, di dalam ruangannya, Reyhan segera berjalan menuju kamar mandi untuk menyerahkan barang milik Laura yang tertinggal.


"Maaf sayang, aku terburu-buru jadi lupa ambil itu." ucap Laura sambil meringis menerima bra nya.


______


Laura sangat senang, karena hari itu adalah hari minggu. Itu artinya ia libur kerja. Setidaknya ia tidak terlalu terburu-buru seperti biasanya.


Pagi itu ia duduk di teras rumah sambil memainkan handphone nya. Reyhan pun datang mendekati nya sambil membawa coklat hangat untuknya.


Kini keduanya bercengkrama di teras rumah. Tak lama kemudian, Anisa dan Bayu muncul dari balik pagar rumah dengan berjalan kaki.


"Kamu dari mana Nis? Kok jalan kaki." tanya Laura ketika Anisa baru menginjak lantai teras.


Kini keempat orang itu tengah duduk di kursi teras.


"Habis jalan-jalan La, biar sehat, dan persalinan ku bisa normal." balas Anisa sambil mengelus perutnya yang kian bertambah besar.


"Kapan Nis persalinannya?" tanya Laura dengan antusias.


"Sebulan lagi in shaa Allah La. Do'akan ya semoga di beri kelancaran."


"Pasti Nis." ucap Laura sambil tersenyum hangat pada sahabat iparnya itu.


"Do'akan aku juga ya biar segera nyusul kamu." imbuhnya.

__ADS_1


"Tentu La, kita saling mendoakan. Kalau seperti ini aku jadi ingat Rosyidah. Apa kabarnya dia ya La?"


__ADS_2